
Begitu nyamannya berada dalam pelukan suami. Beberapa waktu kemudian. Keduanya memasuki kamar mereka. Laras langsung mendekati baby boy yang masih tertidur nyenyak.
Ibra memeluk sang istri dari belakang. Sikap Ibra seolah lama tidak berjumpa dan ingin selalu menumpahkan rasa rindu yang lama terpendam. Di tariknya ke sofa dan Laras duduk di paha Ibra.
Kedua tangan Laras melingkar di leher sang suami yang manja ini. "Nggak sibuk? biasanya suka sibuk dengan laptop." Menatap kedua mata Ibra dan terkunci di sana.
"Lagi pengen menyibukkan diri dengan istri ku yang cantik ini." Tangannya melepas kerudung yang menempel di kepala sang istri.
Tampaklah rambutnya yang diikat. Jari Ibra melepas ikatan rambut tersebut sehingga terurai lah rambut indah Laras. dan di belainya.
"Berarti kalau aku gak cantik, gak mau ya?"
"Maulah. Lagian banyak salon untuk mempercantik wajah mu ini." Ibu jari Ibra berpindah mengelus pipi Laras yang putih bersih.
"Iya, sih asal ada uang, yang jelek pun berubah cantik," bibir Laras menunjukkan senyumnya. "Bahkan, karena uang juga pria jadi wanita begitupun sebaliknya."
"Itu benar sayang." Ibra semakin larut dalam belaiannya. Menatap lekat sang istri yang masih dalam pangkuannya. Lalu menggerakkan netra matanya tertuju ke bagian bawah yang tampak subur mengembang. Membuat pikirannya traveling ke mana-mana.
Laras tersenyum nakal. Sedikit memajukan tubuhnya ke depan, Ibra menyeringai senang. Namun ketika mau meraup, Laras menjauh dan beranjak. Namun tangan Laras di tarik oleh sang suami yang makin penasaran, kalau belum mendapatkan yang ia inginkan.
Akhirnya terduduk kembali di paha sang suami. Tangan Laras kembali melingkar di pundak Ibra. Sementara kedua tangan Ibra membingkai wajah cantik yang berada di hadapannya. "Jangan suka bikin aku penasaran sayang." dengan sura yang sedikit bergetar.
Kedua netra matanya saling menatap sendu. Manik matanya tergambarkan penuh gelora rasa yang menyesakkan dada. Jantung keduanya sama-sama berdebar. Dadanya dag dig dug bagai bedug yang ditabuh.
Dengan sangat lembut bibir Ibra mendarat di landasan yang ia suka. Seiring waktu yang terus bergulir, mereka pun terus terhanyut terbawa perasaan. Saling ******* dan menikmati satu sama lain.
"Aku mencintai mu sayang!" bisik Ibra tepat di telinga Laras.
Membuat perasaan Laras melayang ke angkasa. Di tambah dengan sentuhan lembut yang terus menelusuri leher jenjangnya dan berakhir di bukit nan indah, tempat Ibra bermain-main menghilangkan penat dan menaikan hasratnya.
__ADS_1
"Sudah ya?" mengusap dada sang suami.
Namun tak semudah itu Ibra mengindahkan perkataan sang istri. Ia terus menikmati tempat yang bersih, lembut dan empuk itu. Serta tangan Ibra membimbing tangan Laras dan di arahkan pada sesuatu yang sudah bangun itu. Seketika ia memejamkan mata saat merasa terbuai hebat.
Laras merasa geli-geli gimana gitu, namun demi membahagiakan sang suami. Ia menurut dan ikut menikmati. Walupun merasakan tak puas dan dalam hati yang paling kecil merasa kecewa.
Keduanya menggelinjang. Beranjak seketika mendengar suara baby boy bangun.
"Ck, uuh ..." desah Ibra penuh kecewa. Namun harus bagaimana?
"Sayang duluan bersih-bersih, biar baby boy aku yang urus." Kata Ibra sambil merapikan pakaian bawahnya terutama di pinggang.
Laras mengangguk sambil memegangi kancing di bagian dadanya. Mengayunkan langkah kakinya ke kamar mandi, dengan perasaan yang gugup atau tegang. Paska di kejutkan suara baby boy.
Ibra menggendong baby Satria penuh kasih sayang dan gemas. "Jagoan Papi sudah bangun ya? hem ... jagoan Papi suka benget bikin Papi dan Mammy kaget. Kasih kesempatan dong ... Papi dan Mammy berduaan. Baby Satria ganggu terus ah." Anak itu bengong aja menatap wajah sang ayah.
****
Rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat. Matanya memerah, Jodi tampak kesal dan marah, ingin sekali berbicara saat ini juga. Namun niat itu ia urung, mengingat sudah malam lagian tadi ketika ia pulang mbok Darmi tengah beberes di dapur dan sang ayah sedang menonton televisi.
Lagian besok ada acara di mension Ibra dan mereka wajib datang. Gak enak bila saat ini Jodi mendatangi sang ayah dan pasti akan terjadi bersitegang. Bila ia katakan sekarang.
Jodi langsung menelpon seseorang untuk mencari tahu siapa mbok Darmi sebenarnya. Tulus kah mencintai sang ayah? atau cuma untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Jodi tak habis pikir, kenapa sang ayah berani melakukan sesuatu yang di luar jalur. Pikirnya.
Dalam hati Jodi terus beradu argumen. Di otaknya terus kepikiran. Kenapa dan kenapa sang ayah melakukan sesuatu yang tak senonoh, dengan mbok Darmi.
Ekspresi wajah Jodi masih tampak marah, kesal. Sedih dan kecewa, bercampur menjadi satu. Kecewa kenap sang ayah melakukan seperti itu, mencerminkan sesuatu yang tak baik untuk anak-anaknya.
Jodi duduk bersandar. Melamun di sofa kamarnya, malam yang semakin larut dan beranjak menyambut pagi. Matanya tak bisa tidur sama sekali, terus kepikiran yang dilakukan sang ayah yang ia pikir keluar jalur. manik mata Jodi pun sesekali mengeluarkan cairan bening dan membasahi kedua pipi.
__ADS_1
Sampai menjelang subuh, mata Jodi ngantuk namun sulit terpejam dan akhirnya segar kembali dengan terkena air wudhu yang Jodi ambil.
Jodi bersimpuh memohon ampun atas segala dosanya dan kedua orang tua nya juga. Jodi pun menangis, terbayang jelas apa yang dilakukan sang ayah dan mbok Darmi. Kalau saja boleh di katakan. Jodi pasti akan berkata. "jijik."
Selepas itu. Jodi membawa langkahnya ke lantai bawah, di sana bertemu dengan Caca, calon istrinya, yang tampak penasaran dengan bukti yang Jodi dapatkan. Namun Jodi menggeleng, seolah tak ada apa-apa.
Caca terheran-heran. Masa sih tak dapat bukti apapun. Dari rahasia pak Mulyadi dan wanita misterius itu. Namun Caca tak berani bertanya kembali. Ia meneruskan langkahnya untuk ke kamar calon mertuanya.
Pak Mulyadi tampak segar, ketika Caca masuk. Sepertinya sudah mandi dan berganti baju dengan yang baru, bersiap untuk kondangan pada Laras nanti siang.
"Pagi Tuan?" Caca menghampiri jendela untuk membuka gorden gorden yang berada di kamar pak Mulyadi tersebut.
"Pagi juga suster." Balas pak Mulyadi sembari mengulas senyum di bibirnya.
"Gimana sudah mandi ya Tuan?" Caca menghampiri sambil memungut pakaian kotor milik pak Mulyadi.
"Sudah, suster. Dan saya mau belajar jalan menggunakan tongkat suster, mumpung pagi."
Caca segera menyimpan cucian, lantas mengambil tongkat pak Mulyadi untuk belajar berjalan. Dan Caca pun membantunya mengangkat tubuh pak Mulyadi agar berdiri tegak.
Dengan sabar Caca terus membimbing pak Mulyadi berjalan-jalan menggunakan tongkat. Karena sudah masuk jam sarapan pagi. Pak Mulyadi diajak untuk sarapan terlebih dahulu.
Di meja makan, sudah ada Jodi dengan tatapan aneh pada sang ayah. Pandangan Jodi yang datar penuh kecewa. Bibirnya sudah tak sabar ingin mengutarakan isi hati. Apalagi setelah melihat mbok Darmi berada di sana tuk sarapan bersama.
"Apa kabar pagi ini Nak?" sapa pak Mulyadi pada putranya.
Jodi tak lantas menjawab, ia melamun dan memasukan sendok ke mulutnya. "Baik, yah." Pada akhirnya Jodi menjawab walau dengan nada malas.
Pak Mulyadi dan mbok Darmi tak curiga sama sekali kalau kelakuan mereka berdua sudah tercium oleh Jodi ....
__ADS_1
****
Sudah membaca kan? jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya, dan jangan lupa juga. Fav "Bukan Suami Harapan"