Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Menculik


__ADS_3

Ibra dan keluarga sudah 10 hari di Bali, yang tadinya mau satu Minggu akhirnya lebih dengan alasan kasian dengan pengantin baru. Semua urusan perusahaan di kensel. Untuk sementara waktu sampai mereka kembali dari Bali.


Hari ini mereka sudah berkumpul di bandara menunggu penerbangan, Ibra duduk tidak jauh dari sang istri sambil mengajak bermain baby boy.


Susi dan Zayn pun selalu nempel kaya perangko meskipun sering terjadi percekcokan kecil diantara mereka berdua. Seperti saat ini keduanya sedang berebut makanan yang berada di tangan Susi.


"Tadi di suruh beli gak mau, sekarang aja pengen. Beli sendiri." ketus Susi.


"Eh, Markonah. Itukan belinya jauh dari sana, masa saya harus balik lagi ke sana ketinggalan pesawat nanti."


"Makanya jangan mau." Susi keras kepala.


"Heeh ... dasar pelit. Awas nanti saya beli yang banyak jangan minta ya?" gerutu Zayn.


"Bodoh amat. Dah kenyang kok, wew." Susi menjulurkan lidahnya ke Zayn.


"Awas ya Markonah. Nanti malam ku hukum kamu sampai gak ada ampun." Ancam Zayn.


"Terserah, aku mau di Mension kok tinggalnya--"


"Aku juga mau di sana. Apa susahnya sih." Zayn tak mau kalah.


"Dasar Zaylangkung." Susi mencibir.


Ibra menoleh ke arah mereka. "Huus ... berisik, kenapa sih?"


"Ini Tuan." Susi menunjuk Zayn yang manyun.


Kemudian Ibra dan Zayn beranjak mendekati loket. Setalah itu semuanya memasuki pesawat bersiap Tek-up.


"Bismillah ..." gumamnya Laras. Ketika beranjak dari duduknya membawa baby boy.


"Sini sama Papi sayang." Pada akhirnya baby boy beralih tangan diciumnya berkali-kali. "Jagoan Papi mau pulang kita."


"Awas tercengklak tuh kepalanya." Gumam Laras sambil mengusap kepala baby boy.


Mereka terus berjalan menuju tangga pesawat. Laras melirik Susi yang menarik koper kecil milik baby boy. Wajahnya tampak kesal. "Sus. Kenapa sih si tekuk begitu? nggak mau pulang?"


"Bukan, Nyonya muda. Ini lho tuan Zayn ngancem mulu. Aku gak boleh nginep di Mension lagi, katanya harus ikut dia ke rumahnya. Kan masih ingin kerja sama tuan dan Nyonya." Keluh Susi.


Laras tersenyum. "Kamu boleh kerja, kalau kamu mau. Tapi ... sekarang kamu harus lebih fokus pada Zayn sebab kini dia suami mu sekarang. Kau pasti ingat ketika dulu saya masuk ke keluarga tuan. Aku berusaha jadi istri yang baik dan menurut pada suami," ujar Laras.

__ADS_1


"Tapi Nyonya--"


"Sudah dulu ya?" lain kali di sambung lagi. Lalu sampailah dan duduk di kursinya masing-masing. Laras duduk bersebelahan dengan sang suami, Ibra. Bu Rahma tentunya dengan pak Marwan, dan Irfan selalu sendiri di belakang.


"Setelah sampai, banyak kerjaan yang menunggu." Seru Ibra sambil menimang baby Satria.


"Aku juga. Ada suatu tempat yang yang harus aku datangi dan aku bantu." Laras melirik.


"Kamu harus lebih hati-hati sayang kalau bepergian. Jangan jauh dari bodyguard aku takut kamu kenapa-napa lagi," lirih Ibra sambil mengusap puncak kepala Laras.


"Insha Allah. Aku akan lebih menjaga diri lagi." Laras meyakinkan.


"Hati-hati ah sayang, Mama jadi was-was kalau mendengar kamu mau pergi." Timpal Bu Rahma dari depan menoleh ke arah Laras.


"Intinya perketat saja penjagaannya. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan lagi terulang," sambung pak Marwan.


"Iya, Pah. Pasti itu, aku tidak ingin terjadi apa-apa lagi." Balas Ibra.


"Kamu kenapa sih di tekuk mulu wajahnya? tambah jelek tahu." Zayn menegur Susi yang cemberut terus.


"Nggak," ketus Susi sambil memalingkan mukanya ke arah jendela.


"Yakin?" tanya Zayn menatap Susi yang mulai ketakutan, sebab pesawat mulai tek-up. Matanya terpejam dan tangannya mencengkram tangan Zayn, bikin Zayn merasa gemas dan ingin segera sampai agar dapat meluapkan segala hasratnya.


"Baby boy bobo ya sayang?" sapa Bu Rahma dari depan.


"Iya Mah ..." sahut Laras.


Tangan Ibra mengelus punggung tangan Laras yang kini anteng melihat keluar jendela. Dimana bangunan yang tinggi pun terlihat begitu kecil ... dari atas.


Tak terasa sepanjang perjalanan kali ini, tau-tau pesawat pun landing. Mendarat dengan sempurna.


Saat ini mereka tengah menunggu pengecekkan barang. Setelah cek surat masing-masing. Kini tinggal menunggu barang.


Tiba-tiba ada orang yang menjambret tas Laras. "Tas ku," pekik Laras. Tas yang isinya ponsel, dompet yang berisi beberapa ATM, kartu tanda pengenal. Kebetulan dompet Ibra pun ada di sana dan isinya lebih berharga dari milik Laras. Irfan juga Ibra langsung mengejar dan Zayn pun tak luput ikut mengejar.


Baby boy sedang dalam gendongan Bu Rahma dan di sisinya tidak jauh pak Marwan yang selalu mendampingi. Ada empat orang berpakaian normal menghampiri.


Dengan senyum ramah, mereka menyapa dan berbincang dengan pak Marwan. Hati Laras semakin gusar melihat ke empat orang tersebut, rasanya ada yang aneh saja, mana Ibra dan yang lain belum kembali. Laras kian gelisah, tatapan Laras mengarah ke arah baby boy.


Hati Laras kian curiga dengan gerak gerik orang tersebut. Kaki Laras di goyangkan tuk mengusir rasa kejenuhan hatinya dan berdoa agar mereka semua terlindungi. Ternyata, orang itu satu persatu mendekati Mangsanya dan menodongkan senjata ke arah pinggang masing-masing. Mereka melakukannya dengan sangat rapi sehingga tak satupun orang yang berada di sana merasa curiga.

__ADS_1


Wajah Laras dan yang lainnya drastis berubah pucat pasih. mau minta tolong juga gak mungkin sebab sedikit saja bersuara nyawa mereka sedang berada di ujung tanduk.


"To-tolong?" pekik Susi pelan.


"Jangan ada yang bersuara. kalau kalian masih ingin hidup." ancam orang tersebut.


"Turuti dan Ikut kami, kalau kalian ingin selamat." Tegasnya. Kemudian menggiring Bu Rahma, pak Marwan. Susi dan Laras ke sebuah mobil Suzuki APV.


Saking halusnya penyanderaan mereka tak dicurigai orang sekitar. Rupanya orang yang menjambret tas Laras itu cuma untuk mengecoh mereka saja, agar menjauh dari yang lainnya.


"Apa mau kalian ini ha? lepaskan kami semua tak ada gunanya kalian menyandera kami, kami bukan aparat, bukan juga dewan. Kamu cuma orang biasa," protes pak Marwan setelah duduk di samping mereka.


"Jangan banyak bicara kau." Hardik orang yang intens menangani pak Marwan.


Bu Rahma panik, mana baby boy di tangannya. Kedua lututnya bergetar. Wajahnya Bu Rahma sangat pucat. "Apa-apaan nih? lepaskan kami, kami mau pulang."


"Jangan banyak bicara, kalau tak ingin kami apa-pakan balita itu." Sergahnya. "Jalan?" menyuruh kawannya menjalankan mobil itu. Keluar dari area bandara.


"Kita mau diajak ke mana nih? jalan-jalan ya. Ayo ajak Susi jalan-jalan ya Tuan-Tuan?" ucap Susi di balik rasa takutnya memberanikan diri mengajak mengobrol penjahat itu.


"Siapa yang ngajak jalan-jalannya kami menculik kalian." Jelas nya.


"Tapi buat apa? minta tebusan! orang tua Susi mana ada buat Nebus Tuan-Tuan. Percuma menculik Susi."


"Diam," bentak orang yang memegang Susi. Sampai-sampai Susi ketakutan dan diam seribu kata.


Sementara Laras terus berpikir, mau dibawa kemana nih? dan apa maksud mereka! kini Laras mengerti. Kalau penjambretan tasnya hanya sebagai siasat saja. Senjata masih di todong kan pada masing-masing.


Cuma Laras yang tak di todong senjata lagi. Sebab orangnya sibuk nyetir, hanya sesekali saja kalau lihat Laras bergerak. Baby boy mulai rewel, mungkin dia merasakan kegelisahan sang bunda.


"Anak saya menangis. Kasihan, biarkan saya mengambilnya." Rajuk Laras pada supir itu.


Orang itu sejenak berpikir. Kasihan juga. "Boleh ambilah."


Laras merasa senang dan segera mengambil baby boy dari Bu Rahma. Laras mendekapnya lalu memberi asi dari botol. "Ya ... Allah ... lindungi kami semua." Batin Laras.


Mobil itu sampai di depan sebuah gedung. Mereka kembali menyeret tawanannya itu, suasana sudah mulai gelap. Pertanda malam datang menggantikan siang yang terang beneran. Menjadi gelap gulita, langit begitu hitam pekat. Tak ada bintang, apalagi sang rembulan.


Laras, Susi dan kedua mertua nya, dimasukkan ke dalam satu kamar yang sama ....


****

__ADS_1


Hi ... makasih masih dukung novel ini. Jangan lupa fav juga novel ku. "Bukan Suami Harapan" terima kasih sebelumnya🙏


__ADS_2