Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
I love yuo too


__ADS_3

Ibra menyalakan mesin dan mengeluarkan mobil dari pekarangan rumah Laras, setelah berada di jalan. Barulah Ibra melajukan mobilnya dengan cepat membelah jalanan yang ramai dengan keberangkatan kerja, atau memulai aktifitas di pagi hari ini.


Mobil Ibra sudah lenyap dari pandangan mata Laras dan mertuanya. Ia segera masuk ke dalam rumah bersama kedua mertuanya yang lantas duduk di sofa ruang televisi dan menyalakan televisi menonton berita pagi.


Sementara Laras membantu mencuci dan beberes meja makan. "Sus ... aku mau salat dulu, nanti kita pergi belanja ya?"


"Oke, Nyonya muda. Aku juga mau nyuci pakaian dulu sebentar." Susi mengangguk lalu mendekati mesin cuci.


Laras berjalan menuju kamarnya dengan niat mau salat duha dulu. Sebelum pergi belanja.


Selepas salat, Laras duduk di depan meja rias. Entah kenapa. sekarang ia lebih suka dengan mengenakan kerudung. Bila keluar rumah.


Seperti saat ini Laras tengah merapikan kerudungnya, ia perhatikan suka aja. Dengan kerudung, ia menatap wajahnya dari pantulan cermin. Menarik dua sudut bibirnya mengembangkan senyuman.


Tangannya bergerak mengelus perutnya. "Sayang, kok Mommy sekarang sangat suka dengan kerudung ya? masya Allah ...."


Laras menundukkan pandangan ke arah perut, senyumnya kian mengembang ketika merasakan gerakan di perutnya. "Sayang ... sehat-sehat ya. Semoga kelak kamu jadi anak yang saleh atau salehah," gumam Laras mengajak ngobrol baby yang masih di dalam perut.


Kemudian Laras tertegun pandangannya kosong ke cermin. Tiba-tiba teringat pada Ibra, yang mau menginap di Semarang.


"Gimana kalau dia gak pulang besok? astagfirullah ... aku gak boleh berpikiran jelek." Menggeleng pelan.


"Ya Allah ... semoga engkau melancarkan setiap urusan kami, melancarkan pula perjalanan suami dan madu ku. Agar mereka menghadiri tasyakuran empat bulanan dan semoga engkau menjadikan anak ini anak yang saleh. Berguna dan berbakti pada orang tua. Aamiin ....


Lantas beranjak dari duduknya, mengambil tas dan ia cek isinya. Kali saja ada yang tidak ketinggalan.


Langkahnya yang menuju keluar, tidak lupa menutup pintu. Menghampiri sang mertua yang tengah santai di ruang keluarga.


"Pah, Mah. Laras mau pergi belanja dulu, apa kalian mau ikut? sekalian mau memastikan ketring." Laras menatap mertua yang duduk berdua tampak mesra.


Pasangan suami istri itu menoleh. "Wah ... cantik sekali mantu Mama ini, masya Allah ... sama Susi juga?" tanya bu Rahma.


"Ah, Mama bisa aja, Iya Mah. Kenapa?" balik nanya sambil ngecek lagi isi tas kesayangannya.


"Mama Ikut ah, masa mantu Mama dibiarkan sendiri. Pah ... Mama mau menemani Laras dulu ya?" melirik sang suami yang anteng menonton televisi.


"Oh, iya. Biar Papa di rumah saja. Hati-hati ya bidadari ku," ucap Marwan pada Rahma.


"Uh ... Papa dan Mama so sweet nya," ungkap Laras sambil tersenyum, lalu meraih tangan pak Marwan untuk diciumnya.


"Ya, sudah. Hati-hati bawa mobilnya ya?" pesan pak Marwan pada Laras, mantunya.


"Sebentar ya sayang, Mama mau ambil tas dulu di kamar." ujar bu Rahma sambil ngeloyor ke kamarnya.


"Sus ... aku tunggu di mobil ya?" pekik Laras pada Susi yang belum muncul juga.


"Assalamua'laikum Pah, aku pergi." Pamit Laras.


"Wa'alaikum salam ..." jawab pak Marwan.


Laras berjalan, menghampiri mobilnya. Baru saja mau masuk mobil dering ponsel Laras berbunyi. "Siapa sih?" sambil mengambilnya dari tas.


"Abang, ada apa? bukannya di kantor," mengerutkan keningnya. Merasa heran, namun terlukis senyum di bibirnya. Senang.


Nampak Ibra sedang duduk di kursi kebesarannya. Tatapannya langsung tertuju pada Laras yang lagi-lagi dengan penampilan yang beda, ia terkesima melihatnya. "Waw ... cantik sekali istri aku, mau keluar ya. Sama siapa?"


"Iya, sama Mama dan Susi. Tapi mereka masih di dalam."


"Istri aku cantik banget, kalau saja aku di situ gak akan aku biarkan pergi. Atau aku dampingi terus, takut ada yang bawa," ucap Ibra sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Ih ... emangnya aku ember apa? ada yang bawa segala, aneh." Laras menggeleng dan mengulum senyumnya.


"Justru kamu bukan ember sayang ... makanya aku takut kamu di ambil orang," tambah Ibra sambil memperlihatkan senyumnya.


"Ih, gombal, udah Ah ... mau pergi nih," sambung Laras sok jutek padahal hatinya berbunga-bunga.


"Hi ... jangan nunduk, aku gak bisa lihat wajah cantik mu itu," rayu Ibra. Ketika melihat Laras menunduk.


Laras mengangkat kepalanya namun berusaha melihat ke arah lain, ingin menyembunyikan rasa malu+bahagia karena Ibra terus melontarkan kata-kata merayu nya. "Apaan sih?"


"Beneran ... oya serius gak larang aku pergi, ke Semarang?" selidik Ibra penasaran ingin tahu jawaban sang istri.


"Em ... buat apa larang? kamu ke sana buat jemput istri mu. Maruk banget aku, kalau sampai melarang! lagian sekalipun aku larang, gak akan berarti juga kalau kamu nya kekeh. Masa permintaan istrinya mu dibiarkan, kan gak mungkin," ujar Laras.


"Makasih sayang?" ungkap Ibra sambil menunjukkan senyumnya.


"Iya, sudah ya? tuh ... Mama sama Susi sudah datang," pamit Laras sambil menoleh Mama mertua dan Susi yang menghampirinya.


"Oke, I love you sayang?" ucap Ibra sambil menutup sambungan vc nya.


"I love you too," batin Laras tanpa terucap dengan kata-kata. Lalu menyimpan ponsel kedalam tas nya.


"Yu, sayang berangkat?" bu Rahma masuk ke dalam mobil.


Laras memasuki mobil, sebelum memutar setir. Ia memasang sabuk pengaman lebih dahulu, begitupun dengan Susi dan Rahma.


"Barusan, Ibra ya?" selidik bu Rahma pada Laras yang bersiap mengemudikan mobilnya.


Laras menoleh. "Oh, iya Mah. Abang."


"Abang ... abang!" gumamnya bu Rahma.


"Itu, tuan muda," jawab bu Rahma melirik ke arah Susi.


Mobil berjalan membelah jalanan, berpacu dengan kendaraan lainya. Mereka mengobrol dan sesekali tertawa.


Selang beberapa waktu, akhirnya sampai di tempat yang mereka tuju. Sekalian buat tambahan acara tasyakuran nanti.


Mereka memilih semua yang di butuhkan. Untuk keperluan dapur, di rasa sudah merasa tiada lagi yang harus di beli lagi. Lalu Laras ke toko pakaian untuk membeli pakaian panjang dan kerudung nya.


"Aku mau beli kerudung, Mama mau beli kerudung gak?" tanya Laras pada ibu mertua.


"Oh, iya dong. Buat lusa sayang, Mama mau beli juga." Jawab bu Rahma sangat antusias.


"Susi juga dong, masa yang lain pakai aku nggak, kan malu!" timpal Susi.


"Iya, nanti aku belikan. Tenang aja ya?" janji laras pada Susi.


Setelah memilih dan mendapatkan kerudung yang mereka suka. Laras mengajak makan yang di sambut baik oleh bu Rahma dan Susi.


"Buat papa, dileveri aja ya Mah?" ucap Laras pada bu Rahma.


"Iya boleh. Gimana kamu aja, delivery boleh. dibawain juga boleh."


"Kalau dibawain, takut lama, Mah ..." protes Laras.


"Iya, delivery aja kalau gitu." Sambung bu Rahma.


Kini mereka sudah berada di dalam restoran. Dan tengah memesan, tiba-tiba ada yang menghampiri dan duduk di meja yang sama.

__ADS_1


"Siang Mah?" sapa wanita tersebut.


"Eh, Yulia. Apa kabar kamu?" balas bu Rahma dengan senyuman ramahnya. Mereka berpelukan dan cium pipi kanan dan kiri.


Laras yang tadi sibuk memilih makanan, menoleh ke sumber suara. Ia terkesiap melihat Yulia di situ. "Yulia, apa kabar?"


"Baik, seperti yang kalian lihat." Melihat ke arah bu Rahma dan Laras bergantian.


"Syukurlah," bu Rahma mengangguk.


"Kehamilan mu makin besar ya?" menatap sinis.


"Oh, iya Kak," Laras mengangguk dan mengusap perutnya.


"Yulia, kamu mau makan? bareng aja di sini," ajak bu Rahma.


"Tidak, mengganggu ya Mah?" tanya Yulia menatap lekat.


"Tidak dong," sambung bu Rahma.


Setelah menunggu, pesanan pun datang dan mereka langsung memakan dengan lahap. Kebetulan pesanan Yulia pun datang tak jauh beda dari Laras dan yang lainnya.


"Kamu, pasti akan jadi orang kaya. Setelah melahirkan anak itu," celetuk Yulia di sela-sela makannya.


Laras menghentikan makannya sejenak, mendengar perkataan Yulia barusan. Hatinya melengos tiba-tiba, pandangannya mengarah ke Yulia yang asyik makan.


"Maksud kamu apa Yulia? bilang gitu." Selidik bu Rahma menatap tajam.


"Iya, kalau anak itu lahir, kan. Dian berani memberi uang yang banyak pada Laras Mah, asalkan Laras mau memberikan hak asuhnya pada Dian," ujar Yulia dengan enteng nya.


Rahma melempar pandangannya pada Laras dan Yuli. "Itu, tidak akan pernah terjadi. Laras gak akan memberikan baby nya pada Dian."


Laras menggeleng. "I-itu tidak benar, aku tidak akan memberikan anak ini pada siapa pun." Akunya Laras.


"Tapi ... kamu, dinikahi itu buat memberikan anak pada mereka. Percaya deh sama aku?" ketus Yulia meyakinkan.


"Terserah kamu mau bilang apa, aku gak perduli dengan omongan mu itu," ucap Laras kesal.


Yulia menatap lekat pada Rahma. "Mama, percaya deh sama Yulia. Dia ini menikah sama Ibra, dan bersedia hamil. Agar mendapatkan uang yang banyak dari Dian, setelah melahirkan ... wanita ini akan menjual baby nya pada Dian. Demi uang Mah."


"Itu, tidak benar!" ucap Laras membela diri. Ia terus menggeleng.


"Makanya, tiap bulan Dian alirkan uang tiap bulan padanya karena janji itu, Mah." tambah Yulia.


"Nggak, tidak lagi. Uang yang sudah aku terima pun. Sudah aku kembalikan kok, Mah," kekeh Laras membela diri bahwa itu dulu. Dan sekarang sudah berubah.


"Iya. Sayang, Mama percaya kok sama kamu." Bu Rahma mengusap bahu Laras dengan sangat lembut.


"Ini, pakta Mah. Aku tahu dari Dian sendiri dan aku tahu surat kontraknya, Mah. Kalau Laras sudah melahirkan, tugas dia sebagai istri dan ibu itu selesai Mah." Yulia begitu menhgebu-gebu menceritakan yang dia tahu.


"Sudah ya? Mama tidak mau mendengar apapun, Sudah. Kamu sudah selesaikan makannya? Silakan pergi." Tegas bu Rahma, ia menatap yajam ke arah Yulia yang sedang menyedot minumnya.


Laras tertegun. Menjadi tak berselera makannya, dia jadi kepikiran terus omongan Yulia.


Susi yang tidak tahu apa-apa hanya Diam. Dan anteng makan.


Yulia berdiri. "Mamah ... Yulia hanya kasih informasi aja sama Mama. Kalau wanita ini tak ubahnya dengan wanita matre." jelas Yulia ....


****

__ADS_1


Hi ... reader ku, apa kabar hari ini? semoga baik ya. Mana nih like n komennya, makasih masih setia menunggu up nya SKM


__ADS_2