
"Senang rasanya berada di taman bunga seperti ini. Apalagi bunga nya sedang bermekaran seperti ini, indah sekali. Nanti di rumah ku di tambah ya tanaman bunga nya?" melirik sang suami yang sedang mengulas senyum dan melihat ke arahnya.
"Iya, sayang nanti aku suruh tukang kebun untuk menanam di sana, tinggal bilang aja maunya bunga apa hem!"
Laras berjongkok, tangannya mengambil tangkai bunya yang beru mekar. Ia cium baunya. "Em ... wanginya."
Namun tiba-tiba senyuman yang dari tadi mengembang. Berubah pudar dan hilang. Hatinya kembali gundah gulana. Mengingat berita itu, matanya kembali berembun sehingga pandangan pun sedikit kabur.
Ia memejamkan mata seakan memeras air mata. Menangkap Kan kedua tangan menutupi wajahnya. Hatinya terasa sakit, perih rasanya lebih perih dari cibiran madu-madunya dulu. Dadanya sesak, badannya diibaratkan kapas yang tersiram air. Yang tadinya berjongkok menjadi duduk bersimpuh.
Ibra yang sibuk dengan ponselnya, melirik sang istri langsung terkejut. "Sayang kamu kenapa?"
Tangis Laras kembali pecah. Di otaknya berputar pada sebuah DM dari seseorang yang tidak ia kenal, yang mengatakan. "Kamu itu istri muda yang tak ubahnya seperti pelacur, menggadaikan kesucian mu demi uang. Menjual diri pada suami orang yang sudah ketauan kaya. Rela hamil demi duit yang banyak dan tak perduli dengan hancurnya kebahagian orang lain,"
Kalimat demi kalimat yang menghujam jantung. Mengiris perasaan, kalau saja dulu ia bisa memilih dan berpikir lebih matang. Mungkin tidak akan merasakan sesakit ini, namun semua sudah terlanjur terjadi. Benih Ibra sudah terlanjur besar di perutnya dan tinggal menunggu waktu untuk lahiran.
Pandangan berkunang-kunang. Kepala pun pusing, akhirnya ia tak ingat apa-apa lagi. Kalau saja Ibra tak memeluknya lebih dulu, pasti tubuh Laras ambruk ke lantai.
Ibra memeluk bahu sang istri sedari tangisnya pecah. Ia peluk dengan erat mencium pucuk kepalanya berkali-kali. "Sayang."
Bahu Laras bergetar bersama tangisnya. Dada Ibra basah dengan air mata Laras yang terasa panas. Namun lama-lama tak ada pergerakan dari tubuh Laras, sampai akhirnya Ibra menyadari bahwa sang istri tidak tidak sadarkan diri. Ibra segera mengangkat tubuh sang istri.
Tukang kebun yang melihat pun hendak membantu, namun Ibra kekeh dan merasa mampu untuk membawanya sendiri. Jadi tukang kebun hanya mengantar dan membantu membuka lift.
"Sayang sadar sayang?" Ibra tampak panik dan tidak sabar untuk segera sampai di kamarnya.
"Bilang sama bu Rika, panggil dokter sekarang juga." Perintah Ibra pada tukang kebun itu.
Ibra semakin melebarkan langkahnya menuju kamar. Setelah sampai ia baringkan tubuh sang istri yang masih tak sadarkan diri itu.
Sementara tukang kebun pun bergegas. Mengalihkan langkahnya mencari bu Rika. "Bu, Bu Rika ..." panggilnya. Pertama yang ia datangi adalah dapur.
Bu Rika menoleh. "Ada apa mang? ribut begitu."
Si tukang kebun menghela napas terlebih dahulu. "Kata tuan, panggil dokter, nyonya muda pingsan."
"Apa?" bu Rika tersentak. Langsung dengan refleks mengambil ponselnya untuk menelpon dokter keluarga. Begitupun langkahnya mengayun menuju kamar sang majikan.
Bu Rahma yang sedang santai bersama sang suami, mendengar keriuhan menghampiri para asisten yang tengah masak di dapur. "Ada apa nih?"
"Itu, Nyonya besar. Kata tukang kebun, Nyonya muda pingsan."
"Apa, kamu serius?" tanya bu Rahma sambil bergegas ke kamar putranya.
Tak ketinggalan pak Marwan pun mengikuti sang istri dari belakang.
Ibra dan bu Rika berusaha menyadarkan Laras dengan cara mengoleskan minyak angin ke bagian tertentu agar dapat Laras cium baunya.
Bu Rahma muncul menghampiri sang mantu. "Sayang, kamu kenapa lagi sih?"
"Pingsan, Mah ..." jawab Ibra dengan muka cemasnya.
"Iya, Mama tahu. Tapi apa sebabnya dia bisa pingsan?" tanya bu Rahma kembali.
"Nggak tahu, Mah ... belum periksa, dokter belum datang juga." Jawab Ibra panik.
"Tenang, kamu harus tenang. Abang, Istri mu sepertinya kecapean." Pak Marwan memegang lengan Laras dan memeriksa urat nadi nya.
Dokter pun datang. Dan segera memeriksa kondisi Laras yang masih belum sadar juga.
Beberapa pasang mata, menatap cemas ke arah Laras yang terbaring lemah.
"Gimana keadaan istri saya dok?" tanya Ibra pada dokter itu.
Dokter melepas alat yang ia pakai untuk periksa pasiennya. "Tidak perlu cemas. Dia cuma mengalami sedikit stres yang diakibatkan terlalu banyak pikiran. Jadinya tubuhnya pun ikutan lemah," ujar dokter tersebut.
"Kehamilannya gimana dok?" tanya bu Rahma penasaran juga dan khawatir akan kondisi sang cucu.
"Baik, baik saja kehamilannya. Cuma ... usahakan supaya dia tidak mengalami seperti ini lagi. Hindari pikiran-pikiran yang akan menganggu kesehatannya, hindari stres. Ya ... usahakan bawa happy lah, demi kebaikan bumil dan baby nya," dokter kembali berujar.
Semua mengangguk mengerti, kemudian Ibra mendekat ke dekat sang istri. Di genggamnya tangan Laras dan menautkan jemarinya, cuph di kecup nya punggung tangan sang istri.
Dokter memberikan resep yang harus di tebus. Dan di berikan nya pada Ibra, seraya berkata pelan. "Di jaga bidadari nya." Menyeringai, lalu pamit pulang.
"Tentu, tak akan aku sia-siakan." Jawab Ibra sambil mengangguk.
Pak Marwan mengantar dokter tersebut pulang, sampai ke lobby.
****
__ADS_1
Di sebuah bunga law, Dian tengah membaca berita tentang dirinya di medsos. Ia tersenyum sebab hampir semua berita seolah menyudutkan Laras. Ia tak perduli meski video nya yang telah menyebar luar, ia tak perduli siapa yang sudah menyebarkan video syur nya itu. Yang penting sekarang ia bisa tertawa lepas dengan hati bahagia.
Senyum Dian kian mengembang. "Berita ku. Menjadi trending topik, di minggu ini. Tapi yang tersudutkan adalah Laras,kok bisa ya? ha ha ha ...."
"Aku gak perduli siapa yang sudah menyebarkan video itu, bodo amat. Semua sudah terlanjur. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, tinggal tambahkan kecap. Ayam suwir, sayur dan kerupuk. Akhirnya akan terasa nikmat," gumam Dian sambil menaikan kaki ke meja. Matanya menatap langit-langit dengan bibir yang terus melukis senyuman.
"Sayang? kamu sedang apa di dalam," suara bu Lodia sambil mendorong pintu kamar Dian.
"Mama ...ganggu aja!" ketus Dian.
"Emangnya kamu lagi apa sayang?" bu Lodia duduk di samping sang anak.
"Lagi melamun, memikirkan berita yang kini sedang trending."
"Dian, kenapa kamu melakukan itu? apa kamu gak malu dengan tersebarnya bukti itu, kamu itu punya suami. Kenapa kamu kurang ajar seperti itu? sungguh Mama tak habis pikir." Bu Lodia menggeleng.
Dian mendongak. "Ini semua gara-gara Istri muda Ibra, Ma ... kalau Ibra adil. Aku gak mungkin melakukan itu, aku kesepian! walaupun Ibra sering mengunjungi ku. Tapi kasih sayang nya itu beda Mama ... dia lebih sayang dia. Jelas aku kecewa, sakit hati." Bela Dian, tak mau di salahkan.
"Tapi tak sepatutnya kamu melakukan itu Dian sayang ... semakin kamu berulah, justru makin Ibra ilfil. Dengan perbuatan mu itu Ibra semakin hilang perasaan. Buktinya dia bukannya memilih kamu malau menghalau kamu dari sisinya, Mama lama-lama mengerti juga dan wajar bila Ibra menceraikan mu."
"Kok Mama malah belain Ibra si Ma ... bukan belain anaknya?" Dian heran dan kesal.
"Gimana Mama mau belain kamu? kamu yang salah, pasangan mana yang tidak jijik bila istrinya digarap orang--"
"Ma ... aku belum sempat di apa-pain." Dian menyela omongan sang bunda.
"Apanya yang belum di apa-pain Dian? itu buktinya apa ha! kamu itu setengah polos, yang melekat di tubuhmu itu cuma tinggal dalaman saja. Kamu itu sadar apa nggak sih?" bu Lodia mulai kesal.
"Em, ta-tapi. Cuma itu saja Ma, belum sempat hubungan badan." Timpal Dian sedikit terputus-putus ucapannya.
"Masih mending itu. Masing mending. Tapi jangan-jangan kamu berhubungan sama laki itu namun belum ketahuan buktinya." Bu Lodia menatap curiga pada putrinya itu.
"Mama, aku berani bersumpah. Aku balum sempat di gagahi Ma ... aku keburu di tolong sama orang suruhan Ibra. Dia yang menyelamatkan ku waktu itu." Akunya Dian, mengingat waktu itu, ketika Irfan menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Mama, sebagai perempuan merasa gimana ... gitu. Di cumbu laki-laki yang baru di kenal. Tak ubahnya seperti pe--"
"Seperti pelacur? itu maksud Mama, emangnya Mama mau aku seperti itu ha?" sergah Dian menatap tajam sang bunda.
"Justru Mama gak mau sampai putri Mama yang satu-satunya ini melakukan hal terhina sayang," lirih bu Lodia membalas tatapan sang putri.
Dian menggeleng. "Mama gak tau yang sebenarnya terjadi, jadi sudahlah. Biarkan aku sendiri!"
"Dian, Mama cuma--"
Bu Lodia hanya menatap dan beranjak dari duduknya. Meninggalkan Dian sendiri di dalam kamar.
"Oya, bentar lagi aku mau ke luar. jangan larang aku pergi dan jangan tanya pergi sama siapa, aku bisa memilih orang yang tepat untuk ku," ucap Dian ketika sang bunda langkahnya melintasi pintu.
Bu Lodia cuma mematung sebentar tanpa menoleh ke belakang lagi, kemudian melanjutkan langkahnya dengan hati yang hancur, kecewa dengan putri semata wayangnya. Dengan mata yang berkaca-kaca terus melangkah menuju lantai dasar, dan kamarnya berada di sana.
Dian mengunci bibinya dengan kesal. "Mengganggu mood ku saja."
Kemudian melirik jam di layar ponselnya. Setelah itu Dian bangkit ke kamar mandi, tidak lama ia kembali dan berganti pakaian, setelan jas namun bawahannya celana pendek di atas lutut. Mengesankan bahwa dirinya seorang wanita karier.
Menyambar tas yang sudah di siapkan sebelumnya dengan isi yang komplit. Seperti yang selalu ia butuhkan, ia berjalan sedikit cepat menuruni anak tangga.
"Mau makan malam Nyonya?" sapa asistennya yang bernama Santi.
"Tidak, saya mau ke luar," sahut Dian sambil terus berjalan menuju garasi.
"Perlu saya antar Nyonya," ucap Supir menawarkan dirinya.
"Nggak usah, saya bisa sendiri. Jaga rumah saja." Jelas Dian. Memasuki mobil dan menyalakan mesinnya.
Kemudian Dian langsung memutar setir, melaju dengan kecepatan sedang. Meluncur memasuki dan membelah jalan raya, dengan tujuan Bandara Halim.
Selang beberapa waktu mobil yang di kendarai Dian masuk ke wilayah Bandara. Dian turun setelah memarkirkan mobilnya itu. Langkahnya dipercepat memasuki Bandara, dengan kaca mata hitam menempel, menghiasi wajahnya.
Lalu ia melambaikan tangan ke salah satu orang yang berada di sana. "Hi?"
Dian semakin percepat langkah kakinya, menghampiri. "Selamat malam?" sapa Dian pada pria muda itu.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya pria tersebut menatap tajam ke arah Dian.
"Aku, jemput kamu. Ada yang jemput gak ngomong-ngomong." Dian balik tanya pada pria itu.
"Naik taksi aja," sahutnya.
"Ya udah, naik mobil ku saja. Aku sengaja tuk jemput kalian. Oya ini pasti ayah mu, kan?" netra mata Dian bergerak pada seorang pria paruh baya yang duduk di kursi roda.
__ADS_1
"Iya, kenalkan dia ayah ku," pria tersebut mengenalkan sang ayah pada Dian.
"Oh, kenalkan Om. Nama ku Dian," meraih tangan pria tua itu dan di ciumnya.
"Oh, apa kabar Nak Dian?" sapa pak Mulyadi.
"Baik, Om." Dian tersenyum.
Jodi sebenarnya sudah pesan taksi, namun karena Dian datang menjemput, gak enak hati bila ia tolak juga. Akhirnya Jodi menerima tawaran Dian. Jodi mendorong kursi sang ayah ke mobil Dian.
Dian membukakan pintu mobil, ketika Jodi mengangkat tubuh sang ayah untuk mendudukkannya di mobil. Kemudian melipat kursinya, lantas di simpan di bagasi bersama kopernya.
Jodi sendiri duduk di depan bersama Dian yang nyetir. Sementara sang ayah di belakang bersama mbok Rasmi.
"Nak Dian ini. Rekan kerja Jodi atau--"
"Aku, rekan bisnis Om, tepatnya," jawab Dian sambil fokus nyetir.
"Oh, rekan Bisnis?" pak Mulyadi mengangguk-anggukkan kepalanya.
Jodi hanya diam, sama sekali tak ikut ngobrol dengan sang ayah dan Dian. Ia fokus dengan lamunannya sendiri. Yang entah kemana dan memikirkan apa?
"Sudah lama kenal dan menjadi rekan bisnis Jodi?" tanya pak Mulyadi lagi.
"Em, sekitar kurang lebih 1 tahun ini Om," sambung Dian.
"Oh, lumayan lama kalian saling kenal," timpal pak Mulyadi.
"Lumayan Om." Melirik Jodi di sampingnya yang tengah melamun.
"Kamu mau mampir dulu di mana gitu?" Tanya Dian pada Jodi.
"Ha? tidak. Pulang saja, apa kamu masih ingat alamat ku?" tanya Jodi sambil berpangku tangan di dada.
"Oke, ingat dong." Dian terus menyetir dengan fokus. Hingga akhirnya. Sampailah di depan rumah mewah milik Jodi.
Pintu gerbang pun langsung terbuka setelah Dian menyalakan klakson dua kali. Scurity membuka pintu gerbang, Mobil pun masuk ke halaman, berhenti tidak jauh dari mobil milik Jodi.
Jodi segera keluar dan kembali mengangkat tubuh sang ayah ke kursi roda yang sudah di siapkan oleh Mbok Rasmi.
"Pak, bawakan koper di bagasi mobil." Pinta Jodi pada scurity yang langsung dituruti dan mengeluarkan dua koper milik pak Mulyadi dan Mbok Rasmi.
Pak Mulyadi, Jodi bawa masuk. Diikuti oleh Dian dan Mbok Rasmi yang bengong dan kagum dengan mewahnya rumah ini. Sebab rumah yang di kampung tidak semewah ini.
"Apa kamar buat ayah saya sudah siap?" tanya pada Jodi pada asistennya.
"Sudah Tuan, Sudah siap." Mengangguk.
"Makasih." Balas Jodi. Menghentikan kursi sang ayah dekat sofa yang ia duduki. "Oya, siapkan makan malam." Tegas Jodi pada sang asisten.
Mbok Rasmi langsung membereskan koper di kamar buat pak Mulyadi tinggal. Matanya begitu terkagum-kagum melihat kamar yang bagus-bagus. Begitupun kamar untuknya.
Dian duduk diantara Jodi dan ayahnya. "Om, sudah sering ke sini atau--"
"Baru, Om malas bepergian dengan kondisi seperti ini," keluh pak Mulyadi.
"Aku, sering mengajak Ayah ke sini. Bahkan tinggal di sini, Ayahnya gak mau." Kata Jodi yang yang di tujukan pada sang ayah.
"Ia, Ayah. Tidak mau merepotkan mu, Nak. Lagian sayang rumah yang di semarang gak ada yang huni," timpal pak Marwan.
"Merepotkan gimana Ayah? bukankah itu sudah kewajiban ku sebagai anak?" Kekeh Jodi.
"Ya, sudah ... sekarang Om sudah ada sini. Semoga betah," ungkap Dian meredakan obrolan ayah dan anak tersebut.
Kemudian, asisten Jodi memberi tahu. Kalau makan malam sudah siap, ketiganya mendatangi meja makan. Lalu mereka melahap makan malamnya, menikmati hidangan yang tersedia di meja.
Ketika selesai makan malam. Pak Mulyadi meminta Jodi mengantar ke kamarnya. Ia merasa capek dan ingin segera istirahat. Jodi pun segera mengantar dan membantu sang ayah berbaring di atas tempat tidur. Dian pun turut mengantar pak Mulyadi ke kamarnya.
"Sekarang, inilah kamar Ayah," ucap Jodi pada sang ayah. Sambil menarik selimut.
Pak Mulyadi mengangguk dan menatap, menyapukan pandangannya ke seluruh kamar itu.
Jodi dan Dian keluar dari kamar pak Mulyadi. "Sudah malam, baiknya kau pulang saja. Makasih sudah menjemput ku?" menatap ke arah Dian.
Dian yang di usir secara halus pun tersenyum. "Baiklah, aku pulang dulu, makasih atas makan malamnya!"
"Ya, sama-sama." Jodi mengangguk.
Dian pun meraih tas nya yang tadi ia simpan di meja. Kemudian menghilang di balik pintu. Jodi melangkahkan kakinya ke teras, menatap kepergian Dian. Jodi baru masuk setelah Dian membawa mobilnya keluar dari pekarangan rumah nya ....
__ADS_1
****
Hi ... makasih reader ku, sudah baca kan? ayo mana dukungannya nih. Oya dukung juga karya ku "Bukan Suami Harapanku" jadikan favorit juga ya🙏