
"Aduh, aku mau salat dulu ya sebelum berdandan. Ya Bu?" pinta Laras pada bu Rika dan pegawai salon.
"Tentu boleh, silakan Nyonya salat dulu. Kami akan menunggu Nyonya." Ijin bu Rika.
Ayo Sus, ke mushola dulu?" ajak Laras pada Susi, yang diajak pun langsung membalas dengan anggukan.
Laras dan Susi keluar dari salon menuju mushola yang ada di mension itu. Selepas salat, Laras sebentar melihat taman. Tetap indah seperti dulu, senyuman di bibir Laras mengembang ketika memandangi taman tersebut.
"Nyonya, ayo? keburu siang, nanti tuan keburu pulang," ajak Susi sambil melirik jam di tangannya.
Laras, menoleh ke arah Susi. "Oh, iya lupa." Kemudian mereka bergegas kembali ke salon. Laras mempercepat langkahnya.
"Aduh ... Nyonya, kata ibu Susi kalau lagi hamil jangan cepat-cepat jalannya. Kasian dede baby nya, santai aja jalannya," ucap Susi.
"Tadi katanya ayo, takut kesiangan?" balas Laras dan kini mereka sudah di lift.
"Iya, tapi bukan lari juga Nya ..." ucap Susi menggeleng.
Laras tersenyum, lalu keluar lift langsung masuk salon lagi. Dan di tangani oleh pegawainya, kemudian berganti pakaian yang sudah di siapkan bu Rika lengkap dengan asisorisnya.
"Wah ... Nyonya cantik banget, dengan penampilan sekarang. Dengan kerudung itu juga." Susi terkagum-kagum.
Laras hanya tersenyum, tersipu malu. "Bisa aja kamu Sus."
Setelah selesai di salon. Laras keluar dan turun ke lobby menunggu kedatangan Ibra di sana, tidak lama menunggu. Akhirnya yang di tunggu datang juga.
Dari mobil pun Bibir Ibra sudah melukiskan senyuman setelah melihat Laras berada duduk di kursi tengah menunggu.
Ibra berjalan bersama Zayn. "Assalamu'alaikum. Sayang?" Ibra menatap sang istri sejenak.
"Wa'alaikum salam, kenapa menatap seperti itu?" membalas tatapan Ibra. Namun tangannya meraih tangan Ibra dan di ciumnya.
"Nggak," sahut Ibra, lalu merangkul tubuh sang istri sangat erat. "Kamu kelihatan lebih cantik banget hari ini."
Laras gak merespon selain menikmati pelukan tubuh tegap itu.
"Yu, ke kamar? siapkan semua keperluanku, mau mandi dulu sebentar." Ibra menuntun tangan sang istri. Diajaknya ke kamar pribadi Ibra yang lama sudah, Laras tidak berkunjung ke sana.
Kini keduanya sudah sampai di kamar Ibra. Netra mata Laras bergerak mengamati tempat itu. "Masih seperti yang dulu." Gumam Laras, lalu membantu membuka jas sang suami.
"Gimana, apa mau bermain dulu sebelum beraktifitas?" goda Ibra sambil memainkan kedua matanya.
"Apaan sih ... mau rapat atau mau main-main?" sedikit cemberut.
"Bercanda sayang ...."
"Mau aku siapkan airnya? tanya Laras sambil menenteng jas sang suami di tangan.
"Nggak sayang, biar sendiri aja," sahutnya Ibra sambil berjalan menuju kamar mandi.
Langkah Laras membawanya ke ruangan pakaian Ibra, wardrobe. Laras menyapu semua sudut ruang itu. Mengusap perutnya seraya berkata. "Nah ... sayang, dulu Mommy sering ke sini menyiapkan pakaian papi. Tapi sekarang ... kita sudah punya rumah kecil yang jauh lebih tenang dan nyaman." Suara Laras pelan seolah mengajak ngobrol sang anak.
Setelah menyimpan di atas tempat tidur. Laras mendekati jendela melihat pemandangan yang sering ia lihat dulu. termasuk kebun buah.
Ibra keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang dan rambut yang basah yang ia usap-usap dengan handuk kecil. "Sayang."
"Hem." Laras menoleh dan menghampiri, mengambil handuk kecil dan menyuruh Ibra duduk agar ia dengan mudah menjangkau kepala Ibra. Untuk mengeringkan rambutnya.
Setelah rapi, sebelum mengenakan jas. Ibra salat dulu, selepas itu baru melanjutkan ritual dan-dannya. Termasuk memakai minyak wangi yang ke dua kalinya, sehingga wanginya bikin Laras gak kuat dan menggeleng.
"Astagfirullah yang ... bau banget, kebanyakan juga ih. Kalau kebanyakan bikin pusing, bukan wangi lagi, masya Allah."
"Iya, iya ..." lalu Ibra menggandeng tangan Laras keluar dari kamar menuju ruang makan.
__ADS_1
Setelah melewati lift dan lorong lainnya, akhirnya sampai juga dan di sana sudah penuh dengan rekan-rekan kerja Ibra. Dan wakil Ibra adalah Zayn, puluhan mata tertuju pada Laras dan Ibra. Khususnya Laras, semua mata memandang dan saling berbisik. "Cantik sekali."
Ibra memberi perintah pada mereka untuk duduk kembali. "Silakan duduk."
Ibra menarik kursi buat Laras terlebih dahulu. Sebelum duduk, Laras mengulas senyum ramahnya pada semua yang ada di sana. Barulah duduk manis di samping Ibra sebelah kanan dan di sebelah kirinya Ibra ya itu Zayn.
Makan siang pun di mulai, para asisten pun sibuk menyipkan minumnya. Dan cemilan untuk rapat nanti.
****
Di sebuah bungalaw yang indah. Dian hidup dengan nyaman, pindah dari mension. Dian tidak tanggung-tanggung membawa dua asisten dan seorang pekerja laki-laki untuk dijadikannya supir + tukang kebun.
Saat ini perceraiannya dengan Ibra masih dalam proses. Dian kadang sering melamun mengingat masa lalu yang indah dan bahagia sewaktu bersama Ibra. Dulu sewaktu pacaran hidup keduanya bagai dunia milik berdua.
Beberapa tahun setelah menikah pun masih sama, namun semuanya berubah. Setelah dirinya di ponis mandul akibat kancer rahim di perutnya, walau sudah di nyatakan sehat. Namun nyatanya ia tidak juga mempunyai anak juga, yang ada napsu aja kian meningkat.
Dan semua perubahan jelas ada di dirinya juga yang memaksakan sang suami berubah dan pada akhirnya membuat dirinya juga yang sengsara terhempas dari sisi Ibra. Namun Dian tetap yakin, sekalipun kini mereka berpisah. Suatu hari nanti Ibra akan kembali.
"Sayang, kamu belum makan dari semalam. Jangan gitu sayang nanti kamu sakit." suara seoarang ibu dari balik pintu.
Dian yang duduk di tempat tidur bersandar. Hanya melirik dengan malas. "Belum lapar Mam, nanti juga kalau aku lapar pasti makan Mammy, jangan bawel deh. Anak mu ini lagi pengen menyendiri."
"Ya, ampun sayang ... nanti kamu sakit. Justru kamu itu harus tetap sehat dan cantik, agar Ibra jatuh cinta lagi sama kamu," ucap maminya Dian yang berbadan gempal itu.
Dian hanya menatap malas ke arah ibunya itu yang baru masuk dan duduk di dekatnya.
"Mamy juga tetap berharap, kalau kamu itu bisa punya keturunan dari dia. Mamy juga kecewa Ibra menceraikan mu, Mamy jadi penasaran sama istri barunya itu," ucap bu Ludia.
Dian memutar bola matanya, mendengar uraian sang bunda.
"Tapi sayang, Mamy rasa cintanya Ibra sama kamu itu tidak berubah kok, kamu nya aja yang ke ganjenan sama laki-laki lain. Dian," menepuk paha Dian.
"Khilap Mamy, ngerti gak khilap?" bela Dian tak mau salahkan.
"Coba, kamu itu tidak membuat ulah. Pasti tidak terjadi seperti ini sayang, semua salahmu," ucap sang bunda sambil berlalu.
"Kalian itu tidak tahu yang sebenarnya gimana. Cuma bisa menuntut, yang jalani nya aku." Gumamnya pelan.
Blugh!
Dian memukulkan bantal ke kasur, hatinya tambah runyam kalau mendengar ocehan sang bunda. Orang tua Dian sengaja pulang dari luar Negeri setelah di telepon oleh Ibra, kalau Ibra sedang menggugat cerai putrinya. Jadinya rencana Dian yang akan membawa baby nya Laras kabur ke luar Negeri, dan akan diperkenalkan sebagai baby nya Dian pun gagal total.
Sekalipun surat kontrak Laras hilang dari tangan Dian. Tidak menyurutkna niatnya untuk membawa kabur baby itu ke orang tua Dian sebagai baby nya. Eh ... malah mereka datang ke Indonesia. Belum apa-apa sudah gagal duluan, orang tua Dian gak tahu kalau anak nya pernah kena kancer rahim.
Sebagai sama-sama anak tunggal, tentunya. Dian dan Ibra jadi anak dan mantu kesayangan bagi orang tua Dian. Di waktu itu. Dian membaringkan badan dan tengkurep, memeluk guling lamunannya semakin jauh dan lama-lama mata Dian pun terpejam. Tertidur.
Bu Ludia kembali membawa nampan berisi makanan. Kemudian ia simpan di meja. melihat sang putri tidur, tak berani membangunkannya. sebab ia tahu pasti belum lama. Orang barusan masih teriak-teriak. "Kasiannya putriku, mengalami di madu segala. Di cerai juga," mengusap lembut pucuk kepalanya. Tak terasa air mata bu Ludia menetes, bagaimanapun hati seorang ibu. Pasti merasakan derita anaknya.
Ibunya Dian beranjak dari dekat putrinya. Dian, setelah mengusap pipi yang basah itu, kembali berlalu dan tidak lupa menutup pintu.
Malam pun tiba menggantikan siang yang terang, berganti dengan sang kegelapan. Dian baru bangun dan perutnya merasa lapar, memicingkan mata dan lirik kanan dan kiri. Sampailah netra matanya menemukan makanan di meja. "Wah ... kebetulan sekali. Ada makanan." Ia bangun, bergegas turun. Mendekati meja, melahap makanan yang tadi sore ibunya bawakan. Setelah semuanya tandas, barulah Dian beranjak ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Bersih-bersih pun selesai, saat ini Dian sudah berpenampilan cantik. Bersiap pergi, ia turun ke lantai dasar dan langsung di tegur sama sang bunda.
"Kamu mau ke mana? jangan macam-macam, nanti takut perdata mu bertambah. Kerena perceraianmu masih proses. harus hati-hati."
"Aduh ... Mamy ... aku bosan di rumah terus. Mau keluar cari angin sebentar." Dian menghentakkan kakinya ke lantai, kesal.
"Kalau iya bosan? kenapa gak siang aja jalannya. Pergi kerja malas, di rumah kerjaannya melamun. Pas malam, eh ... maunya pergi, apa itu namanya Dian?" cercaan sang mamy.
"Aduh ... Mam, bisa gak sih gak bawel gitu? kepala ku pusing."
"Mamy heran aja, kenapa siang diam di rumah, kerja pun malas tapi pas malam mau keluyuran, kan aneh? sekarang Mamy ada di sini ya? tolong hargai omongan Mamy." Tambah bu Ludia.
__ADS_1
"Mam," ucap Dian.
"Diam di rumah, kalau mau keluar siang, bukan malam. Anehnya ... siang malas-malasan. Tapi malam mau pergi. apaan?" bibir bu Ludia komat kamit.
Dian berdiri di tempat dengan muka di tekuk, mata mendelik. Pada sang bunda yang tak perduli dengan sorot mata Dian yang tajam, lalu balik lagi ke kamar dengan rasa kesal dan marah.
Mata bu Ludia melirik putrinya yang berlari naik lagi. "Coba kalau aku gak pulang ke sini mau gimana jadinya tuh anak?" menggeleng.
Dian membanting pintu sekerasnya. Sehingga dinding pun bergetar hampir aja hiasan dinding berjatuhan. "Gila. Aku bisa gila kalau kaya gini terus." gumamnya sambil melipat tangan di dada. "Aku gak boleh terpuruk begini."
Jalan mondar mandir. Maju mundur, kanan dan kiri. Lama-lama seperti setrikaan. Alhirnya ia duduk dan mengambil laptop nya, namun tak lekas ia buka melainkan ia tatap laptop itu. Dian ingat betul, kalau laptop ini hadian ulang tahun dari Ibra. Ia elus, ia usap dengan lembut. "Aku masih ingat, di hari ulang tahun ku. Kamu memberikan hadiah ini untuk ku."
Hatinya jadi mencelos sedih. Dan air bening pun menghiasi di sudut matanya, akhirnya Dian menangis memeluk laptopnya.
****
Semakin ke sini, hubungan Dian dan Jodi normal kembali. Bagaimanapun mereka rekan bisnis, yang kadang setiap hari bertemu. Seperti suatu hari Dian berkunjung ke kantornya Jodi.
"Duduk, Ibu Dian?" ucap Jodi pada Dian yang masih berdiri.
"Makasih!" gumamnya Dian sambil mendudukan dirinya di sofa biar lebih santai.
"Sama-sama--"
"Sama apanya?" tanya Dian menatap ke arah Jodi yang masih duduk di kursi kebesarannya.
"Hah? oh sama duduknya." Sembari mesem.
"Hem," gumam Dian lalu sedikit menyandarkan punggungnya ke belakang sandaran sofa.
Jodi beranjak, dan berpindah duduk ke sofa yang sama dengan Dian. "Apa kabar?"
"Hah, baik seperti yang anda lihat." Dian mengangkat bahunya.
"Bagus lah, oya. Bukannya kita mau bahas tentang usaha kita yang di Semarang ya?" ujar Jodi lagi.
"Iya. Itu benar." Lalu mereka berbincang begitu serius, tentang masalah bisnisnya yang di Semarang. Yang kini mengalami anjlok akibat masalah perceraiannya yang kini sedang di proses itu.
Setelah satu jam membahas kerjaan, kebetulan sudah waktunya makan siang. "Gimana kalau kita makan siang dulu? aku lihat kau tambah kurus. Gak pernah makan ya?"
"Enak aja, makan lah. Boleh sih, mau makan di mana?" tanya Dian sambil mengulas senyumnya.
"Maunya di mana? terserah kamu, di kantin kontor ini, boleh. Di luar juga boleh," ungkap Jodi sambil membuka tangannya.
"Oke, makasih. Tapi ... bisa gak kalau di hati mu? ha ha ha ..." timpal Dian.
"Sorry, di hati saya tidak ada hidangan." Jelas Jodi sambil berdiri merapikan jasnya.
Keduanya berjalan berbarengan dengan niat mencari makan siang. "Jadinya kita mau makan ke mana nih?" tanya Dian pada Jodi setelah ternyata langkah mereka sedah membawa mereka di parkiran.
"Em ... ya udahlah kita cari resto terdekat saja. Mau di kantin terlewat juga." Jodi berjalan menuju mobilnya. Kemudian membukakan pintu buat Dian.
"Makasih," ucap Dian sambil masuk dan duduk di samping kemudi.
Brugh!
Jodi tutup kembali, lalu langkah Jodi mengitari mobilnya untuk masuk, duduk di belakang setir.
Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, bersiap melaju Dian menatapa ke arah Jodi seraya berkata. "Jodi, aku minta maaf ya? atas kejadian waktu itu, jujur aku jadi malu ... banget. Rasanya aku tidak punya muka lagi di hadapan mu Jodi."
Netra mata Jodi sekilas membalas tatapan Dian, lalu Jodi membuang pandangannya ke lain arah. "Sudah lah, jangan di ingat lagi, aku juga minta maaf. Aku juga salah kok. Suadah lah lupakan itu, anggap gak pernah ada oke?" ucap Jodi sambil tancap gas. Ia gak ingin mengingat itu lagi.
Ucapan Jodi mengunci, sehingga Dian tak berkata lagi. Ia pun ingin melupakan itu, namun selalu membayang di pikirannya. Mobil yang di kemudikan Jodi kian melesat membalah jalan raya ....
__ADS_1
****
Semoga kabar semua reader ku sehat, adem. Ayem, tak kurang suatu apapun. Aamiin.