
Pria itu berlalu meninggalkan, tempat yang ramai itu setelah puas melihat ke arah sang punya hajat.
Dan di suatu tempat. Irfan mengamati gerak gerik seseorang yang ia anggap aneh itu, ia bersiap siaga untuk menjaga keselamatan sang majikan. Hingga akhirnya pria itu pergi dengan taksi.
Irfan menghela napas panjang. Kepalanya sedikit menggeleng, kemudian ia masuk kembali mengamati situasi agar aman dan terkendali. Satu per satu tamu pun beranjak pergi, beberapa scurity berjaga di pintu dan ada juga yang mengatur kendaraan di depan.
Ibra dan Laras nampak sedang berbincang dengan banyak tamu. Dibarengi tawa, suasana tampak bahagia. Mata mereka berbinar, wajah pun begitu sumringah.
"Saya sangat amat berterima kasih pada yang sudah hadi dan ikut mendoakan baby boy kami. Makasih?" ucap Ibra pada rekan dan koleganya yang berpamitan, tangannya tak luput membawa suvenir atau cinderamata dari pihak Ibra.
"Sama-sama!"
Banyaknya tamu yang tadi hadir, berangsur pulang dan berkurang. Tinggallah beberapa gelintir orang saja, termasuk keluarga dan Dian yang masih berada di sana.
Baby boy terus menangis membuat Laras panik. Bingung tak tahu harus berbuat apa?
"Tenang sayang ... jangan panik, biasa itu, namanya juga di potong burung nya. Ya sakit," ucap Ibra, melihat wajah cemas sang istri. Baby boy Ibra ambil dan terus menggoyang. Untuk menenangkan baby boy.
"Iya, sayang jangan khawatir, nanti juga akan tenang baby." Bu Rahma mengusap bahu Laras.
"Tapi Mah ... nangis terus. Kasian." Laras berkaca-kaca matanya. Tak tega melihat baby boy nangis terus. Berhenti, nangis lagi.
"Dulu juga, Ibra gitu. Berapa hari Mah?" ucap pak Marwan melirik sang istri.
"Dua hari kalau gak salah, merengek terus. Nangis terus, Mama juga panik sama. Kasian gak tega gitu lihatnya."
"Iya, gak tega Mah ..." Memeluk sang mama mertua sambil mengusap air bening di pipinya.
"Kasihan ya?" gumam Dian sambil memeluk Ferdi.
"Papa, kalau Ferdi sudah di sunat ya Pa?" tanya Ferdi menatap Firman, ayahnya.
"Sudah sayang. Ferdi juga dulu gitu nangis terus," sahut Firman, menoleh sang putra.
Firman berdiri dan mendekati Ibra yang menggendong baby boy menggoyangkan badannya. Agar baby Satria merasa tenang. "Sini, sama Om yu? mau coba gendong."
Ibra menatap sebentar. Kemudian memberikan baby boy yang terus merengek nangis pada Firman.
Perlahan baby Satria merengek nya berhenti, di ganti memasukan ibu jari ke mulutnya. Firman tersenyum puas. "Baby boy mau sama Om, iya? bilang dong. Hem sakit ya burung nya. panas ya? yang kuat ya ... gak akan lama kok anak jagoan."
Semua yang berada di sana tersenyum haru melihat baby boy tenang di pangkuan Firman. Mungkin Firman sudah lebih pengalaman momong anak. Tak seperti Ibra yang baru.
"Yey-yey Papa bisa bikin baby boy berhenti nangis hore!" Dian dan Ferdi sedikit bersorak.
Ibra menggaruk kepalanya yang tak gatal. Merasa kalah sama Firman yang lebih pengalaman momong baby.
Laras menoleh ke arah Ibra. "Tuh, harus kaya Mas Firman, Abang pandai membuat tenang baby boy."
"Ya, wajar aja. Firman anak nya dah gede sayang, aku baru baby Satria ini. Maklum lah." Ibra taka mau kalah.
"Kita, gimana sayang? bisa gak ya momong baby!" tanya Jodi ke Caca yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Harus bisa lah, kalau gak aku hukum." Timpal Caca.
Laras penasaran. "Hukum gimana Ca?"
"Hukum, tidur di luar jangan mau bareng-bareng, percuma kalau gak bisa bantu. Ngapain? cuma bisa bikinnya aja, ups." Caca menutup mulutnya ketika sadar di sana banyak orang.
Laras tertawa senang mendengarnya. Ia kira Caca itu pendiam, ternyata jauh dari perkiraan Laras.
Begitupun Dian. Ia mendelik pada Firman. "Berarti kalau kamu buat kesalahan aku gituan juga ya? jangan masuk kamar."
"Jangan gitu dong sayang. Kalau kangen gimana?" Keluh Firman.
"Kalau istri melarang suami masuk, kita kawin lagi aja, kan gampang, ha ha ha ..." celetuk Ibra sambil tertawa.
"Abang ..." Mata Laras melotot sempurna. Tangannya mencubit pinggang Ibra.
"Aw, sakit sayang." Ibra meringis.
Laras terkesiap melihat Ibra memekik kesakitan. "Oh, maaf abang maaf." Langsung mengusap lembut.
"KDRT tuh, Kalau Caca galak begitu aku hukum kamu." Jodi menoleh Caca.
"Apa?" tanya Caca.
"Nggak boleh kerja," sahut Jodi.
"Itu sih enak, mau kaya gitu." Timpal Caca sambil tersenyum manis.
"Nggak tahu, biar aja paling pulang duluan." Balas Dian masih mendekap Ferdi yang anteng memainkan pesawat.
Sementara pak Mulyadi tampak gelisah, matanya seperti mencari-cari sesuatu yang hilang. Hatinya memang tengah risau, dihantui rasa bersalah yang begitu besar, kemudian ia menunduk lesu. Matanya tak dapatkan sosok yang ia cari.
"Oya, Abang. Aku gak lihat bu panti, kemana ya?" bisik Laras pada sang suami.
"Ha, nggak tahu. Gak ada amit ya?"
Laras menggeleng. Matanya celingukan. Kemudian berdiri. "Sebentar. Aku tinggal dulu."
Laras membawa langkahnya ke dapur dengan mata mengitari semua sudut ruang. "Sus. lihat bu panti nggak?" tanya Laras pada Susi yang tengah beberes.
"Kurang tau Nya. Mungkin bu Rika tahu."
"Oke, makasih?" tangan Laras menepuk bahu Susi.
Laras bertanya pada bu Rika, ia pun menjawab sama seperti Susi. "Kemana ya, masa pulang gak pamit dulu. Tapi suvenirnya dapat kan?"
"Dapat Nyonya, semua juga kebagian." Jawab bu Rika.
"Baguslah." Laras terus melangkahkan kakinya mencari keberadaan bu panti yang hilang jejaknya. Sekaligus bersama anak-anaknya.
"Mencari siapa Nona?" suara Irfan dari arah belakang.
__ADS_1
Laras langsung memutar badan. "Iya, Mas. Aku mencari bu panti dan anak-anak."
"Oh ... setelah makan, mereka bergegas pulang." Balas Irfan.
"Kok gak ada yang bilang? mereka pun gak pamit tai mereka semua membawa suvenir kan? kebagian." Menatap cemas.
Irfan sejenak terdiam. "Bawa. Semua kebagian kayanya."
"Ya Sudah, Mas makasih ya atas infonya?" Laras mengulas senyuman.
Irfan mengangguk. "Sama-sama Nona."
Laras kembali ke Lobby menemui yang lain. Sesampainya di tempat semula Laras duduk di dekat sang suami yang sedang mengobrol dengan sang ayah dan Firman.
"Dari mana La?" tanya Jodi penasaran. "Oya, aku gak lihat lagi bu panti, apa dia sudah pulang!"
"Sudah. Aku juga gak tahu," sahut Laras.
Jodi mengerutkan keningnya. Ia merasa bersalah juga, selama sang ayah bersamanya ia tidak mengunjungi panti. Ditambah lagi ia merasa heran dengan sikap sang ayah dan bu panti, keduanya tadi begitu tegang, gugup dan kaku.
Putaran waktu sudah menunjukan pukul 17.00 wib. Dian dan keluarga berpamitan, serta berpesan. Jangan lupa datang di acaranya lusa.
"Iya, insya Allah kami akan datang. Makasih ya sudah hadir di sini." Laras dan Dian berpelukan sangat erat.
"Sama-sama, sekali lagi jangan lupa datang ya?" lagi-lagi Dian berpesan.
Dian juga memeluk bu Rahma, pak Marwan. Terakhir berjabat tangan dengan Ibra. Kemudian pada Jodi dan Caca juga pak Mulyadi.
Firman, bu Lodia juga berpamitan pada semuanya. Saling memberikan pelukan hangat kekeluargaan.
"Sampai jumpa lagi lusa," ucap Firman.
"Oke." Ibra mengangguk dan melepas jabatan tangannya.
Setelah Dian sekeluarga pergi. Akhirnya Jodi pamit juga. "La, Ibra. Kami pulang dulu lah, dah sore."
Laras melirik sang suami. Ibra pun mengangguk. "Padahal masih siang, kenapa buru-buru juga?"
"Gampang lah, lain kali kami datang lagi," balas Jodi.
"Paman, Paman nginap saja di sini?" tawar Laras.
"Lain kali saja, kamu yang bawa baby boy ke tempat jodi. Kami tanggu," ujar pak Mulyadi.
"Iya, Insya Allah Paman. Nanti ke sana." Timpal Laras lantas meraih tangan pak Mulyadi.
Caca mendorong kursi roda pak Mulyadi, dibarengi Jodi di sampingnya. Kemudian menyiapkan mobilnya yang terparkir di depan.
Zayn yang dari tadi di posko, berbincang dengan Irfan. Irfan pun bercerita akan kecurigaan yang tersimpan dalam hatinya ....
****
__ADS_1
Yang sudah baca. Mana like dan komennya, terima kasih ya? jangan lupa kunjungi juga karya ku "Bukan Suami Harapan" insya Allah kalian akan suka.