Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Hukuman ringan


__ADS_3

Bu rahma dan pak Marwan yang tinggal di rumah Laras setelah kepergian putra dan mantunya belanja mereka mengobrol di taman, kemudian pindah ke kamar.


"Sayang, sudah lama nih gak main kuda-kudaan." Marwan menyeringai sambil merangkul pinggang istrinya.


"Emangnya kenapa? sudah tua juga," pura-pura ketus padahal mau.


"Awas ya? bilang Papa sudah tua segala." Marwan langsung mencumbu sang istri yang menggelinjang. Sok-sokan menolak.


Dari sofa berpindah ke tempat tidur dan bermain di sana, dengan penuh semangatnya. Dua pasutri ini saling melepas rindu dan hasrat yang menggelora seperti orang yang masih muda.


Di luar pagar, mobil Ibra terparkir menunggu Susi membukakan pintu pagar yang tidak terkunci. Mobil Ibra merayap ke halaman, di parkir dekat mobil Laras.


Ibra turun duluan dan membukakan pintu buat Laras. Laras keluar menjinjing tas dan kantong manisan. Sementara Susi mengeluarkan belanjaan dari bagasi dan membawanya ke dapur.


Laras di gandeng Ibra memasuki rumah yang sepi, seperti gak ada orang sama sekali. "Mama kemana nih? sepi banget, kaya gak ada orang aja," gumam Ibra celingukan.


"Mungkin beliau lagi istirahat kali." Jawab Laras sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Mungin!" Ibra pun duduk dekat Laras dan merangkul bahu Laras, membawa ke dalam pelukannya.


Tangan Laras mendorong wajah Ibra yang mendekat ke wajahnya. "Sana ah, malu di lihat Susi nanti."


"Nggak pa-pa, paling menutup wajahnya dengan lima jari. Sementara matanya mengintip seperti tadi di mobil," ujar Ibra sambil tertawa kecil.


Laras pun tertawa kecil mendengarnya dan melihat ekspresi wajah Ibra, ketika mencontohkan Susi. Ibra pun terkekeh tertawa dan bahagia melihat sang istri bisa tertawa tak murung seperti tadi.


"Gitu dong, tertawa. Tambah cantik," menyingkirkan rambut dari kening Laras. "Aku lebih suka kamu tertawa, bukannya murung. Nanti anak kita juga sedih kalau lihat Mommy nya sedih," lanjut Ibra kembali.


"Sendiri juga ketawa gitu ya?" menatap suaminya.


"Nggak dong sayang, masa lagi sendiri tertawa? nanti dikira orang gila gimana."


"Sudah ah, aku mau ke kamar dulu." Laras berdiri mengambil tas nya yang di atas meja. Kemudian mengayunkan langkahnya menuju kamar.


Ibra pun beranjak dan membuntuti Laras, mengikuti dari belakang. Laras menoleh kebelakang yang mengikutinya, ketika sudah berada dalam kamar, Laras mengganti pakaiannya dengan daster. Sementara Ibra sambil rebahan menyalakan televisi yang ada di kamar itu.


Setelah ganti setelan, Laras keluar dari kamar mandi. Menoleh suaminya yang sedang rebahan. Ia mendekati Ibra. "Aku mau ke dapur ya bantuin Susi masak."


Ibra menangkap tangan Laras dan ditariknya hingga tubuh Laras jatuh ke atas tubuhnya.


Laras menggelinjang. Namun tangan Ibra mengunci punggung Laras. "Apaan sih? mau masak!" gumamnya Laras begitu halus terdengar ditelinga.


Netra mata Ibra bergerak melihat Wajah cantik sang istri. "Aku lupa, tadi kau sudah berani mencubit ku. Sekarang aku mau kasih hukuman."


"Hukuman, gak salah?" sahut Laras membuang pandangan ke lain arah.


"Iya, hukuman. Tapi ... ringan kok." Ibra tertawa.


"Gitu aja harus ada hukuman segala? aneh," sambung Laras heran dan penasaran apa itu.


"Kamu, baru bisa keluar dari kamar ini kalau sudah menjalani hukumannya." lanjut Ibra kembali.


"Ah, aku mau masak buat makan siang." Melihat jam yang tergantung di dinding.


"Iya, makanya lakukan dulu, baru bisa keluar. Kalau nggak mau ... tidak bisa keluar." Timpal Ibra lagi.

__ADS_1


"Emang apa sih? ya, sudah aku gak usah makan juga. Biar kelaparan sekalian." Ketus Laras.


"Nggak, gak akan kelaparan juga, kan aku kasih pisang," bibir Ibra menyeringai. Memperlihatkan giginya.


"Iya, apa emang?" selidik Laras dengan masih di posisi yang sama.


Ibra mendudukkan dirinya namun tetap memeluk sang istri. "Hukumannya adalah ... beri sentuhan di sini dan berkali-kali sampai sepuluh kali lah. Nggak banyak juga." Menunjuk bibirnya.


"Gampang itu mah Bos ..." gumam Laras sambil menjentikkan jarinya.


Ibra melepas rangkulannya. Kemudian duduk bersila, tangannya merentang kembali memeluk punggung sang Istri.


"Tapi ... caranya bukan cuma menempel sayang." jelas Ibra sambil mengecup keningnya.


"Apa lagi sih?" tanya Laras dengan malasnya.


"Seperti ini sayang ku," lantas Ibra memberi contoh. Ia menyatukan bibirnya dengan Bibir Laras. M*******nya lalu *******dengan sangat lembut. Kemudian Ibra lepas. "Gitu caranya sayang."


"Kan, sudah barusan," ucap Laras dengan malu-malu.


"Nggak sayang, itu aku yang ngasih. Sekarang kamu yang ngasih." Sambung Ibra. Mengusap pipi Laras.


Sembari menggeleng, Laras bergumam. "Nggak bisa, malu." Menundukkan kepalanya dalam.


Jari Ibra mengangkat dagu Laras agar mendongak. "Ayolah ..." suara Ibra lembut. "Lakukan seperti yang aku ajarkan tadi," bisik nya.


Kemudian Laras bersiap melakukan perintah suaminya. Ia ingat kata pak ustad, sebaiknya istri itu mengejar pahala dari suaminya. Lakukanlah perintah suami, selagi itu tidak menyalahi aturan. Lakukanlah sesuatu untuk membahagiakan suami mu dan kamu akan mendapat pahalanya.


Ibra sudah nampak tegang dan sudah tak sabar menunggunya. "Ayo dong sayang?"


Dengan perlahan, Laras mendekat dan menutup matanya. Mulanya cuma menempel, lama-lama ia melakukan juga seperti yang Ibra ajarkan barusan dan seperti yang sering Ibra lakukan padanya.


"Baru lima kali sayang. lima kali lagi?" ucap Ibra menaik turunkan alisnya dan tersenyum puas.


Lain lagi dengan Laras wajahnya memerah, malu. Biasanya cuma menerima, tapi sekarang harus memberi.


"Ayo sayang, katanya mau masak?" suara Ibra pelan seakan berbisik dan bergetar.


Dada Laras naik turun. Napas tak karuan juga, jantung berdegup kencang. Lalu melanjutkan ritual yang tadi, memiringkan kepalanya dan memejamkan mata kembali.


Ibra yang sudah menunggu, langsung menyambut dengan hangat. Di bawah sana pun menyeruak hidup, meronta meminta keluar dari tempat bertapanya.


Setelah Selesai, Laras menjauh dan mengusap bibirnya yang lembab.


"Ah, sayang kamu harus tanggung jawab nih?" rengek Ibra menarik tangan Laras kembali.


"Kenapa?" tanya Laras sembari mengernyitkan keningnya.


Ibra, menunjuk sesuatu yang menyeruak dan meminta lebih pada Laras, tatapannya yang tadi penuh canda jadi penuh damba.


Netra mata Laras bergerak dan mengikuti yang Ibra tunjuk. membuat Laras bergidik dan menjauh. "Itu bukan urusan ku, yang harus aku lakukan sudah selesai. Dan sekarang waktunya kabur ..." Laras setengah berlari sambil tertawa keluar dari kamar tidak lupa menutup pintu.


"Sayang?" panggil Ibra yang tidak Laras hiraukan. "Awas, nanti aku tak akan kasih ampun." Menggeleng, Ibra kecewa, rasanya sakit bila harus menahan hasratnya. Solusinya adalah Ia segera ke kamar mandi, untung mendinginkan sesuatu.


Laras yang berjalan berpikir, kasian juga sama Ibra yang mungkin saat ini sangat menginginkan dirinya. Tapi Laras merasa gak enak, ketika ada mertua, kok dirinya malah ngamar terus. Jadi ... terpaksa membiarkan Ibra di kamar sendiri, lagian bisa lain waktu untuk manja-manja, sekarang mau masak dulu.

__ADS_1


Laras berkutat di dapur dengan Susi memasak rendang, sayur asam, tahu bala dan yang lainnya seperti sambal dan lalapan.


Dari kamar bu Rahma, muncul sang ibu mertua. Sepertinya habis mandi sebab nampak fresh, segar. Dihiasi wajah yang sumringah, dia menghampiri Laras.


"Kalian sudah pulang ya? Mama kira ... kalian belum pulang," sapa bu Rahma.


"Sudah, Mah dari tadi ya Sus?" Laras melirik Susi.


"Iya, Nyonya besar. Mungkin tidak mendengar saja suara mobil, Tuan tadi."


"Mungkin, em ... wanginya masakan mantu Mama!" ucap Rahma sambil mengusap kepala Laras.


Laras tersenyum, menoleh ibu mertua. "Papah mana?"


"Papah ... lagi mandi. Bentar lagi Papa mau keluar," jawab bu Rahma sambil membantu membereskan piring di meja.


"Mau ke mana? sama Mama atau--"


"Iya, Mama ikut. tapi nanti sore juga kembali lagi ke sini, lagian mau persiapan empat bulanan kamu sayang." Sambung Rahma.


"Oh, iya. Itu pake aja mobil yang merah, Mah ... gak ada yang pake juga." kata Laras menawarkan mobilnya.


"Iya sayang, justru papa memang mau pinjem itu," lirih Rahma, hatinya merasa senang belum juga ngomong sudah di tawarin. Masalahnya malas ke mension, di sana ada mobil milik pribadi Marwan juga.


"Iya ... Mah, pake aja." Laras meyakinkan.


"Makasih sayang," cuph! mencium pipi Laras. Laras hanya membalas dengan senyuman.


Rahma mengayunkan langkahnya menuju kamar. "Pa, Papah?"


"Iya, Mah ada apa?" sahut Marwan.


"Kita gak usah minta mobil dari mension Pa, pake mobil Laras aja," ungkap Rahma sambil menghampiri suaminya sadang mengancingkan lengan baju.


"Emangnya gak di pake sama mantu kita?" tanya Marwan kembali.


"Tidak, lagian ada mobil Ibra kalau mau bepergian." Timpal Rahma yang merapikan kerah suaminya.


"Baiklah. Berarti nanti kita tinggal pergi saja, lagian sore juga balik lagi," tambah Marwan.


"Iya, sudah Mama bilangin kok sama dia. Tenang aja." ucapnya Rahma sambil memeluk sang suami, pasangan ini selalu mesra dalam setiap keadaan.


Laras meninggalkan Susi di dapur kebetulan tinggal mencuci perabotan. Ia pergi ke kamarnya, setelah berada di kamar. Nampak Ibra tengah meringkuk di bawah selimut.


Ia naik, merangkak di atas tempat tidur. Mendekati Ibra. "Abang?" panggil Laras sangat lembut di telinga Ibra. Namun Ibra Tidak merespon.


"Bangun, Abang ... bangun? sudah siang loh," sambung Lara kembali, menggoyang bahu Ibra.


Ibra menggeliat malas, dengan mata tetap terpejam dan membalikkan badannya menghadap langit-langit.


Melihat Ibra tidak bangun juga, Laras tidak kehabisan akal. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Ibra yang nampak pulas. Di tatapnya wajahnya lekat-lekat. "Kasian juga suami ku, yang tadi aku tolak," batin Laras, tak henti-hentinya memandangi Ibra.


Sambil menyeringai, Laras dengan tidak ragu lagi mencium kening suaminya. Ibra masih tidak merespon, Laras tersenyum. "Hem ... suami ku merajuk apa?" gumamnya Laras pelan.


Laras masih berusaha, dan tidak kehabisan akal untuk membangunkan nya. Laras menempelkan bibir di bibir Ibra dan sedikit memainkan nya, membuat Ibra terkesiap dan membuka matanya ....

__ADS_1


****


Makasih reader ku semua ... masih setia menunggu up nya cerita Laras dan Ibra. Terus dukung aku ya🙏 jangan lupa like n komen dll nya.


__ADS_2