
Setelah selesai sarapan. Dian bersiap pergi kerja. "Mom, aku pergi dulu ya? ingat, perginya sama aku. Jangan sendiri."
"Iya, Mommy ingat. Mommy mau belanja dulu buat baby nya Laras." Bu Lodia mengangguk.
Dian beranjak dari tempatnya. Membawa langkah kaki ke tempat dimana mobilnya terparkir, tidak membuang waktu lama Dian mengemudikan mobil kesayangan nya itu. Menuju tempat ia bekerja.
Tiba-tiba mobil Dian mogok. "Sial kenapa mobil ku mogok sih?" Dian berusaha menepikan mobilnya. Kemudian ia turun ngecek keberadaan mobilnya itu.
"Uuh ... gimana nih?" rupanya ban belakang yang sebelah kiri kempes. Mana gak bawa ban serep, bengkel jauh pula. Hanya bisa mengelus dada dan menarik napas yang panjang.
Ketika mau menelpon pihak bengkel langganan nya yang dulu. Ada sebuah motor menepi, menghampiri Dian yang berdiri di samping mobilnya tampak kebingungan.
Lantas pengendara motor pun turun, seorang pria tinggi tegap sekitar 170cm. Sama tingginya dengan sang mantan, Malik Ibrahim. Kalau wajahnya gak kelihatan, sebab memakai helm dan masker.
"Kenapa Mbak?" tanya pria tersebut tanpa membuka helm dan masker nya.
Sebelum menjawab, Dian menatap penuh curiga, khawatir pria itu orang jahat. "Em ... mogok." Menggerakkan badannya sedikit menjauh.
Melihat Dian tampak takut atau curiga. Pria tersebut kembali berkata. "Jangan takut Mbak, saya bukan penjahat kok," sembari mengangkat tangannya di udara.
"Oh, aku belum tahu bengkel di wilayah ini. Anda orang sini atau--"
"Saya asli orang sini Mbak. Saya tahu bengkel yang dekat sini, terus apa masalahnya Mbak?" tanya pria tersebut.
"Em, kayanya itu. Em ... itu, ban nya kempes," sahut Dian, menunjuk ban yang kempes.
"Oh, itu cuma butuh ke tambal ban aja mbak." Pria itu berjongkok mengamati ban Dian yang kempes.
"Bawa alat gak Mbak?" tanya pria tersebut lagi.
"Nggak tau juga." Dian mencari di bagasi. Namun tidak ada, orang gak punya alat, apalagi bawa. "Gak ada Mas. Gak punya."
"Oh ... repot kalau begitu." Keluh pria itu, ya udah. Saya suruh orang tambal ban datang aja ke sini," ucapnya sambil menelpon seseorang.
Dian terdiam. Hati yang paling kecilnya merasa was-was. Khawatir kalau orang tersebut bukan orang baik-baik.
"Mbak mau berangkat kerja bukan?" tanya pria itu sambil mendudukkan dirinya di jok motor.
"I-iya, Mas." Dian tampak tegang dan sedikit ketakutan.
"Mbak masih ingat saya?" tanya pria itu kembali.
"Siapa ya?" tanya Dian balik. Sebab ia sama sekali tak ingat siapa pria itu.
Pria itu. Membuka helm dan maskernya, tampaklah wajah pria itu yang lumayan manis dan tampak berwibawa. Dian memutar otaknya, mengingat siapa pria itu. Memang berasa pernah ketemu, namun ia tak ingat di mana?
Pria tersebut tersenyum melihat Dian bengong. "Ingat gak Mbak?"
Dian menggeleng, namun sesaat kemudian menarik senyumnya. "Anda yang pernah datang ke rumah waktu itu ya?"
"Iya, Mbak. Saya pernah datang memberikan undangan dari kantor untuk Mbak." Jawab pria itu.
Dian mengangguk. Ia baru ingat, kalau pria ini yang mengantar surat panggilan untuk dirinya. Atas kasus video syurnya itu beberapa waktu lalu.
"Iya, saya baru ingat. Tapi kenapa berpakaian biasa aja begini, apa lagi gak tugas?" tanya Dian, kini wajahnya tidak kaku seperti tadi lagi.
"Saya sedang mencari pekerjaan. Dan saya sudah tidak bekerja lagi di sana." Jawab pria itu sambil mengedarkan pandangan ke tempat sekitar.
"Cari kerjaan? kenapa tidak bekerja lagi sebagai poisi?" Dian jadi penasaran. Walau sesekali melihat jam tangannya yang semakin siang.
Orang dari pihak tambal ban datang dan segera mengurus ban mobil Dian yang bocor.
"Oya, kenalkan nama ku Permana." Pria tersebut mengenalkan diri.
"Oya, saya Dian dan pasti anda masih ingat?" Keduanya berjabat tangan.
Tidak lama mobi Dian sudah selesai dan siap untuk digunakan. Dian pun memberi bayaran pada pihak yang mengerjakan mobilnya itu. Kemudian Dian dan Permana pergi dengan tujuannya masing-masing.
Dian meneruskan niatnya pergi bekerja, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Tatapannya lurus ke depan, melewati kuda-kuda besi lainya. Membelah jalanan yang lumayan ramai.
__ADS_1
Kini Dian sudah berada di kursi kerjanya, memulai aktifitas nya di pagi ini. Terkadang terbayang wajah baby boy yang ganteng dan menggemaskan milik Laras. Rasanya waktu ingin segera berlalu. Berganti siang, agar segera pulang menjemput sang bunda untuk menemui baby boy.
Dengan waktu yang terus berputar, akhirnya membawa Dian pada jam pulang. Bibirnya mengembang hatinya pun berbunga, ia segera bersiap pulang. Ketika bertemu dengan rekan kerjanya banyak yang merasa aneh, dengan perubahan sikap Dian yang lebih ramah dan wajahnya sumringah.
Tak lama di jalan dengan, akhirnya mobil mewah Dian sampai di halaman rumah. Ia bergegas turun. Kemudian menutup pintu mobilnya.
Brugh!
Dian segera memasuki bunga law miliknya. "Mom? Mommy ... aku pulang, sudah siap belum?" pekikan Dian sambil berjalan dan menaiki anak tangga. Menuju kamarnya.
"Sudah sayang, Mommy sudah siap nih," sahut bu Lodia dari bawah.
Dian menoleh ke bawah. "Oke. Aku mau mandi dulu ya, sebentar."
"Aih ... nanya sudah siap belum? dikira dianya sudah siap. Rupanya mau mandi dulu, setengah jam bisa tuh di kamar mandi, lamanya," bu Lodia menggerutu sendiri dan menjatuhkan dirinya ke sofa.
Benar saja, sudah setengah jam Dian belum muncul juga. Bu Lodia sudah gelisah menunggu. Sudah berdiri jalan ke kamarnya. Balik lagi, jalan lagi ambil minum ke dapur. Masih juga belum muncul. "Aduh, nih anak!"
Berjalan mendekati tangga. "Sayang ... sudah belum lama amat ih?" pekik sang bunda dengan kepala mendongak.
"Iya, Mom ... ini juga siap kok. Sabar, orang sabar badannya lebar kaya Mommy hi hi hi ...."
Dian bergegas turun, dengan penampilan yang rapi nan elegan. Mengenakan rok selutut dengan belahan di belakang, dipadukan dengan atasan tanpa lengan. Menjinjing tas di tangan.
Keduanya memasuki mobil Dian yang kini di mau menggunakan supir. Katanya malas untuk nyetir sendiri, makanya menyuruh supirnya untuk membawa mobil.
"Mom, beli apa buat kado?" tanya Dian melirik sang bunda.
"Ini, Mommy membeli tempat mandi. Harganya berapa? mahal loh," ucap bu Lodia.
"Iya, gak pa-pa." Dian memasang sabuk pengaman. Kemudian memberi instruksi pada sang supir.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Dian dan Mommy nya terus mengobrol. Tentang baby boy yang kini mau di kunjungi.
Selang beberapa waktu. Mobil pun memasuki area Rumah sakit, dimana Laras dan baby boy berada. Keduanya berjalan melewati koridor Rumah sakit, beberapa kali berpapasan dengan rekan dan kolega Ibra yang tentu mengenal Dian sebagai mantan istrinya Ibra.
Dian pun tak canggung menyapa dan berjabat tangan dengan mereka. Mood Dian hari ke hari makin baik, apalagi di hari ini yang begitu segar dan ramah. Sampai di depan pintu ruangan Laras di rawat. Kebetulan pintunya sedikit terbuka.
"Wa'alaikumus salam ... eh bu besan, Dian. Ayo masuk kenapa berdiri saja di sana?" sambut bu Rahma dan langsung membuka pintu menyuruh tamunya masuk.
Setelah bu Lodia berpelukan dengan bu Rahma, dan saling bertanya kabar. Barulah mereka masuk. Kebetulan di dalam sepi sudah tidak ada tamu.
Dian dan sang bunda langsung menghampiri Laras dan baby nya. "Mana baby boy yang katanya ganteng? ya ampun ... ternyata benar. Kamu ganteng, tampan, hei ini Nenek. Ingat ya? ini Nenek. Nenek Lodia ya jangan lupa nanti kalau sudah bisa bicara panggil Nenek oke?" bu Lodia begitu heboh melihat baby boy yang sedang membuka mata.
Semua yang ada di sana tersenyum bahagia, ternyata bukan cuma orang tua saja yang menyambut bahagia kehadiran baby Satria. Tapi juga orang lain.
"Mana baby boy yang ganteng? ah kebetulan sedang gak bobo! Bunda kangen deh. Semalaman ingat terus, pengen ketemu baby boy." Mengelus pipi baby boy penuh kasih.
Ibra dan Laras yang lebih dekat dengan Dian, terkesiap mendengar panggilan bunda. Ibra menatap Laras sangat lekat ia khawatir dengan pikiran Laras nantinya. Bahkan terbesit pikiran jelek Ibra yang teringat dengan niat Dian dulu. "Tapi ah itukan dulu, bukan sekarang yang semua sudah berakhir." Batin Ibra.
Laras memang terkejut dengan panggilan itu. Namun ia pikir. Apa salahnya? toh Dian gak punya anak, dan Laras sadar. Ia punya baby boy dari benih Ibra itu tiada bukan sebabnya Dian juga. Jadi biarlah dengan sebutan itu, yang penting gak ada niat yang aneh-aneh aja.
Dian menoleh ke arah Laras dan Ibra. Menatapnya bergantian, seraya berkata dengan tutur kata yang lembut. "Laras, boleh kan kalau baby boy nantinya panggil aku Bunda?" dengan tatapan penuh harap.
Sebelum menjawab. Laras menoleh ke arah Ibra yang juga menatap penuh rasa penasaran pada dirinya. Penasaran dengan jawaban yang akan Laras berikan. Begitupun yang lain mereka turut penasaran akan jawab dari mulut Laras.
"Selagi itu baik, aku ... gak keberatan bila baby Satria memanggil mu Bunda. Boleh aja kok, tapi--" ucapan Laras terhenti, ia menatap pada bu Lodia. Ia mau berkata sesuatu, namun takut bu Lodia gak ngerti apa-apa?
"Tapi apa? kamu takut aku berbuat aneh-aneh? iya! jangan khawatir, bukankah semua sudah berakhir. Aku dan Ibra cuma mantan, dan semua perjanjian kita sudah tidak berlaku lagi. Kamu memang pantas mendapatkan cinta dan kasih sayang dari Ibra, dan dia pun beruntung kok dapatkan kamu. Kalau saja dulu aku lebih dulu menemukan dirimu, mungkin gak ada yang namanya istri lain selain kamu dan aku." Kenang Dian menunduk dalam.
"Aku akan belajar untuk lebih baik lagi, Aku menyesal telah menyia-nyiakan orang yang telah tulus mencintaiku. Sehingga akhirnya dia beralih mencintai yang lain, sebab ulah ku sendiri." Sesal Dian.
Ibra jadi salah tingkah. Sebab ia merasa yang Dian maksudkan adalah dirinya. Ia mengalihkan pandangan ke laptop yang ada di sampingnya bekas tadi ia pakai.
"Sudahlah, boleh kok. Kak Dian ingin di panggil Bunda, aku gak keberatan." Laras tersenyum penuh ketulusan.
Wajah Dian mendongak, matanya berkaca-kaca. Bibirnya tertarik ke samping. "Benar kamu ijinkan?"
"Tentu." Jawab Laras, meyakinkan Dian.
__ADS_1
Bibir Dian mengembang. "Terima kasih?"
Laras mengangguk. Ibra pun tersenyum tipis. Memang sikap Ibra pada Dian tampak canggung, ya itu sih wajar. Toh sekarang sudah jadi mantan, bukan istri Ibra lagi.
Yang lain merasa bahagia, dengan kondisi seperti ini. Kemudian bu Lodia meminta untuk menggendong, bergantian dengan Dian yang sangat kelihatan rasa bahagianya dengan kehadiran baby boy.
"Boleh gak? bila aku sering-sering datang dan bermain dengan baby Satria?" lagi-lagi Dian bertanya pada Laras dan Ibra.
Netra mata Ibra bergerak melihat ke arah sang istri yang mengulas senyum manisnya.
"Boleh, boleh kok," ungkap Laras.
Lagi-lagi Dian mengucapakan terima kasih pada Laras. Sambil menggendong baby boy, bibirnya terus mengembang. Hingga akhirnya baby Satria menangis dan mencari mimi. Dian pun memberikannya pada Laras untuk di susui.
Bu Lodia yang bawel memberi wejangan cara mengurus baby. harus begini. Jangan begitu, cara menyusui pun tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Yang nyaman itu begini bla-bla dll nya.
Namun Bagi Laras senyuman aja dan berterima kasih atas wejangannya itu, dan ia merasa bertambah wawasan. Selain dari mama mertua. Belum nanti kalau bu panti datang, pasti dia pun memberi masukan ini itu. Dan itu pasti.
"Ganteng. Jangan lupa ya? ini Nenek. Nenek Lodia, nanti kalau sudah besar main ke temat Nenek ya. Bila perlu main ke luar Negeri tempat Nenek dan kakek tinggal, ya cakep? iih ... gemes pengen nyubit pipinya." Bu Lodia geregetan melihat pipi baby boy.
"Nggak-gak, gak perlu dengerin Nenek yang bawel barusan ya ganteng, mendingan dengar kata Bunda aja ya? kalau nanti baby boy sudah besar mainnya ke tempat Bunda kita main ayunan dan nanti Bunda janji, akan belikan baby boy mobil-mobilan yang besar. Yang cukup buat berdua ya?" timpal Dian.
"Eeh ... Mommy juga bisa belikan cucu Nenek mobil-mobilan yang lebih bagus dan mahal buat baby Satria, gak kamu aja," bu Lodia gak mau kalah. "Memangnya dia aja yang bisa kasih hadiah--"
"Tapi, baby boy akan lebih senang menerima hadiah dari Bundanya Mom. Ketimbang dari Neneknya. Lihat aja nanti." Dian memotong ucapan dari sang bunda.
Semau yang ad adia sana jadi pusing mendengarkan perdebatan diantara anak dan bunda itu. Sama-sama gak mau kalah.
Tiba-tiba, oek ... oek tangis baby boy sangat keras. Membuat semua merasa panik dan mencoba meredakan tangisnya. baby boy kini berada dalam pelukan sang Mammy. Laras.
"Cup, cup sayang ... kenapa hem? rame ya? itu, kan bunda sama nenek lagi ungkapkan sayang nya sama kamu sayang," ucap Laras sambil mengelus pipi baby Satria yang langsung reda tangisnya.
"Hualah ... baby boy kenapa sayang? lapar ya!" bu Rahma mengusap kepalanya.
"Kayanya nggak, Mah. Gak lapar tuh, masih kenyang ya?" kata Laras lagi.
"Kamu sih, ngajak ribut." Bu Lodia menyenggol bahu putrinya.
"Eeh ... Mommy yang mulai." Dian gak mau kalah.
Sepertinya anak itu mengerti dengan yang ia dengar, bibirnya bergerak bersiap menangis.
"Nggak-nggak, Bunda janji gak bakalan ribut lagi, oke?" ucap Dian sambil memegangi tangan mungil itu.
Mata baby boy bergerak seolah melihat ke arah Dian. Dan tidak jadi menangis.
"Mungkin dia gak mau kita ribut depan dia sayang," ujar bu Lodia pada putrinya dan baby boy bergantian.
"Iya Mom. Biarpun dia baru lahir tapi sudah pintar ya? baby boy ... baby, eh ngantuk. Kalau baby bobo, Bunda main sama siapa dong? ah gak asyik ah. Kalau baby boy bobo?" lirihnya Dian, namun anak itu tetap pejamkan matanya. Di dalam pangkuan bundanya, Laras. Dengan nyaman.
Sampai malam datang, Dian dan bu Lodia masih berada di tempat Laras. Menunggu baby boy bangun untuk mengajaknya bermain. Kerukunan mereka bak seperti keluarga yang utuh, yang tak pernah ada masalah.
Makan malam bersama dan juga mengobrol bersama. Seolah tak pernah terjadi masalah apapun diantara mereka. Walau sikap Ibra tetap nampak canggung, dia lebih banyak bergelut dengan laptop nya di sofa dekat jendela.
Bu Lodia kembali menggendong baby boy. Dengan penuh kasih sayang dan seperti pada cucunya sendiri aja. Bu Rahma pun senyum-senyum melihat tingkah bu Lodia yang tampak sangat sayang pada baby boy.
Mereka sangat menyambut bahagia akan hadirnya baby Satria. Pak Marwan pun merasa bahagia, melihat semuanya. Ternyata kehadiran baby Satria membawa perubahan yang baik.
Laras yang baru keluar dari kamar mandi. Melihat baby boy dalam gendongan bu Lodia yang heboh. Dengan celotehannya.
Dian melihat putaran jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 21. Malam. "Pulang yu Mom?"
"Ah ... Mommy masih kangen, sama baby boy." Keluh bu Lodia.
"Mom ... sudah malam. Lain kali aja datang lagi Mom!" ucap Dian.
Akhirnya anak dan ibu itu. Berpamitan pulang, dan minta ijin untuk datang lagi di lain waktu ....
****
__ADS_1
Hai ... reader ku yang baik hati, semoga kabar malam ini pada baik semua ya? kalau ada typo yang yang kurang tepat, kritik dong. Biar langsung aku revisi.🙏