
Ibra mengangkat telapak tangan di atas angin.
"Cukup! aku yang jadi kepala rumah tangga di sini, jadi aku juga yang berhak menentukan apa pun yang aku mau. Dan berhak memberi peraturan di rumah ini bukan dirimu, mengerti?" menatap tajam Yulia.
Yulia terdiam, melihat semua orang yang berada di situ, termasuk Mery dan Laras seolah sedang menonton adegan film. "Apa lihat-lihat?" matanya melotot sempurna. Kemudian dengan kesal dia menghentakkan kakinya ke lantai dan bergegas pergi meninggalkan ruang tersebut.
Ibra menggeleng. Kini giliran Mery mendekati Ibra menggelendot di tangannya. "Sayang! kok bisa pulang bareng Yulia?"
"Tadi datang ke kantor! jadi kami pulang bareng! tapi gak bareng sih. Pisah mobil juga," sahut Ibra menjelaskan.
"Oh ... terus kenapa sampai ribut?" bu Rahma penasaran.
Ibra diam sebentar. "Biasa lah masalah pribadi Mah." Ibra tidak ingin menceritakan detailnya.
Laras sesekali melirik kearah Ibra. "Katanya istri yang lain gak suka ke kantor kenapa Yulia ke sana?" batin Laras mengingat-ingat penampilan Yulia yang acak-acakan.
"Sayang mau makan sekarang? aku ambilkan ya." Mery mengambil piring dan menuangkan nasi juga lauk pauknya.
Ibra tidak menjawab, matanya melirik Laras yang juga menatap, sehingga mereka bersitatap sesaat kemudian Laras menunduk dan memasukan sendok yang berisi mie ke dalam mulut.
"Kenapa diam saja? kenapa gak mengambilkan ku makan malam," gumam Ibra dalam hati sambil menatap Laras.
Sambil menghela napas. Ibra mendorong piring yang Mery suguhkan. "Aku kurang selera makan," matanya memperhatikan yang Laras makan. Tangan Ibra yang panjang mengambil mangkuk punya Laras. "Sepertinya ini enak juga."
Ibra langsung melahap mie yang tinggal setengah itu. Laras bengong tidak menyangka kalau Ibra akan mengambil mie miliknya.
Mery tampak kesal. Ibra tidak mencicipi makanan yang dia berikan, melainkan makan mie bekas Laras.
Sementara bu Rahma tersenyum melihat putranya itu. "Kamu suka mie sayang? dulu kamu paling benci lihat mie pake sayur!"
Ibra menyeruput kuahnya sampai tak tersisa. "Haa! iya Mah, tapi itu dulu. Sekarang suka kok."
"Apa, tuan gak suka mie? tapi kenapa itu tandas. Padahal aku belum kenyang." Laras menelan saliva nya melihat mie miliknya tinggal mangkuk.
"Apa Tuan mau nambah?" tanya Laras pada Ibra yang kelihatannya masih lapar.
Ibra membuka jas nya. "Boleh! yang seperti barusan ya?" menyimpan jas di kursi.
Laras mengangguk, kemudian beranjak dari duduk. Mau memasak mie buat Ibra.
Dari jauh nampak Marwan mendekati meja makan. "Sudah pulang kamu?" melirik Ibra yang duduk bersandar ke belakang.
"Sudah. Yah," sahut Ibra.
__ADS_1
"Yah, ini teh buatan Laras, cobain deh manisnya pas!" bu Rahma memberikan teh manis pada suaminya.
"Hem ... Ayah coba ya?" meminum sedikit, di icip-icip dulu. "Em ... pas, enak," sambil mengangguk pelan.
"Tuh, kan kata saya juga pas," ucap bu Rahma sambil menoleh Laras yang sedang memasak mie, dan hanya menoleh sebentar lalu fokus masak.
Ibra menatap kedua orang tuanya yang nampak suka dengan istri keempatnya itu. Laras!
"Silakan Tuan, mie sudah siap!" ucap Laras menghidangkan depan Ibra.
Ibra menoleh. "Terima kasih?" kemudian mengaduk-aduk mie yang masih mengepul.
Mery memerhatikan dengan perasaan gondok, marah yang tertahan. Melihat Ibra bisa-bisanya makan mie. Sementara makanan yang sengaja ia ambilkan tidak dihiraukan sama sekali.
"Sayang, malam ini mau tidur sama siapa? tanya Mery setelah melihat Ibra menghabiskan makannya.
Ibra mengambil minum dan diteguknya sampai tersisa seperempatnya. "Malam ini aku mau sendiri. Capek!" sahut Ibra.
Semuanya diam dengan pikirannya masing. Ibra pun berdiri menyambar jas nya di kursi sebelah, menoleh orang tuanya yang masih makan. "Aku ke kamar dulu ya. Mah. Pah," sambil berlalu.
Lima langkah kemudian Ibra berhenti! menoleh kearah Laras. "Siapkan air hangat! di kamar pribadi ku." ucap Ibra kemudian melanjutkan langkahnya.
"Baik Tuan! Laras pun mengikuti Ibra, sebelumnya Laras pamit dulu pada sang mertua yang di balas dengan anggukan.
Sang mertua menoleh mendengar gumaman Mery, lalu mereka berdua saling tatap. Kemudian bu Rahma tersenyum seraya berkata. "Bukan bak pembantu, tapi ada baiknya juga, kan istri menuruti suami. Mery Handari," bu Rahma memberi sedikit penekanan. Dengan kalimat Mery Handari.
"Loh. Banyak asisten kok," seru Mery melirik para asisten yang bersiap untuk makan malam.
Marwan dan Rahma menggeleng sambil saling pandang. Karena makannya sudah selesai! Marwan dan Rahma beranjak dari duduk, berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Tinggal Mery yang bermuka dongkol mengaduk-aduk makanan. "Jadi gak berselera makan!" sedikit menghentakkan sendok ke piring, membuat para asisten kaget dan menoleh kearah Mery.
Mery merasa di pandang banyak mata, menggerakkan netra matanya melihat para asisten. Mery akhirnya membulatkan mata dengan sempurna pada mereka semuanya menunduk kecuali Rika dan Susi.
"Jangan terlalu melotot Nyonya Mery! nanti matanya loncat, berabe loh," ucap bu Rika dengan nada santai.
Mery tambah kesal. "Hi ... jangan mentang-mentang di sini jadi orang kepercayaan ya? saya di sini Nyonya rumah jadi jangan lancang!"
"Iya Nyonya!" ucap bu Rika sambil terus makan, di maja yang lain.
"Hem ... pembantu saja belagu!" jelas Mary sambil pergi.
****
__ADS_1
Ibra yang berada di kamar pribadi, sedang melucuti pakaian. Sementara Laras menyiapkan air hangat di bath hub untuk Ibra. Kemudian Laras keluar dari kamar mandi.
Pas buka pintu! Laras mendapati pemandangan yang sungguh membuat jantung berdegup begitu cepat. Mendapati Ibra tak mengenakan pakaian dan dia langsung menyambar handuk di lilitkan ke pinggang, setelah sadar melihat Laras berdiri mematung serta memalingkan pandangan.
Laras berjalan cepat ke ward robe mau menyiapkan pakaian tidur buat Ibra.
"Gak usah menunduk gitu? bukankah sudah melihatnya dan ... menikmati," gumam Ibra sambil menyeringai. Melihat Laras jalan menunduk.
Laras memang was-was ada rasa takut namun menggelikan. Laras masuk ke ward robe mau mengambil pakaian tidur Ibra, setelah dapat Laras membawanya ke tempat tidur di simpan di sana.
Kemudian Laras berjalan mendekati pintu keluar, namun daru kamar mandi terdengar suara ibra.
"Tunggu saja di situ! jangan keluar dulu," teriak Ibra dari dalam.
"Aish ... ada apa lagi sih? semuanya sudah aku siapkan juga," gerutu Laras sambil memutar badan mendekati sofa. Menjatuhkan tubuhnya di sana.
"Eeh! tahu dari mana kalau aku mau keluar? apa di kamar mandi ada cctv apa!" Laras menoleh kearah pintu kamar yang ternyata terbuka setengahnya.
"Dasar ... pantas saja tahu aku mau keluar?" gumam Laras sambil menggeleng. Laras menyalakan televisi.
Sekitar 10 menit kemudian Ibra muncul dari balik pintu kamar mandi bertelanjang dada tangannya mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah.
Laras terpesona melihatnya hingga tak berkedip. Pantas saja kalau digilai banyak perempuan, sudah tajir, wajah tampan rupawan. Badan membentuk tubuh sixpack.
Ibra memperhatikan Laras yang memandanginya tak berkedip. "Terpesona ya?" menaikan turunkan alisnya.
"Eeh .... e-gak, biasa saja!" Laras gugup dan memalingkan mukanya.
"Iya juga gak apa-apa kok," sambil duduk dekat Laras.
Laras makin gusar melihat Ibra, bukannya berpakaian malah dudu di sisinya. "Tuan pakai baju dulu nyanyi masuk angin!" ucap Laras sambil menunduk.
"Nanti lah," merentangkan tangan sambil duduk bersandar.
Tangan Ibra perlahan menyentuh bahu Laras, membuat Laras terkesiap dan menoleh tangan kemudian wajah Ibra bergantian. "A-ada apa menyuruhku menunggu? semua keperluan Tuan sudah aku siapkan di sana!"
Mata Ibra menatap lekat wajah Laras yang cantik dan manis. Kali ini rambut yang bergelombang itu di ikat rapih, mengesankan simpel.
Netra mata Ibra terus bergerak, mengamati yang ada di hadapannya. Jantung Laras semakin tak menentu, ketika jarinya menyentuh dagu Laras, wajah Ibra semakin mendekat. Laras menatap netra mata Ibra yang terus bergerak disekitar wajahnya.
Saking dekatnya napas pun saling menyapu kulit masing-masing. Sehingga terasa desiran-desiran aneh di tubuh mereka, semakin lama kian dekat saja bibir keduanya. Hampir saja menyentuhnya, mereka di kagetkan dengan suara ponsel milik Ibra ....
,,,,
__ADS_1
Reader semua yang baik hati ... coba dong kalau ada tulisanku yang kurang tepat atau salah atau juga kurang huruf misalnya, komen dong biar segera aku perbaiki lagi🙏🙏 terimakasih sebelumya.