
Bergegas merapikan pakaiannya. Mengambil ponselnya, menerima pesan dari Zayn yang mengatakan dia sudah berada di parkirannya menunggunya.
Ibra langsung menggulir kontaknya, di telepon langsung.
"Pulang duluan! saya akan pulang bareng Dian," ucap Ibra di telepon.
"Siapa sayang?" tanya Dian sambil mengalungkan tangan di pundak Ibra.
"Zayn! kita pulang sekarang." Ibra berdiri dan mengenakan jas nya.
"Aah ... nanti pulang nya," suara Dian dengan nada manjanya.
"Bentar lagi menjelang malam!" mengenakan jam tangannya.
"Em ... gendong," pinta Dian sambil merapikan rambut pendeknya.
Ibra menggeleng sembari mencubit gemas dagu istrinya. Dian. "Jangan manja! cepetan?"
"Em ..." memanyunkan bibirnya.
Setelah sampai di parkiran! Dian menyerahkan kunci agar Ibra yang bawa. Dian sendiri bergelayut mesra di bahu Ibra.
Sepanjang perjalanan tak ada yang bersuara kecuali gerungan suara mesin. Dan kemesraan yang mereka lakukan.
****
Di mension
Laras sedang duduk menatap langit senja yang memerah. Mengiringi tenggelamnya sang matahari di sore itu.
Pikirannya melayang entah kemana! terlintas wajah kedua orang tuanya yeng sudah tiada. "Ayah, ibu. Aku kangen kalian," tak terasa air mata pun berjatuhan. Laras mengusap dengan kasar.
Dari jauh terlihat mobil Dian masuk halaman. Namun yang keluar duluan bukanlah Dian! melainkan Ibra. "Apa mereka pulang bareng?" gumam Laras! memandangi Ibra yang mengitari mobil membukakan pintu buat seseorang.
"Kak Dian! barengan sama tuan," nyess hatinya merasa aneh ketika melihat kemesraan mereka. Laras menunduk dalam. ada rasa sedih menyelimuti, namun entah kenapa dia pun tidak mengerti.
Kini dia bagai burung di dalam sangkar emas, yang di dalamnya penuh dengan segala kemewahan. Namun hatinya sepi. Bagai tak berpenghuni.
Laras melangkahkan kakinya ke kamar, sayup-sayup terdengar suara adzan magrib dari kejauhan. Menandakan sudah memasuki sholat bagi yang menjalankannya.
Setelah menunaikan sholat Magrib! Laras turun ke ruang dapur. Rika mendekati. "Nyonya muda! di tunggu tuan di kamarnya."
"Ha ... saya? bukannya tuan sama kak Dian!" sahut Laras sambil berdiri memegangi kursi.
Bu Rika menggeleng. "Tidak tahu Nyonya! yang jelas begitu perintah tuan pada saya barusan."
"Oh." Laras membalikan badannya. Berjalan dengan niat ke kamar pribadi Ibra.
"Hi ... gadis panti mau kemana? jangan bilang mau ke kamar suamiku!" tegur Yulia yang memandang sinis pada Laras.
"Emangnya kenapa? dia juga suamiku. Lagian di suruh kok! awas jangan menghalangi jalan ku!" sahut Laras memandangi Yulia yang menghadang langkahnya.
"Aduh ... makin lama semakin belagu ya? mentang-mentang diperhatikan oleh suami dan madu tua." Yulia dengan ketusnya.
"Terserah anda saja! mau bilang apa?" ucap Laras sambil melanjutkan langkahnya yang terhenti tadi.
__ADS_1
"Dasar ... gadis miskin!" gumam Yulia menyilang, kan tangannya di dada.
Laras terus saja mengayunkan langkahnya menuju kamar Ibra. selang beberapa lama sampailah Laras depan pintu kamar Ibra, mengetuk beberapa kali namun tidak ada yang menyaut.
"Kemana dia?" perlahan memutar kenop pintu mendorongnya ke dalam. Namun kamar kosong. "Kemana tuan?"
Laras masuk celingukan mencari keberadaan Ibra, kamar mandi kosong. Di wardrobe juga tidak ada entah kemana dia? mendudukkan tubuhnya di sofa. "Apa aku telepon aja kali ya?" mengambil ponselnya dari saku. Namun niat itu urungkan! seiring ingatannya ke ruang kerja.
Laras beranjak dari duduknya. Keluar kamar menuju kamar sebelah ya itu ruang kerja Ibra.
Pelan-pelan ia buka! nampak Ibra berada di depan meja, tengah serius dengan berjas yang di tangannya.
"Maafkan aku Tuan? kata buRik anda memanggil saya!" ujar Laras dengan suara lirih menatap Ibra.
Ibra menoleh membalas tatapan Laras. Detik kemudian Laras menunduk, masih berdiri depan pintu. "Siapkan saya air hangat."
"Ya, ampun ... rupanya Tuan belum mandi? bukannya sudah dari sore pulangnya sama kak Dian! tapi belum mandi juga jam segini." Laras mendekat.
Sambil mengernyitkan keningnya Ibra berkata. "Apa kau melihat saya pulang? kau di mana tadi!" tanya Ibra terheran-heran.
Laras diam sejenak. "Em ... a-aku tadi ... di balkon."
"Oh, saya kira ... kamu ke mana?" lirih Ibra sambil menutup berkasnya.
Ibra memandangi tubuh Laras dari mulai kepala sampai kaki. Sekarang tubuhnya semakin terawat, penampilannya biarpun tetap sederhana. Namun semakin menarik di mata Ibra.
Laras merasa diperhatikan merasa malu dan tegang. "A-ku menyiapkan air hangat dulu Tuan." Dia memutar tubuhnya balik ke kamar ibra. Ibra mengikuti dari belakang! tidak lupa menutup pintu.
Laras mengisi bathtub dengan air hangat serta aroma terapi kesukaan Ibra. "Em ... baunya wangi!" gumam Laras.
Terdengar suara pintu wardrobe di tutup. "Jangan keluar dulu Nona?" teriak Ibra.
Laras menoleh kamar mandi yang pintunya terbuka. "Ih ... sembarangan! mandi kok pintunya terbuka. Gak punya malu apa ya?"
Laras duduk di sofa menyalakan televisi, namun tidak ada acara yang dia suka. Matikan, menyetel musik kesukaannya dari ponsel. Sebuah lagu dari vocalis Lestari yang berjudul "Siksanya menanggung Rindu"
Setelah kau pergi dariku! pikiranku terganggu. Betapa siksanya hatiku! oh menanggung rindu. Walau di mana kau berada kenangilah ku di sini! betapa kuatnya rinduku teringat dirimu.
"Merindukan siapa tuh?" tanya Ibra yang tiba-tiba sudah berdiri sambil mengibaskan rambutnya yang basah. Di dekat pakaian yang sudah Laras siapkan.
"Oh Tuan." Laras berhenti menyanyikan lagu itu.
"Suara mu jelek! bikin telinga saya sakit," sambung Ibra sambil menyeringai.
Laras cemberut, memajukan bibirnya ke depan dan mematikan lagunya.
"Kenapa dimatikan lagunya?" tanya Ibra lagi mengenakan pakaiannya.
"Bukankah membuat telinga anda sakit? makanya aku matikan!" ketus Laras menyimpan ponsel ke saku celananya.
"Yang bikin sakit itu ... suaramu! bukan lagunya. Ngerti Nona?" duduk nyender! kepalanya ke bahu Laras. Sehingga tercium baunya shampo dan aroma terapi dari tubuh Ibra. Sampai-sampai Laras memejamkan mata menghirup baunya.
Sekarang Laras semakin suka menciumnya, padahal kemarin-kemarin biasa saja. Tapi sekarang entah kenapa suka banget dengan aromanya.
"Saya mau makan di sini saja." Melirik Laras yang terpejam.
__ADS_1
Laras membuka matanya menarik napas menghirup bau dari bada Ibra. "Haa ... kenapa gak bareng saja di meja makan? kasian istri yang lain!"
"Malas! lagian ... lagi diet," sahut Ibra jemarinya meminta ponsel Laras.
Laras memberikan ponsel pada Ibra. Ibra memutar lagu yang tadi sambil ngecek. Kali saja ada yang mencurigakan, namun gak ada yang aneh-aneh ataupun mencurigakan.
"Siapa yang diet?" tanya Laras penasaran siapa yang diet.
"Dian, dia yang diet."
"Oh."
Beberapa saat kemudian bu Rika mengantarkan makan malam Ibra dan Laras. "Silakan Taun dan Nyonya. Selamat menikmati ...."
"Ya."
"Makasih. Bu?" ucap Laras.
Bu Rika memutar tubuhnya menutup pintu keluar dari kamar ibra tersebut.
Laras mengambilkan makan malam buat Ibra, tapi Ibra malah membuka laptopnya.
"Tuan makan dulu, katanya mau makan?" menatap Ibra.
"Aku lupa! ada yang harus aku urus nih!" sahut Ibra tetap fokus pada laptop yang ada di atas pahanya.
Laras mendengus kesal, namun tangannya mengaduk makanan di piring dan menyuapi Ibra. "Aa ... buka mulutnya?"
Ibra menoleh, menatap kedua netra mata Laras yang juga memandangi dirinya. Membuka mulut mengunyahnya dengan cepat.
Ibra heran melihat Laras terkekeh. "Kenapa?"
"Itu. Tuan lucu! makannya cepat amat? kaya orang yang sedang di kejar-kejar gitu hi hi hi ...."
"Oh, saya lapar," alasan Ibra padahal bukan cuma lapar namun juga enak kalau makan dari tangan orang.
Setelah selesai menyuapi Ibra dan juga dirinya Laras membereskan bekas makannya, diakhiri dengan segelas air putih. Sampai Ibra bersendawa. Begitupun dengan Laras.
Ibra menutup laptopnya. "Malam ini aku akan tidur di kamar Yulia. Jangan lupa pagi-pagi seperti biasa bereskan kamar ini dan siapkan kerja saya."
Laras bengong mendengar Ibra akan tidur di kamar Yulia. Ada rasa gimana ... gitu. "Kenapa bicara gitu? minta ijin apa! buat apa juga. Hak dia kok mau tidur sama siapa?" batin Laras.
Melihat Laras bengong Ibra bertanya lagi. "Kenapa tidak menjawab? malah bengong."
Laras menunduk. "Emang harus bilang apa? itu, kan hak Tuan," menautkan jari jemarinya di atas pangkuan.
Ibra hanya menatap lekat wajah Laras yang menunduk, jemarinya meremas tangan Laras dan mengelus lembut.
Dag dig dug jantung Laras berdegup kencang bila bersentuhan dan bertatapan dengan Ibra.
Ibra menyatukan kedua tangannya dengan tangan laras, seraya berkata. "Saya cuma tidur saja dengannya! Tidak akan macam-macam lagi ...."
,,,,
Aku ingin tahu seberapa banyak sih yang suka dengan novel ini? jadi setiap yang baca silakan like dan komen ya 🙏 ini untuk penyemangat aku buat nulis. Kalau suka? bilang suka! kalau tidak suka? apa alasannya!
__ADS_1