Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Jalan ke Bali


__ADS_3

Ibra memutuskan untuk pulang, ia ingin melihat keadaan Laras saat ini. "Tapi! aku ada janji dengan Yulia dan makan siangnya aku tidak di rumah," gumam Ibra sambil mondar-mandir melipat tangan di dada.


"Huuh ... aku jadi gelisah gini?" ambil ponsel dan memutuskan telepon saja.


Berkali-kali Ibra menekan kontak Laras, namun tak ada yang angkat! menambah kegusaran hati Ibra. Semakin diliputi rasa gelisah dan cemburu! terbayang tangan dokter mengelus kaki Laras. "Sial! apa yang ada dalam otak ku ini?" memegangi kepalanya yang berjubel nama Laras di pikirannya itu.


"Bu Rika, pasti sedang bersama Laras saat ini. Ya aku telepon dia saja untuk menanyakan keadaan Laras."


Ibra menelpon bu Rika, tidak lama berbincang telepon Ibra tutup kembali. "Ooh ... dia tidur! pantas tidak angkat telepon dariku."


Waktu makan siang pun tiba. Ibra berdiri menggeser kursinya, meninggalkan ruang kantor untuk menemui Yulia di restoran xx. Mobil melaju pesat dengan kecepatan lumayan tinggi dengan permainan tangan yang begitu lihai.


Di lampu merah. Ibra menoleh ke samping, tepatnya beberapa meter dari tempat ia berada. Ada mobil Mery sedang menunggu lampu hijau menyala, dia berdua dengan pria yang usianya lebih tua dari Ibra. Bahkan pria tersebut adalah rekan bisnisnya, mereka berdua tampak gelendotan mesra.


Ibra mengeratkan giginya, kini benar-benar nyata di depan mata. Wanita yang dia nikahi atas rekomendasi istri pertamanya itu ternyata penghianat.


Ibra menarik napas dalam-dalam. Karena lampu sudah berubah hijau ia segera memutar kemudi, melanjutkan perjalanannya.


Selang beberapa saat! mobil Ibra sampai di tempat tujuan, segera keluar bergegas masuk mencari tempat yang sudah di janjikan. Tampak Yulia sudah gelisah menunggu matanya celingukan sambil menyedot minumnya.


Setelah melihat kedatangan Ibra. Yulia senyum kecut. "Lama amat sih? ada kuliah siang nih!" ucapnya.


Ibra menarik kursi lalu duduk depan Yulia. "Sudah pesan makanan belum?" tanya Ibra.


"Sudah."


Wajah Yulia di tekuk. Merasa kesal karena dia sudah cukup lama menunggu, namun Ibra baru terlihat batang hidungnya. detik kemudian Yulia menurunkan egonya. "Sayang! Gimana kalau kita bulan madu ke bali? agar lebih leluasa menikmati waktu berdua gitu, biar cepat punya anaknya sayang."


Ibra menatap wajah Yulia yang nampak sumringah. Mengernyitkan keningnya, sementara waktu ia terdiam. Kemudian meneguk minumannya yang baru saja datang, menarik piring makan siangnya dan langsung memasukan sendok ke mulutnya.


Yulia menatap! sambil menantikan jawaban dari Ibra tentang keinginannya. Karena lama Ibra belum kunjung juga membuka suaranya. Yulia memulai makan makanan yang ada di depannya.


Tangan Ibra meraih gelas berisi air putih. Melirik Yulia yang sesekali melihat kearah dirinya, setelah meneguk minuman sampai tersisa setengah lagi. Ibra memulai pembicaraan. "Buat apa bulan madu? sabab ... saat ini, saya sudah mengajukan perceraian di pengadilan! tinggal menunggu prosesnya saja."

__ADS_1


"Apa?" sontak Yulia terkejut bukan main! mendengar ucapan Ibra seperti itu, bak disambar petir di siang bolong. Cuaca panas tanpa ada hujan atau mendung sedikitpun.


Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga sama sekali. "Maksud mu apa? tiba-tiba ingin menceraikan aku," teriak Yulia dengan mata berkaca-kaca.


"Forgive me for not being able to continue our home," ucap Ibra sambil duduk bersandar ke belakang.


Bibir Yulia bergetar menahan amarah dan kesal, kenapa baru sekarang Ibra berniat menceraikan dirinya, disaat ia bersedia punya anak! Yulia menatap tajam Ibra seakan tak berkedip sekalipun. "Atas dasar apa kau ingin menceraikan ku? soal anak! mulai sekarang aku mau hamil, si Laras juga belum tentu bisa hamil. Buktinya sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda dia hamil, terus apa bedanya? saya tidak terima jika hanya aku yang kau ceraikan!"


"Kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih dari saya. Dan kamu akan dengan mudah untuk mendapatkan nya, saya tidak mampu menjadi suami yang beristri empat. Saya tidak sanggup menjalankan yang namanya adil," dalih Ibra.


"Tidak, saya tidak mau bercerai darimu. Tidak mau!" Yulia menggeleng-geleng kepalanya. "Sayang, kita menikah sudah lebih lama dari kau menikahi Mery. Apalagi Laras, jadi kenapa kau tidak menceraikan mereka saja? aku janji sayang! aku janji, aku akan menjadi istri yang lebih baik dari sebelumnya. Aku akan banyak di rumah mengurus segala keperluan mu. Aku janji," rayu Yulia sambil menggenggam tangan Ibra.


"Tenang saja! bukan cuma dirimu yang ku cerai tapi yang lain juga," batin Ibra.


"Kau tidak akan bisa, menceraikan aku. Sebab tidak ada bukti akan kesalahan ku, selama ini aku baik-baik saja menjadi istrimu. Jadi tidak ada sebab kalau kita harus bercerai." Yulia tersenyum samar.


Ibra menyeringai, sambil menarik tangan dari genggaman Yulia. "Tenang saja! aku cukup bukti untuk menceraikan mu. Jangan khawatir, semua bukti sudah ada di tangan ku. Sedetail apapun, aku sudah mengantongi semuanya."


"Ma-maksud kamu a-apa?" 180 derajat Yulia terkaget-kaget, wajahnya pucat paseh. Dia tidak menyangka kalau Ibra akan berucap seperti itu.


"Bukti apa? kau pikir aku selingkuh apa! jangan sembarangan ya? Aku wanita baik-baik. Sekalipun aku sering keluar tapi aku ini istrimu," ujar Yulia masih mengelak walau hati kecilnya mengakui.


Tatapan tajam Ibra tertuju pada Yulia, seraya mengangguk Ibra berkata. "Ya, wanita terhormat! iya terus apa namanya kalau bermesraan dengan pria lain di luar? bahkan--"


"Bahkan apa? kau mencurigai aku, setelah kamu dapat madu baru. Iya? setelah kau dapatkan wanita baru, servis baru. Kau bajingan, kau bajingan Malik Ibrahim," tuduh Yulia penuh penekanan.


Dengan tenangnya. Ibra mengambil sesuatu dari sakunya, sebuah amplop cokelat. Mata Yulia bergerak melihat gerakan tangan Ibra yang memegang amplop itu.


Ibra menyimpannya di depan Yulia. "Buka! kau akan terkejut melihatnya," ucap Ibra sambil tersenyum sinis.


Yulia menatap amplop itu, dalam hatinya bertanya-tanya apa isi amplop itu? uang kah? atau apa! benar kata Ibra kalau dirinya akan terkejut, jangankan setelah membukanya. Belum tau isinya saja jantung Yulia seakan sudah berhenti berdetak.


Perlahan-lahan. Yulia mengambil amplop tersebut, dengan sangat hati-hati dia membukanya.

__ADS_1


****


Di sebuah tempat! Mery sedang berdua dengan seorang pria dewasa. Setelah pemotretan. Mery jalan pria itu, pria yang mendekatinya dengan alasan tertentu, Mereka sering berjalan-jalan berdua menghabiskan waktu bersama.


"Sayang! bagaimana kalau minggu depan kita jalan-jalan ke Bali? berdua saja." ajak Pria tersebut.


"Ooh ... mau dong sayang!" sahut Mary. "Tapi, kan aku mau hamil anak Ibra? aah ... masa bodoh mau anak siapa juga, akui saja itu anak Ibra toh dia suamiku."


"Gimana sayang? mau, kan kita menghabiskan waktu di Bali, barang lima atau seminggu lah," ungkap Pria tersebut.


"Mau ..." dengan nada manja sambil menggenggam tangan pria tersebut. "Aku akan beralasan ada pemotretan di sana."


"Agar orang rumah percaya, khususnya suami mu, makanya saya akan membawa kamera ke sana," ucap pria itu menyeringai penuh arti.


"Wah ... itu ide bagus sayang! aku setuju-setuju banget. Ah ... sudah tidak sabar ingin segera ke sana." Mery sudah berangan-angan.


Pria itu tersenyum penuh arti, menatap tajam wajah Mery yang nampak bahagia. Mery cantik, badan tinggi. Body Bohai berisi, penampilan sangat seksi. Pakaiannya selalu menampakkan lekuk tubuh yang seperti biola itu. Dengan sekilas mata pun! membuat hati pria bergetar hebat, dan mengaguminya.


Mery diam-diam mesem. Dalam bayangannya sudah menari-nari bila dia nanti berlibur di bali. Bermain di pantai, melihat deburan ombak. Menikmati sanshet yang indah. "Aah ... sudah tidak sabar aku sayang!" ungkap Mery. membingkai wajahnya sendiri.


"Iya nanti! aku akan mengajak kemana ... pun yang kamu sukai. Berkeliling dunia misalnya, aku siap menemani. Oke?"


"Beneran?" tanya Mary seakan bersorak saking bahagianya. Akhirnya dia bisa berkeliling mendatangi setiap tempat wisata yang ia inginkan. Ibra gak pernah mengajaknya jalan-jalan berwisata! dengan alasan sibuk. Paling menyuruh pergi sendiri saja.


"Beneran dong sayang. Buat apa saya bohong?" sambung pria itu.


Mery tidak bisa membayangkan! alangkah bahagianya bila saat itu tiba. Apalagi kalau perginya bersama sang suami, berbulan madu misalnya. Tapi itu tidak mungkin, sangat tidak mungkin.


Di dalam sebuah mobil, sepasang mata mengawasi gerak gerik mereka berdua ....


,,,,


Aku ingin tahu seberapa banyak sih yang suka dengan novel ini? jadi setiap yang baca silakan like dan komen ya 🙏ini untuk penyemangat aku buat nulis. Kalau suka? bilang suka! kalau tidak suka? tidak apa! aku tidak memaksa. Yang penting aku terus berkarya.

__ADS_1


Oya reader ku semua, aku mau tantang kalian semua! agar kalian menyebutkan tempat asal kalian! nanti aku sapa satu satu.


__ADS_2