
Jodi menepikan mobilnya dan mau mengambil handphone di sakunya.
"Siapa tuh?" tanya Caca. Menatap Jodi yang fokus menatap layar ponselnya.
Jodi tak merespon secepatnya. Ia malah kembali menyetir dan melajukan mobilnya dengan cepat.
Caca mengalihkan pandangan keluar jendela. Dengan hati yang penasaran siapa yang menghubungi calon suaminya itu.
Mobil terus melaju menuju tempat yang di tuju. Selang beberapa waktu tibalah di tempat tujuan, mobil di parkir di area Rumah sakit. keduanya membawa langkahnya ke ruangan dimana Laras di rawat.
Ibra yang sedang berbincang dengan dokter, Sore ini Laras akan pulang. Sebab kondisinya sudah membaik dan Laras terus merengek minta pulang.
"Oke, makasih dok?" Ibra menjabat tangan dengan dokter.
Laras pun mengangguk seraya berkata. "Makasih ya dok."
"Sama-sama," dokter tersenyum. Kemudian dokter pun pergi meninggalkan Ibra dan Laras.
"Akhirnya kita bisa pulang juga sayang." Ibra merangkul bahu Laras yang membalas.
"Iya, aku dah kangen sama baby Satria," balas Laras sambil membalas pelukan sang suami.
"Abang juga kangen sama baby boy. Yu kita pulang!" ajak Ibra melepas pelukannya.
Laras bersiap untuk pulang. Ibra pun mengenakan jas nya. Namun suara derap langkah begitu jelas mendekati ke arah tempat itu.
"Assalamu'alaikum." Jodi masuk dan Caca.
"Wa'alaikum salam, Caca. Jodi, kok kalian ke sini?" sambut Laras.
"Jodi, kalian di sini? siapa bilang kami di sini?" tanya Ibra terheran-heran.
"Zayn yang bilang. Gimana keadaan mu La?" mengalihkan pandangan pada Laras.
"Alhamdulillah baik." Balas Laras.
"Kenapa bisa kamu di culik Orang jahat itu? kamu juga gak bisa jaga istri gimana sih?" Jodi menatap ke arah Ibra dan Laras bergantian.
"Emangnya musibah itu datang nya bilang-bulang dulu apa? kan nggak." Bela Ibra tak ingin di sahkan.
"Kamu beneran gak apa-apa La?" Jodi bertanya lagi.
"Cuma luka benturan kecil saja kok," sahut Laras kembali.
"Alhamdulillah ya Mbak Laras selamat sebelum di apa-apa kan." Syukur Caca sambil mengusap tangan Laras.
"Iya, Ca ... Alhamdulillah. Mereka datang masih tepat waktu, meskipun aku dah merasa lelah berontak," ungkap Laras. "Oh, iya. Kalian dari tempat Dian ya?" melihat penampilan Caca dan Jodi resmi.
"Benar. Dan kami langsung ke sini," jawab Caca seraya mengangguk.
"Aku gak datang, padahal dah janji mau datang," ucap Laras lesu sambil melihat ke arah Ibra.
__ADS_1
Ibra duduk dekat Laras. "Kalua gak kejadian itu, kiat pasti datang sayang. Gimana kondisinya tak mengijinkan?"
"Katanya mau ke sini namun entah kapan. Kata Dian." Jodi menoleh ke arah keduanya.
"Aku mau pulang kok. Gimana lancar pernikahannya?" Laras penasaran.
"Lancar. Tampak mereka sangat bahagia sekali loh." Caca yang menjawab.
"Syukurlah. Semoga rumah tangga mereka penuh kebahagiaan." Harap Laras dengan tulus.
"Aamiin." Jawab ketiganya serempak.
"Mau pulang sekarang?" tanya Jodi sambil beranjak dari duduknya.
"Sekarang." Ibra menarik tangan Laras untuk berdiri. Kemudian di tuntunnya berjalan keluar dari ruangan VIP tersebut.
Caca membawakan paper bag milik Laras.
Ibra melihat Caca menjinjing paper bag baju Laras bekas kemarin. "Ca. Biar saja itu jangan di bawa." cegah Ibra.
"Kenapa? ini punya Laras kan?"
Jodi pun merasa heran pada Ibra yang melarang paper bag itu di bawa.
"Suster tolong isi paper bag itu di buang atau di bakar saja." Kebetulan seorang perawat datang memasuki kamar tersebut. Kemudian mengambil beberapa lembar uang untuk suster itu.
Laras menatap sang suami. Ia faham kenapa Ibra ingin melakukan itu.
"Kenapa di buang?" tanya Caca penasaran.
"Oh," bibir Caca membulat.
"Ya sudah, kami pamit saja. Syukurlah kamu cepat sehat Laras. Kami pulang dulu." Jodi menata ke arah Laras.
"Baiklah. Makasih sudah menyempatkan diri buat datang." Ibra mengangguk.
"Iya, Jodi. Caca makasih ya? kenapa gak ikut saja ke Mension?" balas Laras.
"Em ... lain kali saja kami ke sana!" sahut Jodi dan Caca.
"Salam buat paman ya?" sambung Laras.
"Baiklah. Nanti ku sampaikan." Jodi mengangguk pelan.
Mereka kini berada di mobilnya masing-masing. Ibra bersama Laras sang istri yang sangat ia cintai. Sementara Jodi dengan Caca, wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Mobil Ibra melaju pesat menuju Mension. Selang beberapa saat mobil tersebut tiba di halaman Mension.
Laras disambut dengan gembira oleh orang-orang di Mension. Baby Satria dalam gendongan Bu Rahma yang langsung Laras buru.
"Mammy kangen banget sama kamu Nak ..." Laras menghujani baby Satria dengan ciuman penuh kasih dan sayang. Ia peluk penuh kerinduan.
__ADS_1
Ibra pun memeluk keduanya seraya berkat. "Akhirnya kita berkumpul lagi sayang."
"Gimana kondisi kamu sayang?" tanya bu Rahma penasaran.
"Aku, baik-baik saja Ma ... cuma luka-luka kecil akibat terbentur," balas Laras. Menoleh sang mama mertua.
"Kamu gak sempat di--"
"Tidak Ma ... Alhamdulillah." Laras langsung memotong perkataan bu Rahma.
"Syukurlah. Mama gak bisa bayangkan iih ..." bu Rahma bergidik ngeri.
"Kami sangat khawatir loh," tambah pak Marwan.
"Makasih, Pah ... Alhamdulillah Laras selamat." Ibra bersyukur.
"Ya sudah, kalian istirahat saja di kamar. Pasti capek, baby Satria biar sama Susi saja," lirihnya Bu Rahma.
Netra mata Ibra bergerak melihat sang istri. Seakan bertanya tentang baby boy.
"Baby boy kita bawa saja. Kasihan dua hari gak ketemu Mammy ya sayang?" cuph! mencium pipi baby Satria yang tertawa.
"Yo, sini Papi gendong." Ibra mengambil alih baby Satria dari pangkuan Laras dan di bawa ke kamar pribadinya. Laras mengikuti dari belakang.
"Iya, Nyonya ... biar baby Satria sama Susi saja, Nyonya kan masih belum fit."
"Nggak pa Sus. Kasian baby boy dua hari ini baru ketemu Mammy dan papinya." Laras kekeh. "Oya makasih ya pada siapa saja yang sudah merawat baby boy."
"Sama-sama Nyonya," balas Susi.
Laras dan Ibra masuk ke dalam lift yang mereka pilih tuk akses jalan menuju kamar pribadi Ibra.
Kini mereka sudah berada di dalam kamar. Laras langsung memberikan asi nya pada baby boy yang tampak lapar juga. Dua hari ini Laras menahan sakit di bagian dadanya akibat gak di kasihkan sama sang baby. Dadanya terasa mengeras dan berat.
Ibra membuka jas dan pakaiannya, berjalan menuju kamar mandi. "Sayang. Aku mandi dulu ya."
Setelah Ibra masuk dan hilang di balik pintu. Laras melepaskan baby boy sebentar tuk mengambil pakaian Ibra lantas menyimpannya di atas tempat tidur. Lanjut memberi asi lagi sang putra, rasanya lega dan ringan setelah di isap oleh baby boy.
Laras memejamkan matanya sambil tiduran. Baby boy juga asik terus mimi sampai tertidur pula.
Ibra menyunggingkan senyumnya melihat sang putra dan bundanya tertidur dengan dada yang terekspos sempurna, perlahan Ibra menarik bahu sang istri. Membuatnya terlentang, dengan pelan-pelan tangan Ibra menutup bukit yang membuat hasratnya naik.
Baby boy Ibra pindahkan ke box nya. Mencium keningnya berkali-kali. "Bobo yang nyenyak ya sayang. Yang anteng."
Ibra yang masih mengenakan handuk. Kembali ke tempat tidur, mengambil pakaian yang sudah Laras sediakan tadi. Namun bukannya di pakai melainkan ia simpan kembali. Melirik jam dinding masih menunjukkan pukul 17.20wib.
Ibra naik ke atas tempat tidur mendekati sang istri yang tertidur. Dengan nakalnya Ibra memposisikan dirinya di atas Laras yang terpejam. Bibir Ibra tertarik mengukir senyuman puasnya, ia mulai mencumbu sang istri dengan menautkan bibir keduanya. Tangan mulai aktif menjamah bukit-bukit indah yang licin dan bersih itu. Menurunkan ciumannya ke bawah. Menyapu permukaan leher dan turun lagi ke bagian dada.
Laras yang menyadari akan pergerakkan seseorang. Membuka matanya perlahan dan mendapati suaminya sedang menikmati jatah sang baby boy. Geli-geli nikmat dan rasanya lega banget. Ringan, gak seperti sebelumnya yang keras dan sangat berat sekali. Tangan Laras merangkul pundak sang suami erat. Ketika ingin menikmati selanjutnya.
Terdengar ketukan pintu dari luar, membuat keduanya saling tatap. Tangan Laras menutup dadanya yang sudah terbuka lebar. Ibra mendengus kesal ....
__ADS_1
****
Apa kabar reader ku yang baik hati semuanya? jangan lupa dukung karya ku, "Bukan Suami Harapan" 👍