
Dari jauh terlihat sebuah mobil meluncur kearah sana. Namun bukanlah pak Barko yang datang melainkan. Zayn.
"Loh, kok bukan pak Barko?"
Bu Rika menerima telepon, yang entah dari mana. Kemudian Rika menghampiri Laras. "Nyonya muda! supir tuan ada kendala di bandara. Jadi pulangnya telat, anda ikut Tuan Zayn saja."
"Tapi. Bu Rika?"
"Tidak apa-apa Nyonya, ini juga tuan yang perintahkan." Rika membukakan pintu buat Laras
"Nyonya, pak Barko masih di bandara, sekalian menjemput orang tua suami anda," ungkap Zayn sembari mengangguk.
Laras segera masuk dan duduk di dalam mobil. "Baiklah. Aku sudah siap!"
Rika! menutup kembali pintu mobil setelah Nyonya muda nya sudah duduk dengan baik di dalam.
Zayn segera menancap gas memutar kemudi menuju kantor pusat. Perusahaan yang di pimpin oleh Malik Ibrahim.
Selama perjalanan Laras melepaskan pandangan ke luar jendela, melihat kuda-kuda besi yang lainnya. Yang berpacu dengan waktu.
Sesekali Zayn melirik dari kaca spion depan, dan hatinya mengakui kalau istri bos nya itu sangat lah cantik. "Sebenarnya wanita ini bukan wanita biasa-biasa. Cukup berpendidikan tinggi lulusan ekonomi, namun kenapa tidak berkarir saja?" batin Zayn sambil tetap fokus menyetir.
Sedang asik melamun, dering ponsel Laras terdengar nyaring. "Siapa sih?" merogoh dompetnya. Laras menatap layar, beberapa detik kemudian baru menerimanya.
"Halo ... iya. Ini masih di jalan Tuan," ucap Laras kemudian menyimpan kembali ponselnya.
Zayn melirik, dia yakin pasti bosnya yang menelpon Laras. Zayn semakin mempercepat laju mobilnya, agar lebih cepat sampai ke tempat tujuan.
Selang beberapa waktu. Sampailah mobil yang di kendarai Zayn. Menepi di depan salah satu gedung pencakar langit di kota itu.
Laras langsung di hampiri oleh seorang scurity dan mengajaknya masuk. Di antarnya pula ke ruangan direktur utama yang bernama Malik Ibrahim.
Ruangannya berada entah di lantai berapa? yang jelas berasa jauh. Dan Laras kurang memperhatikannya.
Laras hanya diam, dan Scurity pun cuma berdiri tegap ketika berada di dalam lift. Pintu lift terbuka, scurity pun berjalan duluan diikuti Laras dari belakang.
Tok...
Tok...
Tok...
''Permisi Tuan, saya mengantar Nona ini," ucap scurity berdiri depan pintu. Bersama Laras yang mematung di sana.
Ibra memutar kursi kebesarannya. Melihat mereka berdua. "Ya. Terima kasih, silahkan pergi. Biarkan kami berdua."
Scurity pun mengangguk hormat, kemudian pergi meninggalkan ruangan sang direktur utama.
__ADS_1
Netra mata Laras mengitari setiap sudut ruangan yang luas, ada sofa panjang, televisi. Laras masih termangu di tempat.
"Sedang apa berdiri di sana? saya tidak mengundang mu, untuk jadi model patung di situ," ujar Ibra menatap tajam.
"Em ... maaf Tuan," menunduk dalam.
Laras melangkah menghampiri meja Ibra, yang tertata rapi.
Ibra menggeleng melihat Laras yang masih saja berdiri mematung. Tatapannya entah ke mana, netra mata Ibra berputar memperhatikan penampilan Laras yang elegan. Sungguh cantik, apa pun yang dia kenakan terlihat cantik dan menarik. Dalam hati Ibra mengakui kecantikan Laras yang alami.
"Tuan," panggil Laras membuat Ibra menggercapkan matanya.
"Iya. Apa? duduk lah, rapat masih satu jam lagi," sambil melihat jam di tangannya.
Kaki Laras melangkah ke dekat sofa dan duduk di sana. "Itu yang ingin aku katakan. Kenapa mesti kesini sekarang sih?"
Ibra yang sedang membuka berkas-berkas penting, menoleh dan menutup berkasnya. Beranjak menghampiri Laras, kemudian duduk di dekatnya.
Tatapan matanya terus tertuju pada Laras, membuat dia jadi gugup dan menggeser duduk nya menjauh dari Ibra. Sementara Ibra malah sengaja ingin berdekatan, mengikuti gerak Laras.
"Tuan. Kenapa sih? udah duduk di situ saja." Laras berdiri, netra matanya bertemu dengan netra mata Ibra. Detik kemudian Laras menunduk tak berani beradu pandang lebih lama.
Tangan Ibra meraih pergelangan Laras dengan lembut. "Duduk lah." Lirih Ibra sembari memberi isyarat dengan gerakan netra matanya.
Laras pun menuruti kata Ibra, duduk dekat berdekatan. Menautkan jari jemarinya di pangkuan, jantungnya berdegup kencang.
Kemudian tangan yang bertaut itu. Ibra angkat dan menciumnya dengan hangat, tingkah Ibra kian membuat Laras serba salah dibuatnya. Apa lagi ketika wajah Ibra mendekati wajahnya. Laras sedikit mundur ... namun wajah Ibra terus mendekat, bola matanya bergerak-gerak dan tertuju ke bibir Laras, kepala Laras sampai mentok ke bahu sofa. Sehingga tidak ada celah lagi untuk menghindar.
Wajah itu terus saja mendekat perlahan. "Jangan Tuan," menggeleng pelan, tangan Laras yang satunya mendorong pelan dada Ibra. Matanya lagi-lagi bertemu.
Karena wajah Ibra semakin mendekat. Hembusan napas pun menyapu hangat kulit wajah Laras, membuat kelopak mata Laras tertutup, tak kuasa melihatnya. Dan hampir saja bibir itu mendarat.
Blakk!
Pintu terbuka seiring suara. "Bos seben--" Zayn tak melanjutkan ucapannya.
Ibra kaget dan langsung menoleh kesal kearah Zayn yang datang tanpa permisi. "Bisa gak? permisi dulu, kebiasaan," tegas Ibra sembari membuang muka kelainan arah.
"Maafkan saya bos?" ucap Zayn menunduk namun diam-diam nyengir. "Baiklah, silahkan lanjutkan, saya mau pergi dulu," sambil memutar badan.
"Tidak perlu," cegah Ibra. Dengan nada datar. "Duduk lah." Melirik sofa.
Laras yang langsung menggelinjang, kemudian berdiri. Tertunduk malu. rasanya wajah dia tebal dengan warna merah akibat rasa malu. "Em ... ada toilet gak?"
Ibra menunjuk dengan dagunya. Laras mengikuti gerakan wajah Ibra, kemudian segera menyeret kakinya ke sana.
Zayn duduk di sofa sebelah Ibra. "Sorry yang tadi?" tukas Zayn sambil terkekeh sendiri.
__ADS_1
Ibra yang sekilas melirik, kemudian membuang muka kesalnya. "Ganggu orang saja."
"Iya. Iya sorry ... mulai sekarang kalau ada istri muda mu, itu tidak di ulang lagi." sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Hem."
"Lagian. Biasanya kau tidak pernah mengajak istrimu ke kantor?"
"Bukan tidak di ajak, tapi mereka tidak mau. Tahu sendiri mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Dian sibuk dengan bisnisnya."
"Iya sih, oya ini berkas yang harus kau tanda tangani," ucap Zayn sambil menyodorkan berkas pada Ibra.
Ibra berpindah duduk ke kursi kebesarannya dan mendatangani berkas itu. Zayn pun mengikuti duduk di kursi depan Ibra.
"Saya perintahkan. Kamu menyelidiki istri saya. Yulia, saya curiga padanya."
"What ... maksudmu dia selingkuh?" Zayn bersuara keras.
"Setttt! jangan keras-keras, ini rahasia kita berdua," setengah berbisik.
"Oke, akan aku laksanakan."
Laras yang ingin ke toilet, masuk dulu ke dalam sebuah kamar, mungkin untuk sesekali Ibra istirahat di sana. Di dalamnya ada lemari ukuran sedang
"Tempat tidur! buat Ibra istirahat kali ya?" bergumam sendiri.
Laras bergegas masuk toilet, setelah buang air kecil. Mondar mandir hatinya gusar tak karuan. Jadi malu mengingat kejadian tadi. "Masih untung belum apa-apa. Coba kalau ... ah." Laras menggeleng. Memukul-mukul kepalanya sendiri.
Kemudian Laras keluar pelan-pelan.
"Lama banget. BAB apa?" tegur Ibra sambil memutar-mutar kursi yang dia duduki.
"Em ... tidak Tuan," sahut Laras. Melirik Zayn yang masih berada di sana dan membuka lembaran berkas.
"Tuan, sepertinya sudah dzuhur. Aku mau sholat dulu, di mana ya?" Laras menatap Ibra.
Ibra menatap balik, kemudian menatap Zayn yang asyik membaca lembaran kertas dalam map. Ibra mengambil gagang telepon. "Tolong belikan alat sholat wanita. Sarung sama peci, iya lah alat sholat wanita apa? heran, kalau nanya itu yang masuk akal sedikit" gerutu Ibra setelah bicara melalui telepon.
"Kenapa?" tanya Zayn menoleh Ibra.
"Itu sekertaris mu, nanya yang tidak masuk akal, sudah dibilang alat sholat wanita. Masih juga nanya," sahut Ibra dengan muka jutek.
Laras yang duduk di sofa menahan senyumnya. Begitu pun Zayn mesem-mesem sendiri.
Masih di wilayah kantor Ibra, ada beberapa orang sedang berjalan menuju ruang direktur utama. Sepertinya mereka sudah tidak sabar ingin bertemu orang yang merek maksud ....
,,,,
__ADS_1
Reader semua yang baik hati ... coba dong kalau ada tulisanku yang kurang tepat atau salah atau juga kurang huruf misalnya, komen dong biar segera aku perbaiki lagi🙏🙏 terimakasih sebelumya.