
Byuuuuurh ....
Mery mendorong dada Laras sampai tubuh Laras oleng, hilang keseimbangan dan kecebur ke dalam air kolam renang yang terlihat tenang itu. Airnya pun muncrat ke pinggir.
Mendengar sedikit kekacauan di kolam renang, bu Rika dan Susi juga yang lain bergegas ke lokasi.
Melihat orang-orang rumah datang, Mery berteriak. "Tolong-tolong ..." berpura-pura berjongkok dan ingin meraih tangan Laras yang mencari pegangan.
Setelah tubuhnya hilang keseimbangan dan terjatuh, tubuh Laras timbul tenggelam di dalam kolam yang kebetulan jatuhnya di tempat yang lebih dalam. Tangannya meronta mencari pegangan. Pandangannya jadi kabur bersama air kolam yang putih. Ia benar-benar lupa caranya berenang.
Bu Rika panik, dia langsung nyebur untuk menyelamatkan majikannya itu. Segera menariknya ke pinggir, di batu oleh Susi dan yang lain mengangkat tubuh Laras,
Bu Rika naik setelah tubuh Laras tergeletak di bibir kolam renang. Mata Laras tertutup, di panggil-panggil juga gak nyahut, Susi tepuk-tepuk pipinya pun tetap saja tak merespon. Bu Rika sedikit menekan dada Laras dan tubuhnya sedikit di buat telungkup.
"Ohok, ohok. Ohok," dia batuk dan mengeluarkan air dari mulutnya. Laras membuka mata sebentar lalu pejamkan kembali.
"Se-pertinya Nyo-nyonya muda pingsan Bu Rika." Susi panik.
"Tenang, kita harus tenang, bawa dia ke kamar?" ucap bu Rika.
Mery berdiri, terkesiap, sesungguhnya tidak menyangka akan begini? ia kira Laras bisa berenang dan dengan mudahnya naik, tapi malah pingsan. "Aduh, gimana nih, moga saja tidak satupun yang melihat aku mendorongnya, lagian aku gak sengaja juga," tampak panik sekali.
"Iya, cepat bawa ke dalam. Mungkin kedinginan, cepetan jangan buang waktu tolong dia, kasian ..." napasnya memburu, jantungnya berdegup sangat tak beraturan. Benar-benar gugup, takut ketahuan bahwa dia yang mendorong.
Mery mengikuti mereka yang menggotong Laras ke dalam dan langsung ke kamarnya. Semua bermuka panik, khawatir terjadi sesuatu pada Laras.
"Gimana Bu, apa kita telepon tuan saja?" tanya Susi pad bu Rika.
"Jangan! jangan membuat mereka cemas. Sebisanya Nyonya muda kita urus dengan baik, mereka berada jauh. Tidak akan mudah untuk datang, sudah sebisanya kita urus, ambilkan pakaian yang kering. Kita gantikan." Jelas bu Rika. Mery mengangguk setuju dengan pendapat bu Rika.
Laras di gantikan bajunya. Keringkan rambutnya dengan handuk kecil, sebelumnya tubuh Laras di balur minyak kayu putih biar hangat dan tidak kedinginan. batang hidungnya di olesi, pelipis dan telapak kaki agar hangat dan segera sadar.
"Bu, apa perlu bawa ke ruangan pemeriksaan, panggil dokter?" tanya Susi masih panik, melihat Laras yang masih pingsan, tak berdaya di atas tempat tidur.
"Saya yakin sebentar lagi juga sadar, sabara aja dulu. Oya, Wulan! kau ambilkan pakaian ganti saya jangan pake lama," suruh bu Rika pad assisten yang bernama Wulan itu.
Mery duduk di sofa mengawasi Laras yang masih belum sadar itu. "Mungkin lebih baik kau enyah saja Laras dari muka bumi ini, agar Ibra hanya akan jadi suami ku. Bila perlu aku singkirkan juga Dian, biar semuanya akan menjadi milik ku," senyum sinis sendiri.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Laras membuka mata dan menggulir ke kanan dan kiri. "Aku di mana nih?" mencoba bangun dan memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Susi beri air hangat, cepetan!" titah bi Rika menyuruh Susi agar memberikan minum pada Laras.
"Nyonya muda, berada di kamar. Anda selamat. Cuma anda harus Banyak istirahat," ucap bu Rika mendekat ke dekat Laras.
Laras bengong, dia berusaha mengingat kejadian apa yang dia alami tadi?
"Baguslah kau selamat, kami semua sangat mencemaskan dirimu, baiklah kau butuh istirahat. Aku pergi dulu." Mery berlalu dangan hati yang berkecamuk. "Kenapa harus sadar sih?" terus saja langkahnya melintasi pintu kamar Laras.
"Seharusnya dia gak sadar aja selamanya? Ha ... dasar wanita sialan." gerutu Mery sambil terus berjalan menuju kamarnya.
"Sus, kamu urus dapur, dan bikinkan sup hangat buat Nyonya muda, Nyonya muda biar saya yang jaga di sini," titah Bu Rika pada Susi setelah ia mengganti pakaiannya.
Laras masih bengong, belum sadar sepenuhnya. Matanya hanya memutar, menyapu setiap ruang.
"Baik Bu," Susi meninggalkan bu Rika dan Laras berdua.
Laras memejamkan matanya sesaat, kemudian membuka dan memperhatikan pakaian yang sudah ganti. "Bi, siapa yang gantikan pakaian ku?"
"Oh ... makasih Bu?" lirih Laras yang merasa lesu.
"Apa kami boleh memberi tahu tuan Ibra Nyonya?" tanya bu Rika menatap wajah Laras yang nampak pucat.
"Ja-jangan, jangan Bu, jangan bicara sama siapa-siapa Bu, a-aku ... baik-baik aja kok." sahut Laras terbata-bata.
"Yakin Nyonya?" bu Rika ragu.
"Yakin, Bu ... aku butuh istirahat saja.
"Baiklah."
Tidak lama, Susi kembali membawa semangkuk sup hangat dan masih terlihat asapnya mengepul ke atas serta wanginya yang menyeruak di dalam ruangan itu.
Bu Rika, mengambil alih sup itu dan mendekati ke Laras. "Nyonya, makan dulu sup hangat nya. agar badan lebih baikan."
Laras membuka matanya dan duduk bersandar. Bu Rika menyuapi Laras sup, sementara Susi kembali ke dapur. Tinggallah bu Rika dan Laras di kamar ini. "Saya akan memanggil dokter buat Nyonya muda."
__ADS_1
"Tidak, Bu ... aku cuma pusing biasa dan kedinginan saja, jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja, percayalah?" ujar Laras meyakinkan bu Rika.
****
Di sebuah apartemen yang letaknya di luar Negeri. Ibra baru pulang dari kantor, disambut oleh sang istri. Dian dengan tampilan gaun malam yang sangat menerawang lekuk di baliknya.
"Baru pulang sayang? aku merindukan mu," mengalungkan kedua tangan di leher Ibra. Dian menatap mesra.
Mata Ibra memperhatikan yang ada di depannya, sebuah pemandangan indah yang bikin menelan saliva nya berkali-kali. bukannya menjawab pertanyaan dari sang istri, melainkan ia terus memandangi yang ada di balik gaun itu sampai tak berkedip.
"Coba yang pakai gaun seperti ini ... itu Laras, pasti aku akan semakin bergairah. Sayang banget dia tidak suka memakai gaun seperti itu, tapi dengan tampilannya itu semakin membuat aku penasaran." Ibra bergumam dalam hatinya.
"Sayang, aku sudah siapkan makan malam yang nikmat, mau makan malam dulu atau ... di makan aku dulu?" bisiknya dengan genit dan menggoda.
Ibra menyeringai dan menggeleng. "Aku mau mandi dulu, lengket." Membuka jas nya dan bergegas masuk kamar mandi.
"Aku mandiin ya?"ucap Dian sambil mengikuti Ibra ke kamar mandi.
Ibra menoleh istri nya yang mengekor ke kamar mandi. "Mau apa?"
"Mau mandiin kamu," sahutnya dengan tatapan mendamba, memandangi Ibra yang sedang melucuti pakaiannya.
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Sudah, keluar aja sana?" suruh Ibra pada sang istri.
"Nggak mau! pengen di sini aja." Dian malah memeluk tubuh Ibra yang siap mandi.
Ibra terkejut, menerima pelukan Dian yang penuh hasrat. Ibra bengong entah kenapa saat ini kurang mood aja, perlahan membalas pelukan Dian. Mengusap lembut punggung nya. "Sudah, aku mau mandi dulu. Nanti saja kita lanjutkan setelah aku mandi." Sedikit mendorong bahu Dian agar menjauh dari tubuhnya.
Dian menggeleng. Hasratnya terlihat dari sorot matanya yang sendu berkabut gairah, dengan cepat Dian m****** bibir Ibra yang hanya diam saja, Dian begitu agresif ketimbang suaminya yang berlagak dingin.
Ibra hanya menerima tanpa memberi, Dian terus saja mencumbu suaminya penuh gairah. Menyeret Ibra sampai duduk di bibir bathub. Sementara Ibra hanya diam saja, hanya napasnya yang memburu. dadanya juga naik turun.
Namun tiba-tiba Ibra merasakan yang aneh, berasa mencium bau yang aneh dari tubuhnya Dian. Sangat menyeruak ke rongga hidung, membuat perutnya sangat eneg, mual. Ibra segera menjauh dari Dian. Oo ... oo Ibra membungkuk ke wastafel dan muntah ....
****
Selamat membaca untuk reader ku semua, semoga di pagi yang cerah ini kabar kalian baik semua. Terima kasih atas dukungan nya selalu, vote, like. Rating dan komentar nya🙏
__ADS_1