
Kini Ibra sudah berada di kamar, di bawah sinar lampu yang temaram. Ia menatap seseorang yang tengah tertidur dengan pulasnya.
Ibra mengecup keningnya dengan hangat. Mengelus perut Laras, seraya berkata. "Papi sudah pulang sayang." Janin itu seolah mendengar dan merasakan sentuhan dari Ibra. Sehingga ia menari-nari di dalam. Ibra pun merasakan gerakannya.
Ibra, tersenyum mengembang di kala merasakan gerakkan itu.
Kemudian ia bangkit membuka jasnya, ia simpan di tepi tempat tidur. Kembali naik merangkak, mendekati wajah Laras. Lagi-lagi mencium pipinya. "Sayang." membelai pipinya dengan punggung jarinya.
Merasakan ada yang menyentuh pipinya, Laras mencoba membuka matanya yang sepet banget tang disebabkan ngantuk. memicingkan matanya sebelah melihat ke arah seseorang yang terus membelai pipinya.
Alangkah terkejutnya Laras. setelah sadar siapa yang ada di hadapannya. "Kamu? bukannya ke Semarang, kenapa ada di-di sini?" menggosok matanya, kali saja salah lihat.
"Iya, sayang. Aku sudah pulang lagi, kan menggunakan pesawat, jadinya cepat," sahut Ibra. mengecup kembali kening Laras yang menutup wajah dengan sepuluh jarinya.
Laras, menurunkan jarinya dan bangun duduk bersandar. "Aku gak mimpi, kan?" menepuk pipinya berkali-kali. Sebab ia pikir, sekalipun pulang pasti langsung ke mension bersama Dian.
"Tidak, sayang. Kamu gak mimpi," ucap Ibra meyakinkan, ia pun merubah posisinya menjadi duduk. Kedua tangan Ibra membingkai wajah Laras dan sedikit ia angkat, mendongak.
Tanpa membuang waktu Ibra ******* bibir Laras yang lembut dan lembab, lumayan lama pagutan itu berlangsung. Seolah sudah lama tidak bertemu dan kini waktunya menumpahkan rasa rindu itu.
"Sayang, percaya, kan ini bukan mimpi? aku pulang untuk mu, juga anak kita," tangan Ibra turun mengusap perut Laras.
Laras memijat keningnya. "Tapi, siapa yang membukakan pintu malam-malam gini?"
"Nggak ada, aku punya akses sendiri untuk masuk di saat keadaan seperti ini, biar tidak mengganggu orang lain," jawab Ibra. Dengan tatapan yang sangat lekat.
"Masa sih?" tanya Laras ragu.
"Bener, gak ada yang bukain pintu. Aku masuk sendiri." timpal Ibra kembali dengan lirih.
Tangannya menarik tengkuk Laras dan mendekatkan dengan wajahnya. Menyatukan lagi benda favoritnya. Lagi-lagi ******* nya dengan gerakan sangat lembut.
Namun ketika sedang asik. ada suara yang datangnya dari perut Ibra, gruak gruak ... membuat ritualnya terhenti.
Laras menjauhkan wajahnya menggerakkan matanya melihat ke sumber suara seraya tersenyum dan berkata. "Abang lapar?" tanya Laras lalu menggerakkan manik matanya melihat wajah Ibra yang menatap ke arah dirinya.
"Iya, belum sempat makan dari siang sebelum ke bandara sama Zayn.
"Ya, Allah ... kasian. Aku masakin ya?" Laras mengibaskan selimut lalu turun.
Ibra menangkap tangan Laras. "Jangan deh, kamu pasti ngantuk. Biar besok pagi aja aku makannya."
"Tapi, nanggung. Aku sudah bangun juga, lagian aku cuma mau ngangetin aja, gak akan lama kok." Laras menarik tangannya dari genggaman tangan Ibra.
"Ya, sudah ... baiklah bidadari ku," ucap Ibra. Menunjukkan senyumnya.
"Ngomong-ngomong, sudah salat isya belum?" tanya Laras mengingat habis perjalanan.
"Belum sayang," sahut Ibra, baru ingat salat dia, lagian gak ada yang mengingatkan.
"Kalau gitu, salat dulu sana, aku mau ke dapur dulu," lirih Laras kembali.
"Iya, sayang."
Lalu Laras mengayunkan langkah kakinya pergi ke dapur, mau hangatkan masakan buat Ibra.
Sementara Ibra, bergegas ke kamar mandi. Mengambil air wudu yang sebelumnya buang air kecil terlebih dahulu.
Sesaat kemudian Ibra keluar, menghampiri alat salatnya. Tidak buang waktu lagi ia menunaikan kewajibannya yang masih bolong-bolong.
__ADS_1
Laras. Mengambil makanan, ia letakkan di sebuah nampan lalu ia bawa ke kamarnya. Jalan pun sedikit mengendap takut mengganggu orang yang sedang tidur.
Membuka pintu juga sangat pelan ... banget. Ibra yang sudah selesai membaca doa menoleh dan segera menghampiri, untuk mengambil nampan atau menutup pintu.
Laras berdiri, di depan pintu memandangi Ibra yang mengenakan sarung dan peci. Lebih bersahaja aja kelihatannya.
Ibra menutup pintu dan menguncinya, kemudian mengambil nampan. Ia simpan di meja, mendekati saklar. Menyalakan lampu.
Laras duduk di sofa dan Ibra pun duduk di dekatnya. Diam-diam Laras mengukir senyuman manisnya itu.
"Kenapa senyum-senyum gitu?" selidik Ibra, dengan tatapan yang sangat lekat.
"Nggak," jawab Laras sambil mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauknya, tak ketinggalan sayurnya. Lantas Laras hendak menyuapi Ibra dengan sangat tulus. "Bismillah ...."
Ibra tak lantas membuka mulutnya, ia tatap wanita yang nampak tulus melayaninya itu. Barulah ia membuka mulutnya, untuk menerima suapan demi suapan dari tangan Laras.
Ibra makan begitu lahap. "Sayang sudah makan?" tanya Ibra sembari mengupas sebuah jeruk.
"Sudah, tadi sama mama dan papa." Jawabnya.
Ibra menyuapi Laras buah jeruk yang barusan ia kupas. Ia mengakhiri makannya dengan segelas air putih.
"Mau nambah gak?" menatap Ibra yang menyimpan gelasnya.
"Sudah, cukup. Makasih ya?" tangan Ibra mengusap pipi Laras.
"Makasih buat apa?" membereskan bekas makan barusan.
"Makasih, karena kamu sudah tulus melayani ku!" ucap Ibra memperlihatkan senyumnya.
"Oh, bukankah itu sudah sepantasnya seperti itu?" jawab Laras dengan sangat lirih.
Laras mengangguk, kebetulan ia sudah beberapa kali menguap tandanya ngantuk sudah mulai menyerang kembali.
Ibra berdiri dan sedikit membungkuk meraih tubuh Laras, di gendongnya ala bridal style. Membuat Laras terkesiap dengan reflek mengalungkan tangan di pundak Ibra dan kedua netra mata Laras memandangi wajah pria itu.
"Kalau mau gendong itu bilang dulu, biar aku gak kaget. Lagian aku bisa jalan sendiri!" ucap Laras dengan lirih.
Ibra hanya membalas dengan senyuman. Dengan sangat pelan, Ibra membaringkan tubuh Laras di atas tempat tidur. Kemudian ia pun membaringkan dirinya disampingnya sang istri, tarik selimut. Biar menutupi tubuh keduanya, Ibra menghujani wajah Laras dengan kecupan kecilnya dan berakhir di bibir.
Tangan nakal tak luput bermain di squishy kembar Laras yang kian mengembang, ia singkirkan penutupnya walau hanya sekedar untuk me-re-mas dan ******** nya. Laras memejamkan kedua matanya antara ngantuk dan menikmati permainan squishy dari Ibra. Akhirnya mereka pun tertidur saling berpelukan satu sama lain.
****
Siang itu di rumah Laras ramai orang-orang yang memasang tenda dan dekor. Ibra sedang mengobrol dengan ayahnya. Sementara Laras sedang berkutat di dapur bersama mama mertua dan Susi, untuk menjamu yang sedang bekerja di rumah itu.
Tiba-tiba, Ibra menghampiri Laras. Memeluknya dari belakang, menempelkan dagu di ceruk leher Laras. "Sayang?"
"Apa sih ... malu di lihat mama juga Susi," netra mata Laras melirik mama mertua dan juga Susi, dengan wajah bersemu merah.
"Nggak pa-pa lah. Istri aku ini, ngapain mesti malu?" dengan nakalnya, Ibra menelusuri ceruk leher jenjang itu dengan bibirnya.
Laras menggelinjang dan memutar badan menghadap ke arah Ibra. Mendorong dada Ibra agar menjauh. "Malu," ekor matanya bergerak ke samping.
Ibra menyeringai, lucu melihat ekspresi Laras dan ingin terus menggodanya. Jari Ibra menjepit dagu Laras. "Iya sayang, iya." Cuph malah mencium pipinya.
Bikin wajah Laras makin memerah, apalagi melihat Susi dan mama mertua menoleh ke arah dirinya. Ia mendelik pada Ibra yang malah tertawa, tak segan Laras mencubit perut Ibra. Menjadikan Ibra memekik. kesakitan.
"Aw ... sakit sayang ... ini kdrt nih." Ibra mengusap perut dan ia tarik baju bawahnya melihat kulit perut yang terasa panas itu.
__ADS_1
"Sayang, lihat, sampai merah gitu? ah panas," ucap Ibra sembari merintih kecil.
Laras, segera menggerakkan kedua netra matanya. Melihat bekas cubitan jarinya batusan, benar saja nampak merah. Ia cemas dan sontak menyentuh kulit yang merah itu. "Abang maaf. Masya Allah ... gak sengaja." Laras bergegas ke kamar dan detik kemudian muncul dengan membawa salep di tangan.
Mendekati Ibra yang kini duduk di kursi meja makan. Laras berlutut dan menyingkap baju Ibra bagian bawah. "Sekali lagi maaf ya, aku gak sengaja."
Laras mengolesi tempat yang merah itu dengan salep. Manik mata Laras terus bergerak melihat ke arah wajah Ibra yang tak hentinya tersenyum.
"Nggak pa-pa sayang, sudah diobatin juga kok." Tangan Ibra membantu mengangkat bahu Laras supaya berdiri.
Bu Rahma mendekat dan duduk di kursi sebelah. "Paling itu akal-akalan Ibra saja biar di manja sama mantu Mama," ucap bu Rahma. aberlaga sinis.
"Ih ... Mama beneran loh merah," timpal Laras menoleh mama mertua.
"Jangan diobati, sayang ... malah tambahin, biar kapok." Bu Rahma menyeringai pada Laras.
"Ah, Mama jahat, he he he ..." gumamnya Laras.
"Iya nih, Mama bukannya belain putranya malah kebalikannya, jahat itu namanya Mah ..." sambung Ibra pada mama nya.
"Habis putra Mama nakal ya, banyak cewenya." Bu Rahma pura-pura ketus.
Sontak Ibra menoleh. "Mama kapan aku banyak cewenya, dari masih muda juga aku tipe laki-laki setia, kan Mama tahu itu?"
"Iya sih, tapi kenapa sekarang banyak istrinya hayo?" tanya bu Rahma.
"Aku tuh, tipe pria setia, kalau sekarang banyak istrinya. Itu terpaksa! terpaksa terjerumus ke banyak lembah yang nikmat, yang membuat aku enggan keluar dan ingin selalu menikmatinya ha ha ha." Ibra tertawa lebar.
"Kecanduan itu namanya, menyelam sambil minum air. Nakal kamu ya? mainin cewe. " bu Rahma menjewer kuping Ibra.
Ibra mengusapnya. Dengan masih menarik bibirnya lebar memperlihatkan gigi putihnya. "Karena keadaan Mah ... dan sekarang tinggal menjalani aja. Istri ku sekarang ini, kan cuma dua."
Angkat telepon ....
Angkat telepon ....
Angkat telepon ....
Suara dering ponsel Ibra. Langsung mengambil dari sakunya, muncul nama Dian di layar.
Ibra menekan ikon yang warna ijo, sebelumnya menoleh Laras yang sedang memunggunginya. Dia sedang menata masakan di meja.
Ibra: "Halo? ada apa."
Dian: "Sayang, jemput aku ya? aku tidak tahu alamat di sana, jemput ya. Aku di mension."
Sambungan telepon terputus. Ibra bengong, ia bingung dengan permintaan Dian. Bingung antara jemput atau tidak?
Bu Rahma yang masih di sampingnya bertanya. "Siapa sayang?"
Ibra menoleh. "Dian, minta di jemput. Katanya mau ke sini."
"Oh ... jemput saja, ajak ke sini. Semoga aja kalian menjadi lebih rukun lagi." Lirik bu Rahma.
Ibra menghela napas dalam-dalam lalu ia hembuskan sangat panjang, kemudian menghampiri Laras. "Sayang!"
"Hem ada apa?" sahut Laras sambil menoleh ke arah Ibra yang berjarak dua langkah darinya ....
****
__ADS_1
Hi ... reader ku semua, setelah membaca jangan lupa like & komennya, vote & rating nya juga. Terima kasih🙏