
"Mama yakin, suatu saat nanti. Kamu akan mendapat kebahagian yang sebenarnya, dapat suami yang bisa menerima kamu apa adanya. Dan jadikan semua di masa silam itu sebagai pengajaran yang amat berharga." Tiba-tiba bu Rahma merangkul bahu Dian.
Dian menoleh pada bu Rahma. "Mama, aku gak bisa punya anak. Aku menyesal telah--"
"Sudah sayang, jangan lagi kamu sesali. Semua telah berubah, semua sudah terjadi dan tak mungkin terulang lagi." Sambung bu Rahma kembali.
Laras hanya melihat dan mendengar ucapan sang mertua pada Dian. Hatinya tertegun, bagaimanapun ia merasa kalau dirinyalah yang mungkin jadi pemicu. Retaknya rumah tangga Dian dan Ibra.
Jodi kembali menghampiri baby boy dengan senyuman yang manis. Jarinya mengusap pipi si kecil yang halus itu.
"Ah, si Bos malah tidur," gumamnya Zayn yang kini berdiri di dekat Jodi.
"Mungkin, karena semalam. kurang tidur Nak Zayn. Makanya ngantuk, capek," sahut bu Rahma melirik putranya.
Begitupun Laras tidak terasa matanya terpejam. Di serang rasa kantuk yang amat sangat.
Akhirnya, Jodi dan Zayn berpamitan pada bu Rahma dan pak Marwan. Sebab Laras maupun Ibra sedang tertidur pulas. Gak mungkin mereka membangunkan Laras dan Ibra.
"Tante, Om. Aku pulang dulu. Nanti ke sini lagi bersama ayah." Pamit Jodi.
Begitupun Zayn, ia pun berpamitan. Setelah, mengelus dan menatap sang baby boy. "Aku juga mau balik ke kantor, Tante. Om." Zayn langsung mendahului keluar. Setelah bersalaman dengan bu Rahma dan pak Marwan.
"Oh, iya. Hati-hati." Pesan bu Rahma dan pak Marwan pada Zayn dan Jodi.
Jodi berlalu, meninggalkan tempat tersebut. Diantar pak Marwan. Ke depan pintu.
Dian dia masih betah. Memandangi baby boy nya Laras yang ganteng dan lucu. Anak itu begitu anteng tertidur, sebentar membuka mata dan bersuara. Tidur lagi. Nyenyak lagi, bibir Dian tak henti-hentinya mengembang. Hingga akhirnya ia beranjak dan berpamitan. Melihat ke arah Laras yang sedang tidur, Ibra pun sama juga.
Kemudian menoleh bu Rahma dan pak Marwan. "Mah ... aku pulang dulu ya?"
"Mau balik ke kantor ya!" tanya bu Rahma.
"Em, mau pulang aja, Ma ... eh. Nanti, aku mau ke sini lagi sama Mommy. Bolehkan Ma?" Dian menatap bu Rahma penuh harap.
"Oh, tentu boleh dong. Ajak saja Mommy ke sini, dengan senang hati loh." Bu Rahma mengangguk.
"Ke sini aja. Gak ada yang larang. Dengan senang hati kami menerima kedatangan kalian." Timpal pak Marwan dengan senyum ramahnya.
"Makasih, Pa. Mah ..." ucap Dian memeluk bu Rahma. Kemudian memeluk pak Marwan. Bergantian. "Ya ... udah. Aku mau pulang dulu."
Dian pun pulang, yang sebelumnya mengusap kembali si kecil penuh kasih.
Kini tinggallah bu Rahma dan pak Marwan duduk di sofa sambil menonton televisi. Namun si kecil bangun dan menangis, bu Rahma langsung mengecek baby boy.
"Kayanya pengen ganti popok, Pa." Tangannya langsung dengan terampil membuka dan menggantikan popok baby Satria.
Mendengar suara baby, Laras terbangun dan mendapati tangan Ibra memeluk perutnya. Ketika menoleh, Ibra masih tertidur. Ia pindahkan tangan itu perlahan. Netra mata Laras segera mengarah ke baby Satria yang sedang di ganti popoknya sama bu Rahma.
"Kenapa Ma?" tanya Laras dengan suara parau nya.
"Basah sayang. Gak nyaman kali, jadi minta di ganti. Oya. Sepertinya haus juga deh, kasih asi lagi." Bu Rahma mengangkat dan memberikannya pada Laras.
Laras memposisikan dirinya duduk bersandar. Membuka kancing piyama nya, untuk memberikan asi. "Sakit, Mah ... hisapannya kuat banget."
"Iya, memang seperti itu kalau anak laki-laki. Beda dengan anak perempuan, katanya gak sekuat itu. Lagian belum terbiasa juga." Jawab bu Rahma. "Sama kuatnya gak, sama bapaknya?" bisik bu Rahma menggoda.
"Iih ... Mama ... apaan sih?" Laras tersipu malu.
Datang lah beberapa tamu. Dari rekan-rekan Ibra dan orang-orang yang penting Dalam bisnis nya Ibra.
Bu Rahma dan pak Marwan menyambut tamunya. Sementara Laras yang masih memberi asi membangunkan Ibra.
"Abang ... bangun. Banyak tamu tuh." Namun Ibra susah sekali bangunnya kali ini.
"Abang ..." tangan Laras menggoyang bahu Ibra dan mengusap rahangnya lembut.
"Hem." Gumamnya Ibra sambil menggeliat. Namun matanya tetap belum terbuka.
"Bangun. Banyak tamu juga." Laras kembali mengusap pipi sang suami.
Ibra membuka kelopak matanya. Menyapu semua isi ruangan tersebut. Netra matanya mendapati orang-orang penting meluangkan waktu tuk datang. Ada yang bawa paper bag. Kado-kado nan cantik, sebagai hadiah buat baby Satria.
"Sudah lama mereka?" gumam Ibra dengan suara berat khas bangun tidur.
"Baru datang sih." Laras menoleh kembali.
"Oh, jagoan Papi lagi haus ya hem?" mencium kepala baby Satria. Kemudian turun menapaki lantai menuju kamar mandi sebentar. Sesaat kemudian Ibra kembali dengan wajah lebih segar, langsung menemui tamunya yang mengerubuni baby Satria yang sudah berada di tampatnya.
Semua memberi selamat atas lahirnya baby boy, putra dari pasangan Malik Ibrahim dan Laras. Mereka turut gembira akan kehadiran putra sang CEO, yang tampan itu.
Semua yang ada di situ berwajah gembira. Bertaburan bunga-bunga kebahagiaan yang teramat sangat dan sulit untuk di gambarkan dengan kata-kata. Apalagi senyuman diantara Ibra dan Laras selalu mengembang, rona bahagia di wajahnya tergurat jelas.
Sampai malam pun tamu Ibra terus berdatangan. Bergantian, Di kamar pun sudah penuh dengan bunga ucapan selamat.
__ADS_1
Jodi dan sang atah pun sudah datang. Beserta suster Caca. Mereka memberikan selamat pada Laras dan Ibra.
Pak Mulyadi memeluk Laras. penuh rasa bahagia, telah di karuniai seorang cucu laki-laki yang lucu. Baru saja ketemu sang keponakan, tidak lama langsung diberi hadiah terbaik. Ya itu seorang cucu.
"Selamat ya La ... semoga baby nya jadi anak yang saleh, yang berguna untuk nusa dan bangsa. Membanggakan orang tua, keluarga," ucap pak Mulyadi pada Laras.
"Makasih, Paman. Makasih atas doa nya, Paman juga semoga sehat." Laras pun mengangguk dan menyiratkan kebahagiaan di wajahnya.
"Mbak Laras selamat ya? Baby nya lucu, tampan banget. Bikin gemes pokoknya," ungkap Caca pada Laras, mereka berdua berpelukan. Tampak akrab, seperti sudah lama kenal. Padahal baru kenal.
"Makasih, Mbak Caca. Semoga cepat nyusul ya," balas Laras sembari mengulas senyumnya.
Kemudian Caca menggendong baby Satria dengan sangat hati-hati. Tampak gemas dan gereget. "Aku suka banget anak kecil."
"Oya? makanya buruan nyusul, Mbak. Biar usianya gak jauh dengan Satria," ungkap Laras kembali.
"Calonnya sudah punya belum?" tanya pak Mulyadi pada Caca.
Caca hanya membalas dengan menggelengkan kepalanya. Sambil mengajak baby Satria bicara. Anak itu menggerakkan matanya dan bibir mencari mimi, seperti dah haus lagi.
"Haus deh kayanya." Gumam Caca.
"Sayang, baby boy nya haus lagi tuh. Beri asi nya sampai kenyang."
Lalu Laras memberikannya asi. Namun kali ini memakai penutup, agar gak di lihat orang ketika memberi asinya.
Hari ini begitu melelahkan, ya melahirkan. Ditambah lagi banyak tamu yang datang seakan tak henti-hentinya. Pukul 21.00 baru ruangan itu sepi dari tamu lain. Kecuali Jodi. Caca dan pak Mulyadi beserta pak Marwan dan istri.
Laras baru leluasa makan malam. Di suapi sama sang suami yang terus setia mendampingi. Bigitupun dengan Ibra yang makan sangat lahap. Irfan yang sedekali masuk dan membawakan makanan dan minuman buat tamu dan juga majikan. Selalu suaga di luar.
"Pulang sekarang?" tanya Jodi pada sang ayah yang tengah asyik mengobrol dengan pak Marwan.
Pak Mulyadi menoleh ke arah sang putra. "Boleh. Masih betah sih ..." menarik napas berat.
"Lain kali aja kemari lagi. Sudah malam." Sambung Jodi.
"Baiklah .... kita pulang sekarang." Pak Mulyadi memgangguk setuju. Kemudian mereka berpamitan. Dan janji akan kembali di lain ke sempatan.
"Paman, hati-hati ya?" pesan Laras.
"Iya. Kamu juga. Baik-baik ya, cepat sehat! biar cepat pulang, nanti Paman datangnya ke rumah, biar lebih leluasa." Timpal pak Mulyadi.
"Iya, Paman ... insya Allah aku pasti cepat pulang," cucap Laras sambil melirik ke arah sang suami.
"Iya, baguslah. Mudah-mudahan saja ya?" harap pak Mulyadi.
"Cepat sehat ya La. Biar cepat pulang," ucap Jodi pada Laras, terus berjabat tangan dengan Ibra.
"Mbak Laras. Aku pulang dulu ya? lain kali aku jenguk si kecil lagi yang bikin kangen, iih ... aku gemes deh lihatnya," ungkap Caca dengan mata menatap ke arah baby boy.
"Baiklah. Kalian main lagi ya lain kali, dan terima kasih sudah datang." Laras menunjukan senyuman ramahnya.
Jodi mendorong kursi sang ayah. Diikuti oleh Caca dari belakang. Mereka seperti pasangan kekasih yang sangat serasi.
Setelah Jodi dan sang ayah tiada di tempat itu. Bu Rahma masuk kamar mandi. Badannya sangat lengket dan gerah.
"Papa juga, pengen mandi," ujar pak Marwan ketika melihat sang istri pergi ke kamar mandi.
Ibra sangat dekat dengan si kecil. Yang kini tertidur akibat kekenyangan, sehabis minum asi. Lalu melihat sang ayah. "Sama, Pa ... aku juga gerah pengen mandi. Padahal ada ace, tapi kok masih aja panas begini." Timpal Ibra. Membenarkan perkataan sang ayah sambil melihat pendingin ruangan yang memang menyala.
"Em, mungkin sebab hawa-hawa banyak orang kali ya tadi?" timpal pak Marwan lagi.
Setelah bu Rahma keluar dari kamar mandi. Lanjut pak Marwan yang masuk untuk bersih-bersih.
"Nah-nah, nah bangun tuh baby boy nya," gumamnya bu Rahma sambil mendekati.
Laras yang baru saja mau tidur bangun lagi, mendakati si kecil. "Kok bangun lagi sih?"
"Haus lagi kali sayang ... itu sih biasa apalagi kan belum copot tali pusarnya. Jadi si kecil gak anteng, nanti juga kalau sudah copot. Pasti akan lebih anteng bobonya."
"Oh, biasanya berapa hari, Mah sampai copot itunya?" selidik Laras menatap sang mama mertua.
"Ada yang 3 hari ada yang 4 hari, yang seminggu juga ada kalau waktu-waktu dulu. Kata uyut sih."
"Ooh ... gitu ya." Laras mengangkat baby boy ke dalam pangkuannya.
"Alamat gak nyenyak tidur ya kalau punya baby?" timpal Ibra.
"Iya, memang seperti itu. Tapi sidah resikonya kalau punya anak. Namun nikmatin aja sebab apa pun butuh proses, kalau gak mau ngurus jangan bikin anak lah," ujar bu Rahma sambil mendudukan dirinya di sofa yang tidak jauh dari Laras.
"Bikinnya enak, Mah. Bikin ketagihan terus," celetuk Ibra tanpa segan atau malu.
"Apaan sih? aku yang lahirannya gak enak, pertaruhkan nyawa," ungkap Laras sambil mengusap rahang Ibra.
__ADS_1
"He he he ... iya sayang, makasih ya sudah menghadiahkan ku baby boy di hari kelahiran ku ini." Ibra nyengir.
Semua tertegun. Bu Rahma samai lupa kalu ini hari Ibra di lahirkan. "Berarti si kecil hari lahirnya sama dengan Abang. Ya ampun ... Mama sampai lupa, selamat ulang tahun sayang. semoga panjang umur, sehat. Makin berlimpah hartanya dan berkah." Bu Rahma memeluk sang putra semata wayang nya itu.
"Makasih, Mah ... makasih atas doa Mama yang selalu di panjatkan setiap saat buat anak mu ini." Ibra membalas erat pelukan sang ibunda.
Laras bengong. Ia gak tahu kalau Ibra milad di hari yang sama dengan lahirnya sang baby boy, padahal perkiraan dokter sebelumnya adalah beberapa hari lagi. Tapi mungkin Allah berkehendak lain, si kecil malah lahir di hari ini. "Aku, gak tahu. Kalau hari ini--"
"Nggak pa-pa sayang. Kamu adalah hadiah terindah buat ku. Ditambah lagi kamu sudah memberikan lagi kado yang membuat hidup ku lebih sempurna, ya itu si kecil ini." Ibra mencium pucuk kepala si kecil dan pucuk kepala Laras bergantian.
"Jadi, gak minta hadiah apapun, kan?" tanya Laras sembari menunjukan senyumnya.
"Nggak." Ibra menggeleng. "Nanti aja kalau sudah 40 hari," bisiknya di telinga Laras.
"Gimana kalau lebih lama?" tiba-tiba bu Rahma memberi pertanyaan pada putranya.
Ibra dan Laras terkesiap dan langsung menoleh. "Mama denger aja? Abang cuma berbisik." Protes Ibra pada sang bunda.
"Dengarlah. Orang di depan mata, gak lihat Mama sebesar gajah begini?" ketus sang Mama.
Ibra tertawa lepas, merasa lucu dengan ucapan sang ibunda. "Ha ha ha ... Mama ini ada-ada aja."
"Mah, emang normalnya masa nifas berapa hari Mah?" selidik Laras yang merasa penasaran.
"Normalnya 6 mingguan. Tapi kalau untuk berhubungan tergantung kesiapan masing-masing, walaupun sudah selesai. Kalau belum siap ya gak pa-pa--"
"Maksud Mama, jangan dulu gitu?" tanya Ibra langsung menyela perkataan sang ibunda.
"Iya, emangnya Abang pikir. Wanita gak sakit apa? melahirkan itu sakit sayang, dan rasa sakit itu panjang. Terasanya sampai berminggu-minggu." Jelas bu Rahma. "Kadang banyak yang berpuasa sampai 3 bukan loh sayang."
"Aduh!" telapak tangan Ibra menepuk jidatnya sendiri. Mendadak lemas.
Pak Marwan menatap putranya. "Kamu ini, baru aja sehari sudah lesu begitu ha ha ha ...."
"Iya, Pa. Lihat tu putra mu, Pa. Bisa-bisa satu minggu aja kelimpungan," timpal bu Rahma sambil menunjukkan gigi putihnya.
Bibir Laras terus aja tersenyum. Mendengar obrolan mereja. Sesekali mencium kening baby boy yang sudah mulai tidur. kembali.
"Nggak juga ah." Gumamnya Ibra menggeleng. Dan memandangi sang istri yang tersenyum seolah mencibir dirinya.
"Nggak apanya? Sudah jelas kok." Goda sang ayah seakan tidak percaya pada putranya.
"Aku mau ke toilet dulu." Laras meletakkan putranya di tempat semula.
"Mau apa sayang? aku mau mandi." Ibra menangkap tangan Laras.
"Mau ganti pembalut lagi," sahut Laras menatap sang suami sesaat, lalu mengambil pembalut.
"Oh ... ya udah, aku antar." Ibra menggandeng tangan Laras sampai pintu kamar mandi. "Hati-hati sayang." Melihat cara jalan sang istri yang tampak kesakitan.
"Iya," gumam Laras sambil mengangguk.
Ibra kembali menghampiri kedua orang tua nya. "Pah, gimana rasanya berpuasa selama itu?" selidik Ibra. Mendudukkan dirinya di samping sang ayah.
Pak Marwan menoleh. "Uuh ... rasanya berat buangeeettt. Bagai tak beristri, ke inginan tak tersalurkan. Bikin pusing kepala."
"Kamu bisa berolah raga. Harus ngerti juga kondisi sang istri, tidak boleh egois. Kasian istri." Timpal bu Rahma.
Helaan napas Ibra begitu berat. Berat menghadapi masa-masa harus menahan diri dari ritual favorit nya, mengacak rambut dengan kasar.
"Tapi, itu cuma sementara sayang. Bukan selamanya. Abang ini baru aja sehari sudah begitu." Bu Rahma menggeleng melihat putranya itu.
Laras muncul kembali, keluar dari kamar mandi. Ibra segera menghampiri, dan kali ini menggendong sang istri. Di bawanya ke tempat tidur. Laras yang terkesiap, sontak melingkarkan tangan ke pundak sang suami dan menatapnya lekat.
"Sekarang, istirahat lah. Mumpung si kecil bobo hem." Cuph mendaratkan kecupan kecil di kening sang istri. Kemudian menyelimutinya sampai menutupi dada.
"Iya, sayang. Tidur aja sudah malam lagian." Titah bu Rahma.
Laras mengangguk. Dan segera memejamkan matanya yang kebetulan sudah mengantuk. Ibra segera ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Sementara bu Rahma dan suami bersiap istirahat pula.
****
Keesokan harinya. Di kediaman Dian. "Mommy, kalau mau belanja? ya belanja aja. Nanti ke Rumah sakitnya sama aku. Sepulang kerja, jangan sendiri."
"Tapi kamu gak pulang sore, kan?" tanya bu Lodia yang sedang sarapan itu.
"Nggak. Siang juga pulang, pengen ketemu baby boy. Dia ganteng loh Mom, bikin gemes." Kenang Dian. Bibirnya tersenyum.
"Oya, Mommy pengen segera melihatnya dong." Bu Lodia tambah penasaran. Kebetulan Dian gak sempat ambil fotonya, dan gak minta juga.
Entah kenapa Dian langsung jatuh cinta sama baby boy nya Laras dan Ibra. Semalaman pun gak nyenyak tidur, terus teringat anak itu ....
****
__ADS_1
Maaf ya pada yang pada nunggu. Kemarin aku gak sempat up, sebab gak kuat kantuk he he he๐