Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Gaya sosialita


__ADS_3

Ibra berjalan dengan tergesa-gesa. Semua yang di tinggalkan kebingungan. Dian mengambil tas kerjanya di kursi sebelah.


"Saya pergi dulu!" ucap Dian setelah melap bibirnya dengan tisu.


"Kak! maksud Ibra apa ya Kak?" Yulia mulai cemas. Takut gimana-gimana.


"Bener Kak! apa maksud suami kita bicara seperti itu?" tambah Mery menatap Dian.


Dian menatap Mery dan Yulia bergantian. "Saya juga kurang mengerti! mungkin kalian sendiri yang faham," ucap Dian sambil menaikan bahunya.


Pandangan Dian beralih ke Laras yang nampak lebih tenang, dalam pandangan Dian. Laras nampak aneh, lebih banyak diam dan agak pucat. Kemudian Dian melanjutkan langkahnya.


Ketika melintasi bu Rika! langkah Dian berhenti. "Bu! tolong awasi nyonya muda. Sepertinya dia kurang sehat!"


"Oh baik Nyonya Dian!" bu Rika membungkuk hormat.


Dian pergi ke kantor. Sementara Yulia dan Mery masih sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Laras beranjak dari duduknya setelah sarapannya habis, tadinya mau mencuci bekas makannya. Namun Susi ambil.


"Biar Susi saja Nyonya muda! asisten pun banyak! jadi Nyonya muda gak perlu repot-repot. Cukup mengerjakan tugas di kamar tuan saja," ujar Susi sambil menyeringai.


"Nggak pa-pa juga kok Sus. Aku bisa kerjakan." Laras kekeh.


"Susi benar Nyonya! biar mereka yang kerjakan, ini perintah tuan dan nyonya Dian. Nyonya muda harus banyak istirahat. Sepertinya Nyonya muda kurang sehat," tambah bu Rika.


"Tapi ... BuRik?" Laras menatap sayu.


"Apa nanti kata tuan! kalau Nyonya muda membantah." bu Rika sedikit memberi penekanan.


"Duhh ... enak sekali jadi tuan putri ya?" ucap Mery sambil berdiri dan menyilang tangan di dada.


"Hamil saja belum ... tapi sudah diistimewakan ya Mer?" sambung Yulia mengangguk.


"Apa maksud kalian? aku tidak merasa dan tidak ingin diistimewakan." Laras mengelak. Sambil menatap keduanya.


"Alaah ... jangan sok suci lah, saya tahu akal bulus mu itu Laras," tukas Mery.


"Kau sengaja, kan mencari perhatian dari Dian. terutama dari Ibra! ngaku?" tuduh Yulia menatap tajam.


"Maksud kalian apa nih! ngeroyok Nyonya muda?" tanya bu Rika menatap tajam nyonya nya yang dua ini.


"Kamu! ga usah ikut campur! kamu itu cuma pembantu," ucap Mery matanya melotot pada bu Rika.

__ADS_1


"Iya! kamu cuma pembantu di sini. Jadi jangan belagu! kita istrinya Ibra, yang punya hak kapan saja bila ingin memecat membantu macam kamu," hardik Yulia.


"Nyonya dua ini kenapa sih? kalau kalian istri tuan. Nyonya muda juga sama dengan kalian." Susi nimbrung.


"Yang punya hak pecat kami itu tuan, bukan siapa-siapa! sekalipun itu istrinya. Silakan Nyonya-nyonya ngadu sama tuan atau nyonya Dian. Setidaknya saya punya bukti. Kalau Kelian lah yang mencari gara-gara, apa kalian lupa? bahwa di setiap sudut ruang ada cctv nya!" ujar bu Rika sambil melirik benda kecil yang ada di dinding atas.


Semua melirik apa yang bu Rika tunjukan. Mery dan Yulia saling pandang, kemudian mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa sepatah kata pun.


"Huus-huus! sana pergi-pergi dan jangan datang lagi," ucap Susi tangannya seperti sedang mengusir kucing.


Laras tersenyum melihat Susi. "Apaan sih Sus? kau ini seperti sedang mengusir kucing saja hehehe!"


"Habis! menjengkelkan Nyah, bu Dian saja yang judes gak seperti itu ya BuRik? hihihi." Susi melirik bu Rika sambil nyengir.


Bu Rika melotot mendengar Susi memanggilnya dengan sebutan buRik.


****


"Ya sudah! kalau begitu ... aku ke kamar dulu ya, mau istirahat." Laras melenggang meninggalkan Susi dan bu Rika.


"Kalau ada pa-pa panggil kami saja Nyonya muda!" kata bu Rika. Laras menoleh ke belakang dan mengangguk.


"Kamu mau berangkat kuliah sekarang Yul?" tanya Mery pada Yulia setelah berada di lobi.


"Kenapa?" tanya Mery heran.


"Iya, soal Ibra mau mendatangkan pengacara itu. Kira-kira untuk apa ya?"


"Atau jangan-jangan untuk menceraikan salah satu istrinya kali!" sambung Mery sekenaknya.


Yulia termenung, seketika mematung. Hatinya semakin cemas, khawatir bila ucapan Mery itu benar! dan seandainya dirinya yang dicerai gimana? sementara Ibra laksana ATM berjalan untuknya.


Mery yang sudah beberapa langkah di depan Yulia! juga jadi melongo saat ia sadar akan yang barusan ia ucapkan. "Haa ... apa yang aku katakan barusan ya?" menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Seandainya aku diceraikan gimana? apa aku dapat harta gono gini dari Ibra. Mana ATM sudah tipis! gara-gara si Dedi minta dibelikan motor, keluarga minta di kirim uang lagi. Buat kuliah adik-adik!" batin Mery beradu argumen. "Apa aku merubah pikiran saja kali ya? aku hamil, punya anak dari Ibra. Aku pasti di nomor satukan oleh Ibra, ya ... ide bagus tuh."


Yulia masih berdiri mematung sambil berpikir. "Sepertinya aku harus merubah komitmen nih, aku harus punya anak dari Ibra! agar aku jadi nomor satu di mension ini. Biar yang lain di tendang! termasuk Dian." tersenyum licik. "Ya, ya. Itu ide sangat cemerlang. Tapi ... gimana caranya bisa hamil? aku, kan KB, lagian sebulan ini Ibra sama sekali tidak menyentuh ku!"


Mery. "Eeh ... sudah sebulan ini Ibra tidak pernah menyentuh ku! gimana caranya aku bisa hamil? sekalipun aku subur. Kalau ibra gak mau nanam benihnya! gak mungkin aku bisa hamil! Ahaa ... gampang lah. Aku ke dokter minta obat penyubur terus ... soal Ibra tinggal di rayu saja! bilang kalau aku mau punya anak. Pasti dia mau dan menyambut baik keinginanku ini." Mery mengangguk dan senyum-senyum sendiri.


Kedua wanita itu sibuk dengan lamunannya masing-masing. Keduanya mengangguk dan tersenyum di tempat yang sedikit berbeda.


Mery di depan! sementara Yulia beberapa langkah di belakang Mery.

__ADS_1


Melihat kedua majikannya mematung tak bergeming, security menghampiri Mery dan Yulia. "Maaf Nyonya! sedang apa? dari tadi saya lihat anda berdua berdiri di sini!" ucap scurity.


Mery menoleh tidak suka. "Oh. Saya mau kerja Pak, emang kenapa kalau saya berdiri di sini! masalah yah, buat anda?"


"Iya. Pak, emang gak boleh yah, berdiri di sini?" tambah Yulia mendekati Mery dan scurity.


"Bu-bukan Nyonya! justru saya bertanya itu ... kali saja Nyonya berdua membutuhkan bantuan dari saya," ungkap scurity yang berbadan tegap itu.


"Tidak," sahut Mery dan Yulia berbarengan.


Scurity itu menggeleng kepala melihat keduanya.


"Kenapa menggeleng?" ketus Yulia.


"Oh, tidak Nyonya. Silakan? dan hati-hati di jalan!


Roman wajahnya yang nampak tak bersahabat. Dan keduanya melenggang mengambil mobilnya masing-masing, dengan gaya bak sosialita.


****


Di kantor! Ibra sedang berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk di meja. Membutuhkan ketelitian. Dan tanda tangan dari seorang Ibra.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Boleh saya masuk?" ucap Zayn berdiri di depan pintu.


"Masuk saja!" sahut Ibra menyimpan berkasnya di meja.


Zayn duduk di kursi yang ada di depan Ibra. "Bos ini berkas yang anda pinta itu dan aku pastikan kau akan puas."


"Dengan semua bukti ada di situ juga?" menatap Zayn dengan tatapan tajam.


"Semua ada di situ! tidak ada satupun yang tertinggal," sambung Zayn.


"Bagus!" sambil mengangguk.


Zayn menunjukan isi berkas yang ia bawa pada Ibra, dan Ibra menangguk-anggukan kepalanya. Namun rahang Ibra mengeras, tangannya mengepal. Hatinya terasa sesak, tidak terima dengan penghianatan salah satu istrinya itu ....


,,,,

__ADS_1


Hi ... reader ku semua? semoga kabar baik ya, ayo dong bikin aku semangat! bisa dengan like, komen nya juga, kan aku tambah semangat kalau dapat dukungan dari kalian semua🙏


__ADS_2