
Badan mendadak lemas, kepala juga pusing. Mata berkunang-kunang, perut rasanya mual banget. Laras mendudukkan tubuhnya di sofa. "Ya Allah ... aku kenapa ya? pusing untung saja semua sudah selesai."
Laras bersandar dan memejamkan mata sejenak di sofa.
Blakk!
Pintu terbuka. Ibra masuk! mengedarkan pandangan, ke kamar yang sudah bersih. Gorden sudah terbuka, langkahnya terhenti ketika melihat Laras berbaring di sofa, wajahnya sedikit pucat.
"Kau kenapa?" menempelkan punggung tangan ke kening Laras.
Laras membuka mata. "Maaf Tuan! aku tiduran di sini," ucap Laras sambil bangun.
"Apa kamu sakit?" menatap Laras lekat.
"Ah, tidak. Aku baik-baik saja kok!" sahut Laras sambil menyentuh kening dan leher atas.
"Tapi wajahmu terlihat sedikit pucat!" lagi-lagi meletakkan tangan di kening Laras! menatap cemas.
"Aku tidak apa-apa, kan Tuan," tanya Laras.
Ibra berjongkok, netra matanya bergerak menatap istri mudanya itu. "Sa-saya--" Ibra dengan cepat memeluk Laras.
Laras terkesiap. Merasa aneh pada Ibra yang tiba-tiba memeluknya. "Tuan! kenapa?"
"Aku merindukan dirimu, aku menyayangimu," batin Ibra tanpa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Ibra melepas pelukannya, lalu berdiri. "Saya mau mandi dulu. Apa kamu sudah siapkan saya pakaian buat kerja?"
"Sudah. Tuan." Laras menunjuk wardrobe.
"Oke, saya mandi dulu." Ibra berlalu ke kamar mandi.
"Sudah campur sama istri kok baru mau mandi? jam segini!" gumam Laras sambil menggeleng. Kemudian dia pun berdiri mau meninggalkan tempat itu, kebetulan pusingnya sudah hilang.
"Jangan keluar dulu!" teriak Ibra dari kamar mandi.
"Aish ... kebiasaan deh, pasti aku harus ngurus baby gede dulu. Bukan gede lagi! tapi sudah bangkotan hihihi." Laras tertawa sendiri, berjalan ke dekat jendela berdiri di sana.
Ibra yang sudah selesai mandi, keluar melintasi pintu. Mengedarkan pandangan mencari keberadaan Laras yang ternyata sedang termenung di sana. Dengan langkah sedikit mengendap. Ibra mendekati Laras, melingkarkan tangan di perut Laras yang rata.
Merasakan sentuhan tangan dari Ibra di tubuhnya, membuat Laras memejamkan mata. Memegang tangan Ibra yang masih lembab. Ibra membalikkan tubuh Laras agar berhadapan dengannya, mengangkat dagu Laras yang menunduk dengan jari telunjuk.
__ADS_1
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Ibra menatap kedua bola mata Laras.
Laras merasa aneh, kok tiba-tiba Ibra bertanya seperti itu. Bahkan ia bingung harus menjawab apa, tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Jika benar pun ia mencintai Ibra, itu tak mungkin dia ungkapkan. Ia tak berhak mencintai Ibra meskipun statusnya suami.
"Kenapa kamu tidak menjawab? apa sebaliknya! kamu membenciku! hem ... jawab?" seakan berbisik.
Laras hanya diam dan tak berani menatap lagi sorot mata Ibra yang tajam. Ia menunduk melihat tubuh Ibra yang masih belum mengenakan pakaian.
"Kenapa tidak mau menjawab hem?" desak Ibra, ibu jarinya menyentuh bibir Laras yang lembut dan jiwa lelakinya selalu ingin menikmati lagi dan lagi.
"Oh. Tuan! sudah siang anda belum mengenakan pakaian, belum sarapan juga. Nanti anda kesiangan," ucap Laras sambil melepas tangan Ibra dari tubuhnya.
Ada rasa kecewa dalam hati Ibra ketika Laras menjauh darinya. Tapi ada benarnya juga yang diucapkan Laras. Laras mengambil pakaian Ibra dan membantu mengenakan nya. Karena itu yang Ibra mau.
Di meja makan, hati Dian gusar, kok suaminya belum ke meja makan juga. Begitupun Laras belum nampak bayangannya di dapur ini, biasanya habis beres-beres di kamar Ibra! dia ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Bukan cuma itu saja! dalam pikiran Dian sudah menari-nari sesuatu yang aneh-aneh, secara mereka berdua belum nampak di tempat itu.
Dian berdiri, hendak ke kamar Ibra, penasaran kenapa belum juga muncul di meja makan. Yulia dan Mery berbarengan datang dan duduk di kursinya masing-masing.
"Ibra mana Kak? tumben belum ada di meja makan!" tanya Yulia pada Dian sambil mengambil piring.
"Iya! biasanya sudah berada di meja makan ini." Mery pun celingukan.
Dian tidak menjawab tapi malah mengayunkan langkahnya.
Baru beberapa langkah. Dian menghentikan langkahnya, sebab Ibra muncul dengan menenteng jas di tangan. Laras mengikutinya dari belakang.
Dian menatap curiga. "Kenapa lama banget sih sayang?" ungkap Dian dan menyambut Ibra, di tuntun tangan Ibra biar duduk di sampingnya.
"I-iya, kan bersih-bersih dulu, berendam sebentar," sahut Ibra sambil menggeser kursinya ke depan.
"Oh," ucap Dian. "Kamu juga! kenapa baru datang?" menatap curiga kearah Laras.
"Em ... aku--"
"Laras! dia aku suruh merapikan wardrobe! iya. Aku suruh membersihkannya," sahut Ibra menggantikan jawaban Laras.
Laras menatap Ibra, detik kemudian pandangan tertuju pada sarapannya.
"Hem ... gitu kah?" Dian menatap Laras tajam.
"Kamu sedikit pucat! apa kau sakit?" tanya Dian pada Laras.
__ADS_1
"Aku! tidak Kak. Aku baik-baik saja, mungkin karena malam sering terjaga saja," akunya Laras sambil mengusap wajahnya.
"Perhatian banget, aku aja yang sering merasa pusing! gak pernah tuh Kak Dian perhatikan," ungkap Mery.
Dian menoleh. "Emang kau sakit? kalau sakit! kenapa gak istirahat di rumah? buktinya tiap hari kau keluar. Tanpa jelas tujuannya apa, iya sih pemotretan! tapi ... setiap hari! gak juga, kan?" ujar Dian sambil menyuapkan sendok ke mulutnya.
Mery kesal. "Ya ... karena aku gak mau menikmati rasa sakit ku, terpaku dengan rasa sakit! ogah. Makanya memilih banyak mengambil kesibukan di luar," jelas Mery.
"Oya?" timpal Dian.
"Terbaring sakit pun belum tentu diperhatikan oleh suami," ketus Mery.
"Kan tau saya sibuk, lagian kamu nampak sehat saja! makanya kamu tidak pernah diam di mension ini. Coba kamu terbaring sakit! tentunya saya perhatikan. Saya datangkan dokter juga," tegas Ibra di sela makannya.
Laras mendengarkan percakapan mereka. Perutnya terasa eneg dan sedikit mual, namun Laras mencoba menyembunyikan dari semua orang dengan cara meminum air hangat.
"Suami apaan? tidak adil!" ketus Mery, kemudian menyuapkan roti ke mulutnya.
Ibra menatap tajam pada Mery. "Ya! mungkin benar saya tidak adil, tapi setidaknya saya tidak pernah menelantarkan dirimu ataupun yang lain. Kalian masih saya berikan hidup enak, berkecukupan di sini, rumah mewah. Mobil bagus, uang cukup! apa lagi? soal nafkah batin? kemarin saya cukupkan, tapi saya merasa tak dianggap! kalian jajan di luar," ujar Ibra sambil menggerakkan matanya pada Yulia yang sudah jelas-jelas bermain di belakang Ibra.
Semua terkesiap mendengar ucapan Ibra yang seolah menganggap mereka selingkuh di belakangnya.
"Apa maksudmu sayang?" tanya Dian menatap penuh tanda tanya. "Apa kamu menganggap ku seperti itu?"
Ibra tidak menjawab, dia malah menyuapkan sarapan sampai habis.
Yulia yang mendapati tatapan ibra penuh curiga gugup. Tingkahnya menjadi tegang. "Aduh! apa maksudnya? atau jangan-jangan dia tahu kalau aku ... ah tidak mungkin! tidak mungkin dia tahu." Yulia menggeleng pelan.
"Kenapa! kelihatannya kamu tegang?" tanya Ibra penuh curiga.
"Ti-tidak. aku tidak ke napa-napa, biasa saja!" agak gugup, dia menunduk dalam. Hatinya berdebar tak karuan.
Mery memandangi Ibra dengan kesal. Kemudian menunduk, dia mengakui kalau dia sebagai istri tidak panut pada suami! malah dia sering jalan dengan pria sesama model. Bahkan lebih dari itu, sebagai wanita bersuami orang kaya. Tentunya banyak uang dari suami, makanya tak sedikit pria mendekatinya untuk menguras isi dompet Mery.
Begitupun Yulia, dia punya pacar seorang mahasiswa. Tentunya setiap hari bertemu dan menghabiskan waktu bersama. bukan cuma itu, hubungan mereka sudah terlalu jauh bagi Yulia yang statusnya seorang istri.
"Besok saya akan mendatangkan pengacara ke sini!" ungkap Ibra sambil mengenakan jas nya.
Semua mendongak melihat Ibra, menatap penuh rasa heran. Dian berdiri. "Untuk apa sayang! mendatangkan pengacara?"
Ibra tidak menjawab melainkan melangkah meninggalkan tempat tersebut ....
__ADS_1
,,,,
Hi ... reader ku semua? semoga kabar baik ya, ayo dong bikin aku semangat! bisa dengan like, komen nya juga, kan aku tambah semangat kalau dapat dukungan dari kalian semua🙏