Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Jaga anak kita


__ADS_3

Dian menatap Laras dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kau harus jaga kesehatan sendiri! jangan buat Ibra repot, lagian asisten juga banyak."


"Tapi Kak Dian, aku gak bermaksud merepotkan Tuan kok, aku juga bisa sendiri, gak harus di temani juga kok," timpal Laras mulai merasa gondok dalam hatinya. Kesal dengan sikap Dian ini.


"Jangan banyak alasan! kamu pasti yang minta dia tidur di sini, kan malam ini?" tuduh Dian.


Laras menggeleng. "Tidak, aku gak minta dia tidur di sini kok," sahut Laras sudah pusing di bikin pusing juga.


"Kalau kamu butuh sesuatu, misalnya ngidam apa gitu, bilang sama asisten. Biar mereka yang belikan, jangan sampai anak ku nanti ngeces, karena mau sesuatu yang tidak terlaksana, dia harus sehat," tambah Dian.


"Iya. Kak," sahut Laras malas berdebat.


Ibra keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. Dian langsung menghampiri. "Sayang, tidur di tempat ku ya? Laras baik-baik saja kok, lagian kalau ada apa-apa dia bisa hubungi kita," mengelus dada bidang Ibra yang masih lembab.


Ibra melirik Laras yang memandanginya, namun detik kemudian membuang wajah ke sembarang tempat. "Biar saya istirahat di sini dulu sayang," mengusap kepala Dian dengan sangat lembut. "Biar malam besok aku di sana lagi."


"Tapi ... aku kangen!" ucap Dian mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Iya, aku mengerti kok sayang, sudah malam, kau ke kamar sana. Istirahat," titah Ibra.


"Em ... sayang, aku mau sama kamu, apa kita tidur sama-sama di sini?" ide Dian sambil menaik turunkan alisnya.


"Gila! gak mungkin kita tidur bertiga di sini, jangan sampai itu terjadi," batin Ibra. Keningnya mengkerut.


"Aku mau sama kamu tidurnya. Boleh ya? aku mohon," rajuk Dian.


Ibra jadi bingung, menoleh Laras yang masih memalingkan mukanya.


"Saya tidak apa-apa Tuan, silakan saja tinggalkan aku. Nanti kalau ada apa-apa, aku bisa minta tolong sama bu Rika atau Susi," ujar Laras sambil memejamkan matanya.


Dian menoleh Laras ketika bicara, sembari mengangguk "Bener sayang," sambil mengangguk.


Ibra terdiam sambil berpikir, mencari cara gimana supaya Dian tidur di kamarnya. "Sekarang kamu balik ke kamar saja dulu, aku baru ingat kalau di meja kerja ku masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Satu lagi, bilang sama bu Rika bikinkan saya kopi dan antar ke ruang kerja saya. Sekitar lima menit lagi."


"Ih ... kok gitu? tanya Dian kesal.


"Maafkan saya, tadi lupa ... gimana?"


"Terus! gimana?" tanya Dian menatap tajam.


"Ya ... aku mau lembur, paling agak malam aku tidurnya," kata Ibra sambil menggosok rambutnya yang basah.


"Ih ... menyebalkan," ketus Dian.


"Jangan marah dong sayang!" mengelus pipi Dian sangat mesra. Namun Dian menatap tajam dengan rasa kesal yang amat sangat, kemudian Dian meninggalkan Ibra yang di kamar Laras.

__ADS_1


Ibra mesem, lalu mengikuti langkah Dian hanya untuk menutup pintu. "Jangan lupa bilang bu Rika, bikinkan saya kopi," sambung Ibra.


Memutar badannya menuju lemari mengambil pakaian yang ada di sana. Laras menatap Ibra tanpa ekspresi.


Setelah memakai pakaian. Ibra menyimpan handuk ke kamar mandi, jalan ke depan cermin, menggunakan minyak wangi Milik Laras di semprotkan ke seluruh badan. Menyisir rambut sampai rapi.


Lalu duduk dekat Laras yang masih bersandar bertumpu pada beberapa bantal di punggungnya. "Saya bisa sendiri kok Bang, jadi jangan khawatir, kalau mau tidur di tempat Kak Dian. Pergi saja," ucap Laras.


"Kau mengusir ku?" tanya Ibra sambil menggenggam tangan Laras.


"Iya. ini, kan masih waktunya anda tidur bersama dia, jadi pergilah." Laras mengalihkan pandangan dan menarik tangan dari genggaman Ibra.


Ibra tersenyum, jarinya menyentuh dagu Laras agar melihat padanya. "Kau menyuruh ku pergi, tapi ... kenapa mata indah mu berair seperti itu? bilang saja kalau hatimu justru melarang ku pergi." Ibra lembut.


Laras membelalakkan matanya. "Siapa bilang? nggak kok, enak saja. Kalau mau, pergi ya pergi saja, lagian aku gak pa-pa, kata Mama juga kondisi seperti ini. Sudah biasa dialami oleh ibu hamil," elak Laras.


Ibra nyengir, "Pintar juga kau berbohong," menatap Laras lekat dan meremas jemarinya yang lentik.


"Siapa juga yang bohong? aneh." Mata Laras bergerak pada jarinya yang diremas Ibra.


"Kamu lah, aku mau ngomong." Ibra menatap lekat wajah Laras.


Laras menarik jarinya, namun genggaman Ibra terlalu kuat untuk di lepas. "Katanya ada banyak kerjaan di ruang kerja, kenapa masih di sini?" ujar Laras menatap heran.


"I-iya, kerjaan, menjaga kamu di sini," sambil memainkan mata genitnya.


Cup. Ibra mendaratkan kecupan di kening Laras sangat lembut, hingga mata Laras terpejam. "Ngaku saja, kalau kamu juga inginkan saya," berbisik ditelinga Laras.


Mata Laras melotot sempurna. "Nggak." Laras tertunduk malu.


Ibra menatap penuh arti yang sulit ia ungkapkan. "Saya mau ke luar Negeri sama Dian, tadinya saya akan mengajak kamu, tapi melihat kondisi kamu yang seperti ini. Tidak memungkinkan ikut perjalanan jauh, jadi ... maaf, aku gak bisa ajak kamu pergi."


Laras mengangkat wajahnya, ia merasa kaget mau di tinggal Ibra ke luar Negeri. "Ka-apan?"


"Minggu ini," ucap Ibra dengan mengelus punggung tangan Laras. "Aku dan Dian pergi, bukan untuk liburan. Tapi urusan kerja."


Ada rasa yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata oleh bibir Laras, yang jelas ia sedih bila Ibra harus pergi. Entah untuk berapa hari.


"Paling lama, satu minggu di sana, jaga diri baik-baik. Jaga anak kita, jangan sampai ke napa-napa." Ibra mencium tangan Laras.


"Eeh ... sejak kapan dia jadi romantis gini? dia bilang anak kita? berarti anak aku dan dia," batin Laras bingung. Namun membuat hati sedikit berbunga, sejenak ia sadar! jangan terlena dengan sikap manisnya, nanti jatuh cinta, Sebuah rasa yang harus dia hindari.


Melihat Laras diam saja. Ibra semakin anteng dengan gerakan tangan yang perlahan, semakin bebas meraba, yang dia suka. Mengusap tangan, pipi dan mencium wanginya.


Kemudian terlintas di pikiran Laras, sebuah nama. Dian, membuat ia terperanjat. "Tu-Tuan, eh Abang, bukannya mau ke kamar kak Dian?" langsung menjauhi Ibra. Ibra menatap heran.

__ADS_1


"Oh ... kata siapa aku mau ke tempat Dian? Nggak ah."


"Tadi, katanya mau ke tempat Dian, setelah dari ruang kerja?" ujar Laras sambil memeluk guling.


Ibra mengernyitkan keningnya. "Nggak biang gitu ah, kalau bilang mau ke ruang kerja sih iya. Tapi kalau bilang mau ke tempat dia, nggak tuh, lembur? Iya, tapi ... di sini," sahut Ibra sambil menaik turunkan alisnya.


Laras menggoyangkan bahunya, lantas bergegas mengayunkan kakinya ke kamar mandi. Ibra mengulas senyumnya menatap kepergian Laras.


"Jangan lama-lama di kamar mandinya Nona, kita mau lembur, hehehe." Ibra terkekeh sendiri.


Langkah Laras berhenti sebentar, lalu melanjutkan langkahnya sampai hilang di balik pintu.


Ibra menarik selimut dan guling lalu dipeluknya, meraih ponsel Laras ngecek siapa aja yang sering berkomunikasi dengan pemilik ponsel itu. Namun yang ada cuma kontak dia saja yang terpampang jelas di sana.


Mata Ibra bergerak melihat kedatangan Laras yang basah dengan air wudu. Laras menghampiri alat salatnya yang di atas meja.


"Tuan, gak salat?" tanya Laras sambil mengenakan mukenanya.


"Saya ... nanti salat."


"Kapan? ketika mati di sholat kan orang," timpal Laras.


"Kau mendoakan saya cepat mati?" tanya Ibra memandangi Laras yang bersiap salat.


"Iya, mati kesombongan nya, karena hanya orang sombong yang tidak memerlukan Tuhan nya," sahut Laras dan segera menunaikan kewajibannya sebagai muslim.


Ibra terdiam mencerna apa yang Laras maksudkan, ia berpikir ada benarnya juga omongan Laras.


Selepas itu. Laras naik ke tempat tidurnya dan menarik selimut sampai menutupi leher, tidur memunggungi suaminya. Ibra yang sejak tadi menunggu langsung memeluk dari belakang.


"Tuan, tahu, kan kalau suami itu adalah imam buat istrinya?" tanya Laras tetap dengan posisinya, namun lama tidak ada jawaban juga, yang ada cuma hembusan dari napasnya. Laras memutar kepala menoleh Ibra, ternyata dia sudah tidur setengah ngorok. Ia hanya bisa menggeleng.


****


Hari ini sidang pertama perceraian Ibra dan Yulia, namun yang hadir hanyalah para pengacara nya saja. Yulia tidak hadir dengan alasan kurang sehat, sementara Ibra ia memang menyerahkan sepenuhnya pada pengacara. Jadi dia tidak harus hadir di pengadilan tersebut.


Seperti biasa Ibra sedang berkutat dengan aktifitasnya di meja. Zayn pun berada di sana sedang memperbincangkan, kepergian Ibra ke luar Negeri.


"Saya ingin, bila selesai urusan di sana, langsung saja terbang. Balik lagi ke Indonesia." Ibra menoleh Zayn yang juga sedang ngecek berkas-berkas.


"Ah ... aku tau, kau ingin cepat pulang. Karena kangen sama istri muda, kan? ha ... ngaku." Zayn menunjuk dengan telunjuknya pada Ibra.


Ibra bukannya menjawab malah, senyum-senyum sendiri, apa yang di tuduhkan Zayn itu adalah benar. Dia tidak ingin lama-lama meninggalkan Laras. "Dia sedang hamil muda, kau tau sendiri kondisinya gimana, kan? jadi wajarlah kalau saya tidak ingin lama-lama jauh dari dia. Bagaimanapun saya ini suaminya."


Zayn mengangguk. "Oke, masuk akal sih, sebentar. Saya terima telepon dulu," ucap Zayn sambil menempelkan benda itu ke telinganya ....

__ADS_1


,,,,


Terima kasih banyak🙏, kalian sudah menyukai tulisan yang recehan ini. Tanpa kalian aku tidak berarti apa-apa! hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk semuanya. Semoga selalu dalam lindungan sang maha pencipta dan di mudahkan segala urusan Aamiin 🤲🤲 Kalian adalah penyemangat ku.


__ADS_2