Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Bandara tertentu


__ADS_3

Dian sudah kembali dengan pakaian rapi, sorot matanya mengarah ke gelas yang sudah kosong. Ia pikir apa Ibra meminum kembali? matanya bergerak melihat ke arah Ibra yang berdiri dekat jendela.


Dian duduk dengan wajah kebingungan. Kenapa itu obat belum bereaksi juga? matanya terus mengarah pada Ibra yang sibuk dengan ponsel nya.


Ibra memutar badan, menoleh ke arah Dian yang malah duduk santai di tepi tempat tidur. Ia mengerutkan keningnya seraya berkata. "Sudah siap belum?"


Dian melirik. "Belum. Pakaian masih ada di lemari sebagian."


"Ayo dong ... bereskan, kita pergi sekarang. Kalau kamu gak mau pulang sekarang, aku saja sendiri." Meraih jas nya.


Dian beranjak dan menangkap lengan Ibra, memeluk tangannya. "Sayang, gak bisakah besok pagi saja pulangnya?" ucap Dian dengan nada memelas.


"Aku, sudah bilang. Aku akan pulang sendiri, silakan kamu di sini kalau gak mau pulang sekarang. Faham?" tegas Ibra.


"Iih ... ya udah, aku pulang." Dengan wajah yang ditekuk Dian mendekati lemari, mengambil barang-barang nya. Dimasukan ke koper.


Ibra menatap ke arahnya. "Mau jebak orang, dia sendiri yang harus mengalah hem ... maafkan aku sayang, bukannya aku gak memahami keinginan mu. Tapi semua sudah terlanjur, terlanjur telah menghadirkan seseorang. Dalam rumah tangga kita. Menghadirkan seseorang yang kini sangat berarti dalam hidup ku." Gumamnya Ibra dalam hati.


"Heran aku! gak ada reaksi apapun terhadap Ibra? orang jelas-jelas dia minum kok tadi." Dian sangat heran dan kebingungan sendiri. Sesekali melirik ke arah Ibra yang berdiri mengawasi dirinya.


"Tak sedikitpun tanda-tanda Ibra ngantuk, dasar obat sialan. Aku sudah kena tipu obat sialan itu," gumamnya Dian lagi, menggerutu dalam hati.


"Sudah, ayo? nanti telat." Ajak Ibra sembari membuka pintu.


"Sebentar napa? gak sabar banget jadi orang," gumam Dian sambil berdiri.


Keduanya keluarga kamar, berjalan bergandengan menuju lobby menemui pihak resepsionis. Setelah check out selesai, kedua memasuki taksi. Langsung meluncur ke bandara.


Tidak ada yang bicara dari keduanya. Hanya diam dan sibuk dengan ponsel masing-masing. Dian merasa dongkol dalam hatinya, apa yang terjadi tidak sesuai dengan rencana.


"Huh ... gatot, sial-sial, sial ..." hatinya bergejolak kesal, marah. Kecewa bercampur aduk menjadi satu.


Ibra, melirik ke arah Dian yang sedang sibuk dengan ponsel di tangan. Mau bertanya tentang minuman itu, namun takut tersinggung. Akhirnya Ibra hanya diam seribu bahasa.


Selang beberapa waktu, mereka sudah sampai di bandara. Ibra menghampiri pegawai untuk chek-in dan memberikan semua persyaratan. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 wib.


Mereka duduk di ruang tunggu sebentar, lalu 10 menit kemudian keduanya menuju pesawat.


Kini mereka sudah berada di dalam pesawat. Duduk berdampingan, pramugari memberikan makanan. Ibra langsung melahapnya, kebetulan ia lapar banget, terakhir makan itu, bersama Zayn sebelum berangkat ke bandara.


Dian menatap Ibra yang sedang makan dengan sangat lahap. "Sayang lapar?"


"Iya nih, belum makan," selesai makan Ibra ke toilet sebentar.


Detik kemudian Ibra kembali dan duduk di tempat semula, dan Akhirnya pesawat tek-of juga.


"Bismillah ... ya Allah, semoga engkau melindungi kami. Aamiin." ucap Ibra, kemudian mengusap wajahnya.


Dian menyandarkan dirinya ke sandaran kursi dan memejamkan matanya.


"Sayang, tadi memasukan apa pada minuman ku ha?" selidik Ibra melirik ke arah Dian.


Dian yang tadinya mau tidur terbelalak melotot pada Ibra, yang sedang menatap dirinya. "Kamu tanya apa? aku tidak melakukan apapun." Dian berusaha mengelak. Ia mulai tegang dan gugup.

__ADS_1


"Sungguh, aku tidak mengerti dengan maksud kamu itu. Seharusnya kamu mendukung dan membantu Laras dalam menjaga kehamilannya, ini malah kamu seolah memusuhi dia. Sampai-sampai kamu menghalangi dan tidak suka kalau aku sebagai suami, sebagai ayah yang bertanggung jawab." Jelas Ibra.


"Maksud kamu apa sih? tiba-tiba ngomong gitu," ucap Dian sambil melihat kanan dan kiri juga depan belakang.


"Jangan pura-pura gak tahu, atau tak merasa. Kamu merencanakan sesuatu, kan? supaya aku tidak pulang malam ini juga, bila perlu beberapa hari lagi baru pulang? agar aku melewatkan momen yang sangat berarti bagiku, ya itu tasyakuran anak pertama ku." tegas Ibra, namun tetap lirih agar tak di dengar orang.


Dian menatap kedua netra mata Ibra yang entah melihat ke mana?


"Kamu, istri ku, dia juga istri ku, Bahkan anak itu darah daging ku. Kita itu harus bersatu, agar menjadi keluarga yang harmonis. Bukan kaya gini," tambah Ibra pelan.


"Kamu itu, gampang ngomong kaya gitu. Tidak memikirkan perasaan ku gimana? kamu jangan egois, pikirkan juga perasaanku--"


"Yang egois itu siapa? aku cuma menjalankan kewajiban ku sebagai suami. Terus siapa yang salah? dalam hal ini, aku tanya siapa." Sambung Ibra lesu.


"Loh, kamu yang menikmati, kenapa salahkan aku? seharusnya kamu berterima kasih pada ku sayang," bela Dian kesal.


"Iya, aku yang nikmati makanya aku harus jadi suami yang baik, bukan cuma menikmati enaknya saja. Satu lagi, aku gak mungkin menikmati bila saja kamu tidak menyajikannya padaku!"


"Arghhh, aku juga yang salah, terus saja salahkan aku." Suara Dian sedikit kencang membuat orang-orang menoleh ke arah mereka.


Dian menangis, rasa kesal Marah. Kecewa dengan keadaan, ia terisak di sudut jendela, Ibra menoleh dan mengusap bahunya, namun Dia tepis begitu saja.


"Jangan nangis sayang ... lihat orang-orang lihat ke arah kita. Sudah, jangan nangis." Bujuk Ibra.


Dian tidak menghiraukan omongan Ibra. Ia terus menangis sampai ia merasa puas dan capek.


Setelah sekian lama penerbangan, burung yang terbuat dari besi itu melayang di angkasa, dan akhirnya pesawat landing juga. Ibra dan Dian masih diam-diaman.


Di ruang tunggu, Zayn sudah setia menunggu dengan gelisah dan terus melihat jam yang melingkar di tangan. Akhirnya Ibra dan Dian muncul juga, dari arah lain.


"Macet di hotel," sahut Ibra sambil tersenyum.


"Pantas! nyangkut di bandara tertentu ya? mungkin pesawatnya terlalu lama landing di sana, jadi ke sini nya super telat."


"Ha ha ha ... bisa aja." Ibra terkekeh.


Zayn menoleh ke arah Dian yang jangankan bicara, senyum pun pahit. Lalu menoleh ke arah Ibra kembali. "Yo wes, tak pulang ... nanti terlalu malam."


Mereka bergegas menuju parkiran. Ibra mendorong koper milik Dian yang sengaja di tinggal di bandara tadi.


Mobil melaju, setelah mereka bertiga berada dan mengenakan sabuk pengaman. Mobil tersebut melaju kencang membelah kegelapan, jalan yang sepi. Adanya kendaraan lain pun bisa di hitung dengan jari.


Melesatnya cepat menuju mension. Ibra menoleh sang istri yang sedari diam terus, membisu seribu bahasa. Tangan Ibra bergerak memegang tangan Dian. "Sayang?" panggil Ibra.


Dian tepis pegangan tangan dari Ibra. "Jangan pegang-pegang." ketusnya. Dengan pandangan keluar yang gelap paling terlihat seberkas sinar dari kendaraan lain dan lampu-lampu jalan.


"Masih ngambek? aku hanya ingin kalian itu akur itu saja, saling menjaga dan saling menyayangi juga. Kita bina rumah tangga yang bahagia bersama," ujar Ibra menatap ke arah Dian yang enggan melihatnya.


"Terserah kamu lah mau ngomong apa? aku capek." Jawab Dian seakan malas bicara.


"Zayn. Setelah ke mension mengantar Dian, antarkan aku ke jalan x. Aku mau tidur di sana, kebetulan besok pagi banyak yang harus aku urus juga." Melempar pandangan ke arah Zayn yang sedang fokus nyetir.


"Oke, Bos ..."

__ADS_1


Dian menoleh, ke arah Ibra dengan tatapan dingin. "Ngapain ke sana, kenapa gak tidur di mension aja?"


"Banyak urusan di sana. Mau ngecek undangan, siapa tahu ada yang kelewat." Ibra pun merogoh sakunya, setelah terdengar notifikasi.


"Siapa?" selidik Dian.


"Papa. Menanyakan keberadaan kita." kemudian Ibra menyimpan kembali ponselnya.


Tidak terasa mobil berhenti tepat depan teras mension. Sebelumnya scurity membuka pagar. Di teras pun sudah berdiri bu Rika menyambut kedatangan mereka.


Malam, Tuan dan Nyonya?"


"Sayang, beneran mau langsung ke mension? gak tidur di sini saja." Dian merangkul tangan Ibra.


"Ya, aku mau langsung ke sana saja."


"Tapi, sayang ... besok aja barengan sama aku ke sana nya ya? sekarang bobo aja di sini oke?" bujuk rayu Dian sambil membelai pipi Ibra.


Ibra menatap Dian, barusan ngambek, ketika mendengar mau ke rumah Laras. Langsung berubah sikap jadi baik. "Besok aku jemput kamu ke sini. Sekarang istirahat saja, biar aku pergi sekarang."


"Sepenting itu kah dia? lagian buat apa aku ke sana besok? bukannya acaranya juga lusa." tanya Dian menatap tajam dan menjauhkan tangannya dari tangan Ibra. Hatinya merasa kesal kembali.


"Sudahlah, masuk sana. Aku pergi dulu," cuph mencium bibir Dian sekilas. Kemudian bergegas masuk ke dalam mobil.


Dengan rasa yang dongkol, Dian bergumam. "Dia yang nikmati, aku juga yang disalahkan. Gila


...." sembari berjalan menuju kamar, Diikuti Oleh bu Rika dengan menenteng koper Milik Dian.


Ibra, sudah duduk santai di dalam mobil. Zayn langsung membawa Ibra ke jalan xx untuk ke tempat bidadari yang satunya.


"Kenapa gak tidur di mension aja Bos?" selidik Zayn heran.


"Malas, aku pusing banget kelakuannya." Ibra menggeleng pelan.


"Ha ha ha ... ingin di manja kali." Timpal Zayn. "Ingin diperhatikan lebih mungkin."


"Mungkin." Ibra singkat. "Siapa juga yang membuat keadaan seperti ini? dia juga. Sekarang ini tinggal melanjutkan, bukan menghancurkan," gumamnya Ibra sambil melamun. Pandangan nya jauh ke depan dan kosong.


"Aku angkat tangan ah kalau soal itu, aku ini belum pengalaman ha ha ha ..." ucap Zayn dengan tatapan fokus ke depan.


Ibra, menyandarkan kepalanya ke belakang jok. Selang beberapa puluh menit, mobil berada depan pagar rumah Laras. Suasana sudah sepi, maklum sudah laru malam.


Pandangan Ibra tertuju ke rumah tersebut. "Kamu bawa saja mobilnya pulang, besok sepertinya saya gak ngantor."


"Haduh ... sudah di usir saja, bukannya di suruh masuk. Disuguhi minum, makan kek. Malah disuruh pulang, nasip-nasip!" lirih Zayn sambil menepuk jidatnya.


Ibra tak merespon. Ia turun dan membuka pagar, sebelum masuk. Dia menoleh ke arah Zayn yang masih belum menggerakkan setirnya. "Pulang lah."


"Iya-iya. Bawel, aku ini supirnya apa di suruh mulu?" gerutu Zayn sambil memutar kemudi untuk pulang ke rumahnya.


Ibra sudah berdiri di depan pintu. Ia punya akses sendiri untuk masuk ke rumah itu. Sehingga tak harus merepotkan orang atau mengganggu, orang tidur ....


****

__ADS_1


Setelah membaca ... jangan lupa like, n komen ya? karena itu salah satu penyemangat ku untuk menulis. Terima kasih reader ku yang tercinta🙏


__ADS_2