
"Sore, Nyonya Dian?" sapa bu Rika mengangguk hormat dan menyambut kedatangan Dian di rumah itu.
"Iya, mana tuan?" sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Ada sedang istirahat di kamarnya," sahut bu Rika sambil mengikuti langkah Dian yang tergesa-gesa.
Langkahnya terus menuju kamar Laras. "Sayang ... sayang, kamu di mana?"
Blak!
Tanpa ragu ia membuka pintu kamar Laras yang kebetulan tidak di kunci oleh sama empu.
Ibra dan Laras yang berada di dalam terkesiap, Laras yang sedang menutup gorden dan Ibra tengah berbaring lemah di atas tempat tidur yang beralaskan seprei warna merah ati bermotifkan bunga roos. Sangat terkejut melihat Dian dengan beraninya masuk kamar pribadi mereka berdua.
"Dian," gumamnya Ibra sambil menoleh ke arah Dian.
"Sayang, kamu sakit apa? aku menjemput mu." Dian duduk di samping Ibra yang bangun dan duduk.
"Cuma demam aja." Jawab Ibra lirih.
Dian memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Ibra. "Ikut aku ya? ini kamu sudah janji mau ke mension hari ini," ucap Dian sembari memegang tangan Ibra.
Laras sengaja membiarkan Ibra dan Dian bercengkrama. Ia sendiri langkahkan kakinya ke kamar mandi.
"Tapi, aku kurang sehat." Elak Ibra segan untuk ke mension.
"Ya, aku tahu kamu sakit. Biar aku rawat di mension, lagian ada dokter yang akan merawat mu di sana," ungkap Dian lagi.
"Di sini juga aku di rawat dengan baik sama Laras. Dan rasanya gak perlu dokter," sambung Ibra sambil mengedarkan pandangannya ke lain arah.
"Sayang. Aku kangen sama kamu, biarkan aku merawat mu di mension ya?" cuph memberi sebuah kecupan di bibirnya Ibra.
"Kamu sibuk kerja. Jadi biar akau di sini aja dulu, sebentar juga aku sembuh." Kekeh Ibra. Ia tak ingin ke mension dulu.
"Aku akan liburkan diri kalau kamu istirahat di mension. Aku janji akan merawat mu," ungkap Dian dengan lirihnya.
Ibra terdiam, yang sudah-sudah juga. Dian sibuk kerja. bukan ingin di manjakan, namun setidaknya ada di sisinya.
Melihat Ibra terdiam. Dian menempelkan pipinya di dada Ibra. "Aku kangen kamu," tangannya mengusap dada sang suami.
Laras muncul dari balik pintu kamar mandi dengan tetesan air wudu dari pipi, sayup terdengar suara adzan magrib yang begitu indah menyelinap ke gendang pendengaran.
"Gimana kalau kita salat magrib dulu yu? kak Dian, salat dulu." Laras melihat keduanya. bergantian.
"Duluan aja," sahut Dian melirik Laras yang mengambil alat salatnya.
Ibra, turun dan hendak ke kamar mandi. Dengan pelan kakinya ia langkahkan. "Tunggu sayang, kita salat bareng." Pinta Ibra pada Laras yang sudah mengenakan mukena nya.
Laras menoleh ke arah Ibra. "Iya."
Dian duduk di sofa. Sementara Ibra dan Laras menunaikan salat magrib berdua, selepas salat dan berdoa. Laras mencium punggung tangan Ibra. Begitupun Ibra mencium kepala Laras, sungguh syahdu dan menenangkan hati.
Namun lain lagi dengan Dian, hatinya tidak tersentuh sedikitpun atau keinginan untuk bersimpuh dan berserah pada yang maha kuasa.
Ibra menoleh ke arah Dian. "Apa kau tidak ingin menunaikan salat?"
"Ha? nanti aja gampang kan, waktu masih panjang," sahut Dian yang sedang memainkan ponselnya.
Ibra menggeleng. Laras tak komentar apapun, ia membereskan bekas salatnya dengan Ibra.
"Ya, udah. Abang baringan lagi, masih lemah, kan?" titah Laras sambil menggiring Ibra ke tempat tidur.
Ibra pun membaringkan lagi tubuhnya di tempat tidur. Laras selimuti sampai dada. "Aku ambil makan dulu ya? mau minum obat bentar lagi.
"Ya sayang," gumamnya Ibra seiring gerakan matanya.
"Oya, aku lupa gimana kandungan mu itu?" tiba-tiba Dian menanyakan kandungan Laras.
"Baik, Kak sehat kok." Laras melanjutkan langkahnya menemui bu Rika.
Dian mengangguk. "Baguslah."
"Bu, siapkan makan malam, ada kak Dian. Oya, aku mau ngambil bubur tapi masih ada ayam nya, kan?" ucapan Laras sambil membuka tempat ayam yang tadi siang ia simpan.
"Ada Nyonya. Mungkin tempatnya geser ke samping," sahut bu Rika.
"Iya, ada." Laras membawa semangkuk bubur dalam nampan, menuju kamar buat makan malam Ibra. Sebelum minum obat.
Laras masuk kamar, tampak Dian sedang baringan di sofa dengan ponsel di tangan. Kemudian Laras mengedarkan pandangan ke Ibra yang menonton televisi.
"Makan dulu ya, setelah itu minum obat." Laras duduk di samping ibra, di beri minum dulu. Baru kemudian menyuapi makan.
"Eeh, sini aku aja yang nyuapin." Dian menggelinjang dari posisinya. Berjalan menghampiri Ibra dan Laras.
Dian mengambil mangkuk dari tangan Laras. Agar dia saja yang menyuapi Ibra, Laras mundur dan memberi tempat pada Dian untuk duduk.
"Aa ... sayang buka mulutnya." Dian menyuapi Ibra.
Setelah itu, Laras memilih keluar kamar aja. Meninggalkan Dian dan suaminya di kamar, ia mau bantuin bu Rika memasak.
"Sudah, makannya, Tuan. Nyonya?" tanya bu Rika setelah melihat Laras kembali menghampirinya.
__ADS_1
"Em, ada Dian yang nyuapin tuan," sahut Laras. Tangannya mengambil pisau untuk mengupas buah.
Bu Rika, bengong. Entah apa yang dia pikirkan, bu Rika melanjutkan tugasnya. Dengan tangan yang terampil bu Rika memasak kesukaan Laras dan Dian.
Laras duduk di kursi meja makan sambil mengupas buah mangga. "Setok mingguan apa masih cukup Bu?"
"Masih, Nyonya. Masih cukup untuk beberapa hari." Jelas bu Rika sambil mengaduk masakannya.
"Gimana kabar ibunya Susi, Bu?" selidik Laras bertanya kabar ibunya Susi.
"Sepertinya agak baikan, tapi gak tahu juga, Nyonya," sahutnya.
"Besok, tolong jenguk ya Bu Rika. besok aku kasih buat oleh-oleh ke sana," ujar Laras, menyuapkan potongan buah ke mulutnya. Sesekali mengusap perutnya yang terasa bergetar.
Di kamar, Dian masih menyuapi Ibra makan. Memang beda rasanya dari tangan Dian dan dari tangan Laras, Ibra menatap Dian yang sesekali memainkan ponselnya di sela menyuapi dirinya.
"Sebaiknya, kamu pulang saja. Gak enak sama Laras, kalau kamu di sini." Jelas Ibra di sela mengunyahnya.
Dian mendongak. "Aku ini istri mu sayang, aku ada hak dekat kamu atau mengurus kamu. Oh kamu sudah tidak mencintai ku lagi, iya?"
"Bukan begitu ... cuma gak enak saja sama Laras sayang, ngerti dong!"
"Iya-iya, nanti aku pulang kok, tapi kamu ikut gak?" tanya Dian menatap sang suami.
Ibra menghela napas. "Biar aku di sini dulu."
"Uuh ... aku dah repot-repot jemput. Eh kamu gak mau." Ketus Dian.
"Mengertilah sayang ..." ucap Ibra dengan lirihnya.
"Aku, harus selalu mengerti, tapi kamu apa pernah mengerti aku? ngerti aku juga dong, aku ingin selalu dekat dengan kamu. Kamu itu suami ku, apa kamu lupa itu?" ujar Dian. Mangkuk bubur Ibra ia simpan di meja.
Kedua netra mata Ibra yang sayu menatap lekat ke arah Dian. "Aku tidak pernah lupa, kalau kau itu istriku. Aku ingat kewajiban ku, selalu. Tapi keadaan berbeda sayang ...aku punya dua istri dan setidaknya aku harus jaga hati masing-masing. Kau pikir itu gampang? tidak. Sungguh sulit bagi ku, jika harus aku jujur. Aku dilema sayang, bingung. Kalau aku di sini gimana kamu di mension? tapi bila aku di sana. Gimana dia di sini? sementara dia sedang hamil, setidaknya butuh perhatian ku lebih," ujar Ibra panjang lebar.
Ucapan Ibra lesu. Itulah ungkapan hatinya saat ini, yang merasa serba salah dengan keadaan.
Dian menelan saliva nya berulang-ulang. Ikut haru dengan ungkapan hati Ibra, ia bingung harus berkata apa. Hanya bisa mengusap beberapa tetes air bening di pipinya. "Baiklah--"
"Sudah belum makannya? obatnya di minum jangan lupa," suara Laras yang tiba-tiba muncul di kamar itu. "Oya, Kak Dian bu Rika sudah siapkan masakan kesukaan mu."
Laras mengambil mangkuk yang masih berisi setengahnya. "Loh ... kok gak di habiskan? habiskan dulu ya, biar cepat pulih tenaganya. Cepat sehat ... bisa ngantor juga ke mension." Laras menyuapi lagi Ibra dengan bubur itu sampai tandas.
Dian terdiam. Melihat Laras yang setelah memberikan ibra makan, lalu memberinya obat. "Oke. Aku mau makan dulu," ucap Dian dan beranjak dari duduknya.
Ketika mau melintasi pintu. Muncul Zayn yang akan menemui Ibra sekalian membawa sebuah berkas yang harus di tandatangani.
"Kau, di sini?" selidik Zayn menunjuk Dian.
"Halo, Bos. Gimana keadaan mu? jangan-jangan karena ingin di manja saja sama istri, jadi pura-pura sakit." Goda Zayn memukul bahu Ibra dengan berkas yang ada di tangan.
"Sialan, siapa yang pura-pura gak lihat saya lemah begini? sembarangan kalau ngomong." Ibra kesal. Laras tersenyum mendengar perkataan Zayn barusan.
"Sorry Bos," gumam Zayn sambil menyeringai.
"Semalam panas banget, sampai ngigau-ngigau segala. Alhamdulillah paginya turun, aku khawatir banget semalam." Laras memberi tahu keadaan Ibra semalam pada Zayn.
"Berarti kamu sangat khawatir sama aku?" tanya Ibra menoleh dan membelai pipinya Laras yang duduk di atas tempat tidur.
"Iya, lah masa enggak!" sambar Zayn.
"Aku gak tanya sama kamu," Ibra mendelik. Laras menunduk malu.
"Tenang saja, Nona muda. Kalau sudah berangsur sembuh gini kasih aja dia kepuasan, pasti besok pagi segar lagi. Percaya deh sama aku, Nona." Tambah Zayn meyakinkan.
Bola mata Laras memandangi ke arah Zayn seakan bertanya apa itu benar atau cuma gurau semata? sementara Ibra menunjukkan senyum tipisnya seraya menggeleng.
"Sudah, ini ada berkas yang harus kamu tandatangani. Aku lapar pengen makan!" Zayn berdiri dan membawa langkahnya keluar dari kamar Ibra dan Laras.
Selepas Zayn pergi, Ibra memposisikan duduknya agar lebih nyaman. Lantas membuka berkas yang Zayn berikan ia cek isinya dengan sangat teliti. "Tolong sayang pinjem ballpoint," pinta Ibra pada sang istri yang langsung di kabulkan oleh Laras.
"Abang, Dian ****** kamu? kalau kamu mau ke sana sekarang boleh aja, istirahat di mension." celetuk Laras.
Seketika Ibra menoleh. "Emang kamu gak mau rawat aku lagi?" menatap dalam.
"Bu-bukan begitu, ma-maksud aku. Kasian juga kak Dian. Bolak balik jemput kamu." Suara Laras terputus-putus, lalu menundukkan kepalanya dalam.
"Kalau aku gak demam, pasti hari ini aku pulang ke mension sayang ... aku gak lupa dengan janji ku kemarin, kalau aku akan pulang ke sana!" menatap sebentar, kemudian sorot matanya Ibra kembali ke berkas yang di tangan.
"Aku sih, terserah kami saja. Mau istirahat di sani boleh, seandainya mau di mension juga silakan. Sebab ... aku gak mau kamu dianggap gak adil." Tambah Laras lagi.
"Hem," gumamnya Ibra dengan mata fokus ke berkas.
Laras hendak turun. Namun tangannya di cekal oleh Ibra. "Mau ke mana?" sembari menyimpan berkasnya.
"Mau makan, boleh? aku makan dulu," netra mata Laras membalas tatapan manik mata Ibra yang masih sendu.
"Oh, boleh. Aku ikut." Ibra turun mengekor langkah Laras yang katanya ingin makan.
Sesampai nya di meja makan Laras duduk di kursi yang Ibra sediakan sebelumnya. Dian dan Zayn baru selesai makan, namun masih belum beranjak dari sana.
"Bos. Apa sudah di tandatangani?" selidik Zayn memandangi Wajah Ibra yang tampak pucat itu.
__ADS_1
"Sudah," sahut Ibra.
"Sayang, mau makan?" tanya Dian berniat ambilkan piring.
"Tidak, gak usah. Masih kenyang." Ibra hanya mengambil potongan buah yang Laras dekatkan ke depan dirinya.
"Gimana sayang? mau ikut sekarang gak?" tanya Dian kembali untuk memastikan apa Ibra bersedia ikut atau tidak.
"Nggak, sayang. Aku di sini dulu sampai pulih," ungkap Ibra sambil mengunyah buah.
"Oke, kalau begitu! aku pulang dulu. Dan besok aku jenguk ke sini Lagi, Laras titip suami ku ya?" Melirik ke arah Laras.
"Oh, iya Kak Dian. Aku akan menjaganya!" Melirik ke arah Ibra.
Dian berdiri lalu memeluk tubuh Ibra, tak lupa mencium kening dan pipinya. "Aku pulang dulu."
"Ya, hati-hati jangan ngebut." Gumam Ibra.
"Yu, Laras aku pulang dulu, besok datang lagi." Kali ini Dian memeluk bahu Laras dan cium pipi kanan dan kiri Laras.
"Ya, Kak. Hati-hati." Suara Laras. Seraya melambaikan tangan.
Langkah Dian bergegas menuju mobil silver miliknya, diikuti oleh bu Rika. Mengantar sampai teras.
"Enak ya, punya istri dua? berasa bola yang siap masuk gawang. Ke sana enak ke sini juga enak, ha ha ha ..." gurauan Zayn sembari tertawa.
"Jangan, bikin aku emosi nih? kepala ku masih pusing nih," ungkap Ibra menatap tajam pada Zayn.
"Percaya deh, Bos. Itu penyakit dari bawah yang naik ke atas, mungkin karena ... sesuatu yang tidak tersalurkan. Makanya pusing." Zayn sok tahu.
"Kau ini sok tahu banget. Kaya sudah pengalaman saja."Jelas Ibra kembali.
"Kan, Bos yang pengalamannya. Aku ngikutin aja. Ha ha ha ..." lagi-lagi Zayn tertawa.
Laras hanya bermuka polos, seakan tidak mengerti apa-apa. Ia lanjut aja makan, gak mau merhatiin obrolan kedua pria tersebut.
****
Mobil Dian sudah jauh dari kediaman Laras. Ia menepikan mobilnya, memeluk setir dan melamun. Banyak yang membayang di pikirannya, di antaranya nasib yang harus ia jalani sekarang ini.
Setelah beberapa saat mobilnya berhenti di pinggir jalan. Akhirnya Ia bersiap menyalakan mobilnya, kemudian melesat ke sebuah cafe. Mobilnya Dian masuk ke sebuah cafe ternama di kota itu, dengan jalan melenggang dan percaya diri. Dian memilih duduk dekat jendela, menepuk tangannya seraya memanggil pelayan di sana.
Dian memesan minuman yang ada alkoholnya. Tidak lama pesanan Dian datang bersama makanan ringannya, ia langsung meneguk minumannya yang terasa kesat di tenggorokan.
Setelah puas menikmati malamnya di sana, dan sudah menghabiskan beberapa gelas anggur. Akhirnya Dian keluar dari cafe tersebut, mengambil remote dari kantong celana pendeknya. Ia membuka pintu dan menyalakan mobil miliknya itu.
Antara sadar dan enggak ia menyetir, melajukan mobilnya ke jalan menuju pulang. Namun entah kenapa yang ia tuju bukanlah mension, melainkan ke arah kediaman seseorang.
Tut ....
Tut ....
Tut ....
Klakson Dian nyalakan berkali-kali di depan pintu gerbang rumah mewah tersebut. Tampak seorang penjaga datang dan membukakan pintu pagar yang lumayan tinggi itu, mobil Dian pun masuk.
Penjaga itu merasa heran, dalam hati bertanya-tanya siapa wanita ini? ngapain malam-malam datang kemari.
Dian turun, brugh! suara pintu mobil yang setengah ia banting. Ia membuka heels nya ia jinjing, Dian menoleh si penjaga. "Apa tuan mu ada?"
"Oh, ada Nona," sahutnya sembari mengangguk.
Langkah Dian baru sampai pintu, si tuan rumah sudah muncul duluan.
"Dian, ngapain malam-malam kamu di sini?" si tuan rumah celingukan ke suasana di luar rumah yang tampak sepi.
Dian menjatuhkan heels nya ke lantai, lalu kedua tangannya. Merangkul pundak sang empu nya rumah. "Aku butuh kamu, aku sangat kesepian. Mau kan menemani ku? menghabiskan waktu bersama ku." Nada bicaranya sedikit kurang sadar.
Kedua netra mata pria itu mengedar ke penjaga. "Pergilah, aku akan urus wanita ini, dia kawan ku."
Si penjaga meninggalkan tempat tersebut. Sementara pria itu membawa Dian masuk ke dalam rumah yang serba mewah itu, ia mencium sesuatu yang aneh dari mulut Dian. "Kau minum, rupanya." Menggeleng pelan.
"Siapa bilang aku minum? sembarangan kalau ngomong, aku baik-baik saja. Aku hanya butuh kamu, aku sangat kesepian. Sebagai teman kau mau, kan? menemani ku!" ulang Dian. Dia malah merangkul dan mencium pipi pria tersebut.
"Dian-Dian, lepas. Kau harus istirahat." Pria itu menyeret paksa Dian naik ke lantai atas untuk istirahat di salah satu kamar di rumah mewah itu.
Dian ia bawa ke sebuah kamar yang lumayan luas dan nyaman. Dan lengkap dengan ac nya yang bikin adem. "Kau istirahat saja di sini, besok kalau kamu dah sadar aku antar pulang. Sekarang dah malam, lagian aku lupa tempat tinggal mu di mana?"
Dian menarik pria itu ke atas kasur, lagi-lagi ia peluk dan ia cium kembali pipinya bahkan bibirnya. Pria tersebut berontak dan mendorong Dian ke atas tempat tidur, hingga Dian terduduk.
"Kau ini apa-apaan ha, apa kau tidak sadar dengan yang kamu lakukan?" suara pria tersebut meninggi sambil mengusap pipi dan bibirnya.
Dian membuka pakaian bagian atas nya. Sehingga kedua bukit nya terpampang jelas di balik pembungkusnya yang berenda dan berwarna merah itu.
Pria tersebut menelan Saliva nya berkali-kali, matanya tak berkedip melihat pemandangan itu, bagaimanapun dia pria normal yang belum berpengalaman.
"Kamu tahu, aku benar-benar kesepian! aku butuh belaian kehangatan. Aku juga butuh di sayang, apa salah ku sehingga suamiku dingin terhadap ku ha?" gerutu Dian.
Pria itu hanya mendengarkan sambil berdiri di tempat yang tidak jauh dari tempat tidur. Tiba-tiba Dian kembali menyeruak memeluk dan menyentuh bibirnya dengan buas. Untuk sesaat pria tersebut terbuai dan ikut menikmati sentuhan wanita ini ....
****
__ADS_1
Maaf ya up nya telat, maklum ada kesibukan dalam nyata hihihi emang novel ini bukan nyata ya? nyata, namun ada yang harus aku dahulukan. Semoga puas ya bacanya, biar satu bab tapi lumayan panjaaaaaaaaaang. Ayo mana dukungannya? biar aku tambah semangat.💪