
Laras segera berlari untuk menyambut siapa yang datang, rupanya Ibra yang baru keluar dari mobil dan hendak memasuki teras. Ia berdiri di dekat pintu dengan tatapan tajam padanya.
"Assalamu'alaikum?" ucap Ibra sambil merangkul pinggang Laras diajaknya masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikum salam. Dari mana sih?" tanya Laras dengan nada kesal.
Langkah Ibra terhenti seketika setelah mendengar pertanyaan dari bibir Laras. Ia berdiri di depan sang Istri. "Ada urusan sebentar. Kenapa sayang?" mengusap pucuk kepala Laras yang nampak kesal dan wajah oun di tekuk.
"Ya, ampun ... istri aku kenapa ya Sus?" netra mata Ibra mencari keberadaan Susi untuk bertanya tentang Laras.
"Tidak, ke napa-napa!" ketus Laras sambil menundukkan pandangannya.
Ibra menangkupkan tangan ke wajah Laras di angkatnya agar kembali menatap ke arah dirinya. "Aku, ada urusan sama Zayn sayang."
Manik matanya Laras menatap lekat kedua netra mata Ibra seakan mencari kepastian di sana. Laras tidak mengerti dengan perasaannya, kenapa begitu kesal ketika Ibra pergi. Padahal itu hak dia, sekalipun pergi bersama istrinya yang lain. "Benarkah?"
"Benar sayang ... buat apa aku bohong?" tangan Ibra merengkuh kepala Laras, dibawanya ke dalam pelukan.
"Tadi aku, mengurus sesuatu sama Zayn. Tadinya sih mau langsung ke mension, habis di sini gak di kasih sesuatu." Ibra terkekeh.
Sontak, Laras menjauhkan dirinya dari tubuh tegap itu. "Terus? kenapa pulang ke sini, pulang aja sana ke mension. Aku tidak apa di tinggal juga, lagian semalam kau berada di sini. Jadi malam ini kau boleh pergi."
Ibra menunjukkan senyuman geli nya, melihat Laras merajuk. Menyuruh pergi tapi tak rela hati. Ibra colek dagu Laras yang langsung dia tepis. "Kamu menyuruh ku pergi?"
"Iya," jawab Laras singkat.
"Ya, sudah ... kalau kamu menyuruh ku pergi, lagian Dian pasti menunggu ku di mension," ucap Ibra pura-pura mau pergi dan sudah membalikkan badan.
Laras dibuat tambah kesal. Dengan tangan menyilang di dada, memperlihatkan wajahnya yang semakin ditekuk. Bibirnya monyong beberapa senti ke depan, matanya panas dan berair. Melihat langkah Ibra yang hampir mendekati pintu.
Satu langkah lagi ketika kaki Ibra melintasi pintu, Ibra membalikkan badan menoleh ke arah Laras yang seketika itu juga berbalik memunggungi sosok Ibra. Senyum Ibra mengembang dan balik menghampiri Laras, ia rangkul perutnya dari belakang. Menempelkan dagunya di bahu Laras, sengaja menghembuskan napas ke leher jenjang sang Istri.
Laras memejamkan mata, saat tubuhnya sudah berada dalam dekapan tubuh Ibra. Memang ini yang ia inginkan saat ini, Hari Ini Laras ingin di manja sama suaminya itu. Namun bibirnya sulit untuk meminta.
Telapak tangan Ibra mengusap perut sang istri dangan sangat lembut. "Sayang, tahu gak? Mommy mu sedang merajuk. menyuruh Papi pergi, tapi sebenarnya gak boleh pergi. Mommy aneh ya?"
Laras menurunkan tangannya memegang tangan Ibra. "Kenapa gak jadi pergi? pergi saja, tidak perlu memikirkan aku."
"Beneran? tapi bibir mu monyong gitu, bukannya itu tandanya gak boleh pergi," cuph! mengecup pipinya Laras.
Seketika posisi mereka kini berhadapan. "Aku--"
"Kenapa? bicaralah," netra mata Ibra menatap lekat. Tangan meraih kedua tangan Laras dan dicium punggungnya bergantian.
Laras termangu melihatnya, Kemudian Ibra menarik Laras agar duduk di sofa bersamanya. Laras menurut saja pada Ibra yang mengajaknya duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"Kenapa sayang? bilang, mau apa!" tangan Ibra menarik bahu Laras ke pelukannya.
Laras menggeleng pelan. "Tidak mau apa-apa."
__ADS_1
"Yakin, tidak mau apa-apa? tak ingin di manja, atau membeli sesuatu?" tanya Ibra lagi dengan memeluk tubuh Laras sangat erat.
Laras merasakan nyamannya dalam pelukan Ibra, membenamkan wajahnya di bawah lehernya Ibra. Jemari Laras bermain dengan kancing kemeja Ibra, tepatnya di dada bidang tersebut.
"Mungkin aku yang salah, mungkin kata orang itu benar. Kalau aku sudah merebut suami orang, aku Bahagia di atas derita istri mu yang lain. Aku mengambil perhatian dan kasih sayang suami orang," ujar Laras lesu. Kepikiran terus omongan itu, tapi pikiran dan hatinya tidak singcron.
Ibra menundukkan pandangan pada Laras. "Kenapa bilang begitu? sudah aku bilang, kamu tidak salah, yang salah itu aku dan Dian. Sudah membawa mu ke dalam prahara rumah tangga kami."
"Aku bingung, bingung harus gimana? sebab di sisi lain. Aku gak mau jadi belenggu antara kalian berdua, jadi pengganggu kebahagiaan mu dengannya." Laras menegakkan duduknya dan menatap manik mata Ibra yang juga menatapnya.
"Nggak usah bingung sayang, kita akan melewati semua bersama," ungkap Ibra sembari meremas jemari Laras dan lagi-lagi mencium punggungnya.
"Sudah jelas, gara-gara adanya aku, dua istri mu tercerai. Padahal sebelumnya kalian baik-baik saja--"
"Sttt ... sayang ... itu cuma secara kebetulan saja, semua terbongkar disaat kamu sudah ada. Dengarkan aku sayang, jangan sekali-kali menyalahkan dirimu lagi. Aku tidak mau mendengarnya, oke?" ujar Ibra memotong ucapan Laras dan kembali merengkuh kepala Laras ke dalam pelukan. Mengecup keningnya berkali-kali.
"Ah, maaf. Susi bawakan air minum, kali saja Tuan dan Nyonya haus. Maaf ya? sudah ganggu kalian he he he ..." suara Susi sambil berlutut menyimpan dua cangkir minuman buat sang majikan.
Laras terkesiap dan memposisikan duduk nya dengan tegak. "Makasih ya Sus ...."
"Tapi ... saya tak memintanya Sus," celetuk Ibra sambil menatap tajam ke arah Susi. Ia merasa terganggu dengan kehadiran Susi.
Susi menundukkan kepalanya, merasa bersalah. "Ma-maaf, Tuan."
"Abang ... jangan gitu? justru kita harus berterima kasih pada Susi," lirih Laras sambil mencubit kecil paha Ibra, menunjukkan ketidak setujuan nya akan sikap Ibra.
Mulanya Susi pikir Ibra marah padanya, sehingga hatinya menciut. Namun ternyata Ibra melempar senyuman manis yang membuat hatinya lega kembali dan tenang. "Sama-sama Tuan dan Nyonya." Susi membalikkan badan membawa langkahnya kembali ke dapur.
"Jangan gitu sama orang, dia sudah berbaik hati membawakan minum tanpa harus di pinta dulu, aku aja lupa." Protes Laras akan sikap Ibra.
"Iya, sayang ... iya, aku sudah berterima kasih dan airnya pun sudah aku minum," timpal Ibra, menjepit dagu istrinya.
Karena sudah memasuki magrib, keduanya masuk kamar dan menunaikan kewajibannya sebagai muslim.
Laras membereskan bekas salat, sementara Ibra menerima telepon dekat jendela. "Iya, sayang ... hati-hati di sana." begitulah obrolan Ibra di telepon.
Laras menatap ke arah Ibra dengan pertanyaan dalam hati. Siapa yang menelpon, namun tidak ia ucapkan hanya tatapan mata saja yang bicara.
Ibra yang mengerti kalau Laras penasaran. Langsung menjelaskan. "Dian sedang berada di Semarang. Ada urusan kerjaan di sana."
"Oh, kapan berangakatnya?" selidik Laras.
"Tadi pagi, katanya. Aku juga gak tahu, dia bilang ... setelah sampai di sana," sambung Ibra menaik turunkan kedua bahunya.
"Mungkin, dia lupa bilang sama kamu. Sehingga baru baru bilang setelah sampai di sana," ungkap Laras.
"Mungkin, tapi ... baguslah--"
"Loh, kok bagus? bukannya sedih ditinggal sama istri," tanya Laras merasa heran dengan yang di ucapkan Ibra.
__ADS_1
Ibra mendekat dan merangkul, menghujani kening Laras dengan kecupan. "Kalau Dian gak ada di mension. Aku tidak ada alasan untuk pulang sayang, kamu senangkan kalau aku di sini terus hem?" menjepit dagu Laras dengan gemas.
"Nggak, kamu boleh pulang ke sana kok," ucapnya Laras seakan menyuruh Ibra pergi.
"Hem ... aku tahu, itu cuma di bibir saja, di hatinya lain. Justru melarang ku untuk pergi, kan? ngaku-ngaku." Ibra menghujani Laras dengan ciuman, membuat Laras terkikik dan bergelinjangan. Keintiman itu diakhiri dengan sentuhan yang memabukkan, Ibra menyatukan bibirnya dengan bibir Laras. Ia ******** nya dengan sangat lembut, ******* dengan sangat mesra.
Membuat timbulnya desiran aneh di tubuh Laras dan keduanya. Darah mengalir deras dan panas, dada naik turun napas tersengal-sengal. Mata keduanya terpejam, terhanyut dalam gairah. Tangan Laras mengusap punggung Ibra, sementara Ibra memeluk tubuh sang istri sangat erat.
Takut terbawa suasana yang lebih dalam lagi, Laras sadar kalau sekarang waktunya makan malam. Di luar sepertinya sudah ada mertua, sebab tadi Laras mendengar suara mobilnya. Dan pasti itu pak Marwan dan bu Rahma pulang, dari rumah kerabatnya terdebut.
Perlahan tangan Laras mendorong dada Ibra. "Aku lapar," Suara Laras dengan sangat lembut. Ia takut Ibra kecewa.
Dengan rasa kecewa Ibra melepas pelukannya dan mengakhiri dengan kecupan di kening Laras yang menundukkan kepalanya.
"Ya, sudah, kita makan yu," dengan suara Ibra yang bergetar. Masih bisa mengontrol napasnya.
Laras kembali memeluk Tubuh tegap itu, agar dia sejenak mengotrol napas yang dedang memburu. Dadanya naik turun, Laras mengusap dada sang suami.
"Kendalikan dulu napas mu," gumam Laras yang menempelkan pipinya di dada Ibra.
"Oke." Gumam Ibra sambil menempelkan dagunya di pucuk kepala Laras.
Setelah semuanya normal. Keduanya meninggalkan kamar menuju dapur, Ibra menuntun tangan sang istri yang mengikuti langkahnya.
"Lah, kami sudah selesai makan malam nih. Kami lapar ya Mah, Sus?" ucap Marwan sambil melirik istri dan asistennya.
Susi dan Rahma mengangguk, mengiyakan pak Marwan.
"Tidak pa-pa, makan aja duluan. Kami baru lapar," sahut Ibra, netra matanya melihat menu yang ada di meja.
Sebelum mengambil piring, Laras melirik putaran jam yang sudah menunjukkan pukul 20.12 wib. Laras sedokit terkejut. "Perasaan, tadi aku baru selesai salat magrib?" batin Laras, lalu mengambil piring dan isinya.
Ia hidangkan pada Ibra. suaminya. Yang kemudian mengambil piring untuknya sendiri, keduanya makan malam dengan sanagat lahap. Sesekali Laras menoleh jurum jam, hatinya masih heran. Berasa singkat banget waktu yang sudah ia lewati.
Ibra yang melihat netra mata Laras terus melihat jarum jam, Ibra bertanya. "Kenapa sayang? lihat jam mulu."
Laras menoleh di sela-sela makannya. "Ah, nggak kok," dambil menarik bibirnya.
Toot ....
Toot ....
Toot ....
Ibra dan Laras saling bertukar pandangan, penasaran siapa yang datang ....
****
Selamat membaca reader ku, semoga puas ya. Makasih juga masih setia dengan novel ini.
__ADS_1