Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Wanitanya


__ADS_3

Dengan menyeringai Ibra seraya berkata "Mau pakaikan? boleh," gumam Ibra sambil membuka handuk, refleks Laras berpaling dan menutup mata dengan lima jarinya. Dan bergegas Laras keluar dari ruangan walk-in closet, sambil bergidik.


"Haduh! ... ini orang bikin saya jantungan saja," sambil berdiri membelakangi pintu. Jantungnya berdebar, dan mencoba menetralisir keadaan.


Kemudian dia memungut pakaian kotor Ibra yang bergeletakan begitu saja. "Ni! orang kebiasaan apa sengaja ngerjain aku sih?" gerutu Laras.


Waktunya Ibra makan siang bersama sekertaris pribadinya. Bahkan ada beberapa orang lagi entah siapa yang jelas berpenampilan formal. Laras di mintai makan bersama dan melayani Ibra, dari mulai ngambil piring sampai isinya.


Sampai acara makan selesai tidak terlihat istri Ibra yang lainnya kecuali Laras. Ibra melirik Laras. "Kalau sudah makan, kamu bersiap untuk menemani saya rapat."


"Hah?" Laras terkejut bukan main, untuk nemenin rapat dia gak ngerti harus ngapain. "Sa-saya?" menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, siapa lagi? apa kamu lihat istri saya yang lain di sini. Tidak ada, kan?" Ibra langsung memanggil bu Rika. "Bu antar dia ke salon kita, dandani dia agar lebih menarik dengan pakaian formal. Waktunya dua puluh menit," sambil melihat jam tangannya.


"Baik Tuan," kemudian mengajak Laras yang malah termangu, bingung harus berbuat apa.


Bu Rika mengajak Laras ke sebuah ruangan yang mereka bilang adalah salon dan memang banyak alat-alat kecantikan selayak nya di salon terkenal. Laras langsung disambut oleh seorang wanita berpenampilan menarik, dan menyuruhnya duduk untuk perawatan rambut terlebih dahulu.


"Waktunya cuma dua puluh menit," ucap bu Rika sambil pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Siap Bu," sahut wanita tersebut sambil merapikan rambut Laras yang ikal itu.


Sesaat kemudian bu Rika kembali membawa pakaian span panjang namun belahannya begitu tinggi bagian belakang, berwarna hitam dan kemeja putih, tak ketinggalan sepatu kantor wanita yang kebetulan sekali pas di kaki Laras.


Laras nampak cantik dengan penampilannya yang sekarang dengan tataran rambut di sanggul rapi. "Mari Nyonya Tuan sudah menunggu, rekannya juga sudah pada datang," ajak bu Rika sambil menggandeng lengan Laras.


Perasaan Laras dag dig dug tak menentu. Jantungnya berdebar tak karuan. Takut bikin malu Ibra.


Di depan pintu ruang rapat. Ibra sedang menunggu Laras dan menatapnya tajam, diam-diam tersenyum, hatinya memuji kecantikan Laras. "Pandai juga Dian memilihkan wanita untuk jadi istri ku," batin Ibra.


"Lama sekali, ngapain saja sih?" sambil melihat jam mewah di tangannya.


"Aish ... ini belum dua puluh menit," sudah menggerutu saja, aneh!" gumam Laras dalam hati.


"Maaf Tuan, bukankah ini sudah tepat waktu," sahut bu Rika menatap majikannya.


Membuat Ibra skakmat oleh omongannya sendiri. "Ya sudah kita masuk?" ajak Ibra sambil menyodorkan tangannya, namun Laras kurang mengerti dia hanya diam.

__ADS_1


Bu Rika memberi kode agar Laras menggandeng tangan majikannya dan barulah Laras mengerti. Dengan ragu Laras mengikuti perintah bu Rika, keduanya berjalan sedikit terburu-buru sebab menurut Ibra waktunya sudah telat.


Di ruang rapat terdapat meja panjang dan sudah di penuhi rekan Ibra. semuanya memandangi Ibra dan Laras yang nampak begitu anggun. Ditambah busana formal yang membalut tubuhnya, menambah kesan elegan.


Menyadari banyak mata yang memandang. Laras menunduk serta jantungnya semakin berdegup kencang karena dia tahu mereka tamu penting tuan Ibra.


Ibra pun mengerti rasa nervous nya Laras, ia segera berbisik. "Kau cukup tenang dan tersenyum ramah pada mereka, dan duduk manis di samping saya."


Laras menoleh, dan tersenyum samar. Kemudian sedikit mengangkat wajahnya, dengan percaya diri dia tersenyum dan mengangguk hormat pada semua yang ada di meja rapat ini.


Seorang rekan kerja Ibra memberanikan diri bertanya. "Nice lady, smart of you to pick a secretary like her."


Ibra hanya tersenyum dan kemudian bergumam. "Thank."


Rapat pun dimulai dibantu oleh Zayn untuk meringankan setiap pekerjaan Ibra, sementara Laras hanya duduk manis di dekat Ibra.


"Apa ada yang ingin ditanyakan,?" tanya Ibra pada para kliennya.


Semua menggeleng, dan akhirnya rapat pun di tutup. Semua berdiri dan saling berjabat tangan sebelum mereka berpamitan, bahkan ada yang berbisik. "Wanitanya di jaga Tuan, terlalu cantik untuk di pamerkan."


Ucapan itu membuat Ibra tersenyum dingin dan ada sedikit rasa yang menghangat. Namun Ibra tetap menghormati kliennya dengan gumaman "Oke."


Setelah sadar melihat Ibra telah melintasi pintu. Laras jalan terburu-buru mengejar Ibra. "Tuan tinggu? lah ngapain aku terus berdiri di sini sih," gerutu Laras sambil melambaikan tangan dan mengejar langkah Ibra yang lebar. Serta membuka sepatunya yang membuat kaki Laras nyeker.


Zayn menggeleng melihat kelakuan Laras, dan segera dia pun menyusul bosnya.


"Haduhh ... pengen ke toilet lagi, ah mending ke kamarku saja." Laras mengurungkan niatnya untuk mengejar Ibra, kini dia lebih memilih ke kamarnya saja yang berada di lantai empat.


Kini Ibra dan Zayn tengah berada di ruang kerja nya. "Saya harap kamu bisa mengurus kerjaan dengan baik," ucap Ibra menatap serius sekretarisnya.


"Tentu." Zayn mengangguk.


"Oke, silahkan balik ke kantor. Saya lelah, pantau dari sini saja," sambil bersandar di kursi kebesarannya.


"Baik bos, saya undur diri sekarang." Zayn membungkuk hormat lalu berjalan mundur berapa langkah, kemudian hilang di balik pintu.


Ibra sesaat memejamkan mata pikirannya melayang mengingat status nya yang beristri empat, apa yang dia cari dan apa yang dia inginkan sehingga memiliki istri sampai empat.

__ADS_1


Ke tiga istrinya selalu sibuk di luaran. Paling ketemu bila waktunya di tempat tidur saja, jarang melayani dalam hal lain. Apa-apa menggunakan asisten.


Seperti malam ini adalah waktunya bersama Dian. Namun hari gini belum juga terlihat batang hidungnya.


Setelah makan malam Ibra membawa sebuah laptop ke taman. Sambil mencari angin sekalian mencari inspirasi di sana. Namun langkah Ibra terhenti melihat seorang gadis tengah duduk di kursi panjang yang ada di sana.


Sesaat kemudian Ibra melanjutkan langkahnya, dan duduk di sebelah gadis itu yang tengah duduk memeluk lututnya.


Laras terkejut melihat Ibra tiba-tiba ada di situ. "Anda?" sontak berdiri menatap kearah Ibra.


Ibra dengan santainya membuka laptop yang dia bawa dan seraya berkata "Iya, kenapa? kaget."


Laras menghela napas panjang lalu mengaturnya "Mau apa anda di sini?" tanya Laras sambil mendudukkan kembali tubuhnya.


"Seharusnya saya yang bertanya. Sedang apa kau di sani,? malam-malam," sambung Ibra sambil melihat-lihat kanan dan kiri.


"Em ... saya ... sedang mencari angin, dan melihat bunga-bunga di malam hari," Sahut Laras.


"Buat apa bunga di lihat pada malam hari, mau juga pada pagi hari ketika mereka bermekaran. Segar-segar bukan malam hari."


"Ya ... terserah saya dong, mau malam hari mau pagi hari juga mata-mata saya kok." timpal Laras sedikit tersenyum.


"Hem!" Ibra meliriknya "Bisa saya mintai tolong?" menatap Laras lekat membuat Laras salah tingkah tak kuat melihat balik tatap matanya Ibra yang tajam.


"Em ... minta tolong apa Tuan?" Laras menunduk dalam.


"Abang, panggil saya abang. Bukankah kamu ini istri saya?" sambung Ibra kembali.


"Tapi ..." Laras terdiam. "Saya menjadi istri anda hanya untuk mencetak anak, kan tuan?" gumam Laras dalam hati.


"Bikinkan saya kopi sana," Ibra menunjuk dengan dagunya.


Laras menoleh sebentar. Kemudian beranjak dari duduknya, berjalan menuju lift, tapi di dalam lift kebingungan sendiri. "Aduh ... lupa, menanyakan berapa sendok gulanya," menepuk jidatnya.


"Ah, kenapa mesti bingung, kan banyak asisten, tanya mereka saja," gumam Laras, pintu Lift terbuka langsung melangkah ke dapur. Langkahnya berhenti setelah berada dekat meja, kebetulan ada beberapa pelayan di sana.


,,,,

__ADS_1


Terimakasih author ucapkan kepada kalian yang telah sudi mampir di novel yang ini, terimakasih banyak ya, semoga gak bosan, dan suka.🙏🙏 maaf kalau novel ini masih jarang up.


__ADS_2