
Sekarang tinggal Ibra dan istri juga bu Rahma dan pak Marwan saja. Ibra mendekati istrinya lantas merangkul pinggang sang istri yang terasa sedikit ramping kembali. Mengecup keningnya dengan sangat mesra.
"Apaan sih? malu ih." Mata Laras melirik ke arah sang mertua.
"Nggak, pa-pa sayang. Kangen dari tadi banyak tamu mulu," keluh Ibra memeluk singkat bahu sang istri.
"Hem ... perasaan dua hari ini ada terus bersama ku, masih aja bilang kangen. Gak salah?" lirih Laras sambil mengusap dada Ibra.
"Iya, gimana dong? kalau adanya begitu hem!" sambung Ibra. Lalu melepas pelukannya.
Kemudian mendekat pada baby boy dengan senyuman yang mengembang. "Hadirmu bukan cuma Papi dan Mammy yang bahagia. Tapi yang lain juga sayang, kamu membawa kebahagiaan buat kami semua."
Jari Ibra mengusap tangan si kecil yang mungil dan halus. Senyuman bahagia tak lepas dari bibir Ibra yang terus mengembang. Menoleh pada sang istri yang tengah memandangi dirinya. Serta senyuman manisnya.
"Kenapa sayang?" tanya Ibra sambil mendekat.
"Nggak." Laras menggeleng.
Netra mata Ibra mengarah pada ayah dan bunda yang bersiap untuk tidur. Kemudian Ibra berbaring di dekat sang istri.
Laras menoleh pada Ibra. "Sudah salat belum?"
"Sudah sayang ..." tangan Ibra merangkul, membawa tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
Beberapa kali mengecup kening sang istri mesra. Kemudian mereka lelap dalam mimpi yang menghiasi tidurnya.
****
Beberapa hari kemudian. Setelah diperiksa dan konsultasi lainnya, Laras dan baby boy nya bisa pulang sekarang. Hari ini kebetulan Ibra masuk kerja, setelah beberapa hari ia libur. Dan memantau kerjaan dari cuma dari jarak jauh ya itu dari Rumah sakit.
Baby boy sudah di dalam gendongan bu Rahma, dan pak Marwan. Susi dan Irfan mengangkut semua barang-barang dari ruangan Laras. Karena barangnya banyak, membuat pak Barko pun turun ikut menjemput.
"Sayang. Apa Ibra akan menjemput ke sini?" tanya bu Rahma menoleh ke arah Laras.
"Iya, Mah ... mau jemput ke sini dulu." Laras mengangguk.
"Mungkin masih di jalan Mah ..." timpal pak Marwan.
"Iya kali, Pah." Bu Rahma mengiyakan. "Eeh ... cucu Oma sudah bangun, kita mau pulang ke rumah sayang. Tidak Rumah sakit lagi," bu Rahma mengajak ngobrol baby boy.
"Assalamu'alaikum," suara Ibra yang baru datang. Bersama sosok Zayn yang membuntuti dari belakang.
"Wa'alaikumus salam ..." jawab yang ada di sana dengan serempak.
"Mana ponakan ku yang ganteng? aku ingin gendong Tante!" Zayn meminta baby boy ke dalam pangkuannya.
Bu Rahma pun memberikannya. "Awas hati-hati Om. Pegang nya, aku belum kuat Om!"
Seperti biasa Laras meraih tangan Ibra di ciumnya. Begitupun Ibra mendaratkan kecupan kecil di kening sang istri. "Baru pulang?"
"Iya, mengundurkan rapat dulu. Biar jadinya besok di mension," sahut Ibra sambil membuka jas nya. Dibantu oleh Laras, kemudian menyingsingkan lengan kemejanya ke siku. Membersihkan tangan lebih dulu. Baru menghampiri sang baby boy.
"Heh, cuci tangan belum? main pangku aja. Bawa pirus, bahaya!" kata Ibra pada Zayn.
"Iya, sorry hehehe. Papi mu jahat Om gak boleh pangku baby Satria, Om jadi sedih hik hik hik. Ini Baby mu ambil." Zayn memberikan baby boy pada Ibra yang sudah siap mengambilnya.
"Bentar, saya lupa cara gendong bayi gimana sih?" gumam Ibra kebingungan. Ragu-ragu mau mengambil baby nya.
"Aduh ... capek deh ... bapaknya sendiri gak tahu cara gendong baby." Cibir Zayn sambil menepuk jidatnya.
"Kan, baru. Belum hapal, mana apal saya. Kamu tahu gimana caranya?" tanya Ibra memicingkan matanya pada Zayn.
Zayn menggeleng. "Nggak tahu, cara ngambilnya gimana?" ha ha ha ....
"Eeh ... sama aja!" kepala Ibra menggeleng pelan, lalu melirik sang bunda yang tersenyum melihat ke arah mereka berdua.
Bu Rahma mengajarkan gimana ngambil dari tempat tidur atau dari tangan orang lain. Diajarkan sampai Ibra dan Zayn hapal dan bisa mengambil sendiri.
Kemudian mereka bersiap pulang. Bu Rahma yang menggendong baby boy. Laras. berjalan dengan Ibra menuju mobil, bu Rahma yang gendong baby boy duduk bersama Laras di belakang. Ibra duduk di depan dengan Irfan, sementara Susi di mobil Zayn sambil biasa beradu argumen.
"Tuan Zayn, aku mau di mobil tuan aja sama nyonya Laras." Keluh Susi.
"Kamu gak tahu kalau di sana penuh, kalau mau sana?" suruh Zayn. Sambil duduk tegak menghadap setir dan mata fokus ke depan.
"Terus kenapa jalan?" mata Susi melotot. Nada bicaranya ketus.
"Apa kamu mau berdesakkan dengan barang-barang di mobil satu lagi, bersama pak Barko?" ketus Zayn tanpa menoleh.
Susi tidak menjawab. Tangannya bertaut satu sama lain, matanya memandangi mobil yang di tumpangi Laras yang melesat di depan. Nyesel gak masuk duluan ke mobil tersebut. "Sudah. Berhenti, aku mau turun?" pinta Susi.
"Kalau kamu mau turun, kamu mau naik apa?" selidik Zayn. "Apa mau jalan kaki?"
"Mendingan jalan kaki dari pada sama Tuan Zayn." Timpal Susi.
Cekitttt ....
__ADS_1
Mobil Zayn berhenti mendadak. "Oke. Turun?" bentak Zayn dan menoleh ke arah Susi.
Susi terkesiap mendengar bentakan Zayn. Tak menyangka akan di bentak Zayn seperti itu, Susi sudah bersiap membuka pintu. Untuk turun. Namun ia urungkan, ia pikir kalau turun mau naik mobil siapa? masa mau naik taksi.
Melihat Susi bukannya turun, malah bengong. Melamun, seolah memikirkan sesuatu.
"Kenapa gak turun? bukannya mau turun dan tak mau semobil dengan ku!" sergah Zayn. Dengan nada kesal.
Susi panik. Ketakutan atas sikap Zayn yang tampak garang. Kepalanya menunduk dalam. "Nggak jadi." Lirihnya.
"Saya juga gak sudi. Bareng kamu, turun? naik taksi sana, bukannya kamu mau jalan kaki!" sergah Zayn kembali.
Netra mata Susi berkabut. Berkaca-kaca. Tak lagi berkata-kata, diam seribu bahasa.
Sementara waktu Zayn menunggu, Namun Susi malah menangis. Zayn jadi merasa bersalah. "Kenapa kamu menangis?"
Susi menggeleng tak menjawab.
"Kenapa menangis? jawab." bentak Zayn. Namun kali ini bibirnya, tersenyum.
Susi terkesiap. "A-aku. Ta-takut," jawab Susi terputus-putus.
"Takut kenapa?" tanya Zayn kembali.
"Ta-takut. Sama Tuan Zayn yang galak." Timpal Susi, melirik sekilas. Kemudian menunduk kembali.
Zayn mengulum senyumnya. "Sorry, mood ku lagi kurang bagus."
Memang Zayn lagi kurang bagus suasana hatinya di saat ini. Semalam ia ditinggalkan oleh kekasihnya yang lebih memilih pria bule ketimbang dirinya. padahal Zayn sudah ada niat untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, namun ternyata kekasihnya memutuskan hubungan dengan begitu saja. Demi pria bule yang baru dia kenali.
"Oke, kita lanjutkan perjalanan. Mobil si Bos sudah jauh, mungkin juga sudah sampai," ucap Zayn sambil kembali memutar setirnya.
"Tuan Zayn tidak marah lagi?" tanya Susi sambil melirik ke arah Zayn.
"Tidak." Zayn menarik bibirnya tersenyum. "Saya mau tanya sama kamu. Kenapa sih? kalau sama saya kamu itu terkadang jutek banget!" Netra mata Zayn sebentar menatap lekat.
Tatapan mereka bertemu. Deg hati keduanya berdebar tak menentu. Susi segera mengalihkan pandangan ke sembarang tempat.
Zayn sendiri langsung kembali fokus ke depan. Melihat jalanan yang lumayan ramai.
"Saya lapar, belum makan siang. gimana kalau kita makan dulu?" ajak Zayn dengan tetap fokus melihat ke depan.
"Ha? Tuan mengajak saya? tidak salah, apa tidak salah mengajak orang ya?"
"Nggak sih, cuma kita berdua aja." Jawab Susi menggeleng.
"Mau gak?" Zayn bertanya kembali.
"Boleh sih, tapi ... kenapa mengajak saya? nanti cewek Tuan marah sama saya gimana! saya gak bisa melawan loh." Susi kekeh.
Zayn berdecak kesal. "Ck ck, sudahlah jangan bahas itu."
"Ya udah, kalau gak mau bahas itu. Turus mau makan di mana?" Susi menoleh Zayn yang sedikit memelankan laju mobilnya. Tepat di depan sebuah restoran.
Zayn turun duluan, berjalan mengitari mobilnya membukakan pintu mobil buat Susi. Susi terkejut tak menyangka kalau Zayn akan membukakan pintu untuknya.
"Mau turun gak? malah bengong, gak pernah di perlakukan pria ganteng seperti ini ya?" gumamnya Zayn. Ketika melihat Susi diam saja dan mengarahkan pandangan pada dirinya itu.
Susi pun mengerjapkan matanya."Ih, GR amat merasa ganteng," batin Susi sambil mengerucutkan bibirnya, lalu turun. Tak lupa mengucap makasih. "Terima kasih Tuan Zayn?"
"Sama-sama." Kemudian keduanya berjalan beriringan. memasuki restoran tersebut dan memilih tempat yang agak sepi. Jauh dari keramaian.
Langsung di hampiri pegawainya. Menawarkan menu-menu andalannya.
Setelah memesan, keduanya terdiam. Tak satupun membuka obrolan, cuma kadang-kadang mata mereka yang bicara entah apa itu.
Susi menyedot minumnya. "Tuan dan nyonya muda pasti mencari kita loh."
"Biar saja. Saya sudah bilang kok, kalau kita mau makan dulu," sahut Zayn sambil meminum air es tea.
Susi cuma mengangguk. Di pikirannya merasa aneh, kok Zayn tumben-tumbenan mengajak makan dirinya makan. Seumur-umur kali ini diajak makan. Yang ada di Mension atau di rumah majikannya, Laras. Zayn yang minta makan, Susi menatap curiga.
"Kenapa menatap seperti itu, takut di culik? atau di paksa!" Zayn menatap tajam.
"Ha? apa, maksudnya di paksa?" selidik Susi makin curiga.
Zayn hanya memainkan mata genitnya.
"Iih ... awas kalau macam-macam." Ketus Susi sambil mendelik kan ekor matanya.
Zayn terkekeh. "Nanti aku kasih tahu pisang cinta yang bikin kamu penasaran itu." Bisik Zayn.
"Yang mana sih?" langsung merespon.
"Nggak ah, belum waktunya tahu. Ayo makan?" Menunjuk makanan yang sudah datang. Netra mata Zayn sesekali mencuri pandang Susi. Bibirnya terus tersenyum. Entah apa yang Zayn pikirkan kali ini.
__ADS_1
"Baiklah. Susi makan dulu kebetulan lapar juga nih.
****
Di rumah Laras. Kedatangan Laras dan baby boy, di sambut bahagia oleh para tetangga komplek. Mereka begitu menyukai baby boy milik Ibra dan Laras. Bu Rika sudah menyiapkan makan siang. Dibantu oleh ibu dan anak-anak panti.
Kini Laras sedang duduk di ruang tengah dengan para tetangga yang bertamu. menyambut kedatangan baby boy. Hampir semua memuji ganteng nya baby Satria. Lucu dan menggemaskan, Sementara Ibra dan yang lain beres-beres di kamar Laras menyiapkan tempat tidur baby boy.
Semua barang-barang dari mobil dipindahkan ke dalam rumah, begitupun bunga-bunga ucapan selamat. Di simpan di depan rumah. Sehingga rumah itu bertaburan dengan rangkaian bunga-bunga. Dan juga kado hadiah.
Laras memangku baby boy. Sesekali berada dalam pangkuan bu panti yang merasa kangen. Kebetulan dia tak sempat satang ke Rumah sakit, dengan alasan nanti saja setelah pulang dari sana, ya itu kalau sudah di rumah.
Bu Rahma membawa sebuah nampan yang berisi gelas minuman mineral, menyuguhkannya dengan makanan ringan di meja. "Silakan bu ibu. Diminum dan di cicipi kue nya, sebentar lagi kita makan siang."
Kemudian bu Rahma kembali ke dapur untuk menyimpan nampan. "Susi kemana sih? kok belum muncul juga batang hidungnya?"
"Susi makan dulu sama Zayn, Mah ..." jawab Ibra yang kebetulan melintas ke dekat sang ibunda.
"Oh, iya kah? anak itu makan siang sama Zayn!" Seakan tidka percaya.
"Iya, barusan Zayn bilang sama Abang. Kalau mereka mampir di restoran untuk makan siang." Ibra meyakinkan Ibundanya.
"Akhirnya. Kucing dan tikus itu bisa juga dekat. Biarlah semoga hubungan keduanya semakin membaik ya?" ucap bu Rahma.
"Iya, Mah ... biar mereka lebih dekat lagi," timpal pak Marwan.
Kamar Laras dan baby sudah siap untuk ditempati. Para tetangga pun berangsur pulang, padahal di suruh makan terlebih dahulu. Baby boy segera dibawa ke kamar yang sudah dipersiapkan itu. Di tidurkan di bok kecil yang komplit dengan kelambunya.
Laras bersiap mau bersih-bersih dulu, badan terasa lengket. Gerah, baunya gak enak. Sosok Ibra muncul, keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang melilit di pinggang, dan handuk kecil di tangan yang dia pakai untuk mengeringkan rambutnya.
Sejenak, Laras tertegun melihat tubuh suaminya yang bertelanjang dada. Dengan susah payah Ia menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan.
Mata Ibra menyapu sudut ruang itu yang cuma ada mereka berdua, pintu pun tertutup. Ibra membawa langkahnya mendekati sang istri yang masih berdiri mematung. "Kenapa sayang?" mengedipkan sebelah matanya.
Beberapa kali Laras mengedip-ngedipkan kelopak matanya. Seraya menggeleng. "Nggak."
Jari Ibra mengangkat dagu Laras membuat wajah Laras mendongak sempurna pada wajah Ibra yang berjarak beberapa senti saja. "Akhirnya kita bisa berdua juga." Suara Ibra dengan pelan. Netra matanya bergerak, terkunci ke wajah Laras terutama bibir ranum yang beberapa hari ini luput dari sentuhannya.
Manik mata Laras pun bergerak melihat wajah suaminya yang masih dihiasi dengan sisa-sisa air yang menggenang bening mengkilat. Tangan satunya Ibra dengan lembut menyentuh tengkuknya, perlahan namun pasti. Bibirnya mendarat lembut di bibir Laras, dengan sangat penuh perasaan. Kedua tangan Laras menempel di dada Ibra, sehingga detak jantungnya dapat Laras rasakan berdegup kencang. Seperti yang Laras rasakan saat ini juga, dadanya naik turun. Napas yang sama-sama memburu, sesaat keduanya menikmati sentuhan yang lama tidak mereka lakukan.
Klik ....
Suara handle pintu di putar dan muncullah bu Rahma membawa sesuatu milik baby boy. Ia menyembunyikan senyumnya. Pura-pura tak melihat adegan intim putra dan mantunya itu.
Ibra dan Laras terperangah. Sentuhan pun berakhir dengan napas yang masih berat. Tangan Laras mengusap bibirnya yang lembab. Begitupun Ibra, namun Ibra lebih terlihat lebih santai ketimbang Laras yang wajahnya merona malu. Kemudian bergegas berjalan menuju kamar mandi. Ibra mengambil pakaian yang sudah Laras siapkan di atas tempat tidur.
"Ingat ya? puasa. Kalau cuma gitu-gitu aja boleh, tapi untuk lebih dari itu tahan dulu. Sampai selesai. Jadi laki-laki jangan egois juga, kasian istrinya," ujar sang bunda mengingatkan putranya itu.
"Tapi ... kalau khilaf boleh dong Mah? sekali gitu! kalau gak kuat, kan gak bisa nahan, Mah. Ha ha ha ..." goda Ibra, tak segan bilang seperti itu sama mamanya.
Plak!
Bantal yang di tangan bu Rahma mendarat di kepala putra semata wayangnya itu. "Khilaf-khilaf, kepala mu khilaf. Sudah tahu melahirkan itu kaya gimana, kan? enak saja bilang khilaf."
"Kan, gak kuat Mah ... biasanya juga tiap hari," keluh Ibra sambil memakai pakaiannya.
Bu Rahma menggelengkan kepalanya, Tangannya dengan terampil menggantikan popok baby boy yang basah. Namun anak itu anteng, tak merengek sedikitpun. Dia malah bermain, kaki dan tangannya bergerak-gerak tak mau diam. "Eh ... cucu Oma main ya? yang anteng ya sayang. Bobo yang nyenyak, main yang anteng juga oke?"
Ibra yang sudah rapi dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya. Sampai wanginya menyeruak ke seluruh ruangan kamar tersebut. Kemudian berjalan mendekati sang putra. "Hem ... main sama Oma ya sayang?" netra mata Ibra menatap baby boy yang tampan.
Beberapa saat kemudian Sosok Laras, muncul dari balik pintu. Baby Satria kenapa, Mah?" tanya Laras melihat mama mertua yang merapikan popok baby boy.
"Basah sayang ... baby nya. Tapi lihat deh, dia sangat anteng. Nggak nangis ataupun apa," sahut Ibra.
"Oya." Laras membawa langkahnya mendekati baby boy yang bermain. Kedua matanya yang sangat bening. Bergerak lihat kanan dan kiri, bawah juga atas.
"Sayang ... baby Satria? ini Mammy sayang, hei ..." jari Laras menggenggam tangan mungil baby Satria. Ia tatap penuh kasi sayang.
"Kalian belum makan, dah jam berapa nih? makan dulu sana," titah bu Rahma. Mengingat anak dan mantunya yang belum makan siang.
"Oya. Kok aku gak lihat Susi ya sedari tadi?" tanya Laras pada mama mertua.
"Susi sama Zayn, sayang katanya tadi makan siang." Ibra menjawab pertanyaan dari sang istri.
"Oya?" berasa kurang kurang percaya.
"Sudah pulang. Itu lagi beres-beres, Nak Zayn nya lagi berenang sama anak-anak." Timpal bu Rahma.
Ibra mengajak sang istri makan. Kebetulan perutnya sudah lapar. "Makan yu sayang?" lapar nih.
Laras mengangguk. Dan mengikuti langkah Ibra. Sebelumnya menitipkan baby Satria ke mama Rahma. Di pintu bertemu dengan bu panti yang ingin melihat baby boy ....
****
Aku banyak-banyak ucapkan terima kasih pada reader ku semua, yang sampai detik ini masih setia pada cerita SKM ini. Semoga tetap suka dan komentar kalian membuat aku tambah semangat.🙏
__ADS_1