Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Lancar


__ADS_3

Mata Ibra mengitari semua tamu yang di sana. "Siapa yang kau maksud?" Ibra heran memandangi Zayn. Namun Zayn terdiam dengan tatapan tajam pada seseorang.


Pada akhirnya Zayn menjawab. "Itu bersama mantan istri mu." Bisik Zayn. Menunjuk dengan ekor matanya ke arah Dian dan rombongannya.


Ibra mengernyitkan keningnya. Ia tak mengerti sama sekali dengan maksudnya Zayn. Ia berpikir keras apa dan siapa yang dimaksud oleh sang asisten pribadinya, Zayn.


"Bu, sini?" panggil Laras pada bu panti sambil melambaikan tangan.


Bu panti pun bergegas menghampiri Laras dengan senyuman yang merekah di wajahnya. Ia berjalan menuju ke arah Laras yang sedang berkumpul dengan keluarganya. Mendadak senyum di bibirnya pudar seketika.


Alangkah terkejutnya bu panti melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk di kursi roda sedang sibuk mengobrol. Bu panti membatu sementara waktu, hatinya mendadak sakit. Apa yang ia lihat seolah menorehkan luka lama kembali, ingin sekali ia berpaling dan menjauh dari situ. Namun langkahnya sudah terlanjur mendekat.


Sementara pak Mulyadi belum menyadari kehadiran bu panti alias Rosa. Ia sibuk berbincang dengan pak Marwan dan yang lainnya.


Laras dan bu panti berpelukan, dan sejenak saling melepas rindu. Bu panti berpelukan dengan bu Rahma sejenak, kemudian Laras mengenalkan bu panti pada Jodi dan Caca. Mereka pun berbincang sebentar. Terkahir Laras mengenalkan bu panti pada sang paman, Mulyadi. Yang masih sibuk berbincang.


Laras lebih mendekat pada pak Mulyadi. Sedangkan perasaan bu panti sungguh kacau tak menentu, ingin rasanya menghilang dari tempat itu secepat mungkin.


"Paman," panggil Laras dengan lirih pada sang paman.


Pak Mulyadi menoleh ke arah Laras. "Apa La?"


"Paman, mau berkenalan sama orang yang selama ini mengurus Laras, kan?"


"Iya, mana La?" pak Mulyadi sangat antusias mendengarnya.


"Ini, bu panti yang selama ini merawat ku." Menunjuk bu panti yang sedikit memunggungi.

__ADS_1


Pak Mulyadi menatap punggung bu panti. "Apa kabar? terima kasih sudah merawat Laras, keponakan saya. Selama ini."


Perlahan bu panti menoleh dan memperlihatkan wajahnya di hadapan Mulyadi. Laki-laki tua yang masih terlihat awet muda itu sontak wajahnya pucat pasih, tidak menyangka kalau orang yang merawat sang keponakan adalah orang yang pernah menjadi masa lalunya.


Detak Jantung pak Mulyadi bagai terhenti berdegup. Napasnya seakan terkunci, matanya tak berkedip menatap kosong. Sungguh sesuatu yang tidak pernah ia duga.


Begitupun bu panti. Kalau saja bisa memilih. Ia tak pernah menginginkan pertemuan ini terjadi lagi. Sebab hanya akan menimbulkan luka yang mengering perih kembali. Bu panti menunduk, tak sepatah katapun yang ia ucapkan. Dadanya terlalu sesak, napasnya begitu berat. Ia mematung dengan mata yang berkaca-kaca sebagai luahan dari yang ia rasakan.


Namun bu panti tak ingin larut, apalagi dalam situasi yang seperti ini. Ia segera mengusap sudut matanya yang tak bisa menahan buliran air bening itu. Ia tersenyum getir. Menoleh pada Laras. "Ibu sudah kangen dengan baby boy, Ibu ingin menggendongnya." Tak menunggu jawaban dari Laras, bu panti menjauh dari keberadaan Laras dan Mulyadi.


Laras bengong, sangat terheran-heran dengan sikap keduanya, paman dan bu panti. "Ada apa ini? apa mereka sudah saling mengenal satu sama lain?" batin Laras. Namun untuk menanyakannya saat ini bukanlah waktu yang tepat.


"Paman aku tinggal dulu ya!" Laras segera menghampiri baby boy yang sudah di kerumun para tamu. Susi yang menggendong pun sampai kewalahan sampai-sampai bergantian dengan omanya, bu Rahma. Kewalahan dalam arti merasa panas dan riuh dengan suara-suara yang ingin menggendong dan memuji ketampanan baby boy.


Dian sekeluarga pun sudah datang dan ingin menggendong baby boy, ia merasa kangen dengan anak ini. Ia cium pipi dan kening baby Satria, belum lagi bu Lodia yang tampak begitu bahagia bertemu lagi baby boy.


"Baik, alhamdulillah. Nggak terasa ya sudah empat puluh hari lagi nih anak," sahut Dian sambil mencolek pipi baby boy yang gembul.


"Aduh ... Mommy gemes deh pengen nyubit atau gigit pipinya. Haduh ... makin gendut nih badan, makin gembul pipinya. Makin lucu kelihatannya, tampan sekali. Ah, makin semuanya deh." Bu Lodia riweh.


"Pasti, mimi nya kuat ya sayang?" melirik ke arah Laras yang langsung membalas dengan anggukan.


Kemudian bu Lodia menoleh sang suami yang cuma diam menatap tajam baby boy itu. "Ini loh Papi anaknya Ibra dan dia istrinya, Laras. Lucu ya? kapan ya Dian akan memberikan hadiah seperti ini pada kita ya Pih!"


Namun suaminya hanya menatap datar sang istri, tak ada sepatah katapun yang ia ingin ucapkan pada sang istri atau tentang baby Satria yang di cintai banyak orang itu.


Mendengar ucapan bu Lodia. Laras langsung meraih tangan papinya Dian dan mencium punggung tangannya. "Apa kabar Om? senang bisa bertemu dalam acara ini."

__ADS_1


Papi nya Dian cuma mengangguk pelan pada Laras. Kemudian kembali menatap baby Satria.


Jamuan sudah tersedia di meja, dan juga suvenir mewah pun sudah menumpuk serta orang-orang yang di bagiannya bersiap membagi-bagikan.


Acara pun dimulai dengan pembukaan oleh seorang ustadz. Kemudian di mulailah ritualnya, termasuk mencukur rambut sang bayi dan itu dilakukan bergantian oleh keluarga terdekat. Dari mulai opa, oma dan yang lainnya. semua berjalan dengan hikmat.


Acara tilawah oleh qori ternama pun berlangsung lama, dengan suara yang merdu membuat terlena dan begitu tentram di hati mendengarkan nya. Lanjutannya adalah ceramah dari ustadz yang senagaja di datangkan ke sana, terus acara berdoa dengan penuh kekhusyuan. Mendoakan segala kebaikan untuk keluarga dan khususnya buat baby boy.


Dengan khusyu dan hati yang lembut, tak terasa menitikan air mata dari sudut pelupuk mata Laras dan Ibra. Mendengar doa yang di bacakan membuat sebagian orang merasa haru. Ucapan Aamiin pun terus-terusan bergema dari bibir semua yang hadir di sana. Mension yang besar dan mewah ini tersulap bak masjid yang sedang mengadakan acara pengajian.


Kemudian, dilanjutkan dengan sunat, agar anak itu tambah bersih. Sebagai muslim sunat itu wajib guna membuang kotoran yang akan menempel di ujung junior si anak. Dan ini cukup memakan waktu yang cukup lama, untungnya anak ini kuat, sehingga menangis nya tidak terlalu histeris yang membuat sang bundanya panik. Mungkin ditunjang dengan obat yang super bagus sehingga nangisnya sebentar saja.


Kemudian di akhir acara ya itu makan-makan, khususnya daging aqiqah. Yang suka menyantapnya dengan lahap dan bagi yang gak suka, tentu banyak pilihan menu lainnya. Beberapa olahan daging. Sosis, ikan laut. Semua macam olahan ayam juga, banyak tersedia di meja.


Ibra dan Laras saling melempar senyuman bahagianya. "Aku bahagia, acara ini berjalan dengan lancar, ya Allah ... alhamdulillah." Laras mendongak ke langit-langit dan mengusap wajahnya dengan satu tangan, sebab tangan yang satu lagi ia gunakan untuk memeluk sang putra kecilnya.


"Iya, sayang. Aku pun sangat-sangat bahagia sekali." Ibra menggenggam tangan Laras erat-erat. Kebahagiannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Baby boy yang dalam gendongan sang bunda beralih ke dekapan sang ayah. Baby boy akhirnya tertidur lelap, setalah barusan sebentar menangis. Mungkin merasa sedikit perih di bagian yang tadi di sunat. Laras mengambil makan buat mereka berdua, kini mereka merasa lapar setelah melewati waktu yang bikin deg deg gan. Saat berlangsungnya di sunat.


Dian yang nampak cantik dengan balutan pakaian yang sopan. Berseri di samping Firman, mereka berbincang dengan Jodi dan Caca juga banyak rekan-rekan dari pebisnis lainnya.


Dari jauh, sepasang mata terus menatap tajam pada Ibra dan Laras, Putra kecilnya pun tak luput dari pandangannya ....


****


Hi ... gimana apa kalian masih suka dengan SKM ini? dan hanya kata makasih banyak yang bisa aku ucapkan pada kalian semua yang sudah mendukung ku dalam berkarya. Jangan lupa fav dan mampir juga di BUKAN SUAMI HARAPAN 🙏

__ADS_1


__ADS_2