
Mulyadi menatap Darmi yang juga menatap ke arahnya. Dalam hati saling berkecamuk beradu argumen.
"Saya kecewa sama ayah, kenapa Ayah harus membohongi saya. Menyembunyikan, pernikahan kalian itu, apa salahnya bilang sama aku?"
"Ayah takut kamu tak setuju Nak," akunya pak Mulyadi sambil menunduk.
"Itu cuma sebuah alasan aja Yah. Ayah mesti tahu, kalau mbok Darmi ini punya tujuan lain. Dia ingin menghabiskan harta Ayah bahkan mungkin bisa aja harta milik ku ia rampas juga, bisa aja kan?" Jodi memandangi keduanya. Kini Jodi duduk di hadapan mereka berdua.
"Kamu jangan menuduh sembarangan Jodi. Nggak baik Nak." Pak Mulyadi menatap lekat sang putra.
"Tidak Yah, aku yakin dan aku punya bukti yang signifikan tentang mbok Darmi," sambung Jodi ada dengan tegas.
Mbok Darmi berdiri dengan wajah memerah memendam amarah. "Kau pikir saya penjahat, perampok? sehingga kau bilang punya bukti segala! kau itu seharusnya berterima kasih sama saya, yang sudah bertahun-tahun merawat bapak mu yang lumpuh tak berdaya itu. Kau lupa ya? setiap hari siapa yang merawat bapak mu yang ndak bisa apa-apa ke toilet aja butuh dipapah. Sementara kau berada di kota besar enak-enakan tanpa mengurus ayah ku yang lumpuh itu."
Jodi mendongak melihat mbok Darmi yang berdiri dan menunjuk ke arah hidung dirinya. "Ya saya enak-enakan tinggal di sini tanpa tahu mengurus ayah saya, ya ...'' Jodi mengangguk-anggukkan kepalanya. Bicaranya begitu tenang.
"Tapi mbok Darmi harus tahu. Kalau setiap bulan yang gajih mbok Darmi terima dari siapa? buat makan setiap hari siapa yang tanggung? saya Mbok, saya sengaja mencukupi semua kebutuhan ayah saya, adik saya. Saya yang penuhi, agar hartanya tak berkurang dan hanya ia gunakan ketika kiriman dari saya kurang. Tapi saya yakin juga masih mampu kok mencukupi semua kebutuhannya." Jelas Jodi serta tatapannya begitu tajam pada wanita yang selalu memakai kebaya dan berbadan gempal itu, kalau dari wajah memang masih terlihat cantik.
"Tapi tak harus juga menuduh saya ingin menguasai har--"
"Itu fakta. Sudah banyak lahan, ada rumah, yang anda beli dengan uang ayah saya dan itu atas nama anda mbok Darmi. Dan sekarang ... kamu sedang membujuk ayah saya untuk membeli empang yang harganya di bawah seratus juta. Belum ini itunya, apa kalian masih mau ngelak juga. Tapi saya gak khawatir sih, sebab semua sisa harta ayah saya sudah berpindah tangan dan ayah sendiri tak bisa menggunakan nya sembarangan. Tanpa seijin saya." Jodi tersenyum puas.
Pak Mulyadi yang mengamati perdebatan antara istri dan anaknya, akhirnya terkejut akan penjelasan sang putra. Apalagi mbok Darmi. Dia pikir kalau sisa harta Mulyadi sudah di tangan Jodi otomatis tak ada lagi yang bisa ia harapkan dari sosok laki-laki yang menjadi suami siri nya itu.
Darmi berpikir keras jalan yang akan ia tempuh sekarang. Toh harta Mulyadi sudah tak bisa ia tarik lagi.
__ADS_1
"Oke, saya tidak akan menuntut harta yang sudah beralih nama kembali. Ndak. Tapi saya pinta kalau mbok mencintai ayah saya buktikan ketulusan mu, tapi bila memang harta yang kau cari silahkan pergi! dan saya Sangat sangat berterima kasih atas perhatian dan kerja mbok selama ini yang sudah menjaga dan merawat beliau. Biarlah saya sendiri yang akan merawatnya." Lirihnya Jodi.
"Jodi, gak bisa gitu Nak, dia istri Ayah. Bagaimanapun dia istri Ayah," tutur pak Mulyadi menatap putranya yang membalas tatapan sang ayah penuh kecewa.
Mbok Darmi tersenyum. Berasa mendapat angin segar yang menerpanya. Di balik wajah kecewanya mbok Darmi berkata dan duduk di tempat semula. "Saya minta cerai Mas?"
Perkataan Darmi seperti bak suara guntur yang menggelegar di tengah hari yang panas tanpa adanya hujan ataupun angin Tiba-tiba saja guntur datang. "A-apa ma-maksud mu?" suaranya bergetar.
"Maksud saya ceraikan saya saat ini juga. Anak mu tak setuju kita menjadi suami istri dan saya sudah lelah mengurus ku Mas." Darmi berdalih padahal ia merasa percuma dilanjut juga kalau sudah tak ada yang bisa di tarik lagi.
"Saya yakin. Seiring dengan berjalannya waktu, semua akan naik baik saja. Jodi akan setuju kok." Mulyadi menggenggam tangan Darmi, ia berat bila harus menceraikan Darmi. Bagaimanapun dia sudah merawatnya selama ini.
"Tidak, Mas. Saya sudah merasa cukup lelah Mas, dan pada kenyataannya jasa saya tak berarti apa-apa di mata kalian."
Jodi tersenyum. Mendengat ucapan dari mbok Darmi, kalau saja dia tulus. Buat apa minta cerai? toh hidup ayah dan Darmi gak akan kekurangan apalagi tinggal di sini. Ini di gertak gitu saja langsung minta cerai, itu sudah merupakan bukti kalau yang dia cari adalah harta!
"Ayah. Kalau mbok Darmi memang tulus menyayangi Ayah, nggak mungkin ia dia langsung meminta cerai Yah. Sebab dia tahu sekalipun Ayah tak punya harta lagi kan gak akan hidup kesusahan juga. Tapi karena tujuan nya memiliki, makanya dia langsung minta cerai. Masih pantaskah tuk ayah pertahankan wanita seperti ini?" balas Jodi dengan santainya.
Netra mata pak Mulyadi bergerak melihat ke arah Darmi dan Jodi bergantian seraya berpikir mana yang terbaik untuknya.
Darmi semakin marah pada Jodi yang semakin menyudutkan dirinya di mata pak Mulyadi, dalam hati menggerutu. "Dasar orang yang tak tahu terima kasih." Namun ia yakin kalau pak Mulyadi tak akan menceraikannya. Sebab servis ia yang sudah sering ia berikan. pada pak Mulyadi tak akan tergantikan. Wanita mana yang mau melayani laki-laki tua dan lumpuh itu selain dirinya.
Kedua mata pak Mulyadi mengarah ke mbok Darmi yang seakan menunggu jawaban darinya. "Baiklah. Kalau itu yang kau mau. Saya ceraikan kamu dengan talak 3 sekaligus."
Sungguh mengejutkan bagi Darmi yang sebelumnya yakin kalau pak Mulyadi gak akan menceraikannya. Ternyata bertolak belakang dengan ekspetasinya itu. Kepalanya menggeleng tak percaya. Tak percaya bahwa Detik ini juga ia telah menjadi janda dari Mulyadi.
__ADS_1
"Tidak salah, Mas? ka-kamu cerai aku dengan talak tiga! kamu lupa, Mas. Kita dah lama bersama." Darmi jadi memelas. air matanya menetes juga.
Mulyadi menggigit bibirnya menyesal dengan ucapannya barusan, talak 3 yang sudah di ucapkan tak bisa ia tarik kembali. Jodi tersenyum puas. Dia tahu kalau tangis mbok Darmi cuma sebuah sandiwara dan talak sang ayah tak mungkin bisa rujuk kembali, talak 1 atau 2 yang terucap, masih bisa rujuk kembali tapi ini sekaligus 3 jadinya fix putus sudah.
"Maaf, talak ku habis. Kita tak mungkin bersatu lagi." Pak Mulyadi mengusap pipinya yang basah.
"Kamu tega Mas, tega sama aku yang sudah mengurus mu lahir dan batin. Kamu jahat membuatku menjadi janda." hik hik hik.
"Tapi ... bukankah kamu yang minta?" Pak Mulyadi menatap ke arah Darmi.
"Seharusnya kamu itu mengingat kisah kita lho Mas." Suaranya bergetar dan sok menangis tersedu. Sampai sesekali Isak tangisnya terdengar pilu.
Pak Mulyadi semakin menyesali ucapannya itu. Namun Jodi duduk mendekati. Merangkul bahunya.
"Keputusan Ayah sudah benar. Aku yakin Ayah akan menemukan cinta sejati yang tulus mencintai Ayah." Bujuk Jodi.
Darmi mendengar itu semakin kesal. Ia berdiri dan sedikit menghentakkan kakinya lantas pergi ke kamarnya untuk mengemas semua pakaiannya.
Jodi tersenyum melihat punggung wanita itu. Kemudian Jodi mengantar sang ayah kembali ke kamar. "Ayah istirahat lagi, sudah malam."
Pak Mulyadi berjalan sambil bengong dengan apa yang terjadi malam ini. Sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya, ini sungguh bagai dalam mimpi yang terjadi begitu singkat.
Bibir Jodi terus tersenyum puas. mengingat kejadian barusan. Ia sangat puas telah menguliti mbok Darmi di depan ayahnya. Dengan kejadian yang seperti ini, ia tak harus pulang ke Semarang untuk mengurus semuanya. Yang sudah jadi milik mbok Darmi biarlah. Ikhlaskan saja, mungkin itu sudah rejekinya mbok Darmi ....
****
__ADS_1
Hi ... terma kasih sudah tetap setia dan mendukung novel ini. Jangan lupa mohon dukungannya atau fav di novel Bukan Suami Harapan. Semoga kalian suka juga.