
Secara tiba-tiba, Dian memeluk Laras seraya berucap. "Makasih ya Laras. Kamu sudah memberikan kami calon baby," dengan suara serak. "Saya tidak akan melupakan kebaikan dirimu, dan saya akan membayarnya."
Laras terdiam seribu bahasa. Ia tidak tau harus berkata apa, yang ia rasakan saat ini adalah gundah. Dilema, bingung harus berbuat apa? apa hanya coba menjalani, menikmati alurnya? atau terus mengikuti permainan orang kaya ini!
Dian melepas pelukannya. "Saya sangat bahagia mendengar kau hamil. Sungguh hadiah yang luar biasa untuk kami berdua," ucapnya sambil senyum getir. Pipinya basah dengan air mata.
Ibra sangat terharu melihat Dian, memeluk Laras. Dian begitu nampak bahagia akan kehamilan Laras itu, sambil menyilang kan tangan ia berkata. "Iya, itu benar! kami sangat amat bahagia mendengar berita baik itu. Kamu harus pandai menjaga janin saya, jangan sampai ke napa-napa. Jaga kesehatan, makan juga diperhatikan," rentetan perkataannya Ibra.
Semua melirik kearah Ibra yang masih mematung di tepi tempat tidur Laras.
Zayn turun dari duduknya, menepuk pundaknya Ibra. "Peluk bro, kasih selamat atau apa ke? cium penuh kebahagian ke. Apalah, bukan mematung saja, kaya benda mati saja kau ini ah. Gak seru nih?"
Ibra tersenyum pada Zayn. Perlahan mengayunkan langkahnya mendekati Laras. Dian mundur menjauh dari Laras, seolah mempersilahkan Ibra mengutarakan isi hatinya pada Laras.
Ibra duduk di tepi tempat tidur, berhadapan dengan Laras. Ibra ingin sekali memeluk Laras dengan sangat erat, untuk menumpahkan segala yang ia rasakan saat ini, namun ia sok jaim. Apalagi ada Dian, rasanya harus sedikit jaga sikap.
Sebagai gantinya Ibra menggenggam tangan Laras mengusapnya lembut. "Saya ... sangat bahagia sekali dengan kehamilan mu ini, dan saya sangat berterima kasih sekali. Kau sudah mau mengandung anak dariku?" menatap Mata Laras yang bergerak menatapnya juga. Tatapan mereka pun bertemu.
Detik kemudian Laras menunduk sedih. Ia pikir orang-orang di sana hanya menginginkan baby yang ada dalam rahimnya saja, tanpa menginginkan dirinya. Laras mengusap air mata yang jatuh kepangkuan nya.
"Sayang? aku ke kamar ya! mau bersih-bersih dulu, badan rasanya lengket banget. Dan lelah, pengen cepat istirahat," ucap Dian sembari mengusap pundak suaminya.
Ibra menoleh. "Oh iya, istirahat saja di kamar."
Dian mencium pipi kanan dan kiri Ibra. Sebelum pergi dan melambaikan tangan pada Laras.
Setelah Dian keluar dari kamar tersebut. Zayn mendekati Ibra dan Laras. "Selamat ya? atas kehamilan mu! oya gimana kaki mu? katanya tadi pagi kecelakaan," tanya Zayn pada Laras.
Laras mendongak. "Oh, lumayan! sudah mendingan kok."
"Mana emang?" tanya Zayn lagi.
Laras menarik selimut, menunjukkan kakinya yang luka. "Tadi pagi sih panas banget dan perih. Tapi sekarang sudah mulai berkurang, juga lukanya mengering."
"Oh, syukurlah," sambung Zayn, jarinya mendekat hendak menyentuh luka di kaki Laras. Namun.
Plakk!
Tangan Ibra memukul tangan Zayn hingga membuat Zayn meringis. "Apaan kau ini? sakit tau! tak kira-kira jadi orang," gerutu Zayn sambil mengibas-ngibas, kan tangan dan meniupnya.
"Kau yang gak kira-kira, istri orang main sentuh saja. Kau pikir barang apa? gerutu Ibra tak kalah dari Zayn.
Laras bengong melihat keduanya, sementara Susi menahan tawa di pojokan sana.
"Kan gak jadi nyentuh nya juga!" sahut Zayn.
"Iya, gak jadi ... sebab saya pukul! coba saya biarkan pasti kau sudah mengelus kaki istri saya, iya, kan? saya tahu isi otak mu itu," cerocos Ibra. ternyata bawel juga.
"Belum apa-apa juga!" ucap Zayn.
"Dasar ... sudah! pulang sana?" mengibaskan tangan, menyuruh Zayn pulang. "Kau juga, biar Nyonya muda saya yang nungguin. Kamu pulang saja." Ibra mengedarkan pandangan pada Susi juga. Menyuruhnya keluar.
"Ups, kita di usir Sus. Hik, hik,hik." Zayn pura-pura menggosok mata nangis. "Yuk Susi, kita keluar saja. Biarkan mereka berdua di sini, mungkin tuan mu, mau ngasih pupuk pada benihnya itu," ujar Zayn melenggang mengajak Susi keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Brugg!
Ibra melempar bantal pada Zayn. Jijik melihat dan mendengar tingkah konyolnya.
Susi membuntuti Zayn dari belakang sambil terkekeh. "Tuan Zayn, apa maksudnya memberi pupuk? emangnya tuan Ibra menanam benih apa? sayuran ya! tapi, kan di kamar Nyonya muda tidak ada tanaman." celetuk Susi setelah menutup pintu kamar Laras.
Zayn hentikan langkahnya, memutar badan memandangi Susi. "Kau sudah menikah?"
"Susi menggeleng. "Belum Tuan."
"Kau menikah dulu! baru kau akan tahu arti dari ucapan ku tadi, oke?" sambil menggeleng, kemudian Zayn meneruskan langkahnya.
****
Di kamar Laras. Ibra membuka jas nya, ia masukan gantungan. Laras turun dari tempat tidur, mau ke kamar mandi. Ambil air wudhu. Sudah masuk magrib dan terdengar sayup-sayup suara adzan.
Ibra mendekat. "Mau kemana?" tangannya memegang tangan Laras. Laras menatap Ibra yang tampak cemas.
"Mau ke kamar mandi, mau ngambil air wudhu," sahut Laras.
"Aku bantu ya?" dengan sekilas Ibra menggendong tubuh Laras di bawanya ke kamar mandi.
Laras terkesiap, ketika Ibra langsung menggendongnya tanpa menunggu jawaban. Namun ia hanya bisa mengalungkan tangan di pundak Ibra. Serta menatap wajah tampan suaminya.
Ekor mata Ibra, melihat Laras yang terus menatap. "Jangan menatap begitu! nanti jatuh cinta," ucap Ibra sambil mengulum senyumnya.
Laras menggercapkan matanya, merasa malu. Mengalihkan pandangan ke lain tempat, sampai di kamar mandi. Perlahan Ibra turunkan tubuh Laras.
"Mau kencing dulu atau apa gitu?" tanya Ibra pada Laras.
"Tidak apa. Saya tungguin, biar kamu gak harus jalan dulu." Ibra terus menatap Laras yang nampak malu dan serba salah.
"Tuan, aku mau pipi ... s dulu," tambah Laras Sedikit memekik.
"Ya, pipis saja. Tinggal duduk," lanjut Ibra.
"Iih ... malu, keluar dulu," lirih Laras.
"Kenapa malu? saya sudah lihat juga," pura-pura lihat ke langit-langit.
"Aish ... Tuan, malu ya malu. Sudah keluar dulu ... lagian kalau aku sudah wudu terus di gendong. Nanti wudu saya batal dong, masa Tuan gak ngerti itu?"
Ibra mengedarkan kembali pandangannya pada Laras. "Iya-iya ... oke saya keluar, hati-hati Nona," akhirnya Ibra mau mengerti. dia pun keluar dari kamar mandi.
"He ... ran, gak pernah wudu apa?" Laras menggeleng. Dan mulai aktifitas dalam toilet.
Beberapa saat kemudian. Laras keluar dari kamar mandi, dengan sangat pelan melangkahkan kakinya di lantai. Ibra hanya memperhatikan dari tempat duduknya.
Laras mengenakan mukena, lantas menunaikan kewajibannya. Menjalankan sholat magrib. Ibra memandangi setiap gerakan yang dilakukan Laras.
Selesai salam dan berdoa. Laras menoleh Ibra. "Sedang apa. Tuan di situ? apa Taun tidak sholat!"
Ibra mengalihkan pandangannya. "Eh ..." menggaruk kepala yang tidak gatal. "Sa-saya! saya mau mandi dulu," bergegas ke kamar mandi.
__ADS_1
Laras bengong. Melihat langkah Ibra, seraya menggeleng. "Dasar aneh, di tanya malah pergi."
Laras melepas mukenanya. membereskannya ke tempat semula. Kemudian duduk di tepi tempat tidur. Ingat Ibra sedang mandi. Laras berniat mengambilkan baju ganti.
"Jangan siapkan baju ku, biar saja aku ambil sendiri, kamu istirahat saja," teriak Ibra dari kamar mandi.
"Loh, tahu dari mana? aku akan mengambil bajunya. Orang aku masih duduk di sini kok," gumam Laras.
Setelah Selesai mandi dan memakai pakaiannya. Ibra duduk dekat Laras.
"Tadi dokter kulit, ngapain saja?" tanya Ibra melirik Laras.
"Haa? ya ... periksa," sahut Laras.
"Iya, diperiksa. Kamu diapain aja?" tanya Ibra lagi, sambil memasukan buah kupasan Laras ke mulutnya.
"Iya, diperiksa. Terus dikasih obat." ulang Laras.
"Ck ... maksud saya! di sentuh atau apa gitu?" berdecak kesal.
"Aduh ... iya dong Tuan ... di sentuh. Emangnya harus gimana, cuman di pelototi saja gitu? gak mungkin, kan!" sahut Laras.
Ibra menatap tajam. "Jadi! dokter itu menyentuh kaki kamu? mengelusnya." Ibra kesal.
Laras mengangguk. "Emang nya cukup dengan di pandang ya Tuan? seperti di hipnotis." Laras menatap kearah Ibra.
"Ih-ih, ih ... kalau gitu saya tadi pulang! gak ada satupun yang boleh menyentuhnya," gumam Ibra pelan.
"Apa Tuan? bicara apa. Gak jelas." Laras penasaran.
"Ah, nggak, gak bicara apapun." Ibra menggeleng, sambil kembali memakan buah.
"Ada dua dokter yang memeriksa ku, kenapa cuma satu saja yang anda tanyakan?" sambung Laras.
"Haa ... emang kenapa?" balik nanya.
"Karena ... dokter satu lagi, menyentuh banyak bagian tubuh ku. Seperti perut, kepala--"
"Masa bodoh, karena dia dokter wanita. Bukan laki-laki!" sambung Ibra.
"Emangnya kenapa? apa Tuan cemburu?" tanya Laras heran. Pikirnya Ibra pasti cemburu! buktinya tadi sama Zayn juga, begitu.
"Apa? saya cemburu! no-no enak saja bilang saya cemburu." Ibra menoleh, kemudian mengalihkan pandangan ke sembarang tempat. Ingin menyembunyikan perasaannya yang memang tidak suka bila ada laki-laki menyentuhnya.
Laras menatap Ibra sambil menyembunyikan senyumnya. "Bilang aja cemburu! gak usah ngelak gitu napa sih?" batinnya. Akhirnya tatapan mereka bertemu.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Beberapa kali pintu diketuk dari luar. Mengejutkan keasyikan mereka yang saling pandang ....
__ADS_1
,,,,
Terima kasih banyak🙏, kalian sudah menyukai tulisan yang recehan ini. Tanpa kalian aku tidak berarti apa-apa! hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk semuanya. Semoga selalu dalam lindungan sang maha pencipta dan di mudahkan segala urusan Aamiin 🤲🤲 Kalian adalah penyemangat ku.