Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Hebatnya daya tarik Laras


__ADS_3

Ibra mengusap kasar wajahnya berkali-kali. "Ya ... sudah dulu lah, jaga anak kita ya, jangan sampai terjadi apapun yang tidak di inginkan."


"Iya, Tuan, eh Abang! oya, aku minta ijin ya? besok aku ingin ke panti asuhan, sudah lama tidak mengunjungi mereka," ucap Laras sembari menyatukan tangannya.


Ibra menatap sesaat. "Jam berapa?"


"Em ... sekitar pukul 09.00 boleh ya? tidak lama kok." Suara Laras memelas dan menggigit bibir bawahnya.


Ibra menelan saliva nya berkali-kali, ia merasa Laras sangat menggoda. Kalau saja di depan mata ingin sekali menerkamnya. Huh ... Ibra membuang napas nya kasar. "Boleh, tapi akan aku suruh Zayn untuk mengantarmu."


"Loh ... ada pak Barko yang akan mengantar ku!" elak Laras.


"Iya, ada, tapi ... baiklah. Oke sama pak Barko saja, kebetulan Zayn pasti sibuk di kantor. Jangan lama-lama dan jangan macam-macam juga."Tambah Ibra.


Laras mendongak. "Macam-macam apa?" mendelik kan mata indahnya.


"Jangan ketemuan sama cowok," ungkap Ibra lagi.


Laras mencibirkan bibirnya. "Dia sendiri yang main perempuan, malah curiga sama orang, situ sadar?" gumam Laras pelan. Namun terdengar jelas oleh Ibra.


"Sadar, Nona ... aku sadar," sambil nyengir.


"Ya, sudah. Aku mau tidur," menarik selimut dan pura-pura menguap.


"Masih sore Nona," kata Ibra, enggan mematikan VC nya.


"Apaan? di sana mungkin masih sore, di sini sudah malam woy ..." ungkap Laras.


"Ck ... tidak mau menemani suami apa? sudah berhari-hari tidak melayani suami, menemani ngobrol saja gak mau. Nasib-nasib," gerutu Ibra lesu.


"Aish ... kalau saja ada, pasti aku layani lah. Orang tidak ada! giman mau layani? lagian di sana juga ada istrinya." Laras tak kalah menggerutu.


Ibra membuka kancing kemejanya, sehingga dadanya terbuka. Merasa gerah, panas. Mungkin karena dorongan gairah yang dia rasakan saat ini.


Diam-diam, Laras menggigit bibirnya. Melihat Ibra telanjang dada, dada yang bidang, yang membuat ia nyaman dalam pelukannya. Detik kemudian Menunduk sedih, mengusap perutnya di balik selimut. "Papa mu sedang berada jauh sayang, jadi gak bisa memeluk kita.


Ibra menatap Laras yang tampak sendu. "Kamu kenapa? mual lagi atau pusing lagi, atau nanti aku pulang mau di bawakan apa? tanya Ibra. Tak bisa menyembunyikan tatapan matanya yang mendamba.


Laras hanya menanggapi dengan gelengan pelan. "Aku gak butuh apa-apa selain kamu pulang dan memeluk ku," batin Laras.

__ADS_1


Derap langkah kaki Dian masuk dan menutup pintu, Ibra menoleh "Kau sudah pulang, mana belanjaannya?"


Dian menatap layar laptop Ibra yang sedang VC dengan Laras. Ia melambaikan tangan pada Laras seakan mengucap sehai.


"Nggak jadi, malas."


"Baiklah. Kamu tidur saja sudah malam," ungkap Ibra langsung mematikan sambungan VC nya.


Ibra menutup laptopnya dan bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih, badan terasa lengket, gerah. Keringat bercucuran, sekalian menenangkan sesuatu yang tegang dan meronta sedari tadi. Sangat menyiksa dirinya.


"Uh ..." membuang napasnya. "Bisa sakit kepala nih kalau gini terus?" kemudian membuka semua pakaiannya. Lalu berdiri di bawah kucuran air shower yang hangat.


Begitu hebatnya daya tarik Laras, sehingga dari jauh pun mampu membuat Ibra ketergantungan padanya.


Dian menyiapkan makan malam di meja, agar Ibra selesai mandi langsung makan. Boro-boro makan romantis di luar berdua, berdekatan saja gak mau. Dian menelan saliva yang tersekat di tenggorokan, rasanya sakit, sedih pengen nangis sejadi-jadinya, pengen menjerit sekencang-kencangnya. Bila mengingat sikap Ibra.


Ibra keluar dan mencari pakaian di lemarinya, Dian menatap lekat ke arah Ibra yang di balut handuk. Matanya berkaca-kaca, bagaimanapun dia seorang istri yang butuh sentuhan dan kasih sayang dari suaminya.


Kemudian Dian membuang wajahnya dan berdiri memasuki kamar mandi. Cekrek! mengunci pintu lalu duduk di bibir bathtub, sambil memutar keran, ia menangis dan mengeluarkan segala kekesalan hatinya teramat sakit. Posisinya menjadi turun, duduk di lantai memeluk lututnya, menenggelamkan wajah di sana. Dengan banjir air mata yang membasahi pipi.


Selesai mengenakan pakaian, Ibra langsung makan malam sendiri. Kemudian berbaring di sofa tempatnya beristirahat setiap malam, sambil menyalakan televisi. Tiba-tiba berdering suara ponsel miliknya.


"Halo bos. Apa kau sudah tahu? kalau ada sebuah kejadian di rumah mu." Suara Zayn dari sebrang.


Ibra mengernyitkan keningnya merasa heran. "Emang ada apa?"


"Laras kecebur ke kolam renang, sementara dia tidak bisa berenang, menyebabkan ia pingsan," ungkap Zayn.


"Ha?" Ibra terperanjat sungguh baru mendengarnya kali ini. "Serius?" seakan tidak percaya.


"Beneran bos, aku dengar dari bu Rika, dia cerita dan aku sudah cek kebenarannya. Dia di dorong oleh Istri mu, Mery."


Ibra mengepalkan tangan. Sungguh geram mendengarnya, bisa-bisanya Mery berbuat itu pada Laras. "Terus gimana keadaan Laras setelahnya? setiap aku VC dia, dia baik-baik saja tuh, dan tidak pernah cerita apapun."


"Itu atas permintaan Laras, agar tidak cerita sama siapa pun termasuk dirimu," sambung Zayn..


"Aku tidak akan memaafkan dia, kalau sesuatu terjadi pada Laras ataupun kandungannya. Beraninya dia menyakiti Laras, kumpulkan semua bukti-bukti. Biar nanti aku pulang semua sudah siap! cctv juga amankan." Pesan Ibra. Raut wajahnya di tekuk, merasa kesal dan khawatir.


"Baik, bos," sahut Zayn.

__ADS_1


"Terus awasi keadaan rumah ku," pinta Ibra lagi.


"Baiklah, bos. Sudah ngantuk nih, sampai jumpa." Zayn menutup sambungan teleponnya.


Ibra termenung, tangannya memasukan ponsel ke saku celananya. Huh ... lagi-lagi membuang napas begitu saja, kemudian mendongak ke langit yang hitam pekat hanya dihiasi satu bintang yang bersinar.


Dian yang sudah bersiap tidur, duduk bersandar matanya memandangi keluar balkon, dimana Ibra berdiri dan sibuk bicara lewat telepon.


Tidak lama berselang, Ibra masuk dan melirik ke arah Dian yang tengah memandangi dirinya. "Belum tidur?"


Dian menggeleng. "Belum, ada apa? serius banget sepertinya."


"Iya, di mension. Mery berbuat ulah," sahut Ibra sambil berdiri.


"Membuat ulah gimana sayang? duduk lah bersama ku." Dian menepuk kasur sebelah, agar Ibra duduk di dekatnya.


Ibra duduk di tepi tempat tidur, namun jauh dari posisi Dian. "Iya, buat ulah, dan mendorong Laras ke kolam renang. Sementara Laras tidak bisa berenang."


Dian terkesiap mendengarnya. "Apa? yang benar sayang? terus gimana keadaan Laras dan kandungannya, tidak ke napa-napa, kan?" bagaimanapun Dian cemas atas kondisi Laras terutama anak yang di kandungnya.


Sebelum menjawab. Ibra menghela napas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan sangat panjang. "Tidak, Laras hanya mengalami pingsan saja."


"Ya ... syukurlah, aku merasa lega kalau, mereka baik-baik saja." Tambah Dian.


"Aku juga tidak menyangka, kalau Mery akan berbuat gitu," ucap Ibra sambil menerawang.


"Mungkin ... mereka salah faham sayang," sambung Dian sambil mendekat, tangan sudah direntangkan hendak memeluk Ibra.


Namun Ibra menjauh dan berdiri. "Maafkan aku sayang, jangan dekat-dekat dulu. Aku gak kuat dengan parfum punya kamu."


Dian menatap sedih ke arah Ibra, air matanya mulai menggenangi. Bibirnya bergetar. Menahan amarah yang tak bisa ia ungkapkan.


Ibra merasa bersalah, menatap sendu ke arah Dian yang menangis. Namun tak bersuara. "Maafkan aku sayang? mungkin nanti kalau aku sudah tidak merasa aneh lagi. Kita bisa seperti biasa lagi."


Ibra mengayunkan langkahnya. Menuju tempat ia beristirahat, ya itu sofa panjang yang beberapa hari ini ia tempati, agar tidak bersama Dian.


Dian merasakan dadanya begitu sesak. Lagi-lagi merasa sakit, ingin rasanya. Mencakar sesuatu ....


****

__ADS_1


Hi ... aku up lagi nih, semoga tulisan ku sedikit menghibur hati kalian ya? dan jangan lupa untuk terus dukung aku. Like. komentar yang banyak, vote dan satu lagi rating nya.🙏


__ADS_2