Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Kesal dan cemburu


__ADS_3

Laras jadi bengong. Kenapa Dian bersama suaminya dan Zayn? Laras menyambut kedatangan Ibra dengan meraih tangan dan di ciumnya.


"Abang, dah pulang?" sapa Laras pada Ibra. Hatinya masih heran mengapa bareng Dian.


"Iya, sayang." Ibra mencium kening sang istri dan hendak memeluknya. Namun Laras menghindar dengan mata melihat ke arah Dian yang sedang bertegur sapa dengan mama mertua.


Ibra mengerti dengan sikap Laras. Mungkin dia heran atau mungkin juga cemburu karena ia pulang bersama Dian.


"Dian. Kok bisa bareng Ibra dan Zayn, ketemu di mana?" pertanyaan bu Rahma mewakili ceceran pertanyaan dalam hati Laras.


"Oh, tadi kami bertemu di bandara, Ma. Kebetulan gak ada yang jemput," ucap Dian pada ibu mertua. Namun ekor matanya melirik ke arah Laras, dengan lirikan penuh arti.


"Kalau pengen di jemput, kenapa gak ngomong aja. Aku juga bisa jemput. Irfan juga ada, suruh jemput. Taksi banyak, ngapain minta di jemput sama mantan." Batin Laras beradu argumen.


Netra mata Laras menoleh ke arah Zayn yang sedang menikmati kopi buatan Susi. Zayn tersenyum dan mengangguk pada Laras. "Kebetulan." Gumamnya Zayn.


Laras masih kurang faham dengan maksud Zayn. Ibra yang duduk dekat Laras menoleh ke arah Dian, dia mengobrol sama sang ibunda.


Tangannya meraih tangan Laras lalu di kecupnya dengan mesra, lalu membisikan sesuatu di telinganya. "Aku merindukan mu."


Laras merinding mendengarnya. Ia kesal. Sedari kemarin sore sampai saat ini Ibra gak ngasih kebar dan bikin hatinya gusar.


"Oya, Dian mau pulang dulu Ma. Kebetulan putra Mama sudah berada di habitatnya." Pamit Dian. Dan ekor matanya melirik ke arah Ibra dan Laras yang duduk berdekatan.


"Oh, ya udah. Makasih ya?" balas bu Rahma dengan senyuman manisnya.


Dian pun pamitan pada Laras. "Aku pulang dulu, makasih sudah memberi kesempatan untuk aku bersama suami mu," ucapan sinis Dian yang pelan sungguh memanasi hati Laras.Mereka berpelukan.


"Em, makasih kak?" Balas Laras menunjukkan senyumnya. Seolah tidak perduli dengan ucapan Dian barusan. Padahal kalau kelihatan hatinya sangat terbakar.


Lalu Dian memeluk Ibra dan mencium pipi kanan dan kiri Ibra. "Aku pulang ya." Dengan senyuman bahagia.


"Ya, hati-hati." Pesannya dengan suara Ibra yang datar.


Dian membawa langkahnya, mengayun keluar rumah Laras. Mendekati mobilnya. Tidak lama, mobil Dian pun sudah menghilang.


Laras menatap sang suami dengan intens. "Kenapa gak suruh Irfan buat jemput?"


Ibra mengulas senyumnya. "Tadi di bandara gak sengaja bertemu. dia mengantar kawannya. Kalau gak percaya tanyakan saja pada Zayn." Jari Ibra menunjuk ke arah Zayn yang membaringkan dirinya di sofa.


Netra mata Laras melirik ke arah Zayn. Kemudian mengalihkan kembali pandangan pada Ibra, menatap matanya. Mencari kebenaran di sana.


Sejenak mereka bersitatap. Bu Rahma dan Susi pada-pada masuk dengan tujuan yang berbeda.


Ibra berdiri dan memasuki kamarnya. Laras memandangi punggung Ibra yang berjalan ke kamar, kemudian Laras pun beranjak mengikuti sang suami.


"Mau, mandi dulu apa mau istirahat dulu?" tanya Laras sambil mengunci pintu.


Ibra duduk di sofa. Jasnya sudah ia buka dan disimpan di bahu sofa. Laras berjongkok untuk membuka sepatu sang suami, Ibra. Walau hati masih kesal, namun Laras tak segan untuk melayaninya dan menyiapkan keperluan Ibra.


"Mau mandi dulu." Jari Ibra mengangkat dagu Laras agar mendongak. "Kenapa cemberut gitu? marah atau cemburu."


Laras tak merespon, ia fokus membuka kaus kaki sang suami. Lalu menyimpan beserta sepatunya di tempat.


Kemudian kembali dengan niat duduk di sofa. Namun tangannya di tarik sehingga ia duduk di paha Ibra. Tangan Ibra beralih merangkul pinggang Laras agar tak terjatuh. Sementara tangan Laras dengan refleks merangkul pundak Ibra. Hatinya was-was. takut terjatuh ke lantai ketika Ibra tarik tadi.


"Bicara dong sayang. Apa gak senang aku pulang hem?" suara Ibra dengan sangat lembut. Dan mendekati wajah sang istri.


"Senang, siapa sih istri yang gak senang suaminya pulang," akhirnya Laras menggerakkan kembali bibirnya.


"Iya kah senang? tapi kenapa cemberut terus dari tadi," ucap Ibra sambil menyentuh hidung Laras dengan hidungnya.


Wajah Laras menjauh. "Kenapa dari kemarin gak kabari aku?"


"Oh ... itu aku sibuk sayang, gak sempat kasih kabar, lagian hari ini aku pulang," sahut Ibra sambil menyeringai puas. Puas akan membuat sang istri ngedumel.


"Sibuk? bukankah sesibuk apapun kamu sering menyempatkan diri untuk ngasih kabar ya, biasanya juga suka bawel gak perduli aku lagi apa? ini dari kemarin siang. Sama sekali gak ada kabar, aku khawatir. Hatiku gusar takut ada apa gitu!" akhirnya Laras ngedumel dan mengungkapkan isi hati.

__ADS_1


"Tiba-tiba pulang sama Dian. Kalau mau di jemput, aku juga bisa. Irfan pun ada, ngapain minta di jemput Dian.Taksi pun banyak." Sambung Laras.


Ibra makin gemas dan memperlihatkan senyumnya yang mengembang. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum sambil menatap wajah cantik sang istri.


"Sengaja sayang, aku sengaja gak kasih kabar sebab biar aku mendengar kamu ngedumelnya gimana. Tapi kalau soal pulang di jemput Dian itu cuma kebetulan sayang ... dia mengantar kawannya dan tak sengaja bertemu kami." Ibra mengelus pipi Laras yang putih itu dengan punggung jarinya.


"Bohong," gumam Laras.


"Benar sayang ... Dian mengantar Jodi ke bandara, Lalu kami bertemu, dan kebetulan taksi yang kami pesan belum datang. Aku sengaja tak minta di jemput, sebab aku tahu, pak Barko sedang mengantar papa keluar dan Irfan. Dia harus menjaga di sini. Hem."


"Abang pikir, aku gak khawatir. Gak cemas. Ketakutan kamu ke napa-napa, dasar egois." Laras menundukkan kapalanya dalam.


Ibra menaikan wajah Laras. "Iya sayang, aku tahu. Maafkan aku sayang ... tapi sekarang aku sudah ada di hadapan mu, mau di apakan hem?" tanya Ibra dengan tatapan yang mengandung arti.


Laras membalas tatapan sang suami. Dadanya mendadak bergemuruh, berdebar begitu kencang dan darah pun naik dengan derasnya.


"Ayo, mau di apakan aku ini? aku pasrah nih," timpal Ibra. Bibirnya tak pernah berhenti tersenyum, ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu.


Netra mata Laras berembun. Berkaca-kaca rasa kesal dan cemburu menjadi satu. Semua bercampur aduk, kemudian Laras memeluk Ibra sangat erat. Membenamkan wajahnya di leher sang suami. Bibirnya tak mampu berkata-kata lagi selain tetesan air mata yang jatuh di leher Ibra.


"Loh ... kok nangis, bukannya mau marahin suaminya. Di pukul, diapain lah biar puas." Goda Ibra makin senang melihat reaksi sang istri.


Kepala Laras menggeleng pelan. "Aku takut, kamu kenapa-napa. Aku juga cemburu Abang sama Dian," ucap Laras sambil terisak. "Aku gak cemburu kalau dia masih istri mu, tapi sekarang bukan lagi istri mu."


Ibra semakin mengeratkan pelukannya dan mengusap punggung Laras lembut. "Aku sayang kamu. Sangat mencintaimu," bisik Ibra di telinga Laras.


Kepala Laras makin menyusup di leher Ibra dengan posisi Laras masih dalam pangkuan sang suami. Keduanya larut dalam pelukan sebagai ungkapan rasa rindu yang beberapa hari ini terpendam.


Lantas Ibra menggerakkan tubuhnya dan menggendong tubuh Laras, dibawanya ke tempat tidur lalu ia baringkan dengan pelan-pelan. Ibra menyatukan bibirnya dengan milik Laras yang merah merona nan natural. Berhanti dan membelai lembut pipi sang istri yang memejamkan mata.


Kemudian menyentuh dan menyatukan kembali, bahkan kali ini semakin bergairah. Gerakkan-gerakkan dengan lembut makin menaikan hasratnya Ibra. Sentuhannya makin menuntut. Jarinya menyibakkan anak rambut yang ada di kening dan pipinya Laras.


Tatapan Ibra makin berkabut. Lalu netra matanya bergerak seiring jarinya yang turun ke bagian dada. Membuka kancing daster Laras dan berselancar di di bukit kembar nya sang istri.


Laras semakin hanyut dalam suasana dan larut dalam nikmatnya setiap sentuhan yang diberikan Ibra, yang membuat hati dan pikirannya terbang melayang.


"Bentar lagi magrib." Matanya melirik jam yang berada di dinding.


Ibra kecewa. menjambak rambunya prustasi, melirik jam memang 10 menit lagi juga adzan magrib berkumandang. Menghela napas dengan kasar, namun sebelum Laras turun. Ia menarik kembali sehingga Laras kembali terlentang.


"Bentar sayang." Bisik Ibra sambil menatap lekat wajah sang istri.


"Apaan? bentar lagi magrib," gumam Laras dan menatap cemas.


Bibir Ibra menarik sudutnya tersenyum. Kemudian mengecup dan membungkam bibir Laras. Beberapa saat bermain di sana sampai Laras sedikit mendorong dada Ibra. Sebab ia hampir kehabisan oksigen. Namun dengan nakalnya Ibra tidak segera mengabulkan permintaan sang istri.


Ia malah semakin memperdalam dan tangannya ******* salah satu bukit kembar itu. Laras makin menggelinjang, menghindar. Mendorong dada Ibra. "Magrib juga ih ..." mengusap bibinya yang lembab dan napas yang memburu.


Ibra menyeringai puas. "Iya, tahu ... gak kuat gimana?"


"Mandi dulu gih, lengket tuh. Badannya bau," ucap Laras sambil menarik tangan Ibra yang masih baringan dan tampak dadanya naik turun. Belum terkontrol. Sesuatu yang menyeruak tegang tampak jelas di balik celananya.


Bibir Laras mesem-mesem dan mengalihkan pandangan ke lain arah. Malu sendiri melihatnya, kemdian Laras bergegas turun berjalan mendahului ke kamar mandi.


Ibra melirik dan tersenyum. Melihat sang istri yang berlalu, kemudian dirinya bangun dan mengikuti sang istri ke kamar mandi. Kebetulan pintunya tidak di kunci.


Tanpa ragu atau malu. Ibra membuka semua pakaiannya hendak masuk ke dalam bahthub. Laras menggeleng dan menelan saliva nya ketika dengan tidak sengaja melihat sesuatu milik Ibra yang on.


Laras menundukkan kepalanya. "Astagfirullah ... Abang. Malu ih," gumamnya Laras.


Ibra tak merespon, ia masuk dan berendam di bahthub. Tidak lupa sebelumnya membubuhkan wangi aroma terapi ke dalam air tersebut.


Sementara Laras keluar dan menunaikan salat magrib. Selepas salam dan berdoa, Laras duduk di sofa. Pakaian Ibra pun sudah ia siapkan di atas tempat tidur.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka, muncullah Ibra dangan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah perutnya. Dan tangan memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambut yang basah itu.

__ADS_1


Laras segera memberikan pakaian dan sarung agar Ibra segera melaksanakan salat magrib. "Salat dulu, nanti keburu malam."


Ibra menerima dan mengangguk. Ia mendahulukan dulu salatnya, sebelum yang lain. Selepas salat Ibra meneruskan merapikan diri dan menaburkan wewangian di tubuhnya. Laras membantu mengeringkan rambut lelaki yang status suami untuknya.


"Makan dulu ya?" ajak Laras sambil merapikan rambut sang suami.


"Bisa gak itu dulu?" tanya Ibra penuh harap.


"Apaan? papa dan mama pasti kangen sama putranya. Ingin berbincang, atau apa gitu."


"Ah, biasa juga berbulan. Bertahun tidak ketemu, biasa aja tuh gak ada kata apapun." Suara Ibra sambil melihat pantulan dirinya di cermin.


"Itu, kan dulu ketika Beliau berada di luar Negeri. Sekarang ada di sini Abang ..." ucap Laras sambil memeluk Ibra dari belakang.


Tangan Ibra memegang tangan Laras yang merangkul perutnya. "Ayok, kita makan dulu. Bercinta juga butuh tenaga."


Laras membulatkan bola matanya, mendengar ajakan Ibra yang kurang enak ujungnya. "Apaan sih, gak enak ujungnya deh."


"He he he ... kan benar sayang, bercinta juga butuh tenaga. kalau gak ada tenaga, belum apa-apa lemes duluan!" tambah Ibra lagi.


Laras menempelkan pipi di punggung sang suami. Dengan nyamannya. Rasanya tidak ingin beranjak dari situ dan ingin selalu merasakan kenyamanan dengan aroma tubuh sang suami.


Bibir Ibra menyungging senyuman. Telapak tangannya mengusap punggung tangan sang istri dengan sangat lembut.


"Ya, udah. Kita makan dulu ya? biar nanti kita lanjut lagi kangen-kangenannya." Ibra memutar badannya. mengahadap ke arah Laras. Cuph! mengecup singkat pucuk kepala Laras.


Ibra menarik tangan Laras, diajaknya ke ruang makan. Dan di sana yang lain sudah makan duluan dengan lahap. Irfan, Zayn dan kedua orang taunya Ibra.


Melihat Ibra datang menggandeng tangan istrinya, Irfan beranjak. Kebetulan makan malamnya sudah selesai begitupun dengan Zayn Mereka berdua berpindah duduk ke ruang tamu.


Ibra menarik kursi buat Laras, setelah Laras duduk. Baru dia pun duduk di sebelah Laras yang mulai mengambil piring buat Ibra.


"Kamu nampak lelah sayang," ucap bu Rahma pada sang putra.


"Oh, iya Mah ... lelah. Apalagi gak di kasih sama istri," sahutnya sambil menyeringai.


Laras membulatkan netra matanya ke arah Ibra. Melotot dengan sangat sempurna. "Apaan sih?" pekik Laras dengan suara di tahan.


Bibir Ibra terus tersenyum. Begitupun dengan bu Rahma dan sang suami terkekeh melihatnya. "Sekarang sudah besar hamilnya. Harus sering di jenguk biar cepat matang kata orang tua dulu ha ha ha ..." ucap pak Marwan sambil meneguk minumnya.


"Bener tuh, kata Papa. Harus sering-sering, agar lebih matang lagi. Baby nya kuat," bu Rahma setengah berbisik pada mantu dan putranya itu.


"Emangnya buah Ma, matang segala?" tanya Ibra di sela makannya.


Laras malah bersemu merah wajahnya menunjukkan rasa malu. Tak berani mengangkat kepalanya di hadapan sang mertua.


"Eh ... biar lebih kuat sayang. Lagian setelah lahiran minimal 40 hari gak boleh campur. Malah ada yang berbulan-bulan. Tergantung sih." Tambah sang ibunda.


Ibra terkesiap. "Ya ampun ... lamanya, mana tahan aku Mah?" ungkap Ibra sambil mengulum senyumnya.


"Ya ... terpaksa puasa, Papa juga dulu gitu, berapa bulan Ma?" tanya pak Marwan mengalihkan pandangan dari Ibra ke sang istri.


"Em ... hampir dua bulan, itupun tiap hari merengek-rengek. Setiap malam uring-uringan. Gak kuat katanya." Timpal bu Rahma. Di tambahi dengan anggukkan pak Marwan.


Mendengar itu, Laras mendongak dan memasukan sendok ke mulutnya. Netra matanya bergerak melihat orang yang ada disekitarnya itu.


"Kalau gitu enak yang punya istri lebih dari satu dong ya. Ada cadangan, ha ha ha ..." canda Ibra tertawa sendiri.


Netra mata Laras menatap ke arah sang suami. Namun kali ini tidak lagi membalalakan lagi bola matanya. Melainkan mengulum senyuman manisnya.


"Enak saja kamu Abang, sebelum kamu nikah lagi langkahi dulu mayat Mama. Sembarangan aja Abang bicara gitu." gerutu bu Rahma jadi kesal.


"Mama ... aku cuma bercanda. Lagian Laras aja tersenyum. Gak marah berarti mengijinkan kalau Abang nikah lagi." Ibra semakin menggoda sang bunda.


Bu Rahma menoleh ke arah Laras yang fokus dengan makannya. Sesekali menyuapi Ibra. Seolah tak marah sedikitpun. "Biarpun dia gak marah. Abang harus ngerti perasaannya. Mana ada wanita yang mau di madu? Papa urus nih putra kamu. Bikin stres aja Mama nih ah," memijit keningnya ....


****

__ADS_1


Hi ... apa kabar reader ku malam ini, semoga dalam keadaan baik ya. Dan makasih banyak kepada yang selalu setia menunggu SKM up. Yu mana like & komennya.Terus dukung aku ya🙏 biar aku tambah semangat.


__ADS_2