
Susi: "Ada apa Tuan Zayn?"
Zayn: "Nyonya muda mana?"
Susi: "Ada, ada apa emang?
Zayn: "Ish ish ish ... berikan telepon nya pada Nyonya muda, jangan banyak tanya."
Susi: "Tapi, Nyonya sedang ada tamu, Tuan ...."
Zayn: "Ya, Tuhan ... berikan sekarang juga!" menghentak.
Susi cemberut dan mendekati Laras Yang sedang bicara dengan tamunya. "Maaf Nyonya, ini telepon dari Zayn." Susi memberikan ponselnya.
Laras menoleh, dan mengambil ponsel Susi. "Halo, ada apa?"
Zayn: "Itu tamu yang membawa BMW ya?
"Iya, aku gak beli mobil, salah alamat kali," sahut Laras kekeh.
Zayn: "Itu, suami mu yang belikan, terima saja dan tandatangani saja."
Laras terkesiap. "Dia yang belikan? Baru, dia gak bilang mau belikan, yang dia pernah dia bilang. Cuma mau kirim mobil, itu saja."
Zayn: ""Iya, itu. Sudah tandatangani saja, saya sibuk. Barusan pihak yang mengantar katanya yang bersangkutan menolak. Sudah saya masih banyak urusan."
Laras bengong dan mengembalikan ponselnya pada Susi. Kemudian menerima kertas tersebut dan mendatangani nya.
"Selamat Nyonya, sekarang. Mobil sudah menjadi milik anda," kata seseorang itu sembari menjabat tangan dan menyerahkan kuncinya pada Laras.
Dia perintahkan kawannya, untuk menurunkan mobil tersebut. Kemudian mereka pun pulang, tinggallah Laras dan Susi. Berdiri dekat mobil baru yang masih ada pita nya.
"Sus, coba letakkan tangan mu di sini," Laras meraih tangan Susi, ia tempatkan di dadanya yang terus berdegup kencang.
"Aduh, kenapa tuh Nyonya. Berdebar gitu?" tanya Susi.
"Nggak tau Sus, yang jelas tidak percaya kalau akan mendapat mobil ini. Sebab, Tuan tidak memberi tahukan ku soal ini."
Pandangan Susi tertuju ke mobil, begitu antusias dan mengagumi. "Nyonya, pake jalan-jalan yu. Tapi jangan jauh-jauh dulu, cukup keliling komplek aja."
Laras menatap ke arah Susi. "Boleh, tapi ... ada bensinnya gak?"
"Gampang, Nyonya ... dekat komplek ada pom kok," jelas Susi.
Laras mencopot pita, lalu memasuki mobil tersebut. Susi masuk dan duduk di sebelah Laras.
Laras menyalakan mesin lalu memutar kemudi dan memundurkan mobil perlahan. "Pagar di kunci dulu Sus, Biar gak jauh juga."
Susi nyengir dan turun kembali setelah mobil berada di luar pagar. Detik kemudian naik kembali. "Hem ... adem, suara mesinnya juga halus ..."
Laras tersenyum, dengan tetap fokus nyetir. Tidak lama kemudian Laras putar arah untuk pulang.
"Wah ... nyaman banget mobil nya Nyonya, hebat. Tuan ngasih hadiah yang mahal sama Nyonya muda." gumam Susi.
Laras tidak merespon perkataan Susi, ia sendiri tidak meminta ini. "Aku gak gila harta. Aku harus mencari kerja, agar tidak terlalu tergantung dengan uang Ibra." Batin Laras sambil memasukan mobil ke halaman.
Susi turun untuk menutup pagar, namun tak jadi karena ada sebuah mobil mewah datang dan menyalakan klakson nya. Rupanya mobil Ibra yang datang.
Laras yang sudah, keluar dari mobil. Memandangi kedatangan Ibra, Ibra turun dan bergegas menghampiri Laras serta memeluk tubuhnya sangat erat.
Laras terkesiap menerima pelukan dari Ibra yang benar-benar kuat. Seolah lama ... tidak bertemu.
"Aku merindukan mu sayang?" sebentar melepaskan, namun detik kemudian mendekap erat kembali.
"Ih ... apaan sih? malu di lihat orang." Gumam Laras sambil celingukan.
Susi bengong, berdiri dekat pagar yang baru saja ia tutup. Namun dalam hati ia tersenyum bahagia, melihat majikannya. pulang ke tempat Laras.
Ibra, melepas tubuh Laras dan menoleh ke arah Susi yang masih berdiri memandangi ke arah mereka dengan mesem-mesem. "Susi. Bawakan laptop saya di mobil ya?"
Susi mengangguk, mengiyakan perintah sang majikan. Berjalan mendekati mobil dan mengambil yang Ibra perintahkan.
Kemudian menuntun tangan Laras ke dalam, setelah berada di ruang tengah. Ibra hentikan langkahnya, berhadapan dengan Laras yang juga menghentikan langkahnya. Telapak tangan Ibra mengusap perut Laras lembut. "Apa kabar sayang?"
Netra mata Ibra bergerak melihat Susi yang sebentar lagi masuk ke dalam rumah. Lalu Ibra merangkul pinggang Laras agar masuk kamar, di sela langkahnya Laras menoleh ke arah Susi yang memberi senyuman dan menggerakkan jarinya. Memberi tanda oke.
Ibra mengunci pintu kamar, setelah berada di dalam dan kembali merangkul bahu Laras, menghujani pipi, keningnya dengan ciuman kecil.
Laras berusaha melepaskan diri dari pelukan Ibra. Namun pelukan Ibra terlalu kuat untuk di lepas, dia benar-benar ingin melepas rindu, menumpahkan segala rasa pada Laras sehingga lupa bertanya tentang mobil yang ia berikan.
"Kenapa Abang kesini, bukannya ke kantor?" suara Laras dari dalam pelukan Ibra.
"Abang rindu, sama kamu dan anak kita." Jawabnya penuh arti dan menempelkan dagunya di pucuk kepala Laras.
"Tapi, bukankah di kantor sedang banyak kerjaan?" gumam Laras kembali. Semakin menenggelamkan kepalanya di dada Ibra dan perlahan kedua tangannya membalas pelukan Ibra. Menyatukan kedua tangannya di balik punggung pria bertubuh tegap itu.
"Itu, bisa aku urus dari rumah sayang." Lirihnya Ibra kembali.
"Tumben, kamu nyetir sendiri?" kemana asisten mu yang bikin hampir pecah kepala ku itu," mendongak melihat wajah Ibra. Dan kesempatan itu tidak dibuang begitu saja oleh Ibra.
Ia langsung menangkap dagu Laras dan menyatukan bibir mereka. Laras sedikit menghilang, namun kepalanya terkunci. Sehingga tak mampu lagi menghindar, akhirnya menikmati yang Ibra berikan.
Laras memejamkan matanya. Tak segan Ibra mengecup kedua kelopak mata Laras tanda sayang, menarik kembali tubuh Laras ke pelukannya. "Zayn Sibuk, ditambah lagi sedang mengurus SIM untuk mu."
"Oh," Laras membulatkan mulutnya, dan semakin membenamkan wajahnya dalam pelukan Ibra. Ia bahagia ternyata belum juga dua hari Ibra sudah mengunjunginya.
__ADS_1
"Gimana suka dengan mobilnya?" tanya Ibra sambil membelai rambut Laras.
"Suka, tapi aku gak minta itu. Tapi ... terima kasih lah," ucap Laras ragu.
"Sayang ... apa kata orang? kalau istri seorang CEO bepergian naik angkutan umum? dikiranya tentu aku yang tidak adil. Aku gak ... gak mau di pandang seperti itu."
"Ya, makasih aja," gumam Laras masih dalam posisi yang sama.
"Tanda makasih nya mana?" bisik Ibra.
Laras mendongak, menatap lekat ke wajah Ibra. "Maksudnya?"
"Di sini boleh, di sini juga apalagi, boleh." Ibra menunjuk ke bibir dan pipi. "Harus ikhlas tapi."
Tatapan Laras semakin lekat. Kemudian mencium pipi Ibra, Ibra menyeringai puas. Mendapat ciuman hangat dari Laras.
Setelah sekian waktu menumpahkan rasa rindu. Ibra mengajak Laras ke ruang tengah, menanyakan laptop nya pada Susi.
"Susi, laptop saya mana?" tanya Ibra.
Susi yang sedang menonton televisi menoleh majikannya. "Ini di meja Tuan." menunjuk meja, mata Susi bergerak melihat tangan Ibra yang masih menggenggam tangan Laras.
"Bikinkan saya air jus ya?" sambung Ibra.
"Baik, Tuan." Susi ngeloyor ke dapur.
Ibra membuka laptopnya dan mulai bekerja. Sementara Laras cukup duduk mendampinginya.
"Aku ... mau bantu Susi masak dulu," ucap Laras sambil berdiri.
Ibra menoleh sejenak. "Jangan capek-capek."
"Iya," Laras pergi meninggalkan Ibra yang sibuk dengan laptopnya.
Laras berkutat bersama Susi memasak buat makan siang. Setelah matang Laras tata di meja dengan sangat rapi.
Laras membawakan air putih buat Ibra yang tadi di ruang tengah, tapi setelah sampai di sana kosong. "Loh, kemana orang itu?" Laras celingukan, melihat ke depan mobilnya ada.
Langkah Laras menuju kamarnya, kali aja Ibra berada di sana. Rupanya Ibra berpindah ke kamar, dia duduk di sofa dengan mengenakan kemeja saja. Jasnya sudah ia gantung dekat lemari.
Ibra melirik ke arah Laras yang baru datang dan berdiri di pintu. "Kenapa sayang berdiri di situ?"
"Em ... aku kira, kemana? di ruang tengah gak ada!" Laras menyimpan segelas air putih di meja.
"Di luar panas sayang," dengan menggerakkan netra matanya ke gelas yang di meja.
"Makan siang udah siap! mau mandi dulu gak?" tanya Laras sembari mendudukkan dirinya di sofa sebelah.
"Boleh, tapi pakan santai aja, siapkan nya. Pakaian yang ini biar aku pake lagi nanti nanti."
"Iya, nanti sore aku balik ke kantor, terus pulang ke mension. gak marah, kan?"
Sejenak Laras diam, menggigit bibir bawahnya. "Nggak, buat apa marah?"
Ibra menutup laptop nya dan mendekat ke posisi Laras. Mengelus pipinya dan mengusap perut Laras. "Besok siang, aku ke sini lagi. Pokoknya ... Abang akan datang tiap hari, menemui istri Abang dan anak kita."
Laras hanya menggerakkan kedua netra matanya melihat Ibra. Membelai rambut Ibra yang dekat telinganya, makin ke sini kelihatan kalau Laras sudah mulai merasa sayang pada Ibra. Perhatian dengan tulus, bukan cuma keterpaksaan karena melayani suami adalah kewajiban. Tapi ... memang dari hatinya.
Ibra menarik bahu Laras ke pelukannya. "Aku sangat merindukan mu di sisi ku, aku gak sanggup jauh dari dirimu!" batin Ibra tanpa mengutarakannya pada Laras.
"Em ... katanya mau mandi? mandi sana, terus salat. Katanya mau tobat." Laras melepas rangkulan tangan Ibra.
"Baiklah, Abang mau mandi dulu," cuph, kecupan hangat mendarat di pipi Laras. Kemudian Ibra beranjak dari sofa, berjalan menuju kamar mandi.
Sampai di dekat pintu berbalik badan. Menoleh Laras yang tengah menunduk. "Sayang, temenin dong, mandiin?"
Laras menoleh, menatap sesaat. "Aish ...anak kecil apa?" gumamnya pelan, namun berdiri dan mengikuti Ibra yang masuk kamar mandi. Ibra tersenyum puas pada Laras yang mengekor di belakang.
Laras mengisi air di bahthub, Ibra membuka pakaiannya, ia gantung biar rapi sebab mau di pakai lagi nanti sore.
"Sudah, ganti saja, bau loh. Lagian ada ganti juga, kecuali di sini gak ada ganti, kiranya gak ada ganti pun. Di toko masih banyak," ucap Laras sembari duduk di tepi bahthub.
Ibra mendekat. "Ya ... sudah, terserah istri ku saja. Ganti ya ... ganti, aku nurut saja sama yang ngurus aku."
"Buruan ah, mandinya ... keburu siang nih," keluh Laras, mengulum senyumnya.
"Emang siang, siapa yang bilang malam?" sahut Ibra hendak memeluk sang istri.
"Ih ... buruan ..." suara manja Laras sambil mendorong pelan dada Ibra.
"Iya, iya ... bawel." Ibra masuk bahthub. Dengan jahilnya menarik pinggang Laras menjadikannya terjatuh ke pangkuan Ibra yang sudah lebih dulu berada di air.
Laras terkesiap dan kesal, tidak menyangka kalau Ibra akan menarik tubuhnya ke dalam air. Ia mengusap wajahnya yang kena cipratan air. "Apaan sih? ah ... jadi basah nih ah."
"Nggak pa-pa, sama Abang ini!" Ibra tertawa sambil menciprat kan air ke tubuh Laras yang bagian atas.
"Ih ... lagi malas basah, tau gak?" Laras kesal. Mencebikkan bibirnya.
Melihat Laras cemberut, Ibra langsung memeluk tubuhnya, sambil membisikan kata-kata. "Jangan marah sayang, nanti tambah cantik dan aku tambah gemas melihatnya. Rasanya pengen menerkam kamu habis-habisan."
Siapa sih? yang tidak akan meleleh mendengarnya. "Emangnya, kamu itu harimau apa?" wajah Laras yang tadi di tekuk jadi berubah merona, senang dan mesem-mesem.
"Hem ... bisa jadi." Mereka saling bertukar pandangan, saling tatap.
"Ih ... tadinya aku gak mau basah. Kalau sudah gini gimana coba?" dengan nada manja.
__ADS_1
"Ya ... gimana lagi, lanjut aja mandi. Sini aku bukakan bajunya." ucap Ibra menyeringai nakal.
"Nggak mau!" Laras berdiri dan duduk di tepi. Mengambil body wosh untuk Ibra.
Ibra memandangi Laras yang berpakaian basah kuyup, sehingga mencetak setiap lekuknya. Berkali-kali ia menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan.
Merasa diperhatikan sampai tak berkedip, Laras berusaha menarik pakaiannya yang mengikuti lekuk tubuhnya. Ibra tersenyum lucu kalau melihat Laras bersikap malu-malu gitu.
Setelah merasa cukup Ibra membersihkan tubuhnya di bawah shawor. Mengajak Laras untuk bareng malah menggeleng. "Ayo dong sayang, nanti masuk angin."
"Nanti saja. Kamu aja duluan." Gumamnya Laras, namun Ibra tarik dan di peluknya di bawah kucuran air.
Laras memukul dada Ibra yang bidang, dan tidak sengaja melihat sesuatu yang menyeruak di bawah sana. Membuat Laras menutup wajahnya dengan sepuluh jari yang ia punya.
Ibra terkekeh, tertawa kecil. "Kenapa sayang?"
Laras membalikkan badan memunggungi tubuh Ibra yang melepas pakaian d****nya mengganti dengan handuk.
"Itu, yang bikin aku pusing dengan pertanyaan Susi. Dasar asisten mu yang bikin onar." Ucap Laras masih memunggungi.
Ibra nyengir. "Terus gimana? apa sekarang masih dipertanyakan juga."
"Nggak, Sudah aku jelaskan. Daripada nanya terus, kan?" jawab Laras sambil memicingkan mata. Memastikan kalau Ibra sudah handukan.
Dengan nakal, Ibra membuka di saat Laras menoleh Sontak Laras paling kan muka lagi sambil bergidik. Ha ha ha ... Ibra tertawa lepas.
Kini keduanya sudah rapi dan wangi. Dan sudah menunaikan salat juga, kemudian Ibra duluan ke ruang makan. Diikuti Laras dari belakang, Ibra menunggu Laras sampai. Menarik kursi buat sang istri.
"Makasih?" ucap Laras menarik bibirnya tersenyum manis.
"Sama-sama." barulah Ibra duduk di dekatnya. Laras mengambilkan piring beserta isinya untuk Ibra. Setelah itu barulah mengambil untuk dirinya.
"Susi ... ayo makan?" suara Laras memanggil Susi yang entah di mana.
"Iya, Nyonya muda, duluan saja. Susi lagi nanggung nih." Suara Susi dari belakang.
"Baiklah," Laras dan Ibra makan berdua, menikmati hidangan yang tersedia di meja makan. sesekali saling menyuapi satu sama lain.
Dari belakang, Susi mengintip keromantisan kedua majikannya. "Biarlah, mereka berdua menikmati suasana yang romantis itu. Tanpa ada yang menggangunya, kasian, kan? Nyonya muda. kalau tuan jarang berkunjung." Gumam Susi dalam hati.
Saat ini Ibra kembali berkutat dengan laptop nya di sofa yang berada di kamar. Laras yang mulanya menemani, akhirnya berpindah ke tempat tidur. Tidak kuat dengan rasa kantuk yang menyerangnya.
Ibra menoleh ke arah sang istri. "Mau tidur siang kah sayang?"
"He ...em, ngantuk banget," membaringkan diri di atas tempat tidur sambil memeluk guling.
Huam ... Ibra pun merasakan lelah di matanya, menutup laptop lalu menghampiri sang istri. Berbaring di dekatnya dan memeluk dari belakang, menempelkan dagunya di bahu Laras.
Laras tak merespon, kelopak matanya tertutup saking ngantuk nya. Ibra mengecup leher putih sang istri sangat lembut.
"Ngantuk!" gumam Laras tanpa bergerak sedikitpun.
Dengan nakal, tangan Ibra meraba yang sangat ia favoritkan. Ia bermain-main di puncak gunung yang indah itu sambil memejamkan matanya, menikmati sesuatu keindahan yang ada dalam genggaman. Hingga pun ia akhirnya tertidur lelap di samping tubuh sang istri.
Sore ini langit berwarna merah. Sebuah lukisan indah sang maha kuasa. Di sebuah rumah minimalis itu, Laras sedang membantu Ibra bersiap berangkat ke kantor. Dan kemudian pulang ke mension.
"Oya, kamu punya no rekening kak Dian, kan?" tanya Laras sembari memasangkan dasi.
"Ada, buat apa?" sahut Ibra ragu.
"Em ... aku, mau kembalikan uang kak Dian. Rasanya ... aku serakah juga, bila aku mengambil harta pribadinya juga." Menatap kedua netra mata Ibra dalam-dalam.
Ibra menautkan alisnya. "Berapa uang Dian yang sudah kamu terima?"
"Sekitar 40 juta, uang nya masih utuh kok, awalnya aku pakai buat aku sumbangkan ke panti sekitar 10 juta. Tapi ... dari uang Abang juga aku gak pakai, jadi aku pakai untuk menutupi uang Dian."
"Oh, nanti saja aku yang bayarkan sama dia, uang yang sudah ada. Di simpan saja." Ungkap Ibra sambil mengusap bahunya Laras.
"Nggak, gak mau! aku akan kembalikan uang yang ada. Aku berasa jahat, mengambil hartanya juga suaminya. Sementara aku tidak mau menyerahkan anak ini padanya." Suara Laras lirih dan menatap wajah Ibra. Yang juga menatapnya lekat.
Ibra mengerti maksud Laras. "Baiklah, nanti aku kirimkan nomor rekeningnya Dian. Tapi ... kamu masih punya simpanan, kan?"
"Masih ada kok, lagian aku mau cari kerja untuk mengisi waktu juga," jelas Laras.
"Apa? kerja, gak-gak, nggak! tidak boleh, kamu tidak boleh bekerja. Kamu cukup di rumah saja. Rumah dan isinya, mobil aku sudah belikan. Jadi buat apa bekerja, uang aku isikan, jangan bekerja!"
Laras terduduk lesu. "Aku tidak ingin terlalu tergantung sama kamu. Aku ingin bisa mengisi waktu ku, aku tidak ingin di bilang wanita matre."
"Siapa yang bilang kamu wanita matre sayang? buktinya kau ingin kembalikan uang Dian. Apa yang aku berikan, itu kewajiban dan aku tahu, kamu menikah dengan ku bukan karena harta. Tapi karena di jebak."
Seketika Laras membelalakkan matanya pada Ibra, kok Ibra tahu tentang itu. Apakah ini juga rencananya. "Aku tidak mau menjual anak ku, sama Dian ataupun sama kamu! tidak akan."
Ibra mendekat. Menangkupkan kedua tangan di wajah Laras. "Tidak ada yang akan mengambil anak kita sayang," netra mata Ibra bergerak-gerak menatap netra mata Laras yang indah itu.
"Anak itu, akan tetap jadi milik mu, milik kita. Percayalah sayang." Cuph mengecup *****nya Laras dengan sangat lembut, yang sebelumnya terus saja merajuk.
Angkat telepon!
Angkat telepon!
Suara dari ponsel Ibra yang berada di saku celananya ....
****
Terima kasih buat para reader semua yang tetap setia menunggu novel ini up🙏 jangan lupa like, komen, vote dan rating nya juga, biar aku tambah semangat lagi.
__ADS_1