Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Tersiram air panas


__ADS_3

Ibra memalingkan wajahnya ke sembarang tempat. Sikapnya semakin dingin. "Ngantuk ah, tidur!"


Ia membaringkan tubuhnya di sebelah Yulia. Yulia jadi semakin gemas dia menggoyangkan bahu Ibra. "Sayang! ayok ... jangan dingin seperti ini, gimana aku bisa hamil kalau kamu dingin gini Sayang?"


Namun Ibra tidak menggubris malah semakin memejamkan matanya. Rasa lelah yang ia rasakan sedari tadi masih menyelimuti dirinya.


"Bangun! jangan tidur dulu, bangun yang ..." semakin menggoyang tangan Ibra. Membuat Ibra merasa terganggu.


Ibra membuka matanya dan bangun. "Bisa gak? jangan ganggu saya! saya ngantuk. bisa, kan kita bicara besok saja. Saya capek."


"Tapi ... gimana ini?" menyibakkan selimut dari tubuhnya. "Apa kamu gak tertarik lagi sama aku?" mendekatkan tubuhnya pada Ibra.


Sejenak Ibra memandangi Yulia sangat lekat. "Besok saja, kita bicarakan. Sekarang saya capek, tutup saja tubuh mu, nanti masuk angin."


Ck ck ck Yulia berdecak kesal. Memeluk tubuh Ibra yang mau berbaring kembali, melihat tingkah Yulia seperti itu! Ibra merasa semakin jijik. Mengingat dia selingkuh dibelakangnya.


Tangan Ibra mendorong kedua bahu Yulia dan menutupi tubuhnya dengan selimut. "Tidurlah ... jangan buat saya marah! simpan saja kemolekan tubuhmu itu." kemudian kembali merebahkan tubuhnya. Menarik selimut sampai menutup kepala, tidur memunggungi Yulia yang menatap tajam dirinya.


Yulia melempar bantalnya ke lantai. Guling juga tak lepas dari amukannya. Berteriak-teriak dan mengacak rambutnya dengan frustasi.


Di balik selimut. Ibra tersenyum, mendengar Yulia seperti orang frustasi. "Ini baru permulaan! belum selanjutnya."


Pagi-pagi buta, Laras terbangun. Menggosok matanya melihat kanan dan kiri. "Di mana ini? oh. Iya di kamar tuan." mengibaskan selimut! namun dirinya masih polos. Memungut pakaian yang berada di lantai.


Bergegas turun. "Aku harus bersih-bersih dulu di kamarku. Biar nanti ke sini lagi untuk beres-beres." Laras segera mengayunkan langkahnya keluar kamar Ibra.


Laras setengah berlari menuju kamarnya. Dia menemukan beberapa orang asisten yang sedang bersih-bersih.


Sampai kamar. Laras langsung masuk kamar mandi untuk bersih-bersih di bawah kucuran air shower yang hangat. Setelah selesai ia menunaikan kewajibannya sebagai muslim. Lanjut merapikan kamarnya. membuka gorden dan menghirup udara segar sebentar di balkon.


Oo ....


Oo ....


Oo ....


Mual menyerang Laras. Langsung berlari ke kamar mandi ohek ohek ohek membuang isi perutnya di wastafel. sampai keluarkan air yang kuning yang pahit dari perutnya itu.


Kepala sedikit pusing. "Ya Allah ... apa benar aku hamil? kalau iya. Aku tidak tahu harus senang atau sedih?" menatap wajahnya di cermin.


Balik ke kamar, mengambil air minum dan segera meneguknya. Hatinya jadi tak karuan, harap-harap cemas. Mendudukkan tubuhnya di kursi sebentar. Beberapa saat kemudian ia berdiri kembali melangkah mendekati pintu.

__ADS_1


"Pagi Nyonya muda?" sapa Susi ketika melihat Laras sedang berjalan melintasinya.


"Oh, pagi juga Sus. Rajin nih," sahut Laras sambil menghentikan langkahnya berdiri depan Susi.


"Hehehe. Nyonya! bukan rajin, tapi sudah menjadi pekerjaan. Sudah jadi tugasnya Susi." Susi terkekeh.


"Oh, iya. Ya sudah! aku juga mau beres-beres," melanjutkan langkahnya.


"Selamat bekerja Nyonya!" pekik Susi dari belakang.


Laras tersenyum sambil menoleh Susi. Sesampainya di kamar Ibra. Laras langsung membereskan tempat tidur memungut pakaian kotor di rendam nya di kamar mandi sebentar sambil menyikat toilet.


Habis mencuci! ia membuka gorden dan menyapu. Terdengar Derap langkah dari balik pintu, mendekati dan klik suara kenop pintu di putar, munculah Ibra dangan muka bantalnya.


"Tuan! baru bangun?" tegur Laras menoleh Ibra yang sementara mendudukkan tubuhnya di atas sofa.


"Hem ..." melirik kearah Laras. "Apa kau juga baru bangun?"


"Aduh ... masa Tuan gak lihat! saya sudah rapih begini?" sahut Laras sambil mengamati penampilannya.


Ibra memicingkan matanya. "Oh, Iya sudah cantik. Nanti bikinkan saya kopi pahit ya?" gumam Ibra sambil berjalan ke kamar mandi.


Laras mengangguk. Dan membereskan lagi tugasnya. Beberapa menit kemudian! semua kerjaan di kamar Ibra sudah selesai. Laras meninggalkan kamar tersebut. Laras berjalan menuju dapur.


"Sedang apa Nyonya muda di situ?" tegur bu Rika menatap Laras yang sedang memunggunginya.


Laras membalikan badan menoleh bu Rika. "Ini BuRik. Aku bikinkan tuan kopi pahit! tadi dia menyuruh ku membuatkan untuknya."


"Oh ..." bu Rika mengangguk. "Hati-hati dengan air panasnya Nyonya!"


"Iya BuRik!" sembari membalikan badannya menuang air panas ke cangkir.


Mery melangkah dengan gemulai mendekati Laras untuk mengambil air hangat juga, namun tangannya menyenggol siku tangan Laras yang sedang memegang cangkir kopi, tak ayal cangkir kopi pun tumpah dan air nya yang masih berasap panas menyiram kaki kanan Laras.


Membuat Laras menjerit kecil. "Awww ... panas!" langsung berjongkok memegangi kakinya yang terkena air kopi panas.


Mery terkejut. "Oh. Maafkan aku! tidak sengaja."


Para asisten panik, termasuk bu Rika menghampiri dan berjongkok. "Nyonya kenapa?"


"Tersiram air kopi, panas." Laras meringis kesakitan.

__ADS_1


"Ya ampun ... gimana ini?" bu Rika malah panik. Sementara Mery mematung tak menyangka akan terjadi seperti itu, biasanya juga dia tinggal duduk manis di kursi menunggu di layani sama asisten saja.


Ibra yang sedang berjalan menuju dapur! melihat keributan di sana, semakin mempercepat langkahnya. Sampai di dekat Mery berdiri. Ia melihat Laras berjongkok memegangi kaki kanan nya sambil merintih kesakitan Ibra langsung terkejut. "Kenapa nih?" asisten yang di sana memberi tempat untuk Ibra.


Laras tidak menjawab hanya merintih panas-panas, dan matanya sudah berkaca-kaca. Ibra mengangkat tangan yang sedang menutupi kakinya, betapa terkejutnya Ibra melihat kulit kaki Laras memerah dan masih menyisakan asap. Bu Rika mau mencucinya dengan air dingin.


Ibra segera menggendong Laras ala bridal, dengan cepat di bawanya ke sofa ruang tengah. "Ambilkan salep. Bukan air," pinta Ibra setengah berteriak panik khawatir Laras ke napa-napa.


Bu Rika dan yang lainnya panik. Mencari salep di setiap laci obat yang kebetulan, kalau sedang di butuhkan itu susah! seolah hilang dari pandangan mata sekalipun ada.


Laras terus merintih kesakitan. "Panas. Sakit ..." terus merintih sambil menangis.


Ibra berjongkok, mengangkat kaki Laras. Meniupnya pelan-pelan. Tak tega melihat dia merintih.


Akhirnya bu Rika membawa salep. Diberikan pada Ibra. Ibra segera mengoleskan salep itu? ke pergelangan kaki Laras yang melepuh sampai dekat jemarinya, diolesi semuanya. Masih untung yang parah cuma sebelah saja, di kaki yang satunya hanya ada beberapa titik merah saja.


Laras kembali memekik. "A ... w. Perih, panas ...sakit," matanya semakin barair mengalir di pipi.


Netra mata ibra bergerak melihat Laras yang menangis. Sungguh tak tega melihatnya! ia mengusap air mata Laras dengan sangat lembut. "Tenanglah! sebentar lagi juga hilang panas dan perihnya," suara Ibra sangat halus dan menarik kepala Laras ke dalam pelukannya.


Meri yang berdiri, melihat kejadian itu jadi tersenyum puas dan bibirnya mencibir. "Segitu aja sudah manja! cari perhatian."


Di ujung ruangan Dian mengawasi dari mulai Ibra menggendong Laras ke sofa sampai ada adegan memeluk kepala Laras. Hati Dian menangis, melihat suaminya begitu perhatian dan sikapnya yang lembut pada Laras. Bibirnya bergetar, matanya mendongak ke langit-langit. Menahan supaya air matanya tak keluar.


Sebab itu semua ia sendiri yang memulai. Jadi tidak bisa menyalahkan siapa-siapa! setelah menarik napas dalam-dalam. Dian menghampiri sang suami dan Laras!


"Ada apa nih? pagi-pagi sudah ribut," tanya Dian. Berdiri dekat Ibra.


Ibra menoleh Dian lantas melepas kepala Laras dari dadanya. "Di-dia kena air panas." Ibra berdiri sejajar dengan Dian.


"Tersiram ya?" ucap Dian mendekati kaki Laras dan duduk di dekatnya.


Laras mengangguk. Mengusap air mata yang terus menetes.


"Kenapa kurang hati-hati? lain kali lebih berhati-hatilah." tegas Dian lagi.


"Itu ... gara-gara tangan Nyonya muda ke senggol nyonya Mery," celetuk seorang asisten yang kebetulan melihat kejadiannya.


Serentak Ibra dan Dian menoleh asisten tersebut. Apalagi Mery mendengar namanya di sebut sangat lah terkejut ....


,,,,

__ADS_1


Aku ingin tahu seberapa banyak sih yang suka dengan novel ini? jadi setiap yang baca silakan like dan komen ya 🙏 ini untuk penyemangat aku buat nulis. Kalau suka? bilang suka! kalau tidak suka? apa alasannya!


__ADS_2