Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Permohonan


__ADS_3

"Ehem," Ibra mendehem dan menatap tajam ke arah kedua pemuda itu.


Laras menoleh ke arah Ibra dengan hati yang tak karuan. Namun tidak ambil pusing lah.


"Siapa mereka?" tanya Ibra pada Laras. Yang menunduk meneruskan nyapu.


"Nggak tahu, aku gak kenal mereka!" sahutnya Laras sangat lirih dan tetap fokus dengan kerjaannya.


Ibra mendekati pagar, untuk menghampiri pemuda tersebut. "Ada perlu apa sama istri saya?" tanya Ibra mulai mengeluarkan taringnya.


Kedua pemuda itu saling pandang. Kaget mendengar ucapan Ibra mengakui wanita itu istrinya. "Em ... wanita itu ... istri anda?"


"Iya, istri saya. Sebaiknya kalian jangan ganggu istri saya, dia sedang hamil. Saya akan telepon scurity, bila perlu polisi sekitar. Karena kalian sudah meresahkan ketenangan kami!" tegas Ibra sambil mengambil ponsel dari sakunya.


"Ja-jangan Pak, ka-kami akan segera pergi. Dan kami minta maaf kalau anda merasa terganggu." Ucap pemuda itu terbata-bata, gugup dengan gertakkan Ibra.


Kemudian mereka pergi, menaiki motornya masing-masing. Tidak lupa mengenakan helm nya. Jiu ... s motor keduanya melesat jauh dari tempat tersebut.


Ibra menggeleng. "Hem, cuma segitu nyali kalain rupanya. Enak saja ganggu istri orangi pengen ku jadikan keripik tempe apa." Melirik ke belakang. Laras Sudah tidak ada di teras, Ibra melenggang memasuki rumah kembali.


Laras sedang duduk di sofa menonton televisi. Ibra duduk di sampingnya meraih laptop dan membukanya. Ia mulai kembali mengurus kerjaannya.


Laras melirik. "Aku mau ke kamar ya? ngantuk," ucap Laras sambil menguap hingga matanya berkaca-kaca.


Ibra menoleh. "Ngantuk, tadi udah bobo?"


"Kapan bobo? mana ada tadi bobo, enak aja." Laras sedikit melotot sembari tersenyum juga.


"Tapi ... menurut Susi kamu tidur. Ha ha ha ..." Ibra tertawa kecil.


"Itu, kan menurut dia. Mana ada aku bobo? yang ada itu kamu ganggu terus." kekeh Laras, seakan berbisik dan melirik ke arah Susi yang sedang mengelap kaca jendela sambil bernyanyi.


****


Sudah dua minggu Laras tinggal di rumah baru. Selama itu Laras belum pernah jalan kemana ataupun ke panti asuhan sekalipun, kecuali belanja atau cari makanan. Dan ke dokter kandungan, itupun bersama Ibra. hampir setiap hari Ibra datang dan pulang pergi. Kadang bermalam juga di sana, mereka nampak sangat bahagia. sebagai suami istri umumnya.


Suatu hari, Dian datang ke tempat Laras. Entah dari siapa yang jelas Ibra gak pernah mengatakan ataupun memberi alamat rumah Laras pada Dian.


Laras sedang anteng menyiram bunga-bunga di belakang. Susi terburu-buru menghampiri Laras.


"Nyonya," panggil Susi meski belum sampai ke tempat Laras berdiri.


Laras menoleh dengan heran. Sebab melihat Susi terburu dan tampak tegang. "Ada apa Sus?"


"Nyonya, itu ... di depan ada bu Dian," sahut Susi menunjuk ke depan.


Laras terkesiap mendengarnya. "Dian? mau apa ke sini," jantung Laras dag dig dug tak karuan. Sudah-sudah ia merasa tenang di sini, tiba-tiba datang Dian, membuat hatinya was-was. Ia menghela napas dalam-dalam. Mengontrol perasaannya yang gusar, gugup dan tegang.

__ADS_1


"Iya, bu Dian. Apa ... Nyonya gak usah temui saja?" Susi menatap cemas.


Laras tersenyum samar. "Emangnya kenapa? biar aja." Laras mematikan air dari selang, kemudian berjalan menuju depan.


"Tapi, Nyonya ... saya khawatir--"


"Khawatir apa Sus? jangan suka suudzon, pamali." Laras memotong perkataan Susi yang nampak cemas.


Susi menggaruk kepalanya. "Tapi, Nyonya!"


"Sudah, sambut dengan baik sana?" Laras menyuruh Susi duluan, ia ingin ke toilet sebentar.


Susi bergegas ke teras. Menghampiri Dian yang duduk di sana. "Maaf Nyonya, silakan masuk."


"Kemana aja sih? dari tadi nungguin, baru nongol. gak ada sopan-sopan nya sama tamu." Ketus Dian sambil masuk ke dalam rumah sederhana itu.


Susi mengikuti langkah Dian dari belakang. "Silakan Nyonya duduk?"


Dian hanya melirik dingin, netra matanya menyapu semua sudut ruang. Yang belum ada banyak hiasan dinding, namun sudah tertata dengan sangat rapi. Ada yang menjadi perhatian Dian, matanya tertuju pada dinding yang ada foto pernikahan Ibra dan Laras. Tergantung di ruang tamu tersebut.


Sakit ... banget hati Dian, melihat foto itu terpampang di ruang depan lagi. Kaki Dian melangkah keruang keluarga dengan mata tetap fokus mengamati yang ada, di meja bawah televisi ada sebuah figura foto yang amat sangat menarik perhatian manik mata Dian kali ini. Sebuah foto yang mencerminkan kebahagiaan Ibra dan Laras, sebuah gambar Ibra memeluk Laras dari belakang dengan senyuman yang mengembang penuh kebahagiaan dari keduanya.


Brugh!


Dian menutup figura foto itu memunggungi langit-langit. Hatinya tambah sakit, dadanya sesak. Suami yang dulu sangat mencintainya, ternyata luluh juga sama orang baru dia kenal. Netra matanya berkaca luapan rasa sakit di hatinya, namun ia berusaha membendung nya agar tidak keluar di sana. Rasanya ingin menjerit sekencang-kencangnya tuk melepas penat dan sesak di dada.


"Kak Dian?" suara Laras dari arah belakang yang baru muncul di tempat itu.


Dian langsung menoleh, dan menatap tajam ke arah Laras. "Kau betah di sini?"


"Betah, Kak. Duduk Kak Dian?" menunjuk sofa beriringan dangan ia pun mendudukkan dirinya di sofa lainya.


"Pantas, sampai lupa kulitnya ya?" Ketus Dian sambil menautkan alisnya.


"Maksudnya? siapa yang lupa kulitnya itu!" tanya Laras sambil mengukir senyum di bibirnya


"Iya, kamu lupa. Kalau kamu itu menikah dengan suami saya kerena siapa?" ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Nggak kok, aku gak lupa, justru aku sangat berterima kasih pada Kak Dian, atas semua ini," ungkap Laras tersenyum samar.


"Hem, sampai minta pindah segala? udah dikasih enak malah ngelunjak, sudah tinggal di istana ... minta rumah kecil." Manik matanya kembali mengitari ruang tersebut.


"Kak, kemewahan itu tidak menjamin ketenangan hati, aku lebih nyaman di sini dan jauh dari keributan ataupun kegersangan jiwa." Jelas Laras.


Dian menatap tanpa ekspresi. "Oya, gimana kabar kehamilan mu? sudah menginjak empat bulan, kan?" tanya Dian menatap perut Laras yang memang sudah ketara.


"Iya, empat bulan. Oya Kak Dian gak ke kantor?" tanya Laras, heran aja jam segini ada di sini.

__ADS_1


"Ke kantor, suami ku mana?" tanya Dian celingukan.


"Dia, tidak ada di sini," sahut Laras kembali, karena memang hari ini Ibra belum datang.


"Oya, masa sih? bukannya setiap hari di sini, saya tahu kalau dia tiap hari mengunjungi mu." Ketus Dian.


"Ya, nggak tiap hari juga sih, kalau dia ada meeting, dia gak datang ke sini kok," jelas Laras.


Dian mangangguk pelan, dengan tatapan tak bersahabat itu. "Oya, mau acara empat bulanan, kan?


"Iya, insyaAllah, dalam waktu dekat ini." sahut Laras kembali.


"Di mension? acaranya akan di adakan di mension, biar luas dan semunya terjamin. Secara di sini sempit dan jamuan pun paling ngandelin ketring," sambung Dian sedikit mencibir.


"Aku mau, di sini saja acara pun gak akan mewah-mewah, cukup sederhana saja. Biarlah ketring yang penting terjamin dan itung-itung berbagi rejeqi lah." tegas Laras.


"Tapi rekan kami banyak dan semua orang penting? jadi akan membuat undangan yang banyak. Apalagi keluarga Ibra." sambung Dian dengan tatapan ke jendela.


"Aku sih, terserah. Namun aku tetap ingin di sini," tegas Laras lagi. Kekeh dengan keputusannya, bahwa kalau mengadakan acara empat bulanan di rumahnya bukan di mension. Sebab yang Laras inginkan adalah acara pengajian.


"Saya istri Ibra, saya punya hak menentukan acara empat bulanan dimana? dan Ibra tentunya akan menyetujui keputusan ku, ketimbang yang lain." ujar Dian sangat percaya diri.


Susi datang membawakan minuman kesukaan Dian, ya itu juce melon. Mendengar percakapan yang lumayan menegangkan, membuat Susi ikutan tegang.


Diam-diam, Susi melakukan panggilan dengan Ibra agar mendengar penggalan omongan Dian dan Laras. Meskipun tidak dari awal, Susi pura-pura main gams.


"Saya harap, kamu bisa memenuhi janji, kalau nanti anak itu sudah lahir. Kamu akan menyerahkannya padaku." Suara Dian dengan tegas.


Laras mendongak. "Maaf Kak, aku sudah berapa kali jelaskan, aku berubah pikiran--"


"Tidak segampang itulah, kau sudah menandatangani hitam di atas putih, dan kamu akan mendapat imbalan yang setimpal. Kamu akan aku kirim ke luar Negeri bila perlu kau tinggal di sana, kenapa juga uang yang saya berikan," ucapan Dian memotong ucapan dari Laras. "Lagian kenapa uang yang sudah aku berikan, kamu kembalikan?"


"Itu, dulu Kak, sebelum aku mengerti gimana menjadi seorang ibu," mata Laras mulai berair bening. "Aku tidak ingin menjual anak ini, aku yang ngidam. Aku yang hamil dan aku juga yang akan pertaruhkan nyawa untuk melahirkannya, jika aku masih hidup? setelah melahirkan. Mana mungkin aku rela menjualnya? dimana aku hampir pertaruhkan nyawa ku demi anak ini. Kecuali kita asuh bersama, barulah akan aku ijinkan. Tapi bila untuk menyerahkan seutuhnya, tidak akan," ungkap Laras sambil mengusap air matanya yang hampir jatuh itu, tangannya mengusap perut.


Tiba-tiba, Dian berlutut di hadapan Laras. "Aku mohon dengan sangat. Berikan anak itu padaku, dan ceraikan juga suami ku, kamu normal dan cantik. Kamu dengan mudah akan mendapatkan suami yang lebih baik dan kamu bisa hamil lagi," ucap Dian memelas serta menyatukan kedua tangan depan dagunya.


Laras terkesiap, tidak menyangka kalau Dian akan rela berlutut untuk memohon-mohon padanya. "Maaf Kak, aku tidak akan merubah pikiran ku. Kak Dian gak perlu berlutut seperti itu, sebab gak akan merubah keputusan ku," ucap Laras dengan lirihnya. Tangan mengangkat bahu Dian agar berdiri.


Susi yang merasa tegang dan gugup ikut terharu melihatnya. Mendengar ucapan Laras. Juga permohonan Dian pada Laras.


Kini Dian sudah duduk di tempat semula. "Baiklah, kalau saat ini pikiran mu seperti itu. Semoga besok atau lusa pikiran mu berubah, dan Ingat! Anak dan suami mu saat ini ... adalah milik ku, lihat saja ya kalau kata-kata ku akan Ibra dengarkan." jelas Dian tanpa ragu.


Mendengar ucapan Dian Laras tersenyum tipis. Ia siap bila harus berperang dingin dengan Dian, untuk mendapatkan haknya sebagai istri dan ibu dari anak seorang Malik Ibrahim. Mulut Laras sudah terbuka, bersiap untuk bicara. Namun ....


****


Hi ... SKM up lagi nih. Gimana kabar hari ini semua reader kesayangan ku? semoga pada baik ya. Mana suaranya yang gak pernah komen!

__ADS_1


__ADS_2