
"Sayang, jagoan kita datang ..." suara Ibra memecah keheningan dan membuyarkan lamunan Laras.
Laras menoleh sambil menghela napas kasar. "Nggak bobo sayang?" langsung mengambil dari gendongan Ibra.
"Merengek, kayanya lapar sayang dia." Ibra duduk di samping Laras yang sebelumnya menyingsingkan lengan bajunya.
"Hem, lapar ya sayang? hem baby boy lapar. Bobo ya!" tangan Laras membuka kancing bajunya untuk memberi asi pada baby boy.
Netra nya Ibra tertuju pada sumber makanan baby boy. Berkali-kali menelan saliva nya, melihat yang putih bersih dan berisi.
Laras menyandarkan punggungnya pada bahu Ibra. Kedua kakinya diangkat ke sofa, dengan alasan pegal.
Tangan Ibra pun melingkar di perut Laras, kini posisi Laras bersandar di dada Ibra yang menyalakan televisi. Sesekali Ibra mencium kepala sang istri, menghirup wanginya.
Baby boy sudah mulai tertidur. Namun masih kuat meminum asi sang bunda. Setelah lepas. Laras beranjak tuk menidurkan baby boy ke box baby.
Kemudian kembali duduk di tempat semula, kali ini big baby boy yang gantian minta di boboin. Kepalanya tiduran di paha Laras menempelkan wajahnya di perut sang istri.
Kemari Laras membelai rambut Ibra dengan lembut. "Abang?" panggil Laras.
"Hem, apa? sayang aku ngantuk." Gumamnya Ibra tanpa mengalihkan posisi.
"Aku juga ngantuk." Laras menyandarkan kepalanya ke bahu sofa. Tadinya ingin jalan-jalan sore, mau lihat-lihat kebun dan taman. Dah lama gak ke sana. Namun Ibra malah tiduran di pangkuannya.
Keduanya tidur di sofa dengan sangat nyenyak, terbukti dengan dengkuran dari mulut Ibra. Sementara Laras napasnya yang teratur. Sangat lelap.
****
Dian duduk sendiri, termenung di balkon. Hatinya terasa sakit, pedih namin tak berdarah. Terasa di dada, mengingat kata-kata yang dilontarkan sosok wanita yang mengaku mantan istri Firman itu.
Dia mencaci maki Dian, kalau Dian wanita pe-la-cur, yang tidak pantas tuk mendampingi Firman. Apalagi sampai menjadi ibu sambung buat Ferdi. Katanya Firman cuma mengincar hartanya saja. Tidak mencintai dengan tulus, hanya pura-pura, lantaran kasian dan banyak lagi yang wanita itu katakan. Yang tentunya sangat menyakitkan.
__ADS_1
Membuat Dian shock dan ingin membatalkan pernikahannya yang tinggal sebentar lagi. Dian menangis tersedu, menahan rasa sakit yang memenuhi dadanya.
Firman yang datang dengan terburu-buru. Menaiki anak tangga. Ia shock setelah menerima chat dari Dian kalau pernikahannya akan di batalkan.
Kebetulan pintu tak dikunci. Membuat Firman dengan mudahnya masuk. Mencari Dian di dalam kamar, sampai menemukannya di balkon.
"Sayang, apa maksudnya membatalkan pernikahan kita yang tinggal menghitung hari?" Firman menghampiri. Memegang tangan Dian yang langsung dihempaskan dengan kasar.
"Buat apa datang? kamu cuma akan menyakitiku, seperti wanita itu. Suara Dian serak.
"Jangan gitu sayang, aku gak mau pernikahan kita gagal. Gak mau." Firman menggeleng kasar. "Jangan tinggalkan aku dan Ferdi sayang, aku mohon." rajuk Firman yang berlutut di hadapan Dian.
Buat apa kita menikah kalau nantinya kamu cuma akan menyakiti ku?" hardik Dian, lalu berdiri. Mendekat pagar balkon.
"Kenapa bilang seperti itu, aku janji akan membuatmu bahagia--"
"Bohong, kamu itu tidak pernah mencintai ku, kamu cuma berpura saja sayang sama aku," suara Dian semakin tinggi.
Firman menggeleng. "Siapa yang sudah meracuni pikiran mu sayang? itu tidak benar. Kita sama-sama dewasa, pikirkan semua dengan pikiran jernih dan dingin. Jangan kerena mendengar omongan orang kamu batalkan pernikahan kita."
Kepala Firman mengangguk, kini ia mengerti siapa yang meracuni pikiran Dian saat ini. "Oh, dia yang datang dan merusak pikiranmu itu? dia iri dengan rencana pernikahan kita sayang, dia iri kalau kita nantinya hidup bahagia," ucap Firman dengan nada lemah lembut.
Dian yang sedari tadi menghindari tatapan dari Firman, pada akhirnya menatap lekat pada wajah Firman.
"Dia bercerai dengan suaminya. Dan minta kembali padaku, aku tidak mau sayang, aku sudah mantap dan yakin untuk menikahi mu!" kedua tangan Firman meraih tangan Dian tuk di genggamnya. Namun lagi-lagi Dian tepis kan dengan kesal.
"Kenapa tidak mau? dia cantik dan ibu dari putramu. Bukankah dia lebih menjamin ketimbang aku," ucap Dian menatap tajam.
"Sayang, dengar aku dulu. Itu cuma masa lalu, kita akan membuka lembaran baru bersama jadi jangan mendengar orang yang hanya ingin memisahkan kita. Aku mencintai mu, tulus. Ferdi pun sudah menyayangi mu, apa kah tega menghancurkan harapannya tentang kita bersama hem?" ujar Firman, tak sebentar pun melepas tangan Dian dari genggamannya.
"Aku gak mau jadi penghalang kalian, sebaiknya kamu kembali sama dia saja. Aku mundur saja!" ucap Dian sambil membuang muka. Namun air matanya menitikkan air bening.
__ADS_1
"Tidak, pernikahan kita tak akan batal. Kita akan tetap menikah. Coba lihat aku, hi ... lihat aku." Pinta Firman.
Dian pun melihat ke arah Firman. Sedikit mendongak. Menatap lekat kedua netra mata, pria tinggi yang rencananya akan menjadi suaminya itu.
"Coba bilang sama aku. Apa benar kamu ingin membatalkan pernikahan kita? menghancurkan impian kita, membuang semua harapan kita? melupakan janji kita yang ingin hidup bersama, membina rumah tangga yang lebih bahagia dari sebelumnya. Aku yakin kamu tidak inginkan itu terjadi." Firman menggeleng.
Dian menunduk. Memang benar apa yang di katakan tak seperti yang ia rasakan. Hati, pikiran dan bibirnya tidak tidak sejalan.
"Katakan padaku, apa iya ingin menggagalkan rencana pernikahan kita berdua?" tatapan Firman semakin lekat. Menatap Dian yang kian menunduk dalam.
Kemudian, pada akhirnya menggeleng kecil. Dan menyeruak ke dalam pelukan Firman. Memeluk sangat erat, "Aku marah, aku cemburu sama dia. Sakit hati dengan ucapannya."
Tangan Firman membalas pelukan Dian dan membelai rambutnya yang sebahu itu. "Jangan batalkan. Karena itu cuma ketika kamu marah saja, kita akan sambut hidup yang bahagia bersama."
Dian mengangguk pelan, di dalam dada Firman yang bidang itu membuat nyaman yang berada di sana. Tangan Dian semakin mengunci di pinggang Firman seakan tak ingin terpisah lagi.
Begitupun Firman yang terus mengelus rambut Dian. "Jangan dengar kata orang. Dengarkan saja hati nurani mu saja." Bisik Firman.
Kemudian keduanya saling tatap. Dengan tatapan sangat lekat seakan ingin tahu isi hati masing-masing. Lama saling pandang, merasakan gelora rasa yang ada di dalam dadanya.
"Papa, Mamah?" suara anak kecil dari kamar Dian. Sontak keduanya menoleh ke sumber suara.
"Ferdi, sama siapa ke sini?" Firman kaget, sebab ia tak mengajak Ferdi ke tempat Dian. Tapi tiba-tiba Ferdi ada di sini.
Anak itu setengah berlari menghampiri. "Aku, sama ... sama Om ke sini, Mama kenapa? habis nangis ya, Papa jahat ya sama Mama. Papa jangan galak-galak sama Mama kasian."
Dian berlutut agar sejajar dengan Ferdi. "Papa gak galak kok, papa baik sama Mama sayang," ucap Dian sambil memeluk anak itu.
"Oh, nanti kalau papa jahat sama Mama. Ferdi marahin papanya." Kata anak itu dan membalas erat Dian.
Akhirnya Firman mendapati pemandangan yang membuatnya haru, melihat Dian dan Ferdi berpelukan. Gimana kalau seandainya pernikahan nya gagal ....
__ADS_1
****
Jangan lupa like dan komen, Fav juga Bukan Suami Harapan