Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Melayani suami


__ADS_3

Dian duduk di pangkuan Ibra dengan tangan di leher Ibra. "Sayang, tumben masih sore sudah ke kamar ku, kangennya?"


Ibra tidak segera menjawab, hanya matanya yang mengamati tubuh istrinya yang masih handukan. "Pakelah pakaian mu, nanti masuk angin."


Dian megerucutkan bibirnya. "Emang kamu tidak suka apa?" mengelus pipi Ibra dan menatap kedua netra mata Ibra sangat lekat.


"Aku mau, ke rumah Laras. Tahu, kan? ada mama dan papa di sana?" ujar Ibra yang merangkul pinggang Dian.


Seketika wajah Dian yang awalnya sumringah, menjadi muram dan berubah drastis. Langsung ia berdiri dan menjauh dari Ibra.


"Bisa Gak? besok aja, sekalian sama aku bareng-bareng," ucap Dian yang nampak kecewa.


"Aku, di tunggu oleh papa sama mama. Jadi aku harus segera ke sana." Sambung Ibra menatap lekat dan menggenggam tangan Dian.


Dian tersenyum, seolah memikirkan sesuatu. Ia berdiri depan Ibra. Membuka handuk yang sedari tadi melekat di tubuhnya. ia yakin, dengan cara ini Ibra akan tergoda dan terlena. Lantas mengurungkan niatnya untuk pergi.


Di suguhi kemolekan Dian, membuat dada Ibra berdebar. Jantung berdegup kencang, bekali-kali menelan saliva nya. Namun dengan cepat Ibra mengambil handuk itu dan membalutkan di tubuh Dian.


Dian, sangat heran. Ia pikir Ibra kok tidak tergoda sama sekali, dengan hati kecewa. Dian duduk Membelakangi Ibra yang berusaha membujuknya.


"Aku berangkat sekarang ya?" ucap Ibra, memeluk dari belakang.


Dian berabalik dan balas memeluk. "Em ... temenin aku makan malam dulu ya? setelah itu baru kamu boleh pergi."


"Ya ... aku pengen makan di tempat Laras. Tapi boleh lah," batin Ibra sambil mengecup pucuk kepalanya Dian.


"Oke, cepetan siap-siap. Aku tunggu di meja makan ya?" ucap Obra melepas pelukan dan hendak berdiri.


"Tunggu aja di sini," gumam Dian dengan nada manjanya.


Ibra kembali duduk. "Baiklah."


Dian berjalan ke wardrobe, mengambil semua pakaiannya. Dan sesaat kemudian kembali membawa semua perlengkapannya. Dan dengan sengaja berpakaian di depan Ibra dengan harapan Ibra tergoda. Terus bermain dengannya, dan tidur berdua hingga akhirnya lupa, kan tidak pergi ke tempat Laras.


Ibra berusaha menundukkan pandangannya dengan bermain ponsel. Tidak ingin terpancing dengan ulah Dian yang sudah terbaca dan diketahui akal bulusnya.


Sambil mengenakan pakaian, netra mata Dian melihat Ibra yang terus menunduk. Sibuk dengan ponselnya sendiri.


Selesai dengan ritual berdandannya, Dian menoleh ke arah Ibra yang masih saja sibuk dengan ponselnya. "Yu, sayang. Lapar nih ..." Dian gelendotan di tangan Ibra yang mendongak menatap dirinya.


"Ayo, wah ... wangi banget nih." rayu Ibra sambil berdiri. Mereka berjalan bergandengan tangan, menuju tempat makan.


Sesampai di meja makan Ibra menarik kursi buat Dian. Baru kemudian ia mundudukkan dirinya di samping Dian.


"Malam, Tuan dan Nyonya?" sapa bu Rika mengangguk hormat.


"Malam juga," balas Dian.


Bu Rika menyiapkan makan buat Ibra dan Dian. Kalau dengan Laras pasti yang melayani Ibra adalah Laras bukan asisten.


"Sayang, gak bisakah melayani ku? seperti yang Laras lakukan, jangan mengandalkan asisten mulu," ucap Ibra disela-sela makannya.


Dian melirik dan berkata. "Sayang, buat apa ada asisten kalau harus dilayani Istri? istri itu bukan pembantu."


"Emang bukan pembantu, tapi yang dilakukan istri buat suami adalah ibadah, sayang ... aku gak nuntut kamu melakukan semua pekerjaan rumah, cuman ... apa salahnya melayani suami selain di tempat tidur?"


"Jangan, samakan aku sama Laras ya sayang. Aku sama dia itu beda! aku wanita karier sementara dia cuma di rumah saja. Wajarlah kalau dia selalu layani kamu dalam segala hal juga, aku capek di luaran. Belum lagi kepala pusing, memikirkan kerjaan." Timpal Dian dengan nada kesal.


"Saya tidak pernah menyuruh kamu bekerja sayang, kamu di rumah saja juga gak bakalan kekurangan uang. Aku cukupi kok, Laras juga serjana sama aja." Ibra tak kalah agak tinggi.


Dian sedikit merubah posisi agar menghadap Ibra. "Kalau saya cuma diam di rumah. Percuma dong orang tua ku menyekolahkan ku tinggi-tinggi, kan kamu tahu itu," ucap Dian kembali.


"Mau aku, wanita yang berkarier di luar. Bukan berarti melupakan kewajibannya sebagai istri di rumah. Aku tidak menuntut kamu mengerjakan semuanya, tidak. hanya segelintir saja." Ibra jadi tersulut emosi. Namun ia berusaha mengekarnya, takut meluap-luap.


Dian memejamkan matanya dengan nencoba mengendalikan amarahnya. "Saya capek sayang ... sudah, di sini banyak asisten. Kenapa sih harus dipermasalahkan ha!" netra mata Dian menyapu para asisten yang ada di sana, termasuk bu Rika yang berdiri tak jauh dari meja makan.


"I-itu lain sayang, lain ... karena pahalanya berbeda. Kalau kamu sok sibuk, melayani suami dengan hal sepele aja sudah enggan. Gimana kalau kamu mengurus anak? apa semuanya akan di serahkan sama baby sitter! percuma kamu ingin merawat anak, kalau kamu cuma memikirkan diri sendiri. Di hati kamu itu tak ada rasa kasih sayang pada anak kecil, jadi semua sia-sia. Gak usah berharap mendapatkan hak mengasuh anak bila yang mengurusnya baby sitter juga," ujar Ibra panjang lebar, kemudian meninggalkan makannya. Berlalu meninggalkan Dian juga di sana.

__ADS_1


"Sayang, mau kamana? jangan pergi. Sayang?" suara Dian kian memekik, namun tak Ibra hiraukan. Ia terus berjalan sampai tak terlihat lagi oleh Dian.


Dian membanting sendok ke piring, mengusap wajahnya kasar dan frustasi. Memegang kepala hingga menunduk dalam, rasa kesal. Marah menyelimuti hatinya.


"Kata Tuan, ada benarnya Nyonya. Apa salahnya melakukan hal-hal kecil buat membahagiakan suami, mungkin ... Tuan juga ingin Nyonya manjakan salain di tempat--"


"Aku, tudak butuh saran dari mu. Aku tahu apa saja yang seharusnya aku lakukan, jangan turut menuntut ku." hardik Dian memotong ucapan bu Rika.


Bu Rika terdiam, setelah menerima balasan dari Dian yang sedikit angkuh.


Dian sedikit menggeprak meja dan membiarkan makanan begitu saja. Linangan air matanya ia seka begitu kasar, kemudian beranjak dari duduknya. Mengayunkan langkah menjauhi meja makan, memeluk dadanya sambil berjalan. Dalam otaknya berjubel dengan segala yang tadi Ibra ucapkan dan mencerna dari maksudnya. Namun ia tidak terima kalau di bilang tidak punya rasa kasih sayang, jelas-jelas ia menginginkan anak!


Ia duduk di taman, memandangi langit yang gelap, hitam pekat. bintang pun segan menghiasi gelapnya malam. Apalagi sang rembulan, seakan tahu suasana hati Dian saat ini.


Sementara Ibra, dari meja makan langsung ke kamar. Untuk mengambil kunci mobil, jeket dan laptop miliknya. Ia bawa ke rumah Laras.


Pintu gerbang di buka, oleh scurity yang mengangguk hormat. Pada Ibra yang nyetir sendiri.


Ibra menurunkan kaca jendela setengahnya. "Kunci lagi Pak, saya akan menginap di luar."


"Oh, baik Tuan. menginap di tempat bu Laras ya? selamat bersenang-senang ya, Tuan?" kembali mengangguk.


Ibra tidak menjawab selain tatapan matanya sesaat. Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Hati-hati, Taun ..." pekik pak scurity sambil melambaikan tangannya.


Mobil Ibra melesat bak anak panah yang terlepas dari busurnya. Begitu cepatnya sehingga dalam hitungan menit mobilnya sudah berada di depan rumah Laras, klakson di bunyikan berkali-kali. Nampak Susi bergegas menghampiri pagar untuk membuka gemboknya.


"Malam, Taun ...."


Ibra memajukan mobilnya sampai dekat teras. Berdampingan dengan mobil milik Laras, kemudian turun menutup pintunya dan segera memasuki rumah tersebut. Di ruang tamu kosong. di ruang keluarga juga sama kosong. Rupanya orang rumah masih ada di meja makan namun kayanya sudah selesai makan.


Assalamu'alaikum ..." Ibra memeluk kedua orang tua nya bergantian.


"Wa'alaikum salam," sahut semuanya dengan serempak.


"Maafkan aku telat," ucap Ibra sambil mencium punggung tangan kedua orang tua nya bergantian pula.


Kemudian. Laras meraih tangan Ibra dan menciumnya punggung tangannya, Ibra pun mencium kening Laras sangat lembut.


Kedua orang tua nya, begitu bahagia melihat putra dan mantunya memperlihatkan adegan seperti itu. Begitu adem melihatnya.


"Sudah makan belum?" selidik Laras menatap ke arah sang suami yang menggeser kursi dan duduk di dekatnya.


Ibra menggeleng. "Belum." Karena memang tadi belum juga setengahnya makan, sudah ia tinggalkan sebab didahului rasa kesal pada Dian.


Laras berdiri dan mengambil piring dan ambilkan nasi, sayur sup dan juga gak ketinggalan ayam gorengnya. Lalu ia suguhkan pada Ibra, dan juga air putihnya.


Netra mata Ibra terus memandangi Laras yang nampak tulus dalam melayaninya. "Makasih sayang?"


Laras, membalas dengan anggukan dan senyuman terindahnya. Lalu duduk kembali untuk sekedar menemani, Rahma dan Marwan berpindah duduk ke ruang keluarga.


Ibra langsung menyantap makan malam yang Laras hidangkan. Di sela-sela makannya ia menyuapi Laras. "Aa ... buka mulutnya."


Laras menggeleng. "Nggak mau, aku sudah kenyang."


"Nggak pa-pa sekali aja," pinta Ibra kekeh ingin menyuapi sang istri.


Akhirnya, Laras membuka mulut dan menerima asupan sendok yang berisi nasi dan ayam itu. "Sudah."


"Baiklah sayang ..." sambil mengusap bibir Laras yang ada nasinya.


Setelah makan Ibra habis. Laras bertanya apa mau nambah atau tidak? dan Ibra menolak dengan alasan sudah kenyang.


Diakhiri dengan segelas air putih Ibra menyelesaikan makan malamnya yang terasa sangat nikmat. Kemudian menarik tangan Laras agar mengikutinya bergabung dengan orang tua nya di ruang tengah.


"Sus, tolong bereskan ya?" titah Laras pada Susi yang berdiri dekat wastafel.

__ADS_1


"Iya, Nyonya ini tugas Susi kok." Sahut Susi menatap bahagian majikannya.


Keduanya sudah duduk bersama bu Rahma dan pak Marwan. Mereka mengobrol segala hal, bahkan membahas acara empat bulanan yang inginnya Laras di adakan di sini aja. Tidak mau di mension ataupun di hotel.


Pak Marwan dan Rahma mendukung-dukung saja dimanapun tempatnya. Yang penting selamat dan berjalan dengan lancar. Begitu pesan pak Marwan.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 21. lewat dan Laras suah tampak lelah. "Bobo sana sayang, nanti aku nyusul." Gumam Ibra pelan. Merasa kasian pada Laras yang nampak lelah dan terus menguap hingga matanya berair.


"Ya, sudah. Kalian istirahat saja, kami masih mau nonton televisi." ungkap pak Marwan di timpali oleh bu Rahma dengan anggukan.


"Baiklah, kamu mau istirahat dulu Pah, Mah, sampai jumpa lagi besok." Ibra berdiri dan menarik tangan Laras.


Laras pun berdiri dan sebelumnya berpamitan pada kedua mertunya terlebih dahulu.


Ibra menuntun Laras ke kamarnya, kalau saja tidak merasa malu, Ibra pasti menggendong tubuh Laras ke dalam kamar.


Sesampainya di kamar, Ibra langsung mengunci pintu. Laras duluan menuju kamar mandi dan ingat belum salat. Di pintu Laras menghentikan langkahnya. "Sudah salat belum?" menoleh ke arah Ibra yang sedang membuka jaketnya.


"Belum, kamu duluan saja ke kamar mandinya." Balas Ibra. menyimpan jeket di sofa.


Laras lanjutkan langkahnya dan hilang di balik daun pintu. Sesaat kemudian kembali dengan tetasan air wudu, Ibra menatap sang istri lalu ia pun masuk kamar mandi. Mengambil air wudu.


Selepas mengerjakan salat, dan berdoa. Barulah keduanya merebahkan diri di tempat tidur, di bawah sinar lampu yang temaram. Ibra langsung memeluk sang istri di balik selimut tebalnya.


Laras menempelkan pipinya di dada Ibra yang bertelanjang dada tersebut. Tangan Ibra membelai rambut Laras yang panjang bergelombang.


Jari-jari lentik Laras bermain di dada sang suami yang sedikit berbulu itu.


Ibra beberapa kali mendaratkan ciuman kecil di pucuk kepala Laras. Laras mendongak sempurna pada Ibra. "Apa Dian mengijinkan kamu ke sini?"


"Diijinin dong sayang ... masa nggak?" cuph mengecup kening Laras sangat mesra. Tatapan yang penuh damba sudah mulai ia tunjukkan. Kemudian terus mencumbunya, Ibra menjalankan niat yang sedari mension juga, ia berniat kalau malam ini hanya ingin mencumbu istri mudanya saja.


Mulanya Laras banyak menghindar, namun lama kelamaan gairahnya terbakar juga. Ibra terus menggencarkan serangannya, pada kesetiap tempat yang ia sukai. Berkali-kali menyatukan ***** nya dangan ***** Laras. M****** nya dengan lembut dan penuh kehangatan.


Napas keduanya kian memburu. Keduanya terus saja menikmati ritual yang semakin memanas itu. Hingga menimbulkan gelenyaran aneh di dalam tubuhnya dan menuntut lebih dari itu. Akhirnya pergulatan di mulai, namun tetap dalam ke hati-hatian agar tidak mengganggu kehamilan sang istri.


Suara-suara kecil yang keluar dari mulut keduanya, terasa merdu di telinga dan semakin memacu keduanya untuk terus larut dalam ritual yang amat mengasyikan, ditambah suasana yang sangat mendukung. Suasana malam yang kian larut dan dingin.


Keringat dari tubuh keduanya bercucuran, mengiringi rasa lelah yang mulai mendera. Untuk mengakhirnya pergulatan mereka. Ibra semakin mempercepat ritme nya, sehingga mereka dapat merasakan puncak kemenangan yang sungguh memuaskan. Jika saja ada medali untuk penghargaan, tentunya Ibra akan mendapatnya.


Menjatuhkan tubuhnya, di samping tubuh sang istri yang sedang mengatur napasnya yang tak karuan. Dadanya naik turun.


Begitupun Ibra, terus berusaha mengontrol napas dan keinginan yang ingin melanjutkan. Mencari persinggahan dari miliknya.


Napasnya sudah mulai tenang, Ibra menarik kepala sang istri agar tidur di dada bidangnya itu. Laras menuruti dengan menarik selimut tebal itu supaya tidak terlepas dari jepitan antara tangan dan ketiaknya.


"I love you sayang," cuph! mengecup pucuk kepalanya. "Tetaplah menjadi istri ku yang baik dan penurut."


"Penurut? maksudnya," Laras mendongak sesaat, kemudian membenamkan wajahnya di dada sang suami.


"Tanpa harus aku jawab, kamu pasti mengerti dari maksudnya," sahut Ibra. Mengelus bahu Laras.


Laras diam sejenak, memikirkan perkataan Ibra barusan. "Ya ... aku mengerti." Gumamnya pelan.


Beberapa menit kemudian. Mata Laras tak bisa di buka lagi saking ngantuknya. Begitupun Ibra terus menguap dengan mata terpejam, akhinya mereka mengarungi bahtera alam mimpi.


Malam berganti pagi. Sang rembulan dan juga bintang mempersilakan sang surya hadir untuk menghangatkan seluruh bumi. Matahari bersinar begitu terang menghiasi pagi yang cerah ini.


Suara kicawan burung menambah hangat dan syahdunya alam di pagi hari, di saat ini Ibra bermalas-malasan di tempat tidur, setelah malaksanakan berisih-bersih lanjut subuh. Ia tidur kembali, kebetulan ini hari minggu.


Di waktu yang bersamaan, Laras sudah ikut beraktifitas di dapur. Bersama Susi dan bu Rahma sambil mengobrol dan tertawa, yang menimbulkan kehangatan antara mertua dan mantu. Bahkan asisten.


Setelah sarapan, Ibra dimintai Laras untuk mengantarnya belanja mingguan. Dan langsung Ibra iyakan! bersiap sedia mengantar sang istri belanja atau kemanapun ....


****


Maaf ya reader ku, up nya telat nih. Dikarenakan ada urusan lain. terus dukung aku ya ... like, komen dan ratingnya. selamat membaca? biarpun satu episd, namun mudah-mudahan kalian semua puas.

__ADS_1


__ADS_2