Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Wanita baik baik


__ADS_3

Ibra dan Laras terkejut bukan main apalagi Ibra bukan cuma terkejut tapi juga marah bila ada yang mengganggu kesenangannya. Ia menoleh kearah pintu, ternyata ibunya yang langsung menutup mata dan berbalik arah berdiri memunggungi keduanya.


"Sorry, sayang. Bukan maksud Mama mengganggu," ucap bu Rahma sambil menghadap pintu.


"Mama?" gumam Laras.


Ibra mengusap bibirnya yang lembab. "Masuk saja Ma," menjauhi Laras dan mengambil pakaian untuk dikenakan.


Perlahan ... bu Rahma membalikan badannya dengan menyunggingkan bibirnya. "Sorry ya? Mama kira tidak sedang ini."


Laras tersipu malu, kemudian membantu mengenakan kemeja Ibra.


Bu Rahma duduk di sofa melihat Ibra dan Laras yang nampak serasi sekali.


"Ada apa Ma?" tanya Ibra sambil fokus dengan wajah Laras yang sedang fokus mengancingkan pakaiannya.


"Nggak, Mama kangen aja sama putra dan mantu Mama, tadi Mama ke kamar Laras! eh ... Laras nya tidur kali, pasti bawan baby ya. Sayang?" melirik Laras.


"Iya. Mah bawaan nya ngantuk terus," sahut Laras mengangguk.


Setelah mengenakan jas nya. Ibra memberikan sedikit minyak rambut dan menyemprotkan minyak wangi, yang baunya sangat menyeruak ke rongga hidung dan ruangan.


Mereka langsung menuju ruang makan, dan di meja makan yang luas itu sudah menunggu semua rekan kerjanya di sana.


Laras sebagai pendamping CEO tentunya ikut duduk gabung dengan mereka, banyak mata memandang Laras dan kadang bertanya di mana istri CEO yang lain? bukankah istrinya lebih dari satu. Tapi yang selalu menemani hanyalah wanita ini.


Bu Rahma dan pak Marwan pun ikut gabung makan bersama. Selesai makan siang semuanya beranjak dan kembali beraktifitas ke tempat kerja nya masing.


Begitupun Zayn dan Ibra bersiap balik ke kantor, dia menepuk pundak Ibra. "Bos, tambah cantik saja nih, bini muda!" menyeringai.


Ibra menoleh dan melotot sempurna. "Awas ya? kalau mata mu, macam-macam! ku congkel juga."


"Waduh?" Zayn terkejut. "Mata saya bos?" tambahnya lagi.


"Bukan! mata kucing," sahut Ibra.


"Oo ..."


Ibra menghampiri Laras yang berdiri dekat wastafel. "Saya balik ke kantor dulu, jaga kesehatan," menatap lekat pemilik bola mata bulat nan indah itu.


"I-iya Tuan. Bolehkan aku keluar sama Mama?" ucap Laras.


"Kapan?" tanya Ibra.


"Nanti sore, Mama ajak Laras ke Mall. Boleh ya sayang," celetuk bu Rahma.


"Oh ... boleh kalau sama Mama!" tambah Ibra.

__ADS_1


"Makasih sayang?" bu Rahma memeluk Ibra seraya berbisik. "Sebelum pergi itu, pamit dulu sama istri. Di cium dulu! belai dulu."


Membuat Ibra menyunggingkan senyumnya dan melirik kearah Laras. Laras gak tau yang ibu Mertua bisikan pada suaminya, ia duduk di kursi memakan puding sebagai cuci mulutnya.


Ibra pergi mengikuti Zayn, setelah mencium tangan ayah dan ibunya, tidak bicara apa-apa lagi pada Laras.


"Iih ... sayang." Menatap punggung Ibra.


Membuat Ibra memutar kepalanya. "Ada apa Mah?"


"Oh ... tidak, pergi saja."


Ibra melanjutkan langkahnya, bersama Zayn menuju mobil.


Sambil berjalan Zayn mengajak ngobrol. "Bos, istri muda mu tambah cantik saja, apa ... bawaan baby kali ya?"


"Mungkin."


Setelah keduanya berada di mobil, mobil melaju dengan cepat balik ke kantor.


Dian menunggu Ibra di ruangan nya. Sambil menunggu! Dian tiduran di tempat istirahat yang lumayan nyaman.


Ibra masuk ruangannya. "Katanya ada Dian! kok gak ada, dia dimana?" celingukan mencari Dian. Rupanya dia tiduran di kamar.


"Sayang?" panggil Ibra sambil mendekati Dian yang berbaring di tempat tidur.


Dian memicingkan matanya, dia langsung memeluk Ibra sangat erat. "Sayang, kok baru datang sih? dari rumah ya!"


"Sudah! tadi sebelum ke sini, kan tadi kau yang bilang, aku datang saja ke kantor mu untuk membicarakan Yulia. Lupa ya?" ujar Dian sambil mengalungkan tangan di pundak Ibra.


"Oh, iya. ya sudah! ikut aku." Ibra berdiri dan menuntun Dian ke meja kerjanya, di sana ia mengambil amplop kecil berisi foto-foto Yulia bersama pria lain.


Betapa terkejutnya Dian melihat itu. "I-itu ... asli sayang?" menoleh suaminya.


"Asli, itu asli. Bukan yang aku buat-buat hanya untuk alasan menceraikannya, tujuan kita, mencari wanita baik-baik dan bersedia mengandung anak kita. Tentunya calon ibu yang akan mendidik anak kita dengan baik pula. Oke! masa lalu biarlah masa lalu, tapi coba kau pikirkan! gimana seandainya dia hamil? sementara kelakuan dia begitu, apa kau yakin kalau anak yang dia- kandung itu anak ku? jujur. Aku ragu," ujar Ibra penuh keseriusan.


Mulanya Ibra duduk lalu berdiri menghampiri jendela dan berdiri di sana. Dian hanya diam tak bisa berkata-kata, tak menyangka juga kalau kelakuan Yulia seperti itu.


Beberapa saat kemudian Dian memeluk Ibra dari belakang. "Maafkan aku sayang? aku pikir Yulia wanita baik-baik. Karena yakin sih, dulu tidak seperti itu."


Dian meletakkan dagu di pundak Ibra. "Sekarang! terserah kamu saja. Mau gimana juga," sesungguhnya dalam hati kecil Dian bersyukur, bahwa istri dari suaminya sudah berkurang satu.


"Baguslah. Jadi ... sainganku berkurang, jadi aku gak harus menyingkirkan mereka dengan caraku," tersenyum penuh arti.


"Sudahlah, aku mau melanjutkan pekerjaan ku, kau mau istirahat atau balik ke kantor. Atau ... mau pulang?" tanya Ibra sambil melepas pelukan istrinya.


"Balik ke kantor, oya sayang! minggu ini jadi, kan pergi ke luar Negeri nya?"

__ADS_1


"Iya. Kenapa?" mengernyitkan kening.


"Aku bisa temani kamu, kebetulan kerjaan ku tidak terlalu sibuk."


"Oh ..." ucap Ibra. "Padahal aku ingin mengajak Laras pergi ke luar Negeri nya. Tapi ... ya sudah! mungkin lain kali saja," batin Ibra.


"Aah ... kok gak senang sih sayang? aku ikut." Dian kembali memeluk suaminya.


"Senang, aku senang kok kamu ikut. Siapa bilang aku tidak senang?" menjepit dagu Dian dengan gemas.


"Ya sudah! aku balik ke kantor dulu ya?" sebelum pergi Dian mengecup bibir ibra secepat kilat.


"Ya ... hati-hati."


Dian melenggang, keluar dari ruangan Ibra dengan hati yang riang, dia yakin kalau satu waktu nanti dia juga yang akan menjadi pemenang nya.


Ibra kembali berkutat dengan berkas yang menumpuk di meja. Sesekali termenung, "Tadinya aku akan mengajak Laras pergi sambil jalan-jalan, tapi sepertinya harus gagal. Aku harus bikin rencana di lain waktu untuk mengajaknya jalan-jalan."


****


Di dalam mobil mewah yang dikendarai pak Barko. Di dalamnya ada Laras, bu Rahma dan suami. Marwan, sengaja mengajak jalan Laras ke Mall untuk belanja, mereka berniat membelikan Laras sesuatu sebagai hadiah karena tengah mengandung anak dari putranya.


"Sayang, Mama sudah tahu siapa dirimu sebenarnya," ujar bu Rahma melirik Laras.


Laras yang tadinya melihat-lihat jalanan, sontak menoleh ibu mertuanya dengan tatapan heran. "Maksud Mama?"


"Em ... iya dulu! kami tahunya kamu itu sepupunya Dian dari keluar Negeri tapi ... cuma bohong," bu Rahma menarik napas dalam-dalam.


"Kamu itu cuma anak yatim piatu! yang besar di panti asuhan. Tapi kau lumayan pintar sampai mendapat beasiswa sehingga bisa jadi sarjana segala, paman mu, yang seharusnya menjaga dan merawat dari kecil malah angkat tangan. Bahkan harta peninggalan orang tua kamu pun habis di makannya, tanpa menyisakan sedikitpun untuk mu," ujar marwan.


Laras menatap ayah mertua dengan mata berkaca-kaca, hatinya bagai terhiris. Kata-kata pak Marwan mengingatkan akan masa lalunya yang menyedihkan, dimana ketika usianya yang masih kecil. Harus kehilangan kedua orang tua dan pamannya malah menyerahkan dirinya ke panti, padahal orang tua nya ada harta yang lumayan lah kalau untuk biaya hidup Laras.


Laras menyeka air matanya yang terus mengalir membasahi pipi.


Bu Rahma merangkul Bahu Laras seraya berkata. "Kami tidak marah sama kamu, tidak! yang bilang kamu lulusan luar Negeri dan orang tua di sana itu, kebohongan Dian. Kami tau itu dari Ibra, entah apa maksudnya Dian." ujar bu Rahma sambil mengusap bahu Laras penuh kasih.


"Anggap saja! kami ini orang tua kamu, jadi jangan sedih.Kami akan selalu ada untuk mu," lirih pak Marwan melirik Laras.


"Iya, bener sayang, Anggap saja Mama ini Mama kamu." Rahma merangkul Laras yang semakin terisak. Terharu dengan ucapan kedua mertua nya.


"Terima kasih. Mah dan Papa? sudah mau menerima aku!" ucap Laras sambil menyeka pipinya.


"Sama-sama sayang?" sambung Rahma terus merangkul Laras.


Pak Barko cuma mendengarkan obrolan majikannya dengan mata tetap fokus ke depan. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat kencang, brak! brak! brak! cekiiiiiit ....


,,,,

__ADS_1


Terima kasih banyak🙏, kalian sudah menyukai tulisan yang recehan ini. Tanpa kalian aku tidak berarti apa-apa! hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk semuanya. Semoga selalu dalam lindungan sang maha pencipta dan di mudahkan segala urusan Aamiin 🤲🤲 Kalian adalah penyemangat ku.


🤫Setttt kalau suka? mana vote dan rating nya? di tunggu ya!


__ADS_2