Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Negri dongeng


__ADS_3

"Dasar gadis bodoh. bukannya buka mata malah tidur terus, untung bergerak. kalau tidak, berasa tiduri pohon pisang," gumam Ibra menatap Istrinya dengan tatapan bahagia.


Paginya Ibra sudah bangun duluan dari Laras, Bersih-bersih di bawah kucuran air shower. Menggosok seluruh tubuhnya.


Laras menggeliat. Perlahan membuka matanya, hendak membuka selimut namun ia terkejut sebab mendapati tubuhnya tak berpakaian.


"Hah ... apa ini kenapa aku gak memakai baju? ingat betul kok, semalam aku memakai pakaian lengkap." Laras mencari keberadaan pakaiannya semalam yang ada berceceran di lantai.


Laras termangu apa yang telah terjadi semalam. Bukankah semalam itu dirinya bermimpi bercinta dengan seorang pangeran tampan dari negri dongeng, terdengar suara air keran dari dalam kamar mandi. Laras segera memungut pakaiannya lantas di pake. Dalam pikiran masih tersirat mimpi itu.


Laras terduduk dengan pikirannya. "Ya Tuhan ... apa semalam tuan ibra? tapi apa mungkin! ya mungkin saja, kan dia sudah menjadi suamiku seorang Larasati." Laras menggeleng merasa pusing.


Ia mencoba melangkah ternyata daerah intinya sakit, perih. Laras terduduk di lantai tanpa di undang air matanya berlinang, menggenang di kedua sudut matanya. Akhirnya mahkota yang dia jaga selama ini untuk seorang pria tercinta, harus kehilangan oleh sorang suami yang dinikahinya sebab surat kontrak.


Ibra keluar dari balik pintu dengan handuk melilit di pinggang. Tangan menggosok rambut dengan handuk kecil, bibirnya setengah bersiul sepertinya suasana hati dia tengah happy.


Laras bangun berjalan maju meskipun sambil meringis kesakitan. Setelah berada dekat Ibra. Laras memukul dada Ibra yang bidang itu. Bug bug bug. "Kenapa kau meniduri aku ha? kenapa kau tidak meminta ijin dulu dariku? kamu jahat, kamu jahat. Sudah aku bilang, kan aku belum siap," suara Laras tinggi sambil menangis tersedu. Tangannya terus memukul dada Ibra yang tak berpakaian.


Sebelumnya Ibra bengong namun akhirnya dia mengerti dan meraih pergelangan Laras lalu di cengkeramnya. "Apa-apaan kamu ini? kamu lupa kalau kamu itu istri saya yang bisa saya sentuh kapan saja. Kalau belum siap kenapa mau menikahi saya? kenapa harus menyalahkan saya! kau sendiri sangat menikmatinya," menatap tajam pada Laras.


"Sa-saya tidak sadar, kalau saja saya sadar. Gak mungkin mau secepat itu, brengsek ... " tidak nyadar mengucap kata-kata yang tak pantas buat suaminya dan tangan Laras yang satunya terus menghujam ke dada Ibra.


Akhirnya Ibra mencengkram keduanya. Ibra seret kebelakang tubuh kecil Laras sampai ketempat tidur dan mendorong Laras sampai terlentang di atasnya. Laras berusaha berontak dan bangun namun tenaga Ibra terlalu kuat dan mengungkung tubuhnya hingga sulit bergerak.


Laras setengah berteriak. "Lepas, lepaskan aku." Laras panik ketika wajah Ibra mendekat ke wajahnya. Laras semakin panik, ketakutan melihat Ibra melepas handuk yang melilit di tubuhnya. Membuat Laras membuang muka tak sanggup bila harus melihat milik Ibra yang menantang.


Ibra terus tak merubah posisinya. Senyumnya mengembang puas, napasnya tak karuan suaranya pun parau, matanya berkabut birahi. "Jangan membangunkan harimau yang sedang tidur, bila tidak mau kena akibatnya," menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah Laras.


"Aku mohon Tuan. Lepaskan, aku mau bersih-bersih dan aku kesakitan," Lirih Laras menurunkan suaranya.

__ADS_1


Ibra tetap tidak mau beranjak malah dengan santai membuka kancing pakaian Laras sampai lepas semua sehingga terlihat kembali isinya yang mengunggah birahi jiwa lelakinya.


Buliran demi buliran air nampak di sudut mata Laras. "Lepaskan aku Tuan! aku masih sakit," semakin lirih dan memohon. Tapi Ibra terus melanjutkan aksinya sampai dia benar-benar merasa puas.


Laras terkulai lemah. Begitupun Ibra kelelahan di samping sang istri mudanya, akhirnya mereka tertidur saling berpelukan.


Waktu sudah menunjukan pukul 10.00 Ibra belum juga keluar dari kamar Laras. Kepala asisten sudah mencoba membangunkan namun tetap keadaan kamar hening. Apa lagi para istrinya yang lain sudah berwajah cemas, mondar mandir sangat gelisah.


"Heran! ngapain saja sih di dalam?sampai jam segini belum pada bangun," sewot terlihat jelas di wajah Dian.


Yulia dan Mery terdiam, namun hatinya sama aja gelisah. Tangan bersilang di dada, maju beberapa langkah balik lagi. Pintu tak berhasil di ketuk, nomor ponselnya di telepon namun hasilnya tetap nihil.


Ponsel telepon Ibra begitu berisik, krang kring, krang kring. Sampai Ibra pun terbangun perlahan mengambil ponsel di atas nakas, memicingkan mata sebelah melihat siapa saja yang menghubunginya, pas lihat kontak Zayn sudah sepuluh kali panggilan. Ibra sontak bergegas bangun. Ia baru ingat hari ini ada meeting, langsung menyimpan ponsel di tempatnya.


Bergegas menyambar handuk! dan berlari ke kamar mandi untuk bersih-bersih yang kedua kalinya.


Tidak selamg lama. Ibra keluar dari kamar mandi, bergegas mengenakan setelan kerja sambil menghubungi sekertaris pribadinya.


^^^Ibra: "Sorry. Saya terlambat,? 30 menit lagi saya akan sampai kantor, tunggu saja."^^^


^^^Zayn: "Kemana saja kau? mentang-mentang punya yang muda sampai lupa kerja. Terpaksa saya undur jadwal rapat nya, gimana sih? penting nih."^^^


^^^Ibra: "Iya-iya sorry. Tunggu sebentar."^^^


Dengan susah payah mengenakan celananya, saking terburu-burunya dia. Tidak lupa memasang dasi. Melirik Laras masih tidur nyenyak. Setelah berasa cukup rapi Ibra mengambil semua keperluannya. lalu membuka pintu. Ketika pintu terbuka nampak ketiga istrinya berdiri di depan pintu dangan wajah heran dan cemas.


"Sayang, kamu ngapain saja sih? baru mau berangkat kerja jam segini?" tanya Dian menunjuk jam di tangannya.


"Aduh sayang. Pasti belum sarapan, kan? sudahlah kak, suami kita pasti belum sarapan, sarapan dulu yuk sayang." Mery bergelayut mesra di tangan Ibra.

__ADS_1


Yulia pun meraih tangan Ibra satunya dan bergelayut mesra juga. "Sayang. Aku kangen sama kamu."


Ibra menatap ketiganya. "Saya sudah terlambat. Saya harus berangkat kerja, sudah terlambat," sambil berjalan cepat menuju lift, di ikuti ketiga istrinya sampai garasi.


"Tapi sayang, kan belum sarapan, sarapan dulu ya?" ajak Dian sambil merebut tangan ibra dari gelayutan Mery.


"Saya sudah terlambat," dan terus berjalan menuju garasi, di sana sudah siap sedia mengantar tuannya ya itu supir Ibra yang setia namanya. pak Barko.


"Pak. Saya sudah terlambat, pergi sekarang," ucap Ibra sambil membuka pintu mobil sebelum masuk seperti biasa Ibra akan mencium kening istri-istrinya satu satu.


"Hati-hati sayang muah," ketiganya memberikan kecupan jauh dan melambaikan tangan pada Ibra yang memasuki mobilnya. Mereka akan tetap berdiri sampai mobil keluar dari tempatnya.


"Si Laras kebangetan jam segini belum bangun juga, boro-boro menyiapkan sarapan atau pun keperluannya," sambil berjalan cepat kembali mendekati lift. Memencet angka sesuai lantai tujuannya.


Yulia dan Mery membuntuti Dian dari belakang. Seperti ratu di ikuti oleh dayang-dayang nya.


Kini mereka sudah berada di dalam kamar Laras yang masih berantakan. Sebab yang empu juga belum bangun.


"Hi ... bangun jam berapa nih?" Dian menepuk pipi Laras.


"Iya nih, hari sudah siang gini masih saja tidur? pemalas banget sih kamu ini," timpal Yulia menggoyangkan kaki Laras.


"Heeh bener, kita aja sudah cantik dari pagi buta bersiap melayani suami. Ini masih dalam mimpi, dapat dari mana sih Kak gadis seperti ini?" sambung Mary memajukan bibirnya.


Laras yang masih tidur mendengar yang ribut akhirnya perlahan membuka mata. Melihat di sekitarnya ada tiga wanita cantik-cantik dan wangi.


'''''


Hi... apa kabar semuanya, semoga kabar baik ya, author menyapa kalian dari novel yang ini semoga kalian suka, dan dukung author ya agar tambah semangat.

__ADS_1


__ADS_2