Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Di tahan


__ADS_3

"Iih ... sayang? aku sibuk pemotretan," Mery memegangi kedua bahu Ibra sambil menatap wajah tampan suaminya. Kakinya berjengket agar dengan mudah meraih wajah Ibra.


Ibra membuang muka dan menjauhkan dirinya dari Mery "Sudah lah. Aku mau istirahat." Ibra berjalan menjauhi Mery.


"Baik lah," Mery memandangi langkah suaminya dengan sedikit kecewa.


"Sekarang, kau berubah, setelah ada istri barumu itu. Kenapa sih Dian menyuruh Ibra menikahi wanita kucel itu? heran gue, anak mah ngambil dari panti saja, beres." gerutu Mery.


Di kamar Laras tengah asyik menonton acara kesayangannya di televisi. sesekali melirik jarum jam yang menunjukan pukul 21.30.


Hatinya mulai gusar. Katanya malam ini Ibra akan tidur di kamarnya, ada rasa senang juga cemas. Takut diminta melayaninya. "Tapi kan tugasku juga, kewajiban." Laras mondar mandir sambil menggigit kuku jari telunjuknya.


Langkahnya perlahan mendekati meja rias, menyemprotkan minyak wangi ke leher dan tangannya. "Huuh ... aduh jantungku berdegup kencang gini, padahal belum apa-apa. Dia juga mungkin saja gak ke sini, kali aja berubah pikiran jadi mendatangi istrinya yang lain," duduk di tepi tempat tidur, meraih guling kemudian di peluknya.


Terdengar derap langkah pelan tapi pasti. Laras memandangi daun pintu, jantungnya kian berdegup kencang. Pasti itu Ibra yang akan mendatangi dirinya.


Perlahan pintu di dorong dari luar, daun pintu pun terbuka. Nampak lah seorang pria tampan berdiri depan pintu, matanya menatap kerah Laras.


Ya ... dialah Ibra yang berdiri, netra matanya tertuju pada Laras, yang duduk di tepi tempat tidur memeluk guling. Ibra menarik sedikit bibirnya.


Seketika Laras menunduk, jantungnya kian melompat saja. Seperti perasaan pengantin yang baru pertama kali menghadapi malam pertama.


Helaan napas Laras begitu panjang.., dan terdengar gusar ketika melihat langkah Ibra mendekatinya.


Langkah Ibra tertuju pada Laras yang menunduk dalam. Sebelumnya menutup dan mengunci pintu.


Tatapan Ibra tajam kearah Laras sambil bibinya menyunggingkan senyuman. "Kenapa kau kelihatan tegang sekali?"


"Eh ... ti-tidak Tuan." Laras tampak gugup melihat Ibra duduk di dekatnya.


Ibra mengambil guling dari pelukan Laras, membuat Laras menatap heran Ibra, detik kemudian menunduk lagi.


Netra mata Ibra memperhatikan Laras dari kepala sampai ujung kaki, bentuk tubuhnya yang ideal, memakai stelan tidur yang panjang, rambut yang panjang bergelombang dibiarkan terurai begitu saja. Wajahnya yang bersih, hidung yang mancung. Bibir tipis merah jambu jadi penghias kecantikan wajahnya itu.

__ADS_1


"Em ... Tuan mau tidur sekarang?" Laras berdiri mau merapikan tempat tidur. Namun Tangan Laras diraih oleh tangan Ibra membuat Laras duduk kembali.


Laras menarik tangan dari genggaman Ibra. Jantung yang sedari tadi terus berdegup kencang makin ke sini makin tak karuan, telapak tangannya menjadi dingin.


"Kenapa tanganmu dingin seperti itu?" Ibra heran.


"Eh ... saya ke kamar mandi sebentar." Laras bergegas berjalan ke kamar mandi dan langsung menutup pintunya.


Ibra menggeleng pelan, sambil menarik bibirnya sebelah senyum tipis, lalu naik merangkak ke tempat tidur. Menarik selimut berbaring terlentang menatap langit-langit.


Di kamar mandi Laras berdiri memandangi pantulan dirinya di cermin. "Aduh ... kenapa jantungku berdebar terus sih?" gumam Laras sambil menetralisir perasaannya.


Tangan Laras menarik rambut menyamping terurai ke depan. Selesai mencuci muka Laras membuka pintu, terlihat Ibra sudah berbaring di atas tempat tidur.


Langkah Laras mendekati saklar dan menggantinya dengan lampu temaram, meskipun hatinya deg degan ia melangkah mendekati tempat tidur. Perlahan naik agar tak mengganggu orang disebelahnya, lalu menarik selimut sampai menutupi dada. Membaringkan tubuhnya miring membelakangi ibra yang ia lihat sudah tidur, sebelumnya memasang guling sebagai membatas antara keduanya.


Beberapa saat kemudian Ibra yang pura-pura tidur, telinganya mendengar jelas derap langkah Laras kemudian naik perlahan ke tempat tidur. Membuka mata suasana sudah temaram, melirik kearah Laras yang tidur menyamping membelakangi dirinya.


Guling yang berada di tengah-tengah. Ibra mengambil dan mengalihkan ke belakang tubuhnya.


Dengan hati-hati tangan Ibra diangkat dan memeluk pinggang Laras. Sontak Laras kaget dan ingin memindahkannya, namun tangan Ibra terlalu berat untuk di pindahkan. Ibra di belakang menyeringai puas.


"Tuan, tangannya?" gumam Laras tapi tak ada respon dari Ibra membuat Laras tak bisa pejamkan mata. Jantung yang tadi sudah netral sekarang kembali berdebar.


Di suguhi leher jenjang nan mulus, membuat Ibra tergoda ingin menyentuhnya, cup ... Ibra mengecup leher Laras dengan sangat lembut. Seketika Laras memejamkan matanya, sentuhan itu begitu lembut membuat


jantung Laras kian melompat-lompat.


Laras menggelinjang menghadap kearah Ibra menjadikan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Sesaat keduanya bersitatap hanya netra matanya yang bicara.


Kemudian Laras membalikkan lagi tubuhnya ke posisi semula, memegangi dada yang naik turun napasnya jadi tidak beraturan.


Ibra tersenyum nakal dan tangannya kembali memeluk pinggang Laras namun kali ini Laras diam saja. Menjadikan Ibra semakin bebas melancarkan aksinya, bibir ibra menelusuri leher Laras dengan bebas. Menimbulkan rasa menggelenyar di dalam tubuh Laras bergetar.

__ADS_1


"Ja-jangan Tuan" suara Laras dengan sangat lirih.


Suara Laras ditelinga Ibra begitu seksi dan menggoda, tangannya naik meraba sesuatu milik Laras dan kali ini langsung dia tepis menurunkan tangan Ibra ke tempat semula. "Jangan Tuan," suara Laras bergetar.


Napas Ibra kian memburu, sesuatu yang sudah tegang meronta harus di tahan. Sebab ia tidak ingin memaksakan kehendak lagi seperti waktu itu. "Oke, saya tidak akan memaksakan kehendak, saya akan melakukannya ketika kamu bersedia melayani saya," bisik Ibra dengan suara berat.


Laras tersenyum sambil memejamkan matanya, dan membiarkan tangan Ibra memeluk dirinya.


Ke esoknya, pagi-pagi seperti biasa. Laras sudah berada di kamar pribadi tuang Malik Ibrahim, beberes, dan menyiapkan pakaiannya.


Semenjak Laras ada, tidak ada asisten yang berbenah atau mengambil pakaian kotor lagi. Kecuali memasukan pakaian bersih dari laundry itupun cuma sampai di meja saja. Selebihnya Laras yang kerjakan.


Istrinya yang lain tidak tahu menahu soal itu, yang mereka tahu adalah ketika Ibra menyambangi mereka dan memberikan jatah lahir maupun batin pada mereka. Namun Dian sebagai istri tua dan seorang pengusaha tidak terlalu merongrong materi seorang Malik Ibrahim, karena dia tak kekurangan, dan usaha yang dia rintis pun memang pada dasarnya ada campur tangan Malik Ibrahim suaminya.


"Kau mau kemana?" tanya Ibra pada Laras yang sudah membuka pintu hendak keluar.


Laras menoleh. "Mau keluar, mau menyiapkan sarapan."


"Bantu saya dulu," ucap Ibra sambil mengenakan sabuk, kemejanya belum di kancingkan semuanya.


Sambil mengernyitkan keningnya. "Bantu apa?" Laras memutar langkahnya kembali ke dalam kamar.


"Kancingkan kemeja saya," sahutnya menunjuk kemejanya.


"Huuh ... gitu saja harus di bantu, anak kecil apa?" sungut Laras sambil mendekati dan menuruti perintah sang suami.


"Nggak usah menggerutu." jelas Ibra sambil memandangi wajah Laras, yang akhirnya nyengir. Selesai dan merapikan, lanjut membantu mengenakan jas kerjanya.


Ibra terus menatap Laras, Karena merasa diperhatikan. Laras mendongak! akhirnya mereka saling tatap-tatapan, tatapan Ibra begitu dalam. Membuat jantung Laras bergemuruh apa lagi ketika jari Ibra menyentuh tangan Laras.


Dian yang sudah siap untuk pergi ke bandara, mendatangi kamar Ibra ebih dulu untuk pamitan yang ke sekian kalinya. Namun setelah depan pintu kamar yang sudah terbuka. Dian mendapati pemandangan yang kurang mengenakan hati. Dian melihat suaminya tengah berdiri berhadapan dengan istri mudanya saling bersitatap dengan mesra.


,,,,

__ADS_1


Reader semua yang baik hati, coba dong kalau ada tulisanku yang kurang tepat atau salah atau juga kurang huruf misalnya. Komen dong biar segera aku perbaiki lagi🙏🙏 terimakasih sebelumya.


__ADS_2