
Kedua tangannya yang memegangi bantal sofa, bersiap menutup wajah Laras. Mungkin tujuannya supaya Laras kehabisan napas.
Laras berontak ketika bantal itu di tekan menutupi wajahnya, terutama menutupi napasnya.
Laras memegang tangan orang itu, kepalanya terus bergerak, berontak agar orang itu melepaskannya.
"Em ... lepas ... em." Laras terus berontak dan akhirnya berteriak meminta tolong. "To-tolong ...."
"Ada apa sayang? sayang, sadar. Ini aku sayang! bangun." Suara Ibra tepat didekat telinga Laras.
Kemudian Laras membuka matanya, wajahnya kembali pucat paseh. Keringat dingin membasahi pelipisnya, namun yang depannya itu hanya ada suaminya. Ibra, sementara orang itu tidak ada.
"Kenapa sayang?" ulang Ibra yang terkesiap mendengar Laras teriak-teriak minta tolong.
"Mana dia?" Laras celingukan. mencari orang yang tadi mau menyakiti dirinya.
"Siapa? dari tadi juga gak ada siapa-siapa selain aku sayang ..." ucap Ibra heran. Melihat Laras yang amat ketakutan.
"Orang yang memakai baju hitam dan ingin membunuh ku!" tatapan Laras penuh ke khawatiran.
"Sayang, di sini. Hanya ada aku, gak ada siapapun. Kamu cuma mimpi sayang."
"Mimpi? aku takut," rintihan Laras. Menggenggam tangan Ibra kuat-kuat.
"Aku, ada untuk mu. Jangan takut ataupun khawatir ya." Mengusap pucuk kepala Laras lembut.
"Aku takut. Aku takut," wajahnya gusar, penuh ketakutan.
"Jangan takut, itu cuma mimpi."
"Tapi, berasa benar sekali. Dia membungkam mulutku, dengan bantal sofa." Lirihnya Laras lagi.
"Percayalah, sayang, tidak ada orang lain selain aku." Ibra terus meyakinkan Laras kalau yang dia alami barusan itu cuma mimpi.
Ibra membelai rambut Laras yang masih tampak ketakutan. cuph! mengecup keningnya. berkali-kali. "Bobo sayang. Tenang saja, ada aku."
Kemudian Ibra naik dan berbaring di brangkar sebelah Laras dengan sangat hati-hati. Agar Laras tak terganggu. Namun dapat Ibra peluk sambil tiduran. "Bobo sayang, aku peluk. tidak satupun yang bisa menyakiti mu."
Laras mengangguk pelan, menyusup di dada bidangnya Ibra sambil memejamkan kedua mata.
Ibra menempelkan bibirnya di kening sang istri. Ia pun perlahan menutup kelopak matanya. Mencoba tidur, pejamkan mata. Dalam pikirannya melayang dengan urusannya di Surabaya, terus membayangkan jika sesuatu yang parah menimpa sang istri dan putranya yang masih di dalam perut. Sesekali tangannya mengusap perut sang istri yang mulai tenang lagi.
Malam yang dingin itu berlalu begitu saja. Ibra dan Laras tidur saling berpelukan, kebetulan cuma mengenakan selimut rumah sakit saja. Kadang mereka terjaga dari tidurnya, namun segera tidur lagi dan lagi. Sampai pagi menjelang, barulah mereka bisa tidur nyenyak.
Sampai akhirnya. waktu menunjukkan pukul 80.30 wib. "Maaf, Tuan. kami mau periksa kondisi pasien. Tolong anda berpindah dulu ke sofa," suara suster yang akan memeriksa Laras.
Ibra menggosok matanya. memicingkan mata melihat suster dan sang istri bergantian. "Baiklah." Ia beranjak turun berpindah ke sofa.
Laras yang sudah bangun, ketika mendengar derap langkah suster yang akan memeriksa kondisinya itu. Menatap kasihan pada suaminya yang kurang tidur, bahkan meninggalkan kerjaannya. Hanya demi dirinya.
Selesai memeriksa, Laras di suruh makan bubur khas rumah sakit. "Nanti setelah sarapan. Jangan lupa obatnya diminum." Kata suster tersebut.
"Iya, suster. Aku akan ingat itu." Laras mengangguk.
Suster keluar. Ibra mendekat memegang tempat bubur untuk menyuapi Laras sarapan. "Aa buka mulutnya? biar cepat sembuh."
"Setelah ini, kamu mandi ya? bau. Aku juga pengennya mandi badan dah lengket gini," gumam Laras.
"Iya, nanti kalau Susi sudah datang. Membawakan pakaian buat kita." Ibra memberikan obat untuk Laras.
__ADS_1
"Ya, udah cari sarapan dulu kalau gitu," sambung Laras. Setelah menelan obatnya.
"Iya, nanti Susi bawakan sarapan juga sayang ..." tambah Ibra. Menyimpan mangkuk di meja.
"Aku mau ke toilet. Tolong dong?" ucap Laras penuh harap pada Ibra.
Ibra langsung berdiri, menyingsingkan lengan kemejanya. Kemudian menggendong tubuh Laras. Dibawanya ke toilet. Tangan satu Laras merangkul pundak Ibra, dan yang satunya membawa infusan.
Tidak lama di toilet. Mereka pun sudah kembali ke tempat semula, Laras, Ibra baringkan lagi. "Istirahat lagi sayang."
Laras membekas dengan anggukan. Kemudian memejamkan matanya. Mencoba istirahat lagi.
Sementara Ibra berdiri dekat jendela, sibuk dengan ponselnya. Ia meminta Zayn untuk mengantar laptopnya, ia akan selesaikan urusannya lewat online aja. Dan Ibra meminta agar Zayn lebih berinisiatif menyewa bodyguard untuk sang istri bila sudah sembuh nanti.
Ia menoleh sang istri yang sudah istirahat kembali. Ibra hampiri di tatapnya lekat dan penuh kasih, dia belai pipi yang halus dan bersih itu. Tiba-tiba Laras bergumam. "Tolong-tolong? siapa kamu jangan ganggu saya!"
"Sayang, ini aku sayang," ucap Ibra yang menatap wajah Laras sangat lekat dan tangannya ia genggam erat.
Laras terperangah bangun. "Astagfirullah ..." mengusap wajahnya berkali-kali.
"Mimpi lagi sayang?" tanya Ibra lembut.
Laras menoleh dengan tatapan takut. Mengangguk seraya berkata. "Iya, untung cuma mimpi."
Lalu Ibra memberi minum air putih. "Minum dulu, biar lebih tenang hem." Dengan tutur yang lembut serta penuh perhatian, Ibra merawat Laras.
Susi sudah datang membawa semua pesanan Ibra. Ibra pun segera mandi dan berganti pakaian, kemudian menyantap makanan yang Susi bawa dengan lahapnya. Dari tempat berbaring nya Laras melukis senyumnya melihat Ibra makan sangat lahap.
"Aku gak di kasih ya?" ungkap Laras pada Ibra yang fokus makan.
"Ha, mau?" Ibra menoleh pada sang istri, dan Laras balas dengan anggukan.
Ibra bawa makannya ke dekat Laras. Kemudian ia suapi. "Cepat sembuh sayang ya?" lirihnya Ibra penuh harap.
Ibra mengerti dengan lirikan mata sang istri, yang lalu menatapnya kembali. Telapak tangannya mengusap rahang sang suami dangan lembut, bibir pun saling mengulas senyum.
Ibra menoleh ke arah Susi. "Sus ... tolong berbalik. Belakangi kami."
"Ha? buat apa," tanya Susi, sambil mengerutkan keningnya keheranan.
Ibra kesal. "Jangan banyak tanya, lakukan saja napa sih?"
"Oh, baik Tuan." Susi pun membalikkan badannya memunggungi Ibra dan Laras.
"Jangan membalikan badan, sebelum saya perintahkan." Tambah Ibra dengan tegas.
Laras mengulum senyumnya. Lalu Ibra dan Laras saling pandang penuh rasa kangen, Beberapa hari kemarin berjauhan. Tidak buang waktu lagi, Ibra langsung mengecup **** Laras yang berwarna merah jambu natural itu. Tangan Ibra mengunci tengkuk Laras, sementara tangan Laras melingkar di leher Ibra.
Namun, tiba-tiba Laras sedikit mendesis. "Aw ...."
Ibra terkejut. "Kenapa sayang?"
"Sakit," memegangi lukanya itu.
"Aku akan minta obat yang paling bagus untuk mu, bentar ya? aku akan menemui dokter yang menangani mu," lalu Ibra melihat ke arah Susi juga dan berpesan. "Sus jangan ke mana-mana, saya mau keluar sebentar."
Susi berbalik dan menoleh ke arah majikannya. "Baik Tuan."
Sebelum pergi, jemari Ibra mengusap bibir Laras dengan senyuman puas. Lantas membelai rambutnya, kemudian mengayunkan langkahnya, untuk menemui dokter.
__ADS_1
"Ini Nyonya, buahnya." Susi membawa potongan buah pada Laras.
"Makasih Sus." Sambil mengulas senyum tipisnya.
Zayn datang, membawa laptop milik Ibra. "Bos mana?" tanya Zayn ketika tidak mendapati Ibra di kamar tersebut.
"Ih, Tuan Zayn. Bukannya mengucap salam, main nyelonong aja, Susi kaget tau ..." gerutu Susi sambil mendelik pada Zayn yang baru saja datang.
Zayn hanya menatap tanpa ekspresi pada Susi. Lalu mengalihkan pandangan pada Laras yang duduk bersandar. "Gimana keadaan Nona muda sekarang?"
"Baik, lebih baik." Jawab Laras di sela makan buahnya.
"Syukurlah, mana Bos?" tanya Zayn mengulang pertanyaan yang tadi sempat diajukan pada Susi.
"Ke ... ruang dokter, sebentar juga kembali. Tunggu aja gak akan lama kok," sahut Laras dengan lirihnya.
Benar saja, baru aja Zayn mau duduk di sofa sambil menyambar potongan buah di masukan ke mulutnya. Ibra datang dengan membawa obat yang lebih bagus. "Apa tuh? Bos."
"Obat, enak saja istri ku diberi obat biasa!" jelas Ibra sambil berjalan menghampiri Laras.
Menyimpan obat di meja. "Bentar lagi diminum obat yang ini, yang asal buang saja," ucap Ibra pada Laras. Tangannya mengusap kepala sang istri. "Aku berbincang dengan Zayn."
Laras balas dengan anggukan. Kemudian Ibra duduk di sofa yang berada di hadapan Zayn. Sebelum mengawali obrolan, Ibra mengambil gelas mineral dan meminumnya. Membuka laptop lantas menyalakannya.
Zayn menatapi pria yang duduk di sebrang meja. Kemudian Zayn membuka obrolan. "Ternyata ada motif lain di balik insiden kemarin."
Ibra mendongak, menatap tajam ke arah Zayn. "Apa?"
"Bukan sekedar ingin membegal, tapi juga ingin mencelakai Nona muda." Suara Zayn pelan dengan ekor matanya melirik ke arah Laras.
"Berarti ada dalang dong?" selidik Ibra pelan juga.
"Ada," sahut Zayn dengan yakin.
"Siapa?" selidik Ibra lagi, merasa penasaran. Siapa yang jadi dalang kemarin.
"Nah, itu dia. Mereka masih bungkam soal itu." Tambah Zayn kembali.
"Jangan, main-main dengan ku. Kalau tak ingin berhadapan dengan ku. Pengecut, beraninya sama perempuan." Gerutu Ibra sambil mengepalkan lengannya.
Hati Ibra mencelos. Dan amarahnya kembali naik, giginya mengerat. Rahang pun mengeras, matanya memerah. Tangan mengepal kuat. "Tuntaskan semuanya jangan sampai terlewatkan. Sampai ke akar-akarnya."
"Iya, itu pasti dan masih di usut, sabar aja," gumam Zayn.
Ibra mengangguk, setuju dengan omongan Zayn.
"Kalau gini caranya, anda harus menjaga ketat istri dan anak anda. Aku heran! kalau mereka musuh mu. Kenapa cuma Laras yang mereka incar? Dian, tidak. Dia aman-aman saja, ya ... amit-amit sih!" ujar Zayn penuh keheranan. Lalu ia terdiam.
Ibra kembali mendongak dengan tatapan mengandung arti, mengerutkan keningnya seakan berpikir. Ada benarnya juga omongan Zayn. "Lalu siapa dalang dari ini semua yang sebenarnya?"
Zayn mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.
Ibra tak ingin berandai-andai ataupun mengotori hati dengan prasangka buruk. Kemudian Ibra melanjutkan kesibukkan tangannya di papan laptop. Manik mata pun fokus ke layar.
Zayn beranjak. "Oke. Saya akan kembali ke kantor."
"Yaps, makasih semuanya?" ucap Ibra melirik Zayn yang sudah bersiap pergi.
Ketika Susi melihat Zayn keluar dari ruangan tersebut. "Tuh, kan ... Tuan Zayn mah datang gak salam, pulang juga tanpa salam, aneh deh aku," gerutu Susi ....
__ADS_1
****
Hi ... apa kabar siang ini? semoga ada dalam lindungan yang maha kuasa ya semuanya. Mana nih suaranya yang setia dengan SKM ??