
Setalah bobokan baby boy, Laras mengarahkan pandangan ke arah sang suami yang tertidur di sofa dengan laptop masih menyala di sampingnya.
Langkah Laras mengayun mendekati Ibra lantas duduk, meraih laptop dan mematikannya lantas ia simpan di meja. Netra mata Laras tertuju pada wajah Ibra yang terlihat nikmat tidurnya.
Tangan Laras menyentuh dan menggoyangkan tangan Ibra yang melipat di depan dada. "Sayang bangun?" dengan suara lembut.
Namun Ibra tak bergeming saking nyenyak nya. "Abang ... bangun?" ulang Laras. Masih tak bergeming juga.
Detik kemudian, Laras mengecup pipi Ibra. Barulah tubuh Ibra bergerak menggeliat namun masih juga terpejam matanya tak mau terbuka.
Ibra merasakan ada benda lembab mendarat di pipinya. Namun kedua kelopak matanya teramat sulit untuk di buka, terlalu ngantuk yang ia rasakan.
"Iih ... bangun, gak dengar apa suara adzan subuh?" gerutu Laras yang terdengar jelas ditelinga Ibra.
"Hem ... masih ngantuk sayang." Gumamnya Ibra tanpa membuka mata.
"Abang bangun. Subuh tuh, salat bareng yu?" suara Laras lesu.
"Ngantuk nih, kan semalam kurang tidur." Gumamnya lagi.
"Oh ... ya udah lain kali gak ada macam-macam lagi. Waktunya tidur ya tidur, gak ada alasan kangen atau apa!" ancam Laras.
Sontak Ibra bangun, memicingkan matanya terbuka sedikit. "Apa sayang. Ngomong apa barusan? jangan gitulah." Malah menarik tubuh Laras ke dalam pelukannya.
Laras menepuk dada Ibra pelan. "Makanya bangun?"
"Kasih kiss dulu baru aku mau bangun."
"Kan tadi sudah." Laras malas.
"Tadi di pipi, sekarang di sini." Menunjuk bibirnya. Mata sengaja dibuat pejamkan lagi dan bikin Laras kesal.
Benar saja, Laras itu paling kesal kalau bangunkan Ibra susah. "Ih ..."
__ADS_1
"Sabar dong. Jangan marah ... apalagi sekarang sudah punya anak, harus lebih sabar." Ibra membuka mata dan menyunggingkan senyumnya.
Laras menarik napas dalam-dalam. "Sabar-sabar." Seraya mengusap dadanya.
Cuph. Mengecup bibir Ibra dengan niat sekilas. Namun tengkuknya ditahan oleh tangan kekar Ibra, menjadikan sentuhan itu lama dan Ibra menggerakkan bibirnya perlahan menyapu setiap incinya yang terasa manis.
Lama-lama semakin dalam, membuat Laras merasa kehabisan oksigen. Tangannya memukul-mukul dada Ibra, sampai akhirnya terlepas dengan napas yang memburu. Laras menghirup udara sebanyak-banyaknya, lain lagi dengan Ibra seiring napas nya yang bak sedang maraton. Bibirnya menyungging puas. Jarinya mengusap bibir itu yang basah.
Detik kemudian berdiri dan mengulurkan tangan pada Laras. "Yu ambil air wudu dulu?"
Sesaat netra mata Laras menatap tangan Ibra. Lalu menyambutnya dengan senyuman. Keduanya berjalan beriringan menuju kamar mandi.
Selepas menunaikan salat subuh berdua, Laras mengambil air hangat yang tersedia di kamar itu. Kemudian meneguknya bersama sang suami, lanjut membuka gorden dan jendela. Ia berdiri di balkon menghirup udara pagi yang masih begitu segar. Beberapa saat kemudian Laras masuk dengan masih membiarkan pintu terbuka, dibiarkan nya udara pagi masuk menyelinap ke dalam kamar.
Tangannya membereskan yang seharusnya ia bereskan. Merapikan meja dan bantal sofa yang tergeletak di mana saja dan pas bunga yang tak beraturan, menyapu dan membersihkan dengan alat eletronik yang tinggal pencet jalan sendiri. Beres. Menyiapkan pakaian formal Ibra dan untuk dirinya sendiri yang kebetulan berencana keluar bersama Irfan dan rekan lainnya.
Ia memilih setelan celana panjang dengan warna cokelat muda dan atasan panjang dengan warna yang lebih kalem. Serta kerudung pasmina warna senada. "Aku harus mandikan dulu baby boy agar ketika aku pergi anak itu sudah bersih. Jangan terlalu lalu merepotkan Susi atau mama." Batin Laras sambil berjalan mendekati box baby.
Sementara Ibra, berada di tempat nge-gym untuk berolah raga sebelum melakukan aktifitas lain seperti pergi ke kantor dll nya. Ia beralih dari satu alat ke alat nge-gym lainnya yang berada di tempat tersebut. Setelah melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan bahwa sudah waktunya mandi, bersiap-siap ngantor ia pun menghentikan kegiatannya dan berlalu meninggalkan tempat tersebut.
"Baby boy sudah mandi? pagi sekali sayang, kasian tuh bibirnya bergetar gitu kedinginan." Ibra langsung protes melihat baby nya tampak kedinginan.
"Air hangat kok ... lagian pakai minyak telon biar hangat ya sayang ya?" Laras sekalian mengajak ngobrol baby boy terus menatap sang bunda dengan bibir bergetar.
Selesai mendandani. Kemudian Laras memberikan asi-nya langsung pada baby boy. Nanti bila ia tak ada pake botol hasil pompa dari asi-nya. Lantas ia melirik ke arah sang suami yang sudah masuk ke kamar mandi terlihat pintunya terbuka dan terdengar suara air yang mengalir dari dalam.
Sekitar 15 menit kemudian Ibra keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Serta handuk di tangan yang ia pakai buat mengeringkan rambutnya berjalan mendekati melihat baby boy yang masih anteng mimi, tiba-tiba baby boy berhenti mimi dan melirik ke arah sang ayah.
"Hem ... kayanya mau di gendong dulu deh, sama Papanya." Laras mendongak melihat sang suami yang menggoda baby Satria.
"Mau gendong Papi sayang? hem ... ayo gendong." anak itu tersenyum dan Ibra segera mengambilnya dari Laras.
"Sayang, tutup dulu itu. Jangan menggodaku! nanti aku gak tahan nih," ucap Ibra menunjuk sesuatu yang menyembul sebab masih terbuka, dengan ekor matanya.
__ADS_1
Laras tersipu malu dan bergegas menutupnya. "Bukan niat menggoda, namanya juga habis menyusui ya wajarlah situ aja yang pikirannya traveling terus," ucap Laras sedikit mendelik.
"Apalah namanya, aku itu mudah tergoda sayang." Timpal Ibra sambil mengajak baby Satria bermain.
"Oh ... mudah tergoda. Sama yang lain juga?" Laras berdiri dan mendongak di dekat Ibra menatap curiga.
"Ha? nggak sayang ... lihat kamu aku mudah tergoda." Ralat Ibra seraya menggeleng pelan.
Mata Laras mendelik dan memanyunkan bibirnya. "Ya, sudah baby boy nya tidurkan saja di tempatnya. Abang masih belum mengenakan pakaian." Laras mengambil pakaian Ibra.
"Main dulu sayang ya, Papi mau berpakaian dulu." Cuph mencium pipi gembul baby Satria kanan dan kiri. Lantas menidurkan di tempatnya.
Tadi mendandani baby boy, lanjut sekarang mengurus big baby boy. Dari mulai mengeringkan rambut, menyemprotkan minyak wangi. Sampai mengenakan dasi. Lanjut jas, Sepatu juga. Semua Laras yang lakukan. Ibra cuma diam dan menatap sang istri dengan senyuman di bibirnya yang tak pernah pudar.
Laras mendongak pada sang suami yang masih mematung namun bibirnya terus mengukir senyuman bahagia, Tuhan sudah mengirimkan istri yang baik dan dengan tulus melayaninya. "Kenapa?" tanya Laras seraya mengerutkan keningnya.
"Tidak. Tak bosan aja memandangi wajah cantik istri ku."
"Gimana kalau aku sudah tak cantik lagi? pasti akan berpaling--"
"Jangan bilang gitu sayang, kalau kamu tidak cantik lagi ... tentunya aku pun sama. Jelas usiaku juga sudah tua, apa kamu juga akan bilang aku tampan bila nanti aku sudah peyot?"
Dengan santainya Laras melingkarkan tangan di pundak Ibra. "Secara usia kita berbeda ya? kalau kamu sudah tua, berarti aku masih muda dan akan banyak laki-laki yang menyukaiku kan!"
Perkataan Laras bikin Ibra meradang. "Enak saja. Kamu milik ku dan akan selalu jadi milik ku sampai kapanpun tak ada satu pun yang boleh mengambil mu dari ku." Menatap penuh cemburu.
Laras tertawa kecil. Puas menggoda sang suami, berhasil memancing rasa cemburunya.
"Nggak usah tertawa! gak lucu." jelas Ibra, lalu matanya mengarah pada benda kenyal yang selalu tampak ranum dan menantang tuk dinikmati.
Ibra menyentuh tengkuk Laras dan menariknya. Dengan refleks kaki Laras pun dinaikan berjinjit, Ibra pun menundukkan wajahnya supaya bisa menjangkau sekitar wajah sang wanitanya.
Namun ketukan di daun pintu membuyarkan niat awal mereka. Keduanya sontak menoleh ke arah sumber suara ....
__ADS_1
****
Kalian semua sudah baca episode ini kan? jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. Dan satu lagi Fav juga novel aku "Bukan Suami Harapan" makasih banyak sebelumnya.