
"Sus, tolong lihat siapa yang datang." Laras menoleh Susi yang sedang berdiri dekat wastafel.
"Baik Nyonya, Susi laksanakan," sembari setengah berlari membawa langkahnya keluar. Sebelum membuka pintu, mengintip dulu dari balik gorden.
"Sepertinya mobil tuan Zayn." Gumam Susi yang kemudian membuka kunci, menarik kenop pintu dan berlari mendekati pagar.
Susi membuka gembok pagar dan berdiri di samping. Mobil Zayn pun masuk, Susi menggembok kembali dan memasuki kembali rumah Laras. Diikuti oleh Zayn dari belakang.
"Tuan ada di dalam?" tanya Zayn sambil terus berjalan mengikuti langkah Susi.
"Ada, sedang makan," sahut Susi, lalu mengunci pintu setelah Zayn berada di dalam rumah.
"Eeh ... Zayn? apa kabar?" sapa bu Rahma ketika melihat Zayn melintasi ruang keluarga.
"Iya, Tan, sorry ya kemarin gak bisa jemput ngasih infonya telat, aku sibuk di luar." Zayn bersalaman dengan kedua orang tua Ibra, tak ketinggalan memperlihatkan senyum ramahnya.
"Oh, gak pa-pa Zayn, lagian dari bandara kesini itu lebih dekat." Timpal Marwan tak kalah ramahnya.
"Ibra lagi makan malam tuh, makan sanah," suruh bu Rahma menunjuk dapur dengan dagunya pada Zayn.
"Oya, baiklah. Saya mau ikut makan dulu kali saja di kasih he he he ..." Zayn berdiri dan mengayunkan langkahnya ke dapur, kali ini Susi mengikuti dari belakang Zayn.
"Mau nambah lagi gak?" tanya Laras dan hendak mengambil piring Ibra.
"Nggak, sayang cukup, nanti kalau kebanyakan makan. Cepat ngantuk, terus gak bisa bulan madu," bisik Ibra ke telinga Laras. membuat Laras meremang, bulu kuduknya langsung berdiri.
"Malam Bos?" suara Zayn yang baru muncul di tempat itu dan menunjukkan senyumnya.
"Ah ... dasar kampret, tidak tahu waktu apa, kalau malam ini aku ada acara penting," gumam Ibra sembari memalingkan muka. Kata-kata itu terdengar jelas di telinga Laras.
Laras menyuguhkan sebuah senyuman, dan menawarkan makan pada Zayn yang langsung menarik kursi dan duduk. Netra matanya mengamati hidangan yang ada di meja.
Kemudian dia mengambil piring, tanpa membuang dia langsung mengambil menu yang disukai dan langsung melahap makannya. "Sus, minta minum dong?"
Susi meninggalkan tugasnya, lantas mengambilkan air mineral untuk Zayn yang fokus dengan makannya.
Ibra menggeleng, lalu meneguk minumnya. Seraya berkata pada Zayn. "Ada apa? ke sini."
"Ada yang harus kita bicarakan," sahutnya tanpa menoleh sedikitpun.
"Tadi siang, sudah dibicarakan bukan?" tambah Ibra kembali. Meletakkan kedua sikunya di maja.
"Ini ... lain lagi," jawab Zayn di sela-sela mengunyah makanan.
"Abang ... biarkan dia makan lebih dulu, nanti saja diajak ngobrolnya. Kasian." Laras menoleh suaminya.
"Hem ... bener tuh," suara Zayn dengan mulut penuh dengan makanan.
Susi terkekeh melihat Zayn ngomong sambil mengunyah.
"Sayang, baiknya kamu tunggu di kamar saja ya? siap-siap buat nanti," Bisik Ibra di telinga Laras, dia sedang membersihkan meja yang bekas piring Laras dan Ibra.
__ADS_1
Netra matanya bergerak melihat ke arah Ibra, dan mengangguk pelan. Hatinya jadi tak karuan, belum apa-apa sudah berdebar-debar dadanya.
"Aku akan bicara dulu sama si kampret ini yang datang tanpa diundang." Tambah Ibra sembari melirik kesal pada Zayn yang kini selesai makan dan diakhiri dengan memakan pisang sebagai cuci mulutnya.
"Tega amat si Bos bilang gitu ih?" ungkap Zayn pada Ibra, Bosnya.
"Buruan, mau ngomong apa?" tanya Ibra menatap lekat ke arah Zayn.
Zayn, mengarahkan pandangan pada Laras. Ia bingung, ngomong langsung atau harus nunggu Laras pergi dulu?
Sementara Laras, berdiri dan menepuk halus bahu Ibra. Kemudian membawa langkahnya ke dalam kamar. Berjalan begitu gemulai, netra mata Ibra mengikuti geraknya.
"Ehem," dehem Zayn. Ketika melihat Ibra anteng memandangi kepergian istri mudanya itu. "Sudah tidak sabar ya ... mau ngasih pisang? ha ha ha ..." menyeringai nakal.
"Ih, Tuan Zayn. Itu pisang di depan anda, Nyonya sudah makan juga," celetuk Susi.
Zayn menoleh. "Uh ... itu sih pisang biasa, yang luar biasa itu punya di--"
"Berisik? bahas yang gak penting, saya pergi," ucap Ibra dengan muka datarnya, memotong percakapan Zayn dan Susi. "Bicaralah?"
"Ini, soal kerjaan. Minggu depan kau harus ke luar kota, di sana banyak yang harus kau urus juga," ujar Zayn dengan sangat serius.
"Emang, gak bisa kamu gantikan? kamu, kan tahu kalau aku akan mengadakan empat bulanan," ungkap Ibra yang keberatan untuk pergi ke luar kota.
"Bisa, saja aku gantikan. Asalkan kamu mau menghadiri sidang perceraian mu dengan Mery, mau? ini waktunya berbarengan Bos. Kalau gak secepatnya diurus kerjaan di sana, bisa-bisa masalahnya akan berkepanjangan Bos. Setelah selesai menghadiri sidang, aku akan segera menyusul mu ke Balikpapan. Lagian perginya setelah acara empat bulanan Bos, gak usah khawatir." Jelas Zayn yang panjang lebar itu.
Ibra manggut-manggut. "Baiklah, urus saja segala keperluannya. Aku tahu beres saja."
"Iya-iya. Baiklah, masih ada waktu, kan? sekarang saya mau istirahat," sambung Ibra, melihat jam yang di tangannya melingkar.
"He he he ... Bos, saya malas pulang, boleh dong ... saya menginap?" menaik turunkan alisnya.
"Hem, sejak kapan kau meminta nginep?" selidik Ibra merasa heran, kemudian memasukan potongan buah ke mulutnya.
"Aduh, Bos ... rumah ku lebih jauh Bos, dari sini." Zayn memelas. Saat ini dia merasa malas nyetir. Mungkin Karena kekenyangan jadinya ngantuk.
"Hem ..." gumam Ibra sambil mengernyitkan keningnya.
"Di sofa juga gak pa-pa Bos." rajuk Zayn yang terus saja menguap.
"Sus, siapkan kamar tamu sebelah buat Zayn, kalau sekiranya tidak ada kasur. Sediakan saja tikar ya Sus?" perintah Ibra pada Susi yang dibalas dengan anggukan, lalu bergegas pergi.
"Lah ... tega amat, gue harus tidur di tikar? ya mending tidur di sofa lah," protes Zayn merasa kesal pada Bos nya. Ibra.
"Terserah, kalau mau. Kalau nggak sih, silakan pulang." Sambung Ibra ketus, yang sesungguhnya sih cuma bercanda.
"Ya ... tak apalah, daripada ngantuk di jalan." Lanjut Zayn.
"Kalian masih ngobrol ya?" Rahma dan Marwan menghampiri keduanya.
"Ini juga mau tidur, Mah ... cuma ini orang minta kamar segala, gak sopan banget nih orang." Ketus Ibra kembali.
__ADS_1
"Dia aja yang hakikatnya pelit Tante," akunya Zayn sambil menyeringai.
Susi muncul darai kamar tamu. "Kamarnya sudah saya siapkan, Tuan."
Ibra mengangguk pelan. "Makasih Susi. Zayn Sana tidur," menunjuk kamar yang barusan Susi bersihkan.
"Makasih ya, Bos." Zayn bergegas menuju kamar tamu sebelah kamar bu Rahma dan Marwan.
"Kami juga mau istirahat, Sayang istri mu sudah tidur?" tanya bu Rahma, sebab tak melihat Laras berada di sana.
"I-iya, Mah ... aku juga sudah ngantuk nih," ucap Ibra pura-pura menguap ngantuk.
"Ya, sudah. Kami duluan ya? Papa capek." Berlalu, langkahnya diikuti bu Rahma yang akhirnya menggandeng tangan suaminya.
Akhirnya, Ibra pun beranjak dari duduknya. Merapikan kursi, melihat ke arah Susi yang tengah beres-beres, ia membawa langkahnya menuju kamar Laras.
Laras yang sedari tadi menunggu di kamar sudah gelisah. Yang di tunggu belum muncul juga, tubuhnya kepanasan. Sehingga membuka kimono nya, tinggallah dress tidur bagian dalam yang talinya sebesar kelingking saja. Rambut ia Ikat, nggak kuat dengan panasnya.
Terdengar derap langkah kaki seseorang mendekati pintu kamarnya. Laras mengarahkan pandangan ke arah sumber suara tersebut.
Kenop pintu berputar, dan Pintu di dorong dari luar. Blak! pintu terbuka, nampak Ibra masuk dan segera menguncinya. Netra mata Ibra bergerak melihat Laras yang sedang duduk di tepi tempat tidur, dengan setelan tidur yang menggoda. Biarpun panjang ke bawah namun memperlihatkan bahu, sebab cuma mengenakan tali saja. Memberikan kesan seksi di tubuh Laras.
"Tunggu sebentar ya? aku mau isya dulu." Menunjukkan senyum termanisnya. Bergegas ke kamar mandi, mau ngambil wudu. Sekalian buang air kecil
Laras hanya membalas dengan tersenyum saja. sambil merangkak naik dan masuk kedalam selimut, perasaan Laras saat ini dag dig dug ser. Dadanya naik turun, napas tak karuan, jantung pun berdegup kencang. Serasa mau malam pertama saja.
Seusai melipat alat salatnya, Ibra mendekati saklar dan mengganti sinar lampu jadi temaram. Kemudian mendekati tempat tidur, lalu naik merangkak. Masuk ke dalam selimut yang sama, dengan sang istri. Mendekati wajah Laras menghujani kening, pipi dengan kecupan kecil yang penuh kehangatan dan kelembutan. Berakhir mendarat di bibirnya, bergerak serta memberikan gigitan kecil. Berasa geli namun ada sensasi lagi dan ingin lagi.
Ibra memperdalam sentuhannya. Dan semakin menimbulkan rasa berdesir nikmat, serta menuntut lebih. Tangan Laras melingkar memeluk leher Ibra erat, membuat Ibra terus menampakkan senyum yang melebar dari bibirnya.
Ibra bangun sesaat. Untuk mempersiapkan sesuatu yang semakin lama kian tegang dan terus meronta ingin di manja. Laras yang sudah siap sedari tadi, rasanya sudah tidak sabar menunggu lagi. Matanya memicing melihat Ibra sedang bersiap dan bibir menyeringai bahagia. Akhirnya pertarungan yang sangat sengit di mulai.
Sebagai laki-laki tentunya Ibra ingin menunjukkan keperkasaannya dan Laras pun tidak mau kalah begitu saja. Semakin lama dia pun semakin menampakkan keagresifan nya di mata Ibra. Adakalanya tubuh mereka bergetar hebat.
Dua jam berlalu begitu saja, hingga akhirnya mereka berdua tumbang juga dan
tak tau siapa yang kalah ataupun menang? keduanya sama-sama kelelahan. Saling peluk satu sama lain, Kemudian rasa kantuk menjadikan matanya terpejam. Membawa ke alam mimpi yang indah.
Sekitar dini hari Laras terbangun lebih dulu, memicingkan mata melihat sebelah yang masih terlelap. Laras menggerakkan jarinya menyentuh hidung Ibra yang mancung, senyum Laras mengembang. Kemudian meringsut duduk bersandar ke bahu tempat tidur, Ibra menggeliat dan tangannya memeluk Laras yang kebetulan tepat pada kakinya.
Perlahan ... tangan Ibra, Laras pindahkan, lalu Laras turun menapaki lantai yang sebelumnya meraih dress tidurnya. Ia bergegas memasuki kamar mandi.
Di kamar mandi, Laras berendam di air hangat badannya berasa sakit, ngilu dan ia lihat banyak merah-merah di dekat dadanya. "Untung di bawah, bukan di leher." Gumamnya dalam hati. 20 menit kemudian ia sudah mengenakan bathrobe.
Kini Laras sudah berkutat membuat sarapan bersama Susi, yang sebelumnya mengurus Ibra terlebih dahulu, dari mulai menyiapkan pakaian sampai membantu mengenakannya. Kebetulan Ibra mau masuk kantor.
Brak! ....
****
Selamat membaca reader ku semua, semoga kabar hari ini ada dalam lindungan sang maha pencipta. Semoga puas membacanya.
__ADS_1