
Ibra mengembangkan senyumnya. Tak lantas menjawab yang Dian pertanyakan, membuat Dian menatap penuh rasa penasaran.
Setelah sekian waktu menunggu, akhirnya Ibra membuka suaranya. "Aku akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik, seseorang yang bertanggung jawab. Dia bukan lah tebu yang manisnya habis lalu sepahnya ku buang! kita harus merawat anak itu sama-sama."
Sungguh sebuah jawaban yang bikin nyesek sampai ke ulu hati. "Aku tidak ingin berbagi suami lagi, aku capek." hiks hiks hiks Dian menangis.
Ibra menghela napas panjang, lalu menoleh sekilas. Kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan fokus dengan setirnya. "Semua sudah terlanjur sayang ... kau juga yang menghadirkan dia diantara kita,"
"Aku, aku dan aku juga yang salah. Aku terus yang salah!" sergahnya sambil menutupi wajahnya dengan tangan dan menangis pilu.
Dengan lirih Ibra berkata. "Sayang, dengar aku. sebelumnya aku tidak menuntut keturunan. Aku akan sabar sampai Allah memberi keajaiban kamu hamil, tapi kamu kekeh menghadirkan beberapa wanita yang harus aku nikahi. Sampai saat ini Laras hamil, tolong jangan jadikan dia hanya sebagai pencetak anak yang akhirnya anak itu kau ambil dan kamu singkirkan ibunya. Tidak!"
"Tentu saja, aku akan ambil anaknya. Sebab yang aku mau cuma anaknya, bukan ibunya sebagai selir cintamu," nada bicara Dian semakin tinggi.
Cekiiiit ....
Mobil Ibra ngerem mendadak. Ibra menoleh dan memposisikan duduknya menghadap ke Dian. Menatap dengan tatapan tajam. "Kamu pikir, anak itu anak hewan. Yang bisa seenaknya kamu ambil ha?"
"Tapi itu sudah tertulis dalam perjanjian kami, setelah melahirkan aku akan kirim di untuk melanjutkan kuliahnya. Dan anak atu akan menjadi milik kita berdua. Kau cerai Dia, dia bisa menikah lagi dengan yang lain, mempunyai anak lagi." sergah Dian kembali.
"Hem, kau pikir akan segampang itu? sampai kapanpun, aku tidak akan meninggalkannya. Apalagi menceraikannya dan itu sudah berulang kali aku jelaskan itu." Ibra menatap kedua manik mata Dian yang berlinangan air mata.
"Kau? kamu sudah menyakitiku, kamu lupa dengan cinta kita, dulu kamu sangat mencintai ku. Tapi sekarang kamu sudah banyak berubah, kamu lebih mencintainya. Sama aku kau begitu dingin, Sejijik itu kah kamu sama aku ha?"
"Bukan gitu sayang ... bukan jijik, masa aku seperti itu? itu perasaan kamu saja sayang," Ibra membelai kempala Dian yang langsung Dian tepis kasar.
"Kamu sudah tidak cinta lagi sama aku?" ucap Dian dengan suara serak, hatinya kian hancur. Padahal niatnya hanya ingin buat suami bahagia dan juga keluarga.
Ibra terdiam, bingung harus berkata apa lagi? percuma terus-terusan nyalahin Dian juga. karena di balik itu, Dian juga tersakiti dengan ulahnya sendiri.
Awal mulanya Dian hanya ingin membuat bahagia suami dan orang tua yang ingin memiliki keturunan, sedangkan dari dua belah pihak sama-sama cuma anak tunggal. Tidak adik ataupun adanya Kakak.
Dian menangis tersedu, Ibra tak tega melihatnya. Ia rekuh tubuh Dian dibawanya ke dalam pelukan. "Sayang, sudah jangan menangis. jalani ini semua dengan ikhlas, terima Laras sebagai madu mu. Sebab aku juga tidak mungkin melepaskannya."
"Ngomong itu gampang, kamu tidak merasakan sakitnya hati aku melihat kelian berduaan,ndan sebgaunya. Sakit hati ini sayang, hancur." Dian menegakkan dirinya. Kemdian kemali ke pelukan Ibra.
"Eeh ... dulu ketika ada Yulia dan Mery, kamu tidak pernah merajuk ataupun apa? kenapa sekarang kamu berubah." Memeluk Dian erat dan tangan yang satunya mengusap lembut kepala sang istri.
"Hiks hiks hiks. Dulu aku tau kamu hanya memberi sebatas kewajiban saja sama mereka, tapi sekarang lain. Kamu juga pake hati. Kamu mencintai Laras."
Ibra mengehela napas berat sambil menyandarkan punggungnya ke belakang jok. "Apa aku salah? jika aku mencintainya, dia gadis baik, membawa aura positif padaku. Bahkan dia sedang menganduk anak ku, dimana salahnya?" gumam Ibra bingun.
"Dia juga selalu melayani ku dengan baik, tulus. Bukan cuma--"
"Bukan cuma di tempat tidur? iya," sambar Dian mendongak.
Ibra mengangguk pelan. "Aku menyatanginya seperti aku menyayangi mu."
__ADS_1
Mendengar itu, tangais Dian semakin pecah. Tangisnya kian pilu. Ibra terus mengusap punggungnya supaya lebih tenang. "Sudah sayang ... sudah. Hentikan tangis mu."
Tiba-tiba, ada irang yang mengetuk kaca mobil, katanya mobil Ibra menghalangi jalan. Akhirnya Ibra melajukan mobilnya menuju Mension.
Hening!
Tangis Dian pun sudah reda, tinggal isakan yang sesekali saja. Ia menyandarkan kepala di bahu Ibra yang sedang menyetir.
Sesampainya di mension, Ibra mengantar Dian ke kamarnya. "Sayang, istirhatlah. Aku mau ke kamar ku dulu." Ibra hendak memutar badan namun tangan Ibra di tarik Dian, diajaknya ke tempat tidur.
"Aku, mau ke kamar ku dulu, ada yang ingin aku ambil dari sana." akunya Ibra sambil menarik tangannya dari tangan Laras.
"Tapi sayang ... benta ... r aja," merangkul pundak Ibra. "Aku kangen kita seperti dulu, mesra. Harmonis, Penuh cinta. Aku kangen masa-masa itu." Rajuk Dian mengecup bibir sang suami.
Ibra hanya diam saja. Menatap Dian yang sepertinya sedang diselimuti oleh gairah. Ibra di dorongnya ke belakang sehingga terduduk di tepi tempat tidur.
Dian duduk di pangkuan Ibra dan mengalungkan tangan di lehernya Ibra. Dengan Agresif Dian pegang kendali, mencumbu sang suami yang hanya bersikap menerima saja.
Yang Ibra lakukan saat ini hanya mengikuti tanpa ada keinginan. Untuk melakukannya. atau memulai dari awal. Akhirnya Ibra melakukan kewajiban nya walau kurang berminat, makanya dalam hitungan menit saja. Ibra sudah selesai. Dian sedikit kecewa, namun masih mending lah. dari pada tidak sama sekali.
Dian meringsut, menarik selimutnya dan menyandarkan kepala di bahu Ibra. Tangannya menyentuh dada bidang itu serta bergerak turun membangunkan junior ibra yang layu dan tidur. namun usaha Dian sik-sia saja. Karena si junior tak bangun lagi malahbsemakin layu dan bersembunyi.
Ibra bangun dan mengambil pakaian dalam yang berceceran di lantai. "Aku mau mandi dulu," ucap Ibra lalu meraih kimono yang yang menggantung. Ia kenakan dan membawa langkah kaki ke kamar pribadinya.
Dian memeluk guling dengan bibir sedikit menyungging.
Ibra berdiri di bawah kucuran air shower yang hangat. Tarbayang-bayang wajah Laras menari-nari di pelupuk mata.
Sebelum pergi, Ibra berpamitan dulu sama Dian di kamarnya. "Sayang, aku pergi dulu ya?" ucap Ibra setelah berada di kamar Dian. Nampak Dian sedang duduk di sofa dan bermain ponsel.
"Sekarang?" tanya Dian menoleh kedatangan Ibra yang mendekati dirinya.
"Iya, oya. Beberapa hari ini aku akan ke Balikpapan. Pamit ya?" mengusap punggung Dian.
"Oya? aku pengen ikut ... tapi, sibuk kayanya," ucap Dian menempelkan dagunya di bahu Ibra.
"Oh, gak lama kok di sana, ya sudah, aku pergi dulu ya?" cuph mengecup kening Dian.
"Jangan pergi, bermalam aja di sini ya-ya. Ya?" rajuk Dian sambil tangan nya merangkul lengan Ibra.
"Malam besok, aku di sini sayang. lagian besok ada rapat di sini." Lirih Ibra sembari berdiri dari duduknya.
"Tapi masih kangen." ucap Dian dengan nada manja dan memeluk tubuh sang suami erat.
"Besok aku pulang ke sini kok sayang," ungkap Ibra membalas pelukannya Dian serta membelai rambutnya.
Dian yang membenamkan kepala di dada Ibra. Tiba-tiba memegangi kepalanya. "Aduh, sayang ... kok kepalaku aakit gini ya? pusing."
__ADS_1
Ibra cemas. "Kenapa sayang?" langsung menggendong tubuh Dian. ia baringkan di atas tempat tidur. "Aku telepon dokter ya--"
"Jangan sayang, gak usah panggil dokter. Kayanya dengan obat yang ada di ruang kesehatan juga aku bakalan sembuh kok." Kata Dian sambil meringis dan memegangi keningnya.
"Ya, udah. Aku telepon asisten dulu." Ibra segera telepon asisten rumah tangga agak membawakan obat buat Dian.
Ibra duduk dan memijit kening Dian pelan, ia nampak cemas melihat Dian yang terus meringis.
"Aduh ... sakit. Aduh ..." rintih Dian yang terus merintih kesakitan.
"Yang kuat ya sayang? sebentar lagi orang membawakan obat untuk mu. Tunggu ya!" gumamnya Ibra, mengelus kening Dian.
Dian bangun, meringsut. Duduk dan meletakkan kepalanya di dada bidang Ibra meminta agar suaminya memeluk tubuhnya itu.
Ibra menempelkan punggung tangan di pelipis dan di bawah telinga Dian, namun panasnya normal. Gak tinggi ataupun ada tanda-tanda sakit, Tapi diam saja. Kali aja memang benar.
"Sayang, jangan pergi ya? kepala ku sakit, takut terjadi apa-apa nanti, kamu gak ada. Gimana?" suaranya terus merajuk.
Asisten pun datang dengan membawa obat buat Nyonya, Dian. "Ini, Tuan ... obat buat Nyonya, semoga cepat sembuh."
Ibra mengambil nampan yang berisi air mineral dan obat untuk Dian. Kemudian, ia memberikannya pada Dian. "Ayo Sayang diminum dulu obatnya."
Asisten pun kembali meninggalkan Ibra dan Dian hanya berdua.
Lantas Dian meminum obatnya dengan perlahan. Lalu Dian berbaring kembali dengan tangan memegangi lengan Ibra.
"Sayang, jangan pergi ya? aku mohon ... temani aku ya di sini." Dian memelas.
"Sebaiknya kamu di tangani oleh dokter ya? biar cepat sembuh. Ya? sayang ya," bujuk Ibra sambil membelai rambut Dian.
Dian yang memejamkan matanya. Menggeleng pelan. "Tidak mau, biar aku istirahat aja dan kamu temani saja sudah cukup kok, ya jangan pergi." Semakin mengeratkan pelukannya.
Ibra yang curiga, kalau ini alasan saja. Agar dirinya tidak pergi, namun ia pura-pura percaya saja, dan Ibra harus memutar otaknya. Untuk bisa keluar dari mension ini.
"Aduh ... sayang, sakit ... Sakit banget." Rintih Dian sambil memegangi kepalanya.
Ibra mengelus dan sedikit memijit kening dan kepala Dian. "Coba tidurkan, yo tidur ..." dengan suara lirihnya.
"Nggak bisa tidur! Sakit yang ... sakit, hiks hiks hiks," menangis kesakitan.
"Iya, makanya aku panggilkan dokter, biar cepat sembuh. Aku telepon dulu," tangan Ibra mengambol ponsel untuk menelpon dokter pribadinya.
"Jangan dulu, sayang. Aku mohon. Barusan aku minum obat, lihat aja dulu sampai pagi, kalau masih gini juga baru panggil ya? aku mohon ..." bujuk Dian.
Ibra mendengus. "Baiklah. Kalau begitu? terserah kamu saja."
Dian tersenyum, dan memeluk Tubuh Ibra kembali. Senyumnya mengembang di balik dada sang suami. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini ....
__ADS_1
****
Terima kasih reader ku semua. semoga sehat ya, tak kurang suatu apapun. Sudah baca, kan? jangan lupa like n komen nya.