Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Bukan liburan


__ADS_3

Dian memperhatikan gerak gerik Laras yang dengan tulus melayani suaminya, ia sadar setelah sekian lama jarang melayani suami dengan manis. Membuat ia lupa gimana caranya melayani suami dengan baik, kecuali di ranjang. Mata Dian bergerak melihat Laras mengambilkan sepatu Ibra dan memakainya.


"Ya, Tuhan ... aku sudah lama tidak pernah memanjakan suami seperti itu, wajar kalau suamiku lama-lama jatuh cinta sama istri muda nya. Tidak, dia tidak boleh jatuh cinta sama wanita lain, kecuali aku," gumamnya Dian sambil mengayunkan langkahnya mendekati mereka.


Ibra terkejut melihat kedatangan Dian. "Sayang?"


Laras sedang berlutut baru selesai mengenakan sepatu Ibra, mendengar suara Ibra mengucapkan kata sayang. Mendongak dan melirik kearah Dian. Kemudian berdiri.


"Laras, terima kasih ya? kau sudah mengurus suamiku." Dian mengulas senyum manisnya.


Laras menatap Ibra yang juga memandanginya. "Bukankah dia juga suamiku? wajar kalau aku mengurusnya!" batin Laras tanpa ia ungkapkan dengan kata-kata.


"Sayang, wah ... sudah ganteng gini? makin sayang deh," ucap Dian sambil mengalungkan tangan di leher Ibra. wajahnya berhadapan.


"Emangnya kalau aku tidak ganteng, kamu gak sayang sama aku ha?" tanya Ibra memandangi Dian.


"Em ... gak gitu sayang, bercanda kok," memeluk hangat tubuh Ibra.


"Aku juga bercanda sayang," ungkap Ibra, manik matanya melirik ke arah Laras yang berdiri memandanginya. Berharap Laras cemburu namun Laras malah memberi senyuman hangatnya.


"Ah, sial! bukannya jeles malah tersenyum." Gumam Ibra dalam hati.


"Eh ... Tuan, aku duluan ya, Kak Dian. Aku duluan!" lirih Laras sambil keluar meninggalkan mereka berdua.


Ibra menatap punggung Laras sampai hilang di balik pintu, netra mata Dian pun menoleh suaminya yang anteng menatap kepergian Laras.


"Laras baik ya? setiap hari mengurus mu. Aku saja suka lupa dan sibuk dengan diri sendiri," ucap Dian sambil membingkai wajah Ibra dengan tangannya.


"Terus, kenapa kau lupa, itukan tugas mu juga," seru Ibra memandangi Istrinya. Dian.


"Karena ... aku sering sibuk dan banyak asisten juga kalau sekedar menyiapkan," elak Dian, cup mengecup bibir Ibra sekilas kemudian menuntun tangannya menuju ruang makan.


Ibra menurut, lalu mensejajarkan langkahnya, dan merangkul pinggang Dian. Sedikit memberi gelitikkan yang menggelikan, membuat Dian menggelinjang dan tertawa.


Di balik senyuman Laras, ada rasa yang aneh dia rasakan bagai di gigit semut dalam hatinya. Kesal melihat adegan mesra Ibra dan Dian. "Tapi ... buat apa aku cemburu? dia istrinya kok." Gumam Laras sambil berjalan menuju dapur.


Sesampainya di dapur ia disambut oleh ibu mertua yang yang sudah berada di sana. "Pagi sayang, gimana tidur mu semalam. Nyenyak gak?"


Laras menanggapinya dengan senyum samar saja, ia mendudukkan dirinya di tempat biasa dan sudah tersedia susu bumil. Laras menatapnya dengan tatapan enggan, rasa malas meminumnya.


"Eeh ... wajahmu pucat sayang, apa kau kurang tidur?" tanya bu Rahma kembali.


"Sepertinya begitu, Nyonya besar ... nyonya muda kaya kurang tidur gitu." Susi nimbrung.


Bu Rahma melirik ke arahnya. Kemudian pandangannya tertuju ke Laras kembali. "Beneran gak bisa tidur semalam, semalam makan, kan?" rentetan pertanyaan dari bu Rahma tampak cemas.

__ADS_1


Senyum Laras mengawali ucapannya. "Iya, Mah. Aku sulit tidur, makan sih semalam."


"Oh. Syukurlah kalau makan! tapi ... kenapa sampai sulit tidur gitu?"


"Nggak tahu Mah. Sulit mata ini terpejam." Laras meneguk susu bumil nya, kemudian bergidik.


"Pagi Mah ... Papa mana? belum turun sarapan," sapa Dian dengan raut wajahnya yang ceria. Secerah pagi ini.


"Pagi juga sayang, kalian sudah siap berangkat kerja ya?" menatap penampilan anak dan mantunya yang sudah rapi dengan setelan kerja.


"Iya, Mah." Ibra menggeser kursinya dekat Laras yang sedang memutar gelas susu.


Dengan refleks Laras berdiri dan mengambilkan piring buat Ibra. "Mau sarapan apa?" melirik Ibra yang juga memandanginya.


Kemudian pandangan Ibra beralih pada isi meja. "Roti saja," jawab Ibra singkat.


Laras mengolesi roti dengan selai srikaya karena itu kesukaannya, lalu memberikannya pada Ibra serta mendekatkan susu hangatnya.


Datanglah pak Marwan, untuk sarapan bersama. "Sudah mulai sarapannya nih?" pak Marwan duduk dekat sang istri.


"Baru mau, Pah ..." sahut istrinya. Rahma.


Semua mulai sarapan, begitupun dengan Laras memaksakan diri untuk makan walau cuma dua tiga sendok saja. Dian yang melihat Laras makannya sedikit langsung mengomentari. "Makan nya yang banyak dong, biar baby nya sehat, cukup asupan gizinya juga." Menatap lekat pada Laras.


"Sudah kenyang Kak," ucap Laras.


"Iya, Mah. Oya Mah, biasanya masa ngidam itu berapa bulan sih?" tanya Laras pandangi mama mertua.


"Em ... ada yang tiga bulan ada juga yang lebih, yang tidak merasakan ngidam juga tidak sedikit loh," bu Rahma mengernyitkan keningnya. "Orang itu beda-beda sayang. Ada juga tuh ibu hamil ngidamnya parah banget, sampai 3 atau 4 bulan gak bisa ngapa-ngapain, selain tiduran ... aja. Sama nasi bau, makanan apa pun gak mau. Susu bumil pun bau, jarang makan. Kurang asupan gizi yang akhirnya kena lambung, sakit mag. Makanya kamu harus pandai jaga kesehatan, jangan sampai itu terjadi dan menimpa kamu dan cucu Mama." ujar bu Rahma panjang lebar.


"Oh ... gitu ya?" kemudian Laras bengong memikirkan omongan mama mertua barusan.


Di bawah meja, tangan kiri Ibra menyentuh tangan Laras, namun dengan cepat Laras menghindar dan mengangkat, meletakkan kedua tangannya di meja.


Netra mata Ibra bergerak melihat meja, sambil bengong. "Di sentuh tangan saja sulit, kenapa jadi menghindar gini. Apa salah ku?" batin Ibra, kemudian menghabiskan sarapannya.


"Sore ini, aku dan Dian akan berangkat ke luar Negeri, Mama masih tinggal di sini, kan?" tanyanya Ibra pada pada sang bunda.


"Sore ini? kalian berdua," bu Rahma mengernyitkan keningnya.


"Iya, urusan kerja Mah, bukan liburan." tambah Ibra.


"Tapi ... sayang? barang sehari atau dua hari boleh lah, liburan sebentar," suara Dian sambil menatap sang suami.


"Nggak tau gimana nanti saja," sahut Ibra sambil melirik Laras. Sebentar Laras melirik dan detik kemudian mengalihkan pandangan pada bu Rahma.

__ADS_1


"Oh, Mama sih maunya di sini jagain Laras, apalagi kalau kamu mau pergi, gak ada yang jagain Laras, kan? tapi ... tergantung Papah," melirik suaminya.


Pak Marwan menghabiskan makanan di mulutnya terlebih dahulu. Sebelum ngomong. "Papa, paling besok pulang ke Belanda nya, udah. Laras ikut Papah saja ya? ikut kami." Melirik Laras.


"Aduh ... Papah, kalau bisa gitu, aku saja yang ajak dia ke luar Negeri. Bersama kami," timpal Ibra.


"Oh, iya-ya ... lupa." Marwan mengangguk.


Bu Rahma menatap cemas pada Laras. Kalau ia di sini bagai mana suaminya? tapi kalau di tinggal kasian! sementara Ibra sedang ada urusan kerja di luar Negeri. "Gimana dong?"


"Aku gak pa-pa kok, kalian tenang saja. Aku akan baik-baik saja di sini," suara Laras sangat percaya diri, ia tak ingin membuat mereka cemas akan kandungannya.


Semua mata memandangi Laras. "Kamu yakin? akan baik-baik saja," tanya bu Rahma sambil meyakinkan dirinya sendiri.


"Iya, Mah ... lagian banyak yang jaga aku di sini kok." Laras menoleh para asistennya di mension ini."


Ibra melihat jam di tangannya. "Sudah dulu, aku mau berangkat kerja, obrolannya nanti siang di lanjut lagi."


"Oke." Rahma mengangguk.


Ibra beranjak dari duduknya. Laras segera meraih tangan Ibra dan di ciumnya, hati Ibra menghangat, walau sedikit cuek! ternyata Laras masih perduli.


Lantas Ibra berpamitan pada sang bunda dan ayahnya. Setelah itu barulah dia bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.


Dian pun berdiri. "Laras! kamu ke kamar ku sebentar ya? ada yang ingin aku bicarakan." Dian berlalu tanpa menunggu jawaban dari Laras.


Bu Rahma menatap langkah Dian yang pergi meninggalkan meja makan. Sementara Laras terdiam, entah apa yang ingin Dian sampaikan padanya. "Apa lagi? kenapa tidak bicara di sini saja." gumamnya.


Laras berdiri hendak mengikuti langkah Dian yang sudah tidak terlihat bayangannya. "Mah, Pah. Aku pergi dulu."


"Iya sayang," sahut bu Rahma dan pak Marwan mengangguk. Mengiringi kepergian Laras.


Kini Laras dan dian sudah duduk berhadapan di sofa kamar Dian. Laras menautkan jemarinya satu sama lain, menunggu apa yang akan Dian sampaikan padanya.


Sebelum bicara Dian menghela napas dalam-dalam, mengambil amplop coklat dari tas nya. "Ini uang bulanan untuk mu dan sudah aku tambahin," menyimpan secara kasar di atas meja.


Mata Laras menatap amplop itu tanpa menyentuhnya, kini ia mengerti kenapa Dian selalu memberi uang bulanan pada dirinya? itu sebagai uang bayaran karena Laras mau mengandung anak Ibra. Apalagi sekarang ia tengah benar-benar mengandung. Dengan uang bulanan itu! Dian akan semakin leluasa bila satu saat nanti Laras melahirkan dan baby nya diambil oleh Dian.


Laras mengangguk, ya sekarang mulai ia faham. "Buat apa uang itu?" matanya beralih melihat Dian.


"Itu ... uang bulanan kamu, buat keperluan kamu, seharusnya kamu berterima kasih sama aku. Madu mana sih yang rutin memberi madunya uang? secara suaminya juga mampu." Dian berjalan maju mundur dengan tangan menyilang di dada.


"Berterima kasih? bukankah itu uang bayaran, bayaran karena saya mau mengandung anak suami Kak Dian! istri yang lain juga. Setau aku tidak Kakak beri uang bulanan.


Dian melihat Laras dengan pandangan yang tidak bersahabat, Dian rasa sekarang Laras berani membantah perkataannya ....

__ADS_1


****


Untuk para reader ku yang selalu setia menunggu up nya novel ini, aku sangat-sangat ucapkan makasih banyak pada kalian semua. Semoga kalian tidak bosan dan terus menjadi pembaca setia, terus dukung aku ya🙏 agar tambah semangat untuk up nya.


__ADS_2