
Yang lain menjadi tambah panik melihat langkah Ibra yang lebar dan memanggil supirnya, Irfan.
Jodi bangkit dengan segera, "Yah, aku ikuti Lala ke rumah sakit." tanpa menunggu jawaban Jodi menyusul Ibra yang membawa Laras.
Dian pun beranjak. "Aku ikut Jodi." Menyusul langkah Jodi.
Pak Mulyadi menjadi ikutan panik, hatinya gelisah. Khawatir melihat keponakannya kesakitan.
Melihat pak Mulyadi tampak gusar, rasa cemasnya tergambar jelas di wajah pria paruh baya ini. Caca mendekat dan mengantar ke kamar untuk beristirahat.
"Tuan gak usah khawatir, mbak Laras pasti baik-baik saja." Lirih Caca sambil mendorong kursinya itu.
Mbok Darmi sudah berada di kamar pak Mulyadi, menyiapkan tempat tidurnya itu.
"Silakan Tuan? apa mau ke toilet dulu, biar saya antar." Mbok Darmi menawarkan tenaga pada pak Mulyadi, ketika kursinya masuk ke dalam kamar.
Pak Mulyadi menggeleng. "Saya tak ingin ke toilet. Saya sedang khawatir, takut ponakan saya ke napa-napa!"
"Doakan saja Tuan, Semua akan baik-baik saja." Tutur Caca menenangkan pak Mulyadi.
Pak Mulyadi diangkat, dibantu naik ke tempat tidur. Ia berbaring namun dengan pikiran yang lumayan kacau.
"Tuan yang tenang aja, jangan banyak pikiran. Karena akan mengganggu kesehatan anda." Pesan Caca.
"Iya, Tuan ... anda harus fit jangan banyak pikiran. Mbak Laras sudah ada tuan Jodi dan suaminya," tambah mbok Darmi.
Pak Mulyadi mengangguk dan memejamkan matanya. Mengosongkan semua pikiran yang mengisi otak.
"Kalau butuh sesuatu, panggil saya Tuan." Mbok Darmi menawarkan bantuan kembali.
"Tuan, sebentar saya kembali untuk membawakan minuman dan untuk Tuan." Caca memutar badan keluar.
Caca dan Darmi keluar dari kamar pak Mulyadi. Kalan beriringan.
"Saya harap, kamu merawat dengan baik tuan Mulyadi. Bukan cuma mencari perhatian dari majikan," ucap mbok Darmi sambil berjalan.
Caca melirik. "Tentu lah Mbok, aku akan berusaha merawat dengan baik. Kalau soal mencari perhatian atau apa, itu sih ... tergantung yang memandang dan aku gak mau ambil pusing, soal itu."
Mbok Darmi berdiri tertegun. Sementara Caca kembali ke kamar pak Mulyadi, membawakan minuman dan cemilan.
****
"Cepat Fan," pinta Ibra pada Irfan yang ia rasa di jalan begitu lama. Hatinya kian panik melihat sakit sang istri yang tak juga reda. Apalagi ketika Laras menunjukan di kakinya mengalir air bening.
Ibra makin di buat panik, cemas dan bingung. Tidak tau harus berbuat apa? mobil yang melesat aja terasa merayap bagaikan siput.
"Jangan panik Tuan, harus tenang. Tidak baik juga ikutan panik," suara Irfan dari depan, dengan tetap fokus menyetir.
"Coba kamu ada di posisi saya? istri saya kesakitan. Tentu saya tidak tega! saya khawatir akan keselamatan istri saya." Jelas Ibra sambil menatap wajah sang istri yang semakin pucat.
"Maaf, Tuan. Saya pun mengerti." Irfan tak lagi bersuara.
Selang beberapa waktu. Mobil pun sampai di pelataran rumah sakit bersalin. Segera perawat membawa kursi roda buat bumil.
Dengan cepat Laras dibawa dan segera ditangani dokter ahli yang ditunjuk menangani Laras. Ibra turut mendorong sampai ke dalam ruangan. Tangannya menggenggam erat tangan sang istri.
Menatap lekat sang istri yang semakin pucat wajahnya, terus meringis memegangi pinggang. "Yang kuat sayang? harus kuat!" cuph mendaratkan kecupan di kening dan pucuk kepala sang istri.
Jodi dan Dian pun datang. Menghampiri Irfan. "Laras gimana?" tanya Jodi dengan wajah cemasnya.
''Sedang di dalam.'' Jelas Irfan.
Derap langkah kian mendekat ke ruangan bersalin nya Laras. Dua orang yang berwajah sangat khawatir.
"Gimana keadaan mantu aku Fan?" tanya bu Rahma menatap cemas pada Irfan dan Jodi serta Dian bergantian.
"Di dalam. Sedang di tangani Nya." Menunjuk ruang bersalin.
"Ibra di sana, kan?" tanya bu Rahma kembali.
"Iya." Irfan mengangguk.
Netra mata bu Rahma mengarah ke pintu ruangan tersebut, Bu rahma segera masuk ke dalam. Dan menghampiri Ibra.
"Gimana Sayang?" tanya bu Rahma pada Ibra dengan tatapan tertuju pada Laras.
"Masih pembukaan 1, Mah ..." gumam Ibra.
"Gimana mantu saya dok?" tanya bu Rahma yang tidak puas dengan jawaban putranya.
"Mantu ibu, baru pembukaan 1, dan kemungkinan masih lama melahirkannya," jawab dokter wanita yang menangani Laras.
"Oh, tapi tidak ada masalahkan dengan janinnya. Em ... maksud saya posisinya dah benar? gak sungsang atau apa?" tanya bu Rahma penasaran dan cemas. Khawatir harus gimana-gimana.
"Alhamdulillah, posisinya normal dan mudah-mudahan lahirannya nanti lancar," jelas dokter kembali.
__ADS_1
"Alhamdulillah ..." gumamnya Ibra dan bu Rahma barengan. Begitupun Laras, terus berdoa dalam hati agar persalinannya berjalan normal dan lancar.
Setelah itu dokter pun keluar. Meninggalkan Laras dan suami juga bu Rahma. Bu Rahma mengusap-ngusap bokong Laras sangat lembut.
Dokter dan suster keluar beriringan. Pak Marwan masuk diikuti oleh Jodi dan Dian.
"Gimana?" tanya pak Marwan cemas menatap Laras yang sedang mencoba turun dengan bimbingan sang suami. Wajahnya pucat pasih.
"Masih pembukaan 1, Pah ... masih lama kalau perkiraan dokter." Jawab bu Rahma pada sang suami.
Jodi, Dian turut mengangguk. "Semoga lancar persalinannya ya Allah!"
"Aamiin," gumam Dian yang berdiri di dekat Jodi.
"Oh, jadi masih lama ya?" tambah pak Marwan. Menatap sang mantu kembali.
"Iya, begitu kalau kata dokter."
Ibra memapah Laras berjalan mondar mandir sangat pelan. Dengan napas yang teratur, sesekali meringis dan ambruk di dada Ibra.
Dian yang melihat itu, tertegun. Mungkin kalau ia mengandung dan mau melahirkan akan seperti itu juga, hatinya pun sedikit teriris melihat Ibra begitu telaten dan sabar menemani Laras di saat-saat seperti ini.
Kalau saja dirinya bisa mempunyai anak, mungkin ceritanya tak akan seperti ini. Pasti yang sekarang Ibra dampingi itu adalah dirinya, bukan Laras. Dian lantas menunduk, menyembunyikan rasa iri nya terhadap wanita yang kini jadi istri kesayangan sang mantan.
Ibra memberikan minum, sebab Laras merasa haus katanya. Kembali meringis kesakitan.
"Sayang, seandainya aku bisa gantikan, aku rela menggantikannya. Abang gak tega melihatmu seperti ini sayang." Ibra memeluk Laras dan mengecup kepalanya.
Yang lain pada duduk di sofa. agak jauh dari mereka berdua, Ibra tidak perduli dengan adanya Dian yang berada di sana. Semua cuma masa lalu yang untuk dijadikan kenangan dan pengalaman. Yang terpenting saat ini, adalah sang istri yang kini sedang berjuang untuk bisa memberinya anak, walau dengan rasa sakit yang teramat.
Bu Rahma mendekati. "Makanya harus sayang sama istri, hargai istri yang bersedia berkorban mempertaruhkan diri bahkan nyawanya, hanya untuk suami yang ingin memiliki keturunan."
Ibra hanya bisa menoleh sang ibunda.
Tangan bu Rahma mengusap perut sang mantu. "Cucu Oma, kesayangan Oma. Yang mudah ya? keluarnya, yang lancar dan sehat. Kasian mommy sayang ...."
Perut Laras bergetar, seolah sang cucu mengerti dengan omongan sang oma. Tangan bu Rahma terus mengusap perut dan bokong Laras, yang menyusupkan kepalanya di dada Ibra dengan tangan melingkar di pinggang sang suami.
"Mah ... keperluan Laras di bawa gak?" tanya Ibra pada sang bunda.
"Di bawa sayang. Tuh, di sana!" menunjuk ke belakang.
"Sayang, pegangan ke Mama dulu, Abang pengen kencing dulu." Bisik Ibra ditelinga Laras yang di balas dengan anggukan.
Ibra segera masuk ke toilet. Tidak lupa menguncinya. Sesaat kemudian ia keluar dengan menyingsingkan lengan bajunya.
Merogoh sakunya, mencari ponsel. Namun tidak ada, meraih jas nya, kebetulan terselip di sana.
Ibra: "Fan. Tas Nyonya muda di mobil?"
Irfan: "Ada, Tuan. Apa mau saya bawakan ke sana?"
Ibra: "Ya, bawa aja. Tapi tolong ya? pulang dulu ke rumah, mintakan baju saya ke Susi."
Irfan: "Baik, Tuan."
Selesai pembicaraan tersebut, Ibra menutup teleponnya. Menghampiri sang ayah yang duduk bersama Jodi dan juga Dian.
"Makasih Jodi, kamu sudah berada di sini? tapi besok kamu harus ngantor. Kamu juga Dian, kalian pulang saja dah malam. Jangan sampai mengganggu aktifitas kalian berdua." Tatapan Ibra bergantian.
"Tapi," ucap Jodi.
"Sampaikan sama om Mulyadi. Minta doanya, agar persalinan Laras lancar. Nanti saya hubungi kamu kalau sudah melahirkan." Jelas Ibra kembali.
Setelah sejenak berpikir, akhirnya Jodi berdiri. "Baiklah, biar besok saya ke sini lagi. Tolong hubungi kami ya?" menepuk bahu Ibra.
"Oke, bilang sama om Mulyadi. Jangan khawatir Laras baik-baik aja." Kemudian keduanya berjabat tangan.
Dian pun beranjak. "Aku juga besok ke sini lagi. Semoga semuanya berjalan lancar," gumamnya Dian pada Ibra. Terus matanya melirik ke arah Laras sejenak.
"Ya, makasih!" balas Ibra pada Dian.
Kemudian Dian menoleh pak Marwan untuk pamit. "Pa, aku pulang dulu."
"Iya, Dian pulang lah, sudah malam." Balas pak Marwan pada Dian. Kebetulan waktu sudah menunjukan pukul 21.wib.
"Titip Laras," kata terakhir dari Jodi sambil menepuk pundak Ibra.
"Tentu." Ibra menatap datar pada Jodi.
Dian berjalan duluan. Jodi melangkahkan kakinya dengan berat hati di belakang Dian.
Setelah di luar ruangan Laras. Jodi bertanya. "Mau aku antar pulang langsung? atau mau ngambil mobil ke tempat ku dulu."
"Ha? jauh kalau harus mengantar ku, ke rumah mu sajalah. Ambil mobil," sahut Dian menoleh ke arah Jodi yang tetap berjalan.
__ADS_1
"Tapi, kalau ambil mobil dulu, pasti akan kemalaman. Mending langsung pulang saja, aku antarkan dan mobil biar diantarkan scurity ke tempat mu besok pagi-pagi." Jodi gak tega juga membiarkan Dian pulang sendirian malam-malam.
Dian terdiam, seakan berpikir sejenak. "Kalau tidak merepotkan dirimu sih. Oke lah. Boleh."
Akhirnya keputusan adalah, Jodi mengantar Dian pulang lebih dulu, biar mobil besok pagi diantarkan scurity ke tempat Dian.
Ibra kembali menghampiri sang istri yang kini duduk di tepi ranjang pasien. "Sayang. Abang mau salat dulu ya hem?" cuph mengecup puncak kepala sang istri.
"Iya, di segerakan lah. Dah jam berapa nih?" lirih Laras sambil memegangi perutnya.
"Iya, sayang iya ... sebentar ya tunggu." Lantas Ibra berlalu mencari tempat salat. Sebelumnya menitipkan Laras pada ayah dan bundanya.
Persekian waktu, perawat dan dokter akan datang untuk memeriksa kondisi Laras. Seperti saat Ini Laras di periksa lagi. Dan katanya sudah mulai pembukaan 3 namun belum bisa memperkirakan kapan-kapannya.
"Makasih dok?" ucap Ibra dan bu Rahma.
"Iya sama-sama." Dokter pun kembali berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Laras meringkuk di ranjang. Keringat dingin pun bercucuran, wajahnya menahan sakit. Bokong yang terasa panas, perut terus-terusan mules. Semakin kuat. "Ya Allah ... sakit. Begitu nikmat nya rasa sakit ini. Beri aku kekuatan ya Allah."
Ibra terus ada di sampingnya, mengelus pinggang, sesekali memberi kecupan di kening dan kepala. Seakan memberi kekuatan untuk Laras.
Bu Rahma dan suami, pada duduk bersandar di sofa. Matanya terpejam. Wajar ajalah bila mereka merasa lelah, malam semakin beranjak pagi. Putaran jam menunjukan pukul 02.30.
Mata Laras tidak bisa pejam. Bersama Ibra. Kebetulan Irfan setia mondar-mandir mengantar sesuatu yang Ibra minta termasuk kopi untuknya.
"Abang. Pasti capek, istirahat aja. Aku gak pa-pa, asal jangan jauh-jauh aja." suara Laras pelan, menatap wajah Ibra yang tampak lelah.
"Nggak sayang. Kalau kamu gak bisa tidur, mana bisa aku tidur hem." Matanya menatap lekat wajah sang istri yang pucat pasih itu.
Tangan Ibra membingkai wajah Laras. "Yang kuat ya sayang, demi anak kita. Demi aku juga ya?" lalu Ibra memberikan kecupan di kedua pipi dan kening Laras. Dan berakhir di bibir sang istri walaupun singkat.
Laras tertegun, merasakan kontraksi di perutnya. Kemudian Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit.
"Aku minta maaf ya? selama ini aku belum bisa jadi istri yang terbaik untuk mu. Jika saja terjadi sesuatu padaku. Titip anak ku, jaga dia dengan baik ya sa--"
"Jangan bicara seperti itu sayang. Aku gak mau mendengarnya lagi, aku mohon?" kedua netra mata Ibra berembun. Dan hampir membeludak, tak sanggup menahan lagi.
Tangan Laras membelai lembut rahang sang suami. "Abang sayang, kan sama aku?" tanya Laras. Ia pun tak sanggup menahan buliran air yang menggenang di sudut matanya.
Tentunya Ibra mengangguk, meraih tangan Laras yang kemudian ia cium berkali-kali. Punggungnya itu. "Aku sangat sayang sama kamu, sangat." suaranya Ibra begitu serak di telinga Laras.
Tatapan Laras begitu sendu. "Aku ingin tidur di pelukan Abang." Laras langsung membenamkan wajahnya di pelukan Ibra.
Ibra merangkul erat serta memberikan sentuhan-sentuhan lembut di pinggang sang istri yang tampak sesekali meringis. Sesekali pula Ibra mengusap keringat dingin yang menghiasi pelipis dan leher Laras dengan tisu.
Sejenak keduanya pejamkan mata di ranjang pasien. Berpelukan sangat mesra, Namun itu tak berlangsung lama. Laras terbangun kembali dengan rasa sakit yang ia rasakan.
Merasakan tubuh Laras bergerak, otomatis Ibra pun terbangun kembali. "Sayang. Apa perlu sesuatu?"
Laras mengangguk dan meminta minum, haus. Ibra mengambilkan dengan tulus. "Pengen ke toilet." Pinta Laras setelah minum.
"Mau apa sayang?"
"Mau pipis." Jawab Laras sambil mengibaskan selimut.
Ibra turun duluan dan memapah sang istri ke toilet dengan sangat pelan.
Bu Rahma yang terbangun dan mendengar suara Laras dan Ibra, kemudian bertanya. "Mau ke mana sayang? kalau sekira mau lahiran diem di tempat saja."
Namun Laras tetap ingin ke toilet. Sesampainya di toilet, Laras bersiap pipis. Rasanya sangat galau, kadang ingin pup kadang enggak lagi. Jadi bingung, galau setengah mati.
Dengan rajin Ibra membersihkan bekas pipis Laras, termasuk membersihkan daerah intinya. "Sudah belum sayang hem?"
"Sudah. Pengen pup, tapi gak mau, perasaan galau banget."
"Mungkin itu terbawa dari perut sayang. Yu kita ke ranjang lagi." Ajak Ibra.
"Tapi ... aku pengen pup."
"Iya-iya. Terserah sayang aja," ucap Ibra membiarkan Laras berjongkok di tempat pup. Lama ... berjongkok. Namun tak juga keluar.
"Nggak jadi." Laras berdiri dengan bimbingan tangan Ibra. Ibra ajak kembali ke tempat semula, ya itu ranjang pasien.
"Lama sayang?" tanya bu Rahma ketika melihat Laras dan Ibra baru keluar dari toilet.
"Ini, Laras pengen pup tapi galau katanya Mah," kata Ibra.
"Itu, biasa sayang. Memang suka seperti itu bila menjelang persalinan.'' Bu Rahma menatap ke arah Laras.
Tangan Laras mencengkram pergelangan Ibra, mata terpejam menahan sakit ....
****
Yu mana dukungannya nih? agar aku tambah semangat.🙏
__ADS_1