Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Menumpahkan rasa Rindu


__ADS_3

Peletak! Ketika gagang sapu melayang tepat di kepala orang itu, sekilas menoleh dan mengambil alih dari tangan Laras. Dia kaget juga, ia kira yang di dalam sedang tidur. Nyatanya malah terbangun dan menyambut dengan gagang sapu yang menghantam kepalanya.


Ia langsung buang gagang sapu itu ke sembarang tempat. Sambil meringis kesakitan, memegangi kepalanya. Untung saja sedikit pelan dan tidak sepenuh tenaga, Laras memukulnya.


"Tolong ... pencu--"


"Hentikan ini aku," suara berat Ibra menghentikan teriakan Laras, dan langsung mengunci pintu. "Jangan berisik. Nanti dikira beneran."


Mulut Laras menganga, ia sangat terkejut melihat Ibra berdiri di hadapan dirinya saat ini, bukankah beberapa jam lalu dia bilang masih di luar Negeri? ia membuka mata lebar-lebar dan sesekali mengusap wajahnya. Masih kurang yakin apa benar orang yang ada di hadapannya ini beneran ibra!


Menepuk kedua pipinya, kali aja saja ia sedang bermimpi. Namun ini benar-benar nyata, bukan di dalam mimpi.


Ibra meringis. "Sakit ... teganya kamu memukul ku?"


"I-itu salah kamu! ka-kamu, kenapa ada di sini? bu-bukannya masih di luar Negeri!" gumam Laras dengan suara terputus-putus. Dan masih mematung di tempat.


Ibra menghampiri. "Tadi ... aku sudah di bandara soekarno hatta," sambil menyeringai, tangannya meraih tangan Laras.


Laras menepis tangan Ibra itu. "Terus buat apa kau masuk mengendap-ngendap seperti penjahat? bikin orang jantungan saja."


"Aku, yang kamu buat kaget. Malah di sambut dengan pukulan, sakit tau ... akibat kamu pukul nih," sahut Ibra sambil mengelus kepala yang sakit.


"Salah siapa coba? orang tadi bilangnya belum bisa pulang, tiba-tiba datang mengendap-ngendap seperti mau mencuri saja." Ketus Laras yang tidak mau di salahkan.


"Aku ... tadinya mau bikin kejutan. Eh ... malah aku yang di kejutkan?" keluh Ibra yang mendudukkan tubuhnya di bahu sofa tepat di depan Laras yang masih juga berdiri.


"Bikin kejutan? yang ada bikin orang jantungan," ucap Laras yang memang dadanya masih naik turun deru napas yang belum juga teratur. "Gimana coba kalau aku menghubungi polisi."


"Biasanya, kamu jam segini sedang tidur nyenyak! kenapa terbangun? atau ... kamu merindukan aku ya," lagi-lagi Ibra meraih tangan Laras dan lagi-lagi pula Laras tepis dan mundur menjauh.


"Siapa bilang? a-aku bangun karena haus dan lapar. Makanya aku bangun," sahut Laras, menatap ke arah Ibra yang terlihat remang-remang.


"Oya?" Ibra mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ini, belum seminggu tapi ... kamu sudah pulang? gimana, menyenangkan perjalanannya," sambung Laras.


"Aku di sana mengurus kerjaan sayang. Bukan jalan-jalan. Kenapa aku pulang? karena urusannya ku di sana sudah selesai." Jawab Ibra sambil membuka jas yang masih ia kenakan. Menyimpannya di sofa.


Mata laras menatap jas yang Ibra simpan. "Ta-tapi ... bukannya mau liburan dulu barang beberapa hari?"


"Aku gak pernah bilang begitu, mungkin Dian yang bilang gitu. Aku tidak. Justru aku ingin cepat pulang, sudah tidak sabar untuk bertemu anak ku." Ibra berdiri maju satu langkah, mendekati Laras.

__ADS_1


Satu langkah pula Laras mundur dan melangkah ke samping. "Kak Dian apa kabar? iya, kan Kak Dian ingin liburan, kenapa gak kamu ikuti kemauannya?"


"Kalau dia mau, bisa kapan aja, seperti sekarang ini, dia belum pulang. Karena ingin liburan dulu." ungkap Ibra, hatinya semakin gemas. Dengan tingkah Laras yang terus menghindar.


"Oh, kenapa kamu pulang? kalau Dian belum pulang!"


"Aku masih banyak urusan di sini, paling dia juga dua hari balik lagi. Orang punya urusan juga." Jawab Ibra yang menatap ke arah Laras, ia perhatikan dari kepala sampai ujung kaki.


Laras diam. "Oh ... jadi dia pulang sendiri." gumam Laras dalam hati.


"Apa kau tidak merindukan ku, ingin memeluk tubuh ku misalnya?" menaik turunkan alisnya.


Laras menggeleng. "Tidak. Biasa aja."


Ibra memperlihatkan gigi putihnya. Kembali mendekat dan gep! tangan Laras, Ibra dapatkan keduanya. Mereka berdiri berhadapan. "Apa benar, kau tidak merindukan ku?" dengan tatapan yang lembut menatap kedua bola mata Laras.


Jantung Laras kembali berpacu cepat, berdegup kencang. Ia tidak menjawab. Hanya bibirnya yang sedikit bergerak. Mata Ibra tertuju ke bibir Laras yang merah natural yang saat ini tanpa polesan sama sekali.


Dada Ibra bergemuruh. Rasa rindu yang beberapa hari ini ia tanggung akhirnya bisa ia lepaskan juga. Di suasana yang romantis seperti ini, hening, di bawah sinar lampu yang temaram. Menambah sahdu.


Laras berusaha melepaskan tangannya. Namun terlalu kuat Ibra genggam, ia mengalihkan pandangan ke lantai. Laras jadi meremang melihat tatapan Ibra yang sepertinya mendambakan dirinya.


"Le-lepas, aku mau ambil minum untuk mu, pasti haus kan?" menarik tangan yang sulit terlepas.


"Em ... aku, mau menyimpan jas itu." manik mata Laras bergerak melihat jas Ibra yang tergeletak di sofa.


Mata ibra pun mengikuti yang Laras lihat. "Tidak usah, biar saja dulu." timpal Ibra dengan suara berat dan napas mulai memburu.


Laras memutar otak, gimana caranya supaya bisa terlepas dari Ibra. Tingkah Laras semakin tegang, gugup dibuatnya.


"Apa kamu tidak ingin mengurus ku? setelah sekian lama tidak melayani ku!" rajuk Ibra suaranya semakin parau.


"I-iya, makanya aku ingin mengambilkan kau minum dan menyimpan jas mu, itu juga sebagai bentuk pelayanan bukan?" Laras membalas tatapan kedua mata Ibra.


"Ck ... bukan yang itu. Yang aku maksud." ucap Ibra kembali.


"Apa? atau kau ingin mandi? aku siapkan dulu air hangat ya!" kaki Laras hendak melangkah, meskipun tangan masih terkunci dalam genggaman Ibra.


"Tidak perlu, aku tidak ingin mandi." tegas Ibra, kemudian berlutut dihadapan Laras. Wajahnya tepat berada depan perut Laras.


Cuph!

__ADS_1


Cuph!


Mengecup perut Laras yang masih terlihat rata namun lebih berisi. "Apa kabar kesayangan Papi? maaf ya, Papi baru bisa mengunjungi mu. Beberapa hari ini, Papi sibuk. Baru bisa pulang sekarang." Menempelkan wajahnya di perut Laras.


Laras tidak menyangka kalau Ibra akan berlutut dan mencium perutnya serta mengajak berbincang janinnya.


Dengan suara yang bergetar. "Papi bahagia bisa pulang secepatnya, dan tentunya bisa bertemu dengan mu secepatnya juga." Cuph! kecupan itu membuat Laras semakin meremang. Merinding dibuatnya.


Laras semakin mematung, tak tahu harus berbuat apa atau berkata apa. Selain diam seribu bahasa. Apalagi ketika jari Ibra menyingkap piyama Laras ke atas dan terlihat jelas kulit perut Laras dan pusarnya.


Ibra kembali menciumi perut Laras yang kali ini langsung ke kulitnya sehingga Laras rasakan dingin, lembab sedikit basah dan semakin merinding jadinya. Ketika bibir Ibra menempel di perutnya langsung.


"Aduh ... gimana ini?" Laras menggigit bibir bawahnya.


Ibra menempelkan pipinya di perut Laras lama ... sesekali menciumnya seolah menumpahkan rasa rindu yang selama ini terpendam.


Kebetulan Laras tak bisa bergerak lagi karena punggungnya menempel ke dinding, ia hanya termangu.


"Selama di sana, aku sering mual dan pusing seperti yang kau rasakan," wajah Ibra mendongak sebentar. Kemudian menempelkan bibirnya di perut Laras kembali.


"Ha, berarti aku berkurang mual dan pusing, karena Ibra yang mengalaminya, apa bisa gitu?" batin Laras.


"Anak baik, kau menurut kata Papi. Kamu tidak membuat repot Mammy mu lagi, sekarang Papi sudah ada di sini. Kamu bisa minta apa pun, dan akan Papi usahakan untuk memenuhinya." Gumam Ibra terus menciumi daerah purut Laras.


Laras memejamkan matanya. Perlahan tangan kanannya mengelus kepala Ibra, dan membelai rambutnya.


Ibra mendongak, menghayati elusan dari telapak tangan Laras. Laras yang sadar serentak menjauhkan tangan dari kepala Ibra serta mengalihkan pandangan ke sembarang tempat. Kalau terlihat jelas pasti wajahnya memerah, malu.


Senyum Ibra mengembang, lalu berdiri di tempat semula. "Kenapa berhenti? malu, jangan malu sayang!" wajah Ibra mendekat, jarinya mengangkat dagu sang istri. Menatap lekat wajah yang malu-malu itu.


Ibra yang mendamba sedari awal, perasaannya semakin mendesak saja, gairahnya makin tak bisa di kontrol lagi. Napasnya yang memburu. Menyapu ke seluruh wajah Laras. Dengan cepat ia gendong Laras ke tempat tidur, Laras hanya menatap wajah Ibra dan mengalungkan tangan di lehernya.


Ibra naik dan berlutut di tempat tidur, membaringkan tubuh Laras di sana. Sekalian menguncinya, tatapan mereka bertemu. Seakan tak membuang waktu lagi, Ibra mengecup lembut kening Laras, turun ke pipi lanjut ke bibir.


Dalam hati Ibra merasa heran, sangat heran! dengan kondisi benda pusaka nya sendiri, waktu terakhir di luar Negeri, mau di pake ke Dian gak mau bangun-bangun. Tapi kali ini berhadapan dengan Laras langsung tegang saja, terus terjaga. Namun ia tak mau ambil pusing! yang penting saat ini hasratnya tersalurkan dengan baik, memberi nafkah yang seutuhnya pada istri muda nya ini.


Ibra lanjutkan aktifitas yang barusan ia hentikan, nampak jelas Laras pun sedang menunggunya. Tanpa membuang waktu, ia ******* bibir Laras dengan sangat lembut. Tangan Laras kembali melingkar di pundaknya, dengan terburu-buru di tengah pagutan nya berlangsung, Ibra membuka pakaiannya. Kemudian membuka kancing piyama Laras.


Namun sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang. Laras menggelinjang bagun. " Maaf Abang, aku ... mau salat subuh dulu ...."


****

__ADS_1


Aku gak ngerti entah karena jaringan atau apa, yang jelas up semalam jadi dua sekaligus dengan episode yang sama. Sekarang aku revisi dengan episode terbaru.


__ADS_2