
Saat ini Ibra dan Laras sedang berada di sebuah swalayan untuk belanja mingguan. Ibra sesekali menggandeng tangan Laras yang memilih apa aja yang dibutuhkan.
"Susi mana sayang?" tanya Ibra pada Laras.
"Disebelah sana kali, cari perbumbuan." Sahut Laras menunjuk ke arah lain dengan dagunya.
"Oh, setelah belanja mau ke mana lagi nih, sayang? aku temenin," Ibra melirik sang istri yang sedang mengambil kecap botol dan memilih-milih.
"Kemana lagi? di rumah ada mama, masa mau di biarin, gak enak lah," sahut Laras mengingat di rumah ada mertua.
Ibra merengkuh bahu Laras. "Tak apa sayang. Toh mereka bukan anak kecil lagi, biar merek istirahat di rumah." Ibra mendaratkan ciuman di kening sang istri.
Laras celingukan. "Iih ... jangan aneh-aneh, malu di lihat orang," gumam Laras pelan.
"Biar saja, kita ini pasangan sah, sayang ... bukan pacaran." Elak Ibra lagi-lagi mencium kening dan berakhir di pipi Laras. Membuat wajah Laras bersemu merah, menahan malu. Dengan sudut mata, melihat orang-orang melirik ke arahnya.
"Abang ih ... malu," ucap Laras menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Netra mata Ibra bergerak, sekilas menyapu sekitar sana. "Ya udah, kalau sudah dan tidak ada lagi yang harus dibeli. Kita pulang aja." Menggenggam tangan Laras.
"Sudah kayanya. Setelah melakukan pembayaran. Ibra dan Laras keluar dari swalayan tersebut jalan bergandengan, sementara Susi duluan membawa belanjaan dan memasukan ke bagasi. Kemudian mengantar troly ke tempatnya.
Tengah asyik jalan, Tiba-tiba ada yang menubruk bahu Laras dari belakang. "Aduh." Laras mengusap bahunya.
Seorang wanita berpenampilan modis berbalik dan berkata. "Sorry?" tersenyum sinis pada Laras dan Ibra.
"Kau?" Ibra terkejut melihat Mery berada di sana.
Laras menoleh ke arah orang yang menabrak bahunya itu. "Mery ..."
"Rupanya kalian sekarang lebih pablik ya? menampakkan kemesraan di muka umum segala. Terutama kamu Laras, kau begitu percaya diri ya? meskipun merebut suami orang," ujar Mery yang sedari tadi memperhatikan mantan suami dan madunya.
"Kamu, jangan macam-macam Mery. Kalau kami pamer kemesraan, emangnya kenapa? ini bukan urusan mu. Kau bukan istri ku lagi." Tegas Ibra sembari menatap tajam ke arahnya.
"Iya, aku gak bicara sama kamu, manatan suami ku. Tapi aku berbicara sama dia yang kini bahagia di atas penderitaan wanita lain, kini kamu boleh bahagia dan menikmati kemesraan mu dengan suami mu ini. Karena pada waktunya kau akan di tinggalkan juga," ucap Mery dengan nada sinis dan tertawa penuh kepuasan.
"Maksud kamu apa? gak bosan dengan semua yang kamu katakan padaku yang berulang-ulang itu. Aku sudah tidak perduli dengan semua itu, mau aku di tinggalkan, mau ... aku tetap dibutuhkan? aku akan tetap terima kenyataan." Jelas Laras sambil menarik tangan dari genggaman Ibra, ia berlari menuju mobil dan bergegas masuk, duduk di depan. Mengusap kasar air mata yang berlinang tanpa diizinkan.
Ibra yang masih berdiri berhadapan dengan Mery. "Jangan macam-macam, apalagi mengganggu ketenangan Laras. jika kamu langgar, kau akan berhadapan dengan ku," ancam Ibra sembari melengos menuju mobilnya.
"Heh, aku gak takut karena itu yang akan terjadi." Pekik Mery.
Ibra hentikan langkahnya, namun tidak menggubris omongan Mery.
"Nyonya muda, yang tadi itu Mery ya? tambah seksi aja dia." Tanya Susi sambil memandangi ke arah Mery yang berdiri dan berpangku tangan.
"Hem," sahut Laras yang memalingkan wajahnya ke lain arah.
Ibra datang dan memasuki mobil, duduk dibelakang kemudi. Sebelumnya melirik Laras yang mengarahkan pandangan ke luar jendela. Menggenggam tangan Laras, namun Laras menarik dan menghindar.
Dengan kasar Ibra menarik napasnya dalam-dalam dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Laras merasa kesal, dadanya sesak dan sakit berbaur jadi satu. sehingga menimbulkan tetesan air mata. Mengalir di pipi, sesekali Ibra menoleh ke arah Laras dan pipinya yang basah. Sengaja gak dia seka. Kalau banyak bergerak dan menyekanya, bisa-bisa Susi melihat dan timbul pertanyaan yang nanti malah bikin runyam.
__ADS_1
Diam-diam Laras mengusap pipinya. Melirik ke belakang, Susi sedang asyik main games di ponsel. Jadi agak aman, Laras kembali mengusap pipinya supaya kering, menarik napas dalam-dalam kemudian ia hembuskan secara kasar.
Ibra meraih tangan Laras dan meremasnya. Ingin meyakinkan bahwa semua yang di omongin Mery itu tidak benar dan tidak usah di dengar.
Laras menarik tangannya, namun genggaman tangan Ibra terlalu kuat, Ibra menautkan jari jemarinya. Tanpa Laras duga, Ibra mencium punggung tangan Laras. Menggambarkan kalau dirinya sangat berharga dalam hidup Ibra.
Laras terkesiap dengan perlakuan Ibra yang manis terhadapnya. Setidaknya sedikit mengobati hati yang luka, terkadang ada rasa marah, namun pada siapa ia harus marah? Ibra juga tidak tahu apa-apa.
"Sayang, mau jajanan apa?" tanya Ibra sembari menunjuk setiap yang dagang.
Laras hanya melihat yang Ibra tunjukkan, tanpa membalas apapun. Bibirnya seakan terkunci, kemudian mengedarkan pandangan keluar jendela kembali.
"Mati, lo mampus. Sukurin makanya jadi orang jangan sok jago," suara Susi yang riuh menghiasi sepinya di dalam mobil tersebut.
Ibra menoleh dan menggeleng. Begitupun Laras, memutar kepalanya menengok Susi yang asik dengan games nya.
Sekilas Laras melihat penjual kerak telor yang di pikul. "Iih ... mau itu," gumam Laras.
Ibra menoleh lantas menepikan mobilnya. "Sus ..." panggil ibra.
Laras masih enggan bicara pada Ibra. Ia percaya Ibra akan membelikan meskipun tidak secara langsung ia memintanya.
Susi mendongak. "I-iya, Tuan?"
"Nyonya muda, mau beli yang itu tuh, kerak telor, belikan sana?"
Susi menggerakkan matanya melihat yang Ibra maksud. "Oh, baiklah Tuan." Susi membuka sabuk pengaman dan hendak ?turun.
"Siap, aku boleh beli gak, Tuan?" tanya Susi nyengir.
Ibra mengangguk, "Beli saja, masa itu gak cukup?"
"Cukup, Tuan ... Susi cuma minta ijin saja. he he he ..." Susi berlalu.
Ibra mengalihkan pandangannya pada Laras yang menatap punggung Susi. Ibra menaut jemarinya kembali dengan jemari Laras yang lentik-lentik. "Jangan dipikirin omongan Mery yang tadi ya? aku sayang sama kamu. Gak mungkin aku ninggalin kamu sama anak kita, gak usah dengar omongan orang ya?" lagi-lagi mencium punggung tangan Laras.
"Aku gak tau, percaya atau tidak! yang jelas hati aku sakit, rasanya aku pengen marah. Semarah-marahnya, namun bingung juga harus pada siapa marahnya? aku ingin nangis ... sejadi-jadinya. Menjerit, tapi kadang, aku pikir lagi aku juga yang salah--"
"Stt ... jangan bicara gitu," ucap Ibra, dan merengkuh kepala Laras. Dibawa ke dadanya.
"Aku yang salah, kenapa aku mau menerima tawaran Dian untuk jadi istri mu, bersedia hamil juga. Tidak berpikir akan akibatnya, tidak terpikir oleh ku kalau akhirnya seperti apa?" Laras menangis di dada Ibra, Ibra membelai rambutnya sangat lembut.
"Kamu, tidak salah sama sekali sayang, yang salah itu ... Dian dan aku yang membawa dirimu ke dalam masalah kami. menarik kamu ke dalam biduk rumah tangga kami, maafkan aku." Cuph! mencium pucuk kepala Laras.
Laras segera menyeka air matanya dan menegakkan duduknya. Ibra pun turut mengusap air mata Laras di pipi.
"Jangan menangis sayang, kamu tidak salah, aku yang salah! dan kamu jangan khawatir. Aku akan terus bersama mu juga anak kita." Ibra menatap wajah Laras sangat lekat.
Laras mengambil tisu dan mengusap semua air matanya. Gak enak juga bila nanti di lihat mertua.
Wajah Ibra mendekat. mencium pipi Laras kanan dan kiri penuh rasa kasih dan sayang. "Jangan nangis lagi ya? I love you."
Laras terkesiap mendengar ucapan cinta dari Ibra yang seingatnya kata cinta yang pertama ia dengar dari mulut ibara. Kedua netra mata mereka bertemu sama satu sama lain, sementara waktu keduanya saling tatap. Jari Ibra mengelus pipi Laras, mereka larut dalam suasana.
__ADS_1
"Ehem, kerak telor nya dah jadi ..." suara Susi memecah suasana romantis ini.
Keduanya terkesiap dan menoleh ke arah Susi bermaan sehingga kening Ibra dan Laras beradu.
"Aw, sakit." tangan Laras mengusap keningnya yang terasa panas. Sakit.
"Maafkan aku sayang," sontak Ibra meniup keningnya Laras diakhiri dengan ciuman hangatnya.
"Aduh ... Susi gak boleh lihat ini. Susi, kan belum nikah." Susi menutup wajahnya dengan kelima jari yang sedikit mengintip.
Laras dan Ibra saling lempar senyuman. Wajah Laras merona malu, mencubit kecil pinggang Ibra.
"Sakit sayang, awas ya? tunggu nanti hukumannya di rumah." Bisik Ibra ditelinga Laras. Membuat Laras meremang dan mendelik. Memutar bola matanya.
Ibra menyeringai dan mengambil pesanan Laras dari Susi. Ini makan dulu sayang? nanti keburu dingin. Minumnya mana Sus?" melirik Susi yang tengah asyik makan.
"Ini, Tuan. Enak banget nih, bener gak Nyonya?" tanya Susi ke Laras yang mulai mencicipi.
"Em ... iya enak Sus, Abang mau gak?" Laras menyuapi Ibra yang bersiap melajukan mobilnya.
Ibra membuka mulut, menerima suapan dari Laras. "Em ... enak juga. Mau beli lagi gak buat di rumah hem?"
Laras menggeleng. "Nggak ah, cukup lain kali saja," jawabnya dan segera melahaf menghabiskannya.
"Baiklah. Kita pulang saja ya?" ucap Ibra memutar kemudi dengan pandangan penuh kehati-hatian.
beberapa meter kemudian Laras melihat yang jualan manisan mangga satuan. "Ih ... bagus, mau ..." melirik suaminya.
"Itu, asam Nyonya."
"Iya, namanya juga manisan Susi ada asam dan manis juga pasti ada."Jawab Laras sambil menoleh.
Ibra tersenyum. Dan terus melajukan mobilnya sebab yang jualan berada beberapa meter di depan. Sesampainya depan yang jualan. "Dua Bang," menunjuk mangga yang sudah di bentuk bunga-bunga itu.
"Wah ... cantik banget," gumam Laras setelah manisan itu ada di tangannya.
Selapas membayar, Ibra langsung melajukan kembali mobil kesayangannya.
"Mau gak Sus?" Laraa menoleh ke arah Susi yang duduk di belakang.
"Nggak ah, pasti rasanya masam." Susi menggeleng.
"Manis kayanya Sus." Kata Laras sambil memetik sebagian lalu memakannya. "Manis Sus. Coba Abang rasain." Laras menyuapi Ibra lagi.
"Lumayan manis," sahut Ibra dengan mata fokus ke depan.
"Nggak ah, buat Nyonya saja." Sambung Susi dan bermain games kembali.
Kini sudah memasuki wilayah komplek. Laras asyik memakan manisan, sesekali menyuapi suaminya ....
****
Reader ku semua, aku up lagi nih. Semoga kalian suka ya, jangan lupa dukungannya. Oke? semoga puas.
__ADS_1