
"Gimana selesai?" tanya pak Marwan setelah melihat putranya masuk ke dalam kamar.
"Oh, sudah Pa." Ibra menyimpan jas nya. Mengarahkan pandangan pada Laras yang sedang menunaikan salat, di samping sang bunda yang setia menemani.
Ibra mendekat pada sang bunda. "Mah ... Mama istirahat saja, ada aku sekarang yang akan menjaga Laras."
Bu Rahma menoleh."Baiklah, Mama dan papa. Istirahat dulu, di jaga istrinya ya baik-baik!" bu Rahma mengusap bahu putranya itu.
"Iya, Mah ..." sahut Ibra mengangguk menatap bu Rahma berdiri dan mengajak suaminya keluar dari kamar tersebut.
Setelah keduanya tidak ada. Ibra menutup rapat pintu kamarnya, lalu menghampiri sang istri yang sedang merapikan bekas salatnya.
"Sudah, selesai?" tanya Ibra dengan tatapan lembut dan usapan halus di pucuk kepala sang istri.
"Sudah, abang belum salat ya? salat dulu ya," Lirih Laras membalas tatapan suaminya itu.
"Iya, aku mau salat." Ibra membantu Laras berdiri dan berbaring di atas tempat tidur dan menyelimutinya.
Kemudian Ibra menyingsingkan lengan bajunya. Memasuki kamar mandi, untuk mengambil air wudu.
Selepas menunaikan kewajibannya, Ibra naik ke tempat tidur berbaring dekat sang istri, "Sudah makan belum hem?" tangannya membawa kepala Laras ke dalam pelukannya.
"Sudah, tadi bu Rika bawakan. Abang pasti belum makan malam, iya? makan dulu nanti kamu sakit," gumam Laras sambil mengusap dada sang suami.
"Aku gak lapar," lirihnya Ibra.
Kepala Laras mendongak. "Makan dulu, nanti kamu sakit."
"Kamu ini, dalam keadaan gini pun masih mengkhawatirkan ku, makasih sayang." Cuph memberikan kecupan di kening sang istri.
"Ya, sudah. Makan sana?" perintah Laras sambil menjauhkan kepala dari dada Ibra.
"Aku malas turun, mau telepon bu Rika aja." Ibra memanggil bu Rika agar membawakan makan malamnya ke kamar.
Laras menatap ke arah Ibra yang menyandarkan punggung nya ke bahu tempat tidur. Ibra menoleh. "Bobo sayang, kamu sedang kurang fit." Ibra menepuk bantal Laras.
Laras pun menurut, membaringkan dirinya. Menempelkan kepala di tempat semula. Laras memejamkan mata sambil menikmati belaian tangan Ibra di kepalanya. Sesekali mengusap perut yang terus di tendang-tendang oleh si baby yang makin lincah.
Sayup terdengar langkah kaki seseorang. Membuat mata Laras terbuka dan menoleh sang suami. "Itu pasti bu Rika yang datang."
"Aku mau buka pintu dulu ya." Ibra turun, sebelum mendaratkan kecupan kecil di pipi sang istri. Hingga bibir Laras mengembang.
Ibra menarik handle pintu kamarnya. Benar saja bu Rika berdiri dengan sebuah nampan berisi beberapa menu makan malam buat sang majikan.
"Ini, Tuan makan malamnya?"
"Makasih, Bu." Ibra mengambil nampan dan di bawanya ke dalam kamar.
Sebentar mengunci pintu, lalu Ibra duduk bersila dan melahap makan malamnya. Sementara Laras melanjutkan niatnya untuk tidur, kebetulan badannya masih terasa lemah dan kepala masih terasa pusing juga.
Kini Ibra sudah berbaring, di dekat tubuh yang istri, ia tidur dengan posisi miring. Kedua netra mata Ibra menatap wajah pulas sang istri, tangannya mengelus perut besar yang si empunya mungkin sudah memasuki alam mimpi.
Seakan tidak puas mengelus di luar piyamanya, tangan Ibra menyusup ke dalam sehingga mengelus permukaan kulit perut sang istri sambil pejamkan mata.
Malam pun berlalu tanpa ada yang dilakukan, oleh pasangan ini selain pelukan satu sama lain. Mencari hangatnya tubuh pasangan.
Pagi-pagi, Laras dan tampak segar. Dan Ibra sudah membawakan sarapan buat Laras di kamar. "Sarapan dulu sayang," ajak Ibra. Menyimpan nampan di meja.
Laras berdiri di depan jendela melihat pemandangan di luar yang tampak hijau. Ibra mendekati sang istri yang termenung dekat jendela.
"Sarapan dulu sayang ..." tangannya merangkul bahu sang istri.
Laras menoleh. "Hem, Abang gak sarapan?"
"Kan, mau. Yu, keburu dingin." Ibra menggandeng tangan Laras diajaknya sarapan.
Walau malas, Laras di paksa sarapan oleh Ibra. "Aku bisa sendiri," ucap Laras, mengambil sendok dari tangan Ibra.
Kebetulan ini hari sabtu, dan Ibra pun libur dari kantor. Di tambah lagi ia ingin menjaga istri yang satu-satunya ini.
"Aku, gak pa-pa Abang tinggal ngantor, pergi saja. Aku di sini banyak orang, Mama juga ada." Suara Laras dengan lirihnya. Ia gak mau mengganggu aktifitas sang suami sebagai pengusaha.
__ADS_1
"Ini hari sabtu sayang, masuk juga paling setengah hari--"
"Kan hari biasa juga suka setengah hari, kalau mau balik lagi. Kalau nggak ya kerjain di rumah, gitu biasanya juga," ungkap Laras menyela perkataan Ibra.
"Iya, tapi hari ini, aku sudah putuskan di rumah saja. Jagain istriku, Kerja bisa sambil di rumah juga." Tambah Ibra sambil menghabiskan sarapannya.
"Aku, cuma tak ingin kerjaan kamu terganggu, itu saja." Lirih Laras menunduk dalam.
"Iya aku mengerti, habiskan makannya, biar cepat sembuh. Jangan banyak pikiran, jangan dengerin kata orang. Mereka itu tidak tahu kebenarannya seperti apa hem. Dengar aku ya?"
Laras mengangkat kepalanya. "Aku ingin pulang."
Ibra menatap, dengan helaan napas yang dalam. "Di sini aja dulu, sampai kamu sehat. Nanti kita pulang kalau tubuh mu sudah fit, jangan sekarang ya?" ibu jari Ibra mengelus pipi Laras.
"Tapi aku pengen pulang," keluh Laras dengan nada sedih. Ia merasa gak nyaman di sini.
"Sayang ... tunggu sampai kamu sembuh ya? kita akan pulang setelah kondisi dirimu sehat." Bujuk Ibra dengan lembut.
Akhirnya Laras mengangguk. Menyetujui yang Ibra ucapkan. Ia kembali men'icip-icip makanannya.
"Tuh ... makannya aja susah, berarti masih belum fit badannya. Sayang harus banyak makannya biar cepat sehat." Ibra menatap piring Laras yang susah habisnya.
"Kenyang." Mendongak sang suami. Menyimpan sendok dan mendorong piringnya.
Lagi-lagi Ibra menarik napas panjang. "Baiklah kalau sudah kenyang. Maunya makan apa aku belikan ya?"
Laras menggeleng. "Nggak mau makan apa-apa."
Ibra membereskan bekas makannya dan memanggil asisten untuk mengambil, Supaya kamar terlihat bersih.
Kemudian Laras berbaring di atas tempat tidur kembali, setelah meminum obatnya. Sementara Ibra mengambil laptop dan mulai berkutat dengan kerjaannya, duduk di sebelah Laras berbaring.
"Makin ke sini tidurku jadi gak nyaman, miring salah. Terlentang bosan, tengkurep ga bisa. Kaki mudah pegal," keluh Laras sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Ibra.
Ibra menoleh dan menatap sendu. "Mungkin itu karena kehamilannya makin besar sayang, sabar ya?"
"Iya, serba salah nih jadinya." Laras bangun dan duduk bersandar.
"Enak juga, bisa pijit ya?" tanya Laras menatap sang suami.
"Nggak juga, cuma kira-kira aja," sahutnya Ibra.
Sekarang ini media sedang sibuk-sibuknya memberitakan konfirmasi Ibra. Bahwa Laras adalah korban kelicikan Dian, awal mula Laras masuk ke dalam rumah tangga Ibra dan Dian. Disebabkan Dian sendiri yang menjebak Laras, dengan kehilangan cincin berlian yang harga hampir satu M.
Dian menuduh Laras yang mengambil, kemudian Dian meminta ganti rugi pada Laras sebesar satu M. Jelas Laras tak sanggup membayar, sehingga Dian menawarkan Laras menikah sama suaminya dan memberikan anak, Bila Laras sudah memberikan anak pada Ibra dan Dian. Laras akan Dian singkirkan, sebab Dian cuma membutuhkan anaknya saja.
Namun pada akhirnya. Semakin ke sini, Dian selalu di bikin ulah. sampai-sampai dia berniat menyerahkan diri pada laki-laki hidung belang atas rekomendasi seorang teman, dan kemungkinan besar. Teman Dian itu sendiri yang menyebarkan video tersebut.
Sekarang komenan, semakin beragam namun tak sedikit juga meminta maaf pada Laras, sebab sudah berpikir dan berkata-kata yang tidak-tidak. Semakin banyak juga orang yang berbalik dan semakin mencerca Dian. Komentar semakin beragam saja dan ramai.
Ibra sedang duduk di balkon memangku laptopnya. Begitu serius membaca berita tersebut. Ia menghela napas begitu panjang. "Maafkan aku Dian, bukan maksud ku untuk menyudutkan mu, namun aku hanya ingin menjelaskan sebuah kebenaran saja. Bagai manapun aku harus memikirkan perasaan dan kondisi Laras saat ini, bukan niatku mengumbar aib mu. bagaimanapun kamu wanita yang pernah aku cintai."
Kedua matanya menatap langit yang tampak indah. "Sampai saat ini rasa itu kadang masih aku rasakan. Tapi ... kenapa kamu melakukan itu semua. Sehingga aku terjebak dalam dilema, sungguh aku kecewa. Kamu sebagai istriku tega berniat seperti itu. Aku pun tak menyalahkan mu sepenuhnya, sebab aku juga punya andil, aku juga yang salah." Batin Ibra bergejolak. Bicara sendiri.
Sementara Laras, setelah Ibra pijat kaki dan tangannya langsung terlelap tidur. Kebetulan obat yang ia minum ada obat penenang nya.
Ibra menenteng laptop di tangan. Mendekat dan mengusap kepala Laras, keringat dingin pun menghiasi pelipisnya. Ibra lap dengan tisu, ia duduk di samping sang istri. Ia tatap begitu lekat dari ujung kaki sampai kepala. "Yang kuat sayang, yang sabar! Makasih sudah mau mengandung benih dariku," meraih tangannya lantas ia cium punggungnya itu.
Setelah puas menatap sang istri, mengusap perutnya sebentar. Kemudian duduk di sofa. Kembali membuka laptop dan serius bekerja.
"Pa, Pa. Sini?" suara bu Rahma memanggil suaminya yang sedang menikmati pemandangan ikan-ikan akuarium.
"Apa sih, Mah ... orang kelihatan kok," sahut pak Marwan tampak kesal.
"Aish ... Papa ini. Coba lihat berita di media yang mengungkap kebenaran tentang mantu kita." Bu Rahma begitu antusias.
"Mantu yang mana nih?" selidik pak Marwan sambil duduk di samping sang istri.
"Siapa lagi Pa ... kalau bukan Dian dan Laras." Bu Rahma memperlihatkan ponselnya.
Pak Marwan menggeleng setelah membaca berita tersebut. "Laras itu gak bakalan rela memberikan anaknya pada Dian. Mendingan berusaha meminta hak pada suaminya, dari pada harus memberikan anaknya."
__ADS_1
"Iya, Pa ... kalau bagi Mama nih ya? mendingan di bilang merebut suami orang, dari pada harus menyerahkan anak pada madu kita. Kita yang ngidam, hamil dan melahirkan. Bodo amat di bilang merebut juga yang penting mendapat hak, toh yang awal muka bawa siapa? dia sendiri."
Pak Marwan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan sang istri.
"Kadang Mama itu kasihan juga. Sama mereka berdua. Awal mula Dian mengahdirkan Laras itu demi siapa, demi suami agar mendapatkan keturunan. Laras hadirnya di jebak sama Dian, namun pada akhirnya di salahkan. Yang jadi pertanyaannya, kenapa Dian tidak berdamai dengan keadaan yang ia sendiri ciptakan, gitu. Kadang Mama jadi bingung juga Pa."
"Ya, sudah ... jangan di bikin bingung Ma ... jalani aja apa adanya, biarkan semua mengalir seperti air. Dan berdoa semoga cucu kita lahir dengan selamat, ibunya sehat juga, anaknya pun sama. Menjadi anak yang saleh, pokonya doa terbaik lah," ucap Pak Marwan.
"Aamiin ya Allah ..." bu Rahma mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Ma, gimana keadaan Laras sekarang, sudah baikan belum?" tanya pak Marwan sambil meneguk kopi nya.
"Tadi sih agak baikan, cuma masih lemas. Semalam dia cerita. Den ngeluh--"
"Ngeluh kenapa?" pak Marwan memotong ucapan sang istri dengan rasa penasarannya.
"Itu, katanya tidur sudah sering gelisah. Ngapa-ngapain kurang nyaman, seperti posisi tidur yang serba salah katanya. Miring salah. Terlentang bosan, Mama bilang itu wajar namanya juga hamil besar, kan. Kakinya agak bengkak. Cepat capek dan pegal-pegal, Mama bilang jangan sungkan minta di pijat sama suami."
"Iya, dulu juga Mama kaya gitu. Suka ngomel kalau Papa tidak pijat. Iya kan? masih ingat gak?"
"Ih ... Papa masih ingat aja, jadi malu. Hi hi hi ..." bu Rahma menepuk bahu sang suami sambil nyengir.
"Emang iya, Mama dulu manjanya selangit. Masih mending sekarang Ibra, Laras mah gak manja gak manja. Sedikit gak enakkan sama suami. Gak kaya Mama. Galak nya bukan main waktu hamil Ibra."
"Iya, ya Pa. Sewaktu Mama hamil dulu bawaannya kesal, marah sama Papa. Entah kenapa?" kenang bu Rahma.
"Iya, kalau seandainya Papa waktu itu gak kuat dan tergoda sama wanita lain mungkin Papa sudah kawin lagi ha ha ha ..."
"Kawin-kawin, awas ya ngomong sekali lagi soal kawin lagi, aku potong potong barang Papa." Mata bu Rahma melotot dengan sempurna. Jari pun mencubit pinggang sang suami.
"Ya, ampun Mama, seram amat. Dian aja bisa tuh membiarkan barang suaminya jalan-jalan ke mana gitu. Bermain sana sini, asyik kali ya?" goda pak Marwan.
"Dian aja yang kurang waras menyuruh suami kawin lagi, Lagian anak kita gak terlalu nuntut tuk punya anak kok. Ngapain suruh suami kawin lagi? walau laki-laki bilang gak mau, tetap aja laki mana sih yang kuat bila melihat perempuan yang halal di depan mata. Ibarat kucing dapat ikan, yang di tutup aja di curi. Apalagi yang sengaja di berikan. Ya di lahap! yang akhirnya apa? dia sendiri yang sekarang di cerai," ketus bu Rahma.
"Seperti putra kita ya? yang akhirnya menikmati istrinya dan tembus ... menabur benih. Sampai-sampai istrinya mengandung," pak Marwan mesem-mesem.
"Begitulah. Persis seperti itu, akhirnya jadi cinta. Eh Pa ... Mama kok mencium sesuatu ya?"
"Mencium apa Mah ... nih pipi Papa cium," pak Marwan menyodorkan pipinya.
"Ih ... Papa ini, mencium bau kain yang terbakar." Bu Rahma langsung bangkit dan mencari sumber yang bau itu.
Bu Rahma setengah berlari ke tempat yang ia rasa mengeluarkan bau. "Ya ampun ... apa ini?" mengangkat setrikaan yang mungkin terlalu lama menempel ke pakaian, menjadikannya meleleh dan bolong.
Asisten pun datang dengan tergesa-gesa. Lantas membungkuk dan merasa bersalah. "Maafkan saya Nyonya? tadi saya ke toilet sebentar."
"Kalau di tinggal itu ... setrikaannya di buat berdiri. Jangan di tempelkan ke pakaian. masih mending cuma bolong satu, kalau sampai terbakar gimana?" bu Rahma menggeleng kasar.
"Iya, maaf Nyonya. Saya lalai." Asisten itu makin menunduk dalam.
"Ya, Sudah. Lain kali lebih hati-hati lagi, bersihkan setrikaannya. Dan ganti sama yang satu lagi." Jelas bu Rahma.
"Baik, Nyonya," dia menuruti perintah bu Rahma. Mengganti setrikaan dengan yang satu lagi, lalu melanjutkan tugasnya.
"Bu Rika ke mana?" selidik bu Rahma sambil memasukan pakaian yang rusak itu ke tong sampah.
"Bu Rika sedang belanja mingguan Nyonya."
"Oh ..." bu Rahma membalikkan tubuhnya.
"Lain kali lebih hati laginya dalam bekerja?" suara pak Marwan pada asisten tersebut.
"I-iya, Tuan." Mengangguk hormat.
"Yu, Pa ..." bu Rahma menggandeng tangan sang suami kembali ke tempat semula.
Keduanya berjalan tampak mesra sekali. Saling menggandeng satu sama lain.
Setelah keduanya sudah berada di kamar dan duduk di salah satu sofa, Bu Rahma menerima telepon dari Susi. Kalau ke rumah Laras ada tamu, dan tamunya adalah Jodi dan bapak yang di kursi roda. Bu Rahma dan suami saling bertukar pandangan, heran. Jodi sama siapa dan ada perlu apa ....
****
__ADS_1
Reader ku, aku ucapkan makasih ya pada kalian yang tetap setia menunggu up SKM ini. Aku harap kalian tidak bosan🙏 oya jangan lupa favoritkan karya aku yang berjudul "Bukan Suami Harapanku" ya ... makasih sebelumnya.