
Melihat Dian semakin terlihat payah. Jhoni beranjak dan mendekat, mengangkat bahu Dian agar berdiri dan berjalan. Jhoni menyeret tubuh Dian ke mobil miliknya, Membawa Dian ke sebuah hotel tempatnya menginap.
Dari jauh terselip sebuah senyuman puas. Ketika melihat Dian di bawa pria hidung belang itu, sementara wanita itu sendiri juga bersenang-senang dengan pria pencari kesenangan sesaat.
Tidak lama di jalan, keduanya sudah berada di sebuah kamar hotel yang luas dan mewah. Jhoni baringkan tubuh Dian di atas tempat tidur yang luas dan beralaskan seprai yang putih bersih.
Pria itu seakan tidak ingin membuang waktunya lagi, Jhoni langsung mencumbu Dian yang setengah sadar. Pria itu menyeringai puas, melihat Dian mengimbangi keagresifan dirinya. Namun itu tidak berlangsung lama, Dian langsung tertidur dalam keadaan cuma berbusana dalam saja.
Jhoni menepuk-nepuk pipi Dian agar bangun namun Dian tak merespon ataupun berkata-kata. padahal hasrat pria itu sudah naik ke ubun-ubun, darah yang berdesir panas. Bak kucing dihadapkan dengan ikan di piring Semakin ingin sekali menikmatinya dengan secepat mungkin. Dengan napas yang kian memburu. Ia tidak perduli lagi Dian sadar atau tidak, yang penting hasratnya terpenuhi saat ini juga.
Dengan senyuman buasnya, pria itu melucuti semua yang ia kenakan dan dengan sekali tarikan. Tubuh Dian pun polos tanpa sehelai benang pun. Bola mata pria itu kian melebar menyaksikan pahatan indah di depan matanya, seolah tidak puas dengan penglihatannya.
Pria tersebut mendekatkan pandangannya dan tangan menelusuri dari mulai kepala sampai ujung kaki. Tak ada yang terlewatkan sedikitpun, semuanya mulus nyaris tak cacat. Hingga akhirnya Jhoni hendak melakukan aksinya yang menuju ke intinya. Setelah membuka kedua kaki Dian, ia bersiap memasukan benda miliknya ke bagian inti Dian.
Brak!
Pintu yang kokoh itu di buka paksa oleh seseorang. Jhoni terkesiap dan menggelinjang duduk. "Siapa kau?" suara jhoni sambil melotot merasa terganggu.
Tampak seorang pria tinggi besar berpakaian hitam bergegas menghampiri nya dan tanpa aba-aba.
Bugh!
Pria tinggi besar itu Menendang dada Jhoni yang masih terkesiap. Dan tak ayal tubuh Jhoni terjatuh kebelakang,
Hek!
Suara dalam yang keluar dari bibir Jhoni. Jhoni pun memegangi dadanya, yang terasa nyeri. Sebelum Jhoni bangun. Pria tersebut kembali menendang dan kali ini burung Jhoni lah yang jadi sasarannya.
Hek! hek!
Mata Jhoni melotot dengan sangat sempurna, merasakan sakitnya yang tidak terkira. Setelah menerima serangan yang bertubi-tubi, tepat di senjatanya yang asal mula bangun dan tegang, menjelma menjadi burung pipit yang lucu.
Dengan cepat kilat, Pria tersebut menggulung badan Dian dengan selimut yang ada. Dan menggendong tubuh itu layaknya memanggul karung beras, pria itu membawa Dian keluar dari kamar tersebut. Dengan langkah kaki yang lebar dan tergesa-gesa.
Jhoni merintih kesakitan, tersungkur di kasur menahan sakit yang tidak terkira. Di dada dan bagian intinya.
Dian dibaringkan di atas kasur ukuran king size, dengan masih di balut selimut. Karena dia masih belum mengenakan busana sama sekali, sudah berapa jam ia masih belum juga sadarkan diri. Pria tersebut duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur yang kini Dian tempati.
Akhirnya Dian mulai sadar dengan pergerakan tubuhnya. Membuka mata perlahan dan pandangannya mengitari tempat tersebut, alangkah terkejutnya Dian. Ketika melihat seorang pria tinggi besar serta berpakaian hitam. Dengan kepalanya yang masih terasa pusing, Dian bangun. Melotot pada pria tersebut.
"Siapa kamu? kenapa ada di sini." Mata Dian masih mengamati kamar itu, tapi berasa di kamar hotelnya. Sebab ada koper miliknya di sudut ruang itu.
Beberapa waktu tak ada sahutan dari orang Itu, Dian kembali mengulang pertanyaannya yang tadi. "Hi ... kenapa kau tak menjawab pertanyaan ku, siapa dirimu itu ha?"
Setelah menikmati asap rokok yang berada di jarinya. Membuang asap putih dari hidung dan mulutnya. Barulah pria tersebut mengeluarkan suaranya. "Saya orang asing bagimu," jelasnya.
Dian bingung, dengan kepala yang masih linglung di tambah lagi jawaban pria itu yang sangat membingungkan. Dian mengamati tubuhnya yang masih di balut selimut, perlahan ia mengamati tubuhnya. Polos, Dian kembali melebarkan manik matanya. Melotot dengan sempurna, melempar apa yang ada di dekatnya. Seperti bantal dan guling, suaranya meninggi.
__ADS_1
"Kau apakan tubuh saya ini ha? brengsek. Pengecut! saat saya tak sadar, kamu perlakukan saya macam-macam, kan? jawab brengsek. Jangan diam saja, dasar pria jelek. Tak sopan masuk kamar orang, saya akan laporkan kamu pada polisi. Kamu tidak tahu kalau saya istri bisnisman yang terbilang sukses di Negeri ini." Dian terus meracau. Bantal guling yang sudah dikembalikan ke tempatnya ia lempar kembali ke arah pria itu yang tetap santai di sofa.
"Hai, dengar Nyonya. Berhenti mencaci maki saya! coba kau ingat-ingat lagi apa yang telah kau lakukan sebelum kau berada di sini. Coba ingat-ingat lagi dengan baik, melakukan apa sama siapa? jangan asal ngomong." Pria tersebut menatap tajam ke arah Dian.
Dian diam sejenak, tak berkata-kata lagi. Ia mengingat apa yang telah terjadi tadi, sedikit-sedikit ia ingat kalau tadi ia iseng-iseng ngobrol sama pria yang mengaku Jhoni. Pria asing, tampan dan berkulit putih, tapi kenapa berganti dengan orang ini. Tinggi besar, kulit gelap. Tak ada manis-manisnya sama sekali.
Dian baru bisa mengingat sampai dia mengobrol, dengan pria yang bernama Jhoni di pesisir pantai, setelah itu ia tak ingat lagi. Dian menggeleng berkali-kali, sadar-sadar sudah berada di sini. "Apa yang sudah terjadi dengan saya brengsek, jawab dan ngapain kau berada di sini?"
"Anda-" pria tersebut menjeda bicaranya, memilih mengisap rokoknya dan membuang asapnya ke langit-langit.
Membuat Dian makin kesal. Mengeratkan gigi, juga mengepalkan tangannya.
"Anda hampir saja di garap sama laki-laki hidung belang itu Nyonya. Coba teliti tubuh anda, apa tadi?" pria itu memasang telinganya. "Tadi anda bilang. Kalau anda ini istri orang? terus kenapa anda berani melayani laki-laki si hidung belang itu." Jelasnya sambil menatap tanpa ekspresi.
Dian memalingkan pandangannya ke lain arah. Ada rasa marah dan juga malu. Menyesal, pernah ada niat jelek tapi, meskipun ia urungkan niat itu. "Saya tidak percaya sama kamu, mana buktinya, kalau saya melayani pria asing itu, jangan sembarangan bicara ya? itu bisa menjadi fitnah." Tegas Dian ia sama sekali tidak percaya dengan omongan pria itu.
Pria itu tersenyum sinis. "Hem, anda minta bukti, jelas-jelas buktinya, saksinya kedua mata saya. Kalau anda hampir di ga-u-li pria yang hidung belang itu, apa anda lupa kalau anda itu istri orang? yang selayaknya menjaga kehormatan keluarganya. Bukan menjadi wanita hina."
Dian menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca. "Tidak, itu tidak mungkin? kau bohong, saya tidak melakukan itu, tidak mungkin saya seperti itu." Nada bicara Dian tinggi dengan masih tidak beranjak dari tempatnya.
Pria tersebut menggeleng sambil tersenyum sinis ke arah Dian. Tangannya merogoh sebuah ponsel dari saku. "Saya tidak perduli anda mau percaya sama saya atau tidak. Yang jelas saya punya bukti ini, dan harus anda tahu kalau--"
"Kalau apa?" netra mata Dian menatap tajam pada pria itu dengan penuh kecemasan. Jantungnya seolah ingin melompat, jangan-jangan suaminya tahu?
Pria itu memutar sebuah video yang berdurasi sekitar 15 detik, di sana ada dirinya dan Jhoni sedang bercumbu. Dian sangat terkesiap dan ingin merebut ponsel itu. Namun kalah cepat dengan pria tersebut.
Pria itu senyum tenang. Seraya berkata. "Sekalipun bukti ini dihilangkan, suami anda sudah melihatnya. Dia tau bahkan mungkin berpikir kalau itu sudah jadi kebiasaan mu, bila keluar kota sela-"
"Tidak, itu tidak benar. Itu di sengaja, aku telah di jebak. Aku tidak sengaja melakukan itu." Akhirnya Dian menangis tersedu hingga terdengar pilu. Sampai sesenggukan dalam beberapa saat. Dian meratapi kenapa nasib nya selalu sial? suami yang sangat ia cinta pada akhirnya berbagi hati, tidak dapat di bayangkan dengan apa yang akan terjadi. Bila benar Ibra tau tentang hal ini.
Pria itu mematung sesaat. Dan mendengarkan tangisan pilu Dian, ia hanya bengong tak tahu harus berkata apa untuk membujuknya agar berhenti menangis. Kemudian ia beranjak dari sofa lalu mengayunkan kaki panjangnya keluar kamar, pergi entah kemana.
Setelah puas, Dian beranjak tengok kanan dan kiri. Pria itu sudah tidak ada lagi, Dian pun turun bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Di bawah kucuran air, Dian menggosok bersih seluruh tubuhnya yang ia rasa jijik dengan sentuhan pria asing. Meskipun kata si pria yang menolongnya itu, dirinya belum sampat di gagahi. Tapi tetap saja dirinya sudah puas di cumbu.
"Gila ... aku sudah gila ... kenapa aku jadi begini? kenapa ...."
Teriak Dian di dalam kamar mandi, di bawah kucuran air hangat yang jelas terlihat kepulan asapnya.
"Aku benci diriku sendiri, benci ...."
"Mungkin pantas saja kalau suami ku membenci dan lebih memilih wanita itu! kenapa kebahagiaan ku terhempas begitu saja?" teriakan Dian sambil menangis. Air mata yang hangat berbaur dengan kucuran air dari shower.
Dian kembali menangis pilu di sana, badannya turun terduduk memeluk lututnya dan menenggelamkan wajah. Air shower masih mengalir menyemprot tubuh yang terduduk di lantai itu. Tubuhnya bergetar akibat tangisnya yang sesenggukan. Sudah tak bisa di bedakan lagi antara air mata dan air shower.
Pria berbadan tinggi besar itu. Sudah kembali membawakan makan malam buat Dian. Pria ini adalah seseorang yang pernah di tolong hidupnya oleh seorang Malik Ibrahim. Dan dia bernama Irfan. Ia di tugaskan untuk memata-matai gerak gerik Dian ketika berada jauh berada dari Ibra.
Matanya melirik kanan dan kiri, menyapu semua sudut kamar termasuk balkon yang tak luput dari pandangannya. Mencari keberadaan Dian, memasang telinganya mendengar kucuran air di kamar mandi. Barulah ia merasa tenang, berarti Dian berada dan sedang bersih-bersih di sana.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu akhirnya Dian muncul dari balik pintu kamar mandi. Dengan mengenakan wardrobe, handuk kecil membalut kepalanya. Mata begitu sembab.
Netra mata Dian langsung mendapati pria itu duduk di sofa, di meja tersedia makanan dan minuman. Kemudian, manik mata Dian kembali menatap pria tersebut dengan tatapan sangat tajam. "Kau buat apa ke sini lagi. Pergi, enyah dari sini. Saya muak lihat muka kamu." hardik Dian.
Kepala Irfan mendongak pada Dian lalu tatapan mereka beradu sejenak. Sambil menyeringai, Irfan berkata. "Hem. Ternyata kamu itu orang yang tidak tahu berterima kasih ya? sudah di tolongin malah mau menggigit! apa memang itu mau mu? maksud saya apa memang kau sudah gila dan ingin menjadi seorang pe*****, maaf Nyonya. Kau cantik dan berpendidikan, harta pun berkecukupan. Buat apa kau sia-siakan hidup mu itu?"
Dian makin kesal. "Enak amat kamu ngomong. Sembarangan banget bicara, mentang-mentang lidah tak bertulang, saya wanita terhormat istri dari Malik Ib--"
"Seorang istri dari tuan Malik Ibrahim. Tapi sayang ... kelakuan mu tak mencerminkan dirimu yang terhormat itu," ucap Irfan memotong ucapan Dian.
Tangan Dian melayang di udara dengan niat menampar wajah Irfan. Namun tangan itu dengan mudahnya Irfan tangkap begitu saja, menguncinya di udara. Bibir Irfan menyunggingkan senyuman.
"Lepas." Dian melotot dengan sempurna menatap Irfan. Sangat tajam.
"Kalau kau ingin terhormat? jaga sikapmu itu Nyonya. Rubah semua sikap buruk mu. Hidup hanya sementara, kemewahan cuma titipan yang bisa saja dalam satu detik berubah drastis. Pecam kan itu Nyonya." Irfan menatap tajam, lalu hempaskan tangan Dian, kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
Dian meringis, sakit juga genggaman tangan Irfan barusan. "Dasar Gila tuh Orang." Ia menghempaskan tubuhnya di sofa.
Baru mau beranjak dari duduknya. Dian sudah dibuat kesal lagi dengan ketukkan pintu dari luar. Masuk," ketus Dian.
Di tatapnya daun pintu yang sedang di dorong dari luar. Rupanya Misca yang datang dengan wajah yang sumringah.
"Hai, gimana? menyenangkan bukan, barang baru. Yakin deh pasti akan ketagihan," celoteh Misca sambil berjalan mendekati Dian yang duduk menatap tajam ke arah dirinya.
"Hem, makasih ya sudah menyarankan sesuatu yang sangat amat bagus. Sungguh rekomendasi yang membuatku puas," timpal Dian sambil bertepuk tangan.
"Iya, dong," sahut Misca dengan bangga.
"Sekarang kamu, silahkan pergi ... saya tidak sudi melihat mu saat ini." Dian menunjuk ke arah pintu.
Misca terkesiap, melihat Dian. Bukannya berterima kasih malah mengusir dirinya, dengan nada sangat marah. "Kau mengusir ku?"
"Iya, sebaiknya kamu pergi dan jangan memperlihatkan dirimu lagi di depan ku? saya tak sudi." sergah Dian.
"Kau, bukannya terima kasih--"
"Kan, sudah aku berterima kasih tadi. Lagian, saya tak butuh dengan rekomendasi kamu yang menjerumuskan saya. Saya minta, pergi sekarang juga, pergi," teriak Dian makin tinggi dan melempar bantal sofa ke arah Misca.
Misca berdiri bersiap untuk pergi. Dengan tatapan aneh pada Dian yang ngamuk, matanya merah dan terbelalak, melotot dengan sempurna seakan benci melihat kehadiran Misca di sana.
"Baik, saya akan pergi, tapi jangan salahkan jika rahasia mu terbongkar," ucap Misca.
"Pergi ... enyah kau dari hadapanku," lagi-lagi Dian teriak dan mendorong tubuh Misca dari kamarnya itu.
Dian membanting pintu dengan sangat kuat, setelah Misca pergi. "Gara-gara kau, aku hampir jadi gila dan menjual diriku. Jangan pernah kau menampakkan lagi wajah mu," teriak lagi Dian. Dadanya naik turun menahan amarah yang menyesakkan dada, menjatuhkan dirinya di atas kasur ....
****
__ADS_1
Maaf baru bisa up, dikarenakan kurang enak body. Mana yang menunggu SKM up? ayok mana dukungannya.