Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Jutek amat


__ADS_3

Akhirnya Dian mengacak rambutnya sendiri, dengan sangat frustasi. Ibra menoleh, bukan tidak kasian atau tidak perduli. Namun mau bagaimana lagi keadaan yang tidak menentukan, ia tidak kuat baunya kalau dekat-dekat dengan Dian.


Ibra memejamkan matanya. Sementara Dian kembali menangis tersedu, malam yang di lewatinya penuh dengan rasa pilu. Sampai datangnya pagi Dian baru bisa tidur lelap.


Ibra sudah mandi dan siap berangkat, tidak ada sarapan ataupun secangkir kopi. Atau segelas susu yang sering Laras suguhkan bila pagi sebelum sarapan.


Ibra menatap Dian yang masih tidur pulas. "Maaf sayang, aku tidak bermaksud menyakiti mu," gumam Ibra. Kemudian Ibra meninggalkan Dian dalam keadaan tidur.


Ibra meninggalkan apartemen nya menuju kantor, kebetulan urusannya di sana belum selesai.


****


Setelah menyimpan ponsel, di atas meja dekat tempat tidurnya. Laras segera membaringkan tubuhnya, tarik selimut dan pejamkan mata. Semalaman Laras tidur sangatlah nyenyak, sampai pagi menjelang. Laras baru terbangun, ia menggeliat nikmat memicingkan mata melihat jam yang sudah menunjukan pukul 03.30 pagi.


Laras langsung mengibaskan selimutnya bergegas masuk ke kamar mandi. Sudah berada di kamar mandi langsung mengisi bathtub,


Setelah salat subuh. Laras bersih-bersih kamar pribadinya. Membuka semua gorden, kemudian berjalan ke balkon untuk menghirup udara yang segar di sana. Sebentar Laras duduk di balkon merasakan angin segar di pagi ini menyelinap ke sel-sel kulit.


Sekitar tiga puluh menit duduk menghirup udara segar, Laras beranjak dari duduknya. Menuju dapur, disambut hangat oleh para asisten dengan senyum ramah.


"Pagi Nyonya, silakan sarapan, sudah siap, beserta susu bumil nya untuk anda," ujar bu Rika dan Susi bergantian, setelah Laras muncul di depan itu.


"Pagi juga semua ..." sahut Laras sambil narik kursi untuk duduk.


"Gimana Nyonya, sepertinya Nyonya dalam beberapa hari ini nampak segar?" tanya bu Rika.


"Oh, iya Bu, sepertinya mual dan pusing ku mulai berkurang. Tidak seperti sebelumnya." Laras menarik bibirnya tersenyum.


"Syukurlah, saya ikut senang mendengarnya." Bu Rika mengangguk.


"Wah ... pagi-pagi sudah ngerumpi aja nih. Bukankah ini waktunya makan?" suara mery sambil duduk dan celingukan.


Bu Rika segera melayaninya, mengambilkan buat makan dan minum Mery.


Brak!


Gelas air minum Mery jatuh ke lantai, kacanya berserakan. "Nyimpen itu pake mata dong, bukan pake dengkul." Mery melotot dan membentak pada bu Rika.


Membuat wajah bu Rika berubah merah. "Tapi ... saya sudah menyimpan dengan benar Nyonya. Itu kesenggol tangan Nyonya sendiri," aku bu Rika, sambil menunduk malu karena di bentak oleh majikannya, depan asisten lain.


Sesuatu yang sering ia alami dari Mery, selama dia bekerja di mension ini. Dian saja tidak pernah membentak dirinya sekalipun salah, tapi Mery, selalu benar-benar membuat martabatnya jatuh di mata bawahannya sendiri.


"Iya, tapi itu gara-gara kamu yang yang gak becus nyimpennya." Suara Mery semakin tinggi.


"Astagfirullah, sudah! ini cuma hal kecil saja, lagian tidak ada yang terluka juga, Sus. Tolong di bereskan kacanya, hati-hati." Laras mencoba menengahi keduanya yang bersitegang dan melirik Susi.


"I-iya, Nyonya." Susi segera mengambil lap dan sapu.


"Lain kali, kerja hati-hati!" ketus Mery, masih menatap tajam bu Rika.


Bu Rika hanya menanggapi dengan anggukan, lalu membuatkan lagi minuman untuk Mery. Kemudian setelah itu melengos entah kemana.


Laras meneruskan sarapannya yang barusan tertunda, dengan sedikit keriuhan di meja makan. "Kak Mery jangan gitu juga sama bu Rika, bukankah. Bagaimanapun dia banyak jasanya."


"Wajarlah, orang bayaran kok," sahut Mery tidak mau kalah.


Laras menggeleng, lalu menghabiskan sarapannya. Diakhiri meminum susu bumil yang tinggal setengah itu.


Kemudian Laras meninggalkan tempat tersebut. Menuju kamarnya, sebelum pergi ke panti mau menunaikan duha dulu. Rasanya ada yang kurang aja, kalau belum melaksanakan itu.

__ADS_1


Setelah berada di kamar, Laras langsung mengambil air wudhu, di Kamar mandi. Lanjut melaksanakan dua rakaat, tiga puluh menit kemudian Laras sudah berada di lobby menunggu pak Barko, yang akan mengantarnya ke panti.


"Nyonya, apa perlu saya temani?" tegur bu Rika dari belakang Laras.


Laras menoleh bu Rika. "Nggak usah, Bu. anda di mension aja, aku gak lama kok," sahut Laras sambil senyum simpul.


"Baiklah, Nyonya hati-hati aja," sambung bu Rika menatap Laras.


"Iya, Bu," kemudian Laras. Menghampiri mobil yang sudah siap dan pak Barko membukakan pintu untuk Laras.


"Makasih Pak?" ucap Laras sambil mengangguk.


Pak Barko menutup pintu, lalu mengitari mobil untuk duduk. Dia duduk di belakang kemudi, setelah memasang sabuk pengaman. Mobil langsung meluncur meninggalkan pekarangan mension.


Laras duduk bersandar ke belakang sambil menerima pesan dari Ibra yang menanyakan keberadaan nya.


"Pak, ke jalan xx ya?" gumam Laras pada pak Barko yang di balas dengan anggukan.


"Eh, Pak berhenti dulu ya di alfamart, aku mau belanja buat anak-anak." Laras kembali bersuara.


"Baik, Nyonya muda."


"Makasih, Pak."


Kemudian mobil berhenti tepat di depan alfamart. Laras turun sendiri dan masuk ke alfamart untuk belanja makanan. Atau oleh-oleh buat anak-anak panti.


Laras asyik berbelanja, sampai-sampai troli yang ia dorong penuh ke atas. Kemudian Laras bawa ke kasir untuk membayar, selesai penghitungan, Laras bertanya. " Berapa semuanya Mbak?"


"1,8rb Mbak."


"Oh, bentar ya?" Laras mengambil dompet dari tas nya.


Dompet lepas dari tangan dan jatuh ke lantai, refleks Laras jongkok untuk mengambilnya. Namun sebelum ia mengambilnya. Sudah diambil duluan oleh seseorang dan memberikan pada Laras.


Laras mengambil dan mendongak, melihat siapa orang yang telah berbaik hati mengambilkan. Ternyata dia seorang pria muda berpenampilan rapi, berdiri dan tersenyum padanya. "Makasih, Mas." Laras mengangguk.


Dia menanggapi dengan anggukan dan senyuman ramahnya.


Selesai membayar Laras segera meraih belanjaannya sampai pintu. Karena di pintu pak Barko sudah menunggu dan mengambil semua belanjaan Laras yang banyak itu.


Laras dan pak Barko kembali masuk mobil. Tidak lupa memakai kembali sabuk pengamannya. Detik kemudian mobil mewah tersebut melanjutkan perjalanan menuju panti.


"Pak, istri Bapak di mana? kok aku gak pernah melihatnya," tanya Laras membuka obrolan dengan pak Barko.


"Istri saya ... ada di rumah, Nyonya. Dia mengurus rumah tangga saja, mengasuh anak."


"Oh ... jadi ibu rumah tangga saja," ucap Laras mengangguk.


Tidak berselang lama, mobil sudah sampai di depan panti. Di sana tampak sepi, namun mungkin karena waktunya belajar jadi sepi. Dan hanya ada sebagian saja yang nampak ada di dalam.


"Assalamu'alaikum ..." ia langsung masuk, diikuti oleh pak Barko yang membawa belanjaan Laras.


"Simpan saja di atas meja, Pak makasih ya?" tutur Laras.


"Iya, Nyonya."


"Waduh ... siapa yang datang? masya Allah ... Ibu kangen sama kamu, Nak!" bu panti muncul dari pintu dapur dan langsung memeluk Laras penuh kehangatan.


"Apa kabar, Bu ... aku juga kangen sama Ibu." Laras membalas pelukan bu panti.

__ADS_1


"Kakak ... kak Laras ... kok baru datang? baru ingat kami ya?" anak-anak berhamburan dan memeluk Laras. Mereka sangat bahagia menyambut kedatangan Laras.


"Kakak, minta maaf. Bukan baru ingat, tapi baru sempat. Maaf ya? sebagai gantinya ... kakak bawakan oleh-oleh yang buanyak buat kalian, siapa yang mau?"


"Mau ...? jawab mereka sangat riuh.


"Baiklah, kalian boleh ambil apapun yang kalian suka ..." Laras menunjuk meja yang penuh dengan belanjaan.


Bu panti yang duduk di sofa, raut wajahnya begitu bahagia. Melihat anak-anak pada senang.


Laras mendudukkan tubuhnya dekat bu panti. "Gimana kabar Ibu?"


"Baik, Laras. Kabar Ibu baik sekali. Ibu bahagia ... banget kamu selalu menyempatkan waktu untuk ke sini."


"Ibu, Laras gak mungkin melupakan tempat ini, ataupun melupakan kalian. Itu tidak mungkin." Laras menggeleng.


Laras kembali memeluk bu panti yang sudah ia anggap sebagai ibu itu. Bu panti menepuk-nepuk punggung Laras.


"Kamu semakin cantik saja, Nak?" menatap penuh kasih sayang.


Laras tersipu malu menerima pujian dari bu panti. "Ibu bisa aja, Ibu juga masih terlihat cantik dan awet muda."


Bu panti, celingukan, melihat mobil yang nongkrong di luar. "Itu mobil kamu?" tanyanya.


Sebelum menjawab Laras senyum samar, ia berpikir sepertinya ia harus cerita tentang pernikahan nya dengan Ibra. Buat apa di tutupi? toh dia sudah bertekad untuk mempertahankan nya. "Itu ... itu mobil suami Laras, Bu."


Bu panti tercengang mendengar kata suami, sementara dia sendiri sebagai pengasuh Laras dari kecil tidak diberi tahu ketika pernikahannya. "Apa?" bu panti menatap ke arah Laras seakan ingin menyelami isi hati Laras.


"Sebelumnya, aku minta maaf yang sebesar-besarnya pada Ibu." Kemudian Laras menceritakan dari awal pinangan Dian padanya. Ia ceritakan semua tanpa ada yang Laras tutupi, sampai akhirnya sekarang ini ia berada di panti untuk berkunjung.


Sesekali bu panti menggeleng dan menghela napas panjang. "Kok bisa seperti itu? walaupun Ibu kecewa, karena kamu tidak mengundang Ibu, tapi Ibu dukung apapun keputusan mu."


"Makasih, Bu." Laras mengusap punggung tangan bu panti.


Ponsel Laras berdering, dan Laras segera mengambil dan menggulir ikon ijo dan itu panggilan VC dari Ibra. "Ih ... ada apa sih?" gumam Laras.


Ponsel Laras posisikan agar dapat terlihat dirinya dan bu panti. "Ada apa? ganggu saja! aku sedang berbincang dengan bu panti." ketus Laras sambil melirik bu panti.


"Eh ... boleh dong, saya ingin tahu keberadaan istri saya. Jutek amat jadi istri." Ibra menyeringai dan manggut pada bu panti.


Bu panti membalas dengan anggukan dan senyuman. Ia pikir ini pasti suaminya Laras. "Ganteng juga dan sopan, wajahnya sangat tampan. Wajar kalau banyak wanita bersedia jadi istrinya."


"Siapa yang jutek? biasa aja kok," sahut Laras.


"Bu, bilangan sama anak Ibu yang satu ini, jangan suka marah-marah sama suami. Jangan sok jual mahal, kalau kangen bilang saja. Jangan sok benci gitu, bilangin, Bu." Ibra menaik turunkan alisnya.


Bu panti tertawa mendengar ucapan Ibra. Sementara Laras mendelik.


"Tuh, Bu. Matanya suka melotot pada suami, gak boleh, kan Bu?" sambung Ibra.


Bu panti melirik Laras yang memang mendelik kan matanya pada Ibra. "Iya, gak boleh. harus lembut, harus sopan! biar tambah di sayang."


"Em ... egak kok, siapa yang melotot? ini, kan bawaan dari sananya mata ku seperti ini," elak Laras sambil mengerucutkan bibirnya. Sudah ya? matikan, bukannya kerja, main ponsel aja!"


"Siapa yang main ponsel sayang ... gak lihat suami mu ini sedang sibuk?" timpal Ibra yang memang benar sedang berkutat dengan map besar-besar.


Di luar rumah, ada sebuah mobil masuk dan parkir di sana. Keluarlah seorang pria muda yang gagah, tampan dan bersahaja mendekati pintu ....


*****

__ADS_1


Hi ... reader ku semua? selamat membaca ya, kali ini aku up lagi. Makasih banyak, pada yang senantiasa menunggu kisah Laras up lagi. Terus dukung aku ya? 🙏


__ADS_2