Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Laras hamil


__ADS_3

Orang itu mengarahkan kamera nya pada objek yang dia tuju! ya itu Mery dan pasangannya yang mulai bercumbu mesra. Tak perduli di tempat umum. hasil jepretan kameranya di kirimkan pada Zayn, rupanya dia orang suruhan Zayn untuk memata-matai Mery. Atas permintaan bos nya. Ibra.


Tersirat sebuah senyuman puas dari bibirnya, kemudian orang itu meninggalkan tempat tersebut.


****


Di restoran.


Perlahan Yulia membuka amplop yang kini ada di tangannya. Jantung yang sedari tadi terus berdegup kencang, saat ini ditambah lagi keterkejutannya, terhadap dengan apa yang sedang dia lihat. Dimana foto-fotonya bersama seorang laki-laki! berada di dalam amplop itu. Bahkan bukan cuma adegan biasa saja, tapi lebih parah dari itu. Adegan di ranjang pun ada di situ.


Menutup mulutnya yang menganga tidak percaya! kenapa gambar itu bisa ada di tangan Ibra? wajahnya semakin pucat. "Ti-tidak! ini tidak mungkin? ini bukan aku sayang," elak Yulia sambil menggeleng, menatap Ibra.


Ibra memandangi Yulia dengan tatapan yang penuh jijik. Yulia semakin dibuat mati kutu saat ini. "Kamu gak bisa mengelak lagi! apapun alasan mu, utarakan saja di pengadilan nanti. Mulai saat ini saya ceraikan kamu talak tiga, dan kau bukan istriku lagi. Bereskan semua barang mu!" ungkap Ibra dengan nada setenang mungkin. "Sampai jumpa di pengadilan."


Sontak Yulia semakin terkesiap, ia berdiri mengikuti Ibra yang beranjak menggeser kursinya. Bruk! Yulia berlutut memeluk kaki Ibra, menangis tersedu. "Aku mohon! jangan ceraikan aku, semua tidak benar hik, hik, hik. Aku akan berusaha lebih baik, jadi istri yang baik! seperti yang kamu mau. Aku janji."


Ibra yang berdiri dengan kaki dalam pelukan Yulia, memejamkan mata. "Lepaskan! semua sudah terlambat, talak sudah ku ucap. Semua yang ingin kau ucapkan, katakan saja nanti oke?" melepas tangan Yulia secara paksa.


Menjadikan Yulia duduk bersimpuh di lantai. Menangis sejadi-jadinya, menyesali semua yang telah dia lakukan. "Sayang ... jangan tinggalkan aku? jangan cerai aku, tunggu!" namun Ibra sama sekali tidak menghiraukan dirinya. Dia terus berjalan tergesa-gesa, menghampiri mobilnya.


Yulia teriak-teriak histeris. Brakk! brak! brak ... isi meja. Yulia sapu dengan tangannya, sehingga semua beterbangan, pecah berserakan. Bersama sisa-sisa makanan. Semua hancur berantakan.


Orang-orang yang di sana pada kaget, melihat amukan Yulia. Mereka tidak menyangka kalau wanita yang sedari tadi kelihatannya bermasalah, semakin menjadi. Dan seperti orang yang sedang stres.


Bukan cuma mejanya saja, tapi juga meja orang pun kena imbas kemarahan Yulia, dia tariknya Brak ... brak ... brak! semua isi meja orang berjatuhan, pemiliknya pun marah-marah. Yulia diamankan oleh scurity di sana.


Ibra yeng meninggalkan Yulia sudah berada di mobil, kebetulan makanan pun sudah ia bayar dengan kartu kredit. Sementara waktu ia tertegun di depan kemudi, hingga akhirnya memutar kemudinya. Dan melaju cepat menuju kantor.


****


Sore yang indah! di kediaman Laras. Dia masih belum berani menapakkan kakinya ke lantai sendiri, mau ke kamar mandi saja di bantu Susi yang hari ini dengan setia menemani. Sesekali bu Rika datang untuk melihat keadaan Laras.


Seperti saat ini dia datang bersama wanita yang lagi-lagi berseragam putih, bu Rika berdiri dekat Laras yang duduk bersandar. Habis melaksanakan sholat ashar.


"Nyonya muda! saya datang bersama dokter kandungan, untuk memeriksakan anda. Mengingat keadaan anda yang kurang sehat, dan tanda-tanda kalau anda sedang hamil," ujar bu Rika dengan hormat.

__ADS_1


Laras mengangguk dan tersenyum ramah, pandangan nya menyapu setiap orang yang ada di sana.


Dokter kandungan itu mulai memeriksa Laras, menanyakan semua keluhannya. Laras jawab seadanya.


"Apa sering merasa keram di perutnya, lalu mual-mual. Dibarengi juga pusing?" tanya dokter tersebut.


"Iya, dok." Laras mengangguk.


"Apa ... sudah pernah menggunakan tespek?" tanya dokter lagi.


Laras menggeleng sambil nyengir. "Saya tidak, tidak tahu cara menggunakan nya!" nyengir memperlihatkan gigi putihnya.


Dokter tersenyum merasa lucu! sedewasa ini tidak tahu cara menggunakan tespek.


"Jadi yang kemarin saya kasih, tidak Nyonya muda pake?" tanya bu Rika heran.


Lagi-lagi Laras menggeleng. "Mau tanya! malu," jawab Laras. Menunduk malu.


"Ya, sudah." ucap dokter sambil mengambil tespek dan memberi tahu caranya secara detail. Kemudian melanjutkan pemeriksaannya.


"Selamat ya? anda saat ini sedang hamil dan usia kehamilan anda menginjak sekitar tiga minggu. Sekali lagi selamat ya?" ungkap dokter kandungan tersebut.


Susi bersorak! begitupun bu Rika. "Hore ... akhirnya, di mension ini akan ada baby, anaknya tuan dan Nyonya muda," teriak Susi. Mereka berdua berpelukan. Saking bahagianya dan terharu sampai bu Rika dan Susi meneteskan air mata.


"Akhirnya ... tuan memiliki keturunan juga. Ya Tuhan ... begitu besar kuasa mu," gumam bu Rika mendongakkan wajahnya ke atas. Lagi-lagi mereka berpelukan.


Sementara Laras hanya bengong, entah apa yang tengah dia rasakan? ada rasa tidak percaya menyelimuti hatinya, ada rasa gusar. Sedih, bingung. Gimana kalau dia lahir nanti? ia harus menyerahkan anak itu pada Dian dan Ibra. Sedangkan dia tidak ada hak untuk mengakui atau mengurusnya, begitu pikir Laras saat ini.


Tangan Laras mengusap perutnya, namun matanya tidak terasa berkaca-kaca. "Ya ... Allah, apa benar aku hamil?" gumamnya dalam hati.


"Selamat ya. Nyonya muda? aku sangat bahagia ... banget mendengarnya, dan aku orang pertama yang akan mengasuhnya," ucap Susi dengan wajah sumringah.


Bu Rika menghampiri. "Iya. Nyonya! selamat ya, tuan pasti bahagia mendengarnya."


Laras tersenyum samar. Rasa was-was kembali menghantui batinnya, hamil. Melahirkan, baby yang lucu. Bayangan itu menari-nari dalam benaknya.

__ADS_1


Dokter menjelaskan larangan makan apa saja ketika hamil muda dan tidak boleh ngapain saja. Dia jelaskan secara detailnya, kemudian berpamitan untuk pulang.


Bu Rika kembali mengantar dokter itu, dan dia akan secepatnya memberi kabar baik ini pada Ibra dan Dian. "Kabar baik ini harus segera sampai pada tuan dan nyonya Dian, ya. Aku harus segera memberi tahu mereka berdua."


Bu Rika mengetik pesan chat untuk Ibra dan Dian, yang isinya kalau Laras sudah diperiksa oleh dokter ahli. Dan hasilnya ... sangat memuaskan! sesuatu yang lama di tunggu-tunggu akhirnya kesampaian juga. Laras hamil.


Ibra yang masih di kantor! mendapat pesan dari bu Rika, langsung tertegun. Seakan tidak percaya kalau Laras beneran hamil. Ternyata ia bisa juga menanam benih di rahim Laras, sekarang lebih terbukti kalau dirinya tidak mandul. Seperti rasa yang menghantuinya selama ini. Jelas-jelas yang mandul itu Dian. Selama ini orang tua Dian menganggap Ibra lah yang tidak bisa punya anak, mereka tidak tahu bahwa putrinya lah yang divonis dokter, mandul.


Ibra mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya. "Terima kasih Tuhan ... ternyata aku punya keturunan juga."


"Bos, bos. Yulia ngamuk di resto!" suara ribut Zayn datang-datang.


Ibra menoleh. "Ya urus saja, gak usah ribut napa?" dengan santainya.


"Kau gila apa? bagai manapun dia itu istri mu." Zayn bingung dengan bos sekaligus sahabatnya itu.


Sambil menggoyang kursi yang sedang ia duduki Ibra berkata. " saat ini bukan urusan ku lagi, dia sudah aku talak tiga!"


Zayn, melototkan matanya dengan sangat sempurna! dia tahu kalau akan ada perceraian, tapi tidak menyangka. Kalau Ibra akan menjatuhkan talaknya tiga sekaligus. "Apa? tidak salah!"


Ibra mengangguk ditambah dengan senyuman yang nampak bahagia.


"Mengpeng ngora keneh ( Mungpung masih muda) mengpeng urang can batian! (mungpun kita belum ada keturunan!) sok geura serahken talak tilu sakalian. (ayu bercerai talak tiga sekalian." Zayn menggoyangkan pinggulnya, jari di goyang di atas. Kepala pun ikut bergoyang, dan di akhiri suara tawa merasa lucu.


Ibra menggeleng sambil tertawa juga. "Aku ada kabar baik! yang harus kamu tahu."


"Apa tuh?" Zayn mendekat. Menatap penasaran.


Sebelum mengucapkan sesuatu. Ibra menarik napas dalam-dalam. "Laras hami."


"Ha ... istri muda mu hamil? hore ... akhirnya junior mu tidak tumpul ya?" celetuk Zayn sambil bersorak dan bertepuk tangan merasa kegirangan. Ikut bahagia akan kebahagian yang Ibra rasakan.


"Hore ... sebentar lagi aku jadi pa-man," suara Zayn me-melan, ketika melihat seseorang berdiri depan pintu. Sama sekali tidak terdengar suara ketukan pintu sebelumnya ....


,,,,

__ADS_1


Aku ingin tahu seberapa banyak sih yang suka dengan novel ini? jadi setiap yang baca silakan like dan komen ya 🙏ini untuk penyemangat aku buat nulis. Kalau suka? bilang suka! kalau tidak suka? tidak apa! aku tidak memaksa. Yang penting aku terus berkarya.


__ADS_2