
Mery dengan buas menciumi wajah Ibra, dengan harapan suaminya itu mau menyentuhnya agar segera hamil. Namun Ibra diam saja tanpa ekspresi.
Mery heran, kurang menarik apa sih dirinya yang memiliki body gol ini. Orang saja langsung bangkit walau cuma melihatnya, apalagi di sentuh, kan aneh kalau Ibra tetap dingin dan tidak merespon.
Dengan kesal, Mery melepas semua yang ia kenakan sehingga dirinya benar-benar polos. menarik tangan Ibra, di ajaknya ke tempat tidur. Sampai di tepi tempat tidur, mereka berhadapan. Tatapan Mery sudah di penuhi kabut gairah, tangannya bergerak membuka piyama Ibra yang diam saja. Seperti pohon pisang yang bernyawa tapi tak bergerak.
"Aku ini istri mu, tapi kenapa kamu tidak bergairah sama sekali? semenjak ada Laras kamu hanya sekali menyentuh ku, apa yang kurang dari ku," Suara Mary meninggi.
"Aku juga butuh sentuhan, aku juga pengen hamil anak mu," duduk lesu di tepi tempat tidur.
"Ingin hamil anak ku? dulu kemana saja ha? sebelum aku menikah dengan Laras kamu ke mana saja aku tanya!"
Mery mendongak. Lalu berdiri kembali semakin mendekat dengan tubuh Ibra. "Kenapa milik mu itu tidak mau bangun-bangun ... aku sudah siap?" teriak Mery sambil menggoyang-goyang benda pusaka Ibra dengan sangat gemas.
"Jangankan dirimu, aku sendiri heran, kenapa benda itu mendadak mati, gak mau hidup sebentar pun." Batin Ibra jadi tidak habis pikir.
"Oke, kau ingin aku sentuh, kan?" Ibra mengangguk. Kedua tangannya memegangi bahu Mery, lalu tubuh Mary, Ibra dorong ke tempat tidur dan mengungkungnya. Namun bukan untuk ia sentuh, melainkan ia mengeluarkan ... sesuatu dari sakunya.
Mery tadinya sudah senang. Ia kira Ibra mengeluarkan pedang nya yang mungkin tiba-tiba bangun. Namun alangkah terkesiap nya Mery ketika melihat tangan Ibra menggenggam ponsel, ia mengira kalau Ibra akan mengambil foto dirinya yang sedang berbaring tanpa sehelai benang.
Tapi apa yang terjadi? Ibra memutar video adegan ranjang Mery dengan pria lain. Sungguh terkejutnya Mery ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya itu.
"Lihat baik-baik dengan kedua mata mu, siapa yang sedang melakukan ini dengan pria yang bukan suaminya?" hardik Ibra sambil mengarahkan ponsel yang sedang memutar video itu. Dan puluhan foto yang menggambarkan Mery dengan pria lain.
Mery sangat kaget dan bercampur ketakutan, melihat mata Ibra yang melotot dan suaranya yang tinggi menggelegar. Wajahnya Mery berubah pucat pasih seketika.
"Jangan pernah berharap, saya sentuh tubuh kamu seujung kuku pun. Apalagi setelah tau kau jajakan tubuhnya dengan pria lain, tak ubahnya seorang pelacur." Tegas Ibra. "Saya jijik melihatnya, apalagi sampai menyentuh." teriaknya lagi.
Mery menggeleng. "Ti-tidak, itu salah faham. Itu, cuma adegan akting saja, ti-tidak lebih." akunya Mery.
"Apa? cuma akting? kau bilang cuma akting!" Ibra mengulang kata-katanya Mery.
"Aku bersumpah, bahwa itu cuma akting, bukan sebenarnya," timpal Mery yang terus mengelak sambil memeluk selimut sebagai penutup tubuhnya.
Ibra menghela napas dengan sangat panjang, tangannya merapikan pakaian yang melekat di tubuhnya. "Mulai saat ini ... saya jatuhkan talak 3 pada mu. Dan mulai saat ini kamu bukan lagi istri saya lagi." Ucap Ibra sambil menghirup napas dari hidungnya.
"Aku tidak mau, jangan ceraikan aku, aku mohon ... aku gak mau kau cerai." Mery memelas, ia turun, berlutut memeluk kaki Ibra.
Pipinya basah dengan air mata. Tak pernah terbayangkan kalau yang ia rencanakan bertolak belakang dengan kenyataan. Harapan menjadi miliarder karena memiliki anak atas nama sang CEO pupus sudah, kini harus menelan pil pahit.
"Maaf, yang sudah aku ucapkan, tak bisa aku tarik lagi. Kata keramat sudah terucap, tak bisa ku ralat. Silahkan bereskan semua barang mu, oya, mobil akan aku tarik. Sebagian dari aset yang kau miliki akan kembali padaku, satu lagi. Surat cerai nanti nyusul."
Batinnya Mery bagai terhiris ujung pisau yang perlahan, sungguh menyayat hati. "Kau tidak adil, sangat tidak adil." Hik hik hik ... menangis tersedu.
"Itu, salah mu. Kamu yang membuat ulah, jadi jangan salahkan orang lain." Tegas Ibra sambil melepas tangan Mery dari kakinya. Kemudian berlalu dari kamar itu, brugh! pintu Ibra tutup kembali.
Mery termenung, seakan tidak percaya. Dengan apa yang barusan terjadi, sesuatu yang yang teramat singkat. Ia berdiri, tangannya menjepit selimut, mengusap kasar wajahnya yang basah.
Memungut lingerie yang tergeletak di lantai. Kemudian duduk melamun di tepi tempat tidur, menyangga dagu dengan tangannya. Lantas beranjak mengitari ruangan tersebut. Secara tiba-tiba ia menjerit dan mengacak rambutnya seperti orang frustasi. Duduk di pinggir tempat tidur,
Mery memeluk lutut sambil menangis tersedu. Menyesali kenapa semua tidak sesuai rencana?
Langkah Ibra yang lebar, tidak membutuhkan waktu lama tuk sampai di kamarnya. Kini dia sudah berada di dalam kamar dan melucuti pakaiannya, mau bersih-bersih, ia merasa jijik dengan sentuhan Mery di tubuhnya.
Ia berendam dengan mulut bersiul, mulai sekarang beban pikirannya sudah berkurang lagi. Sekarang ia tinggal memikirkan rumah untuk Laras, agar tidak satu atap dengan istri yang lain di mension ini.
Selesai mandi, ia bergegas mengambil pakaian di wardrobe. baju yang tadi melekat di tubuhnya semua ia masukan ke tong sampah.
Sudah rapi, wangi dan segar. Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan menyilang kan tangan di dada, pandangan lepas ke langit-langit.
Tidur samping kiri, gak lena. samping kanan sama juga akhirnya duduk bersila, menoleh jam sudah menunjukan pukul 00.50 wib. Menurunkan kakinya ke lantai dan akhirnya memutuskan untuk ke kamar Laras.
Sesampainya depan pintu ia kesusahan membukanya, mungkin di kunci dari dalam. Namun Ibra tau kodenya, sehingga pintu pun terbuka. Dengan pelan ia menutup kembali.
Derap langkah yang nyaris tak terdengar oleh siapapun termasuk yang punya langkahnya sendiri. Ibra mendekati Laras yang tidur nampak nyenyak sekali. Ia naik sangat pelan ke tempat tidur Laras, jangan sampai sang empu terbangun.
Laras menggeliat, namun dengan mata tetap tertutup. Membuat gerak Ibra terhenti sesaat, setelah yakin Laras kembali tertidur. Ia baru membaringkan tubuhnya di samping Laras, manik mata Ibra bergerak melihat yang sedang nyenyak. Mungkin saja sedang melayani mimpinya.
Cup, Ibra mendaratkan kecupannya di kening Laras. Lama ... mendarat di sana, yang menjadi bandara tak merespon sedikitpun.
Bibir Ibra tersenyum menatap wajah yang begitu pulas. Menempelkan telunjuknya ke pipi Laras, di elus-elus pelan ... sambil tetap menyeringai. "Momy mu, begitu nyenyak tidurnya sayang, sampai-sampai Papi gak di anu sama Momy nih, Momy jahat nih sayang ... Papi, kan kesepian." gumam Ibra seakan mengajak bicara seorang anak.
Telapak tangan Ibra mengusap perut Laras yang mulanya di balik selimut, kini selimutnya turun sampai ke bawah perut. "Sayang, sedang apa nih anak papi? jaga Momy ya, dan jangan nakal di sana. Jangan bikin Momy repot, Papi sayang kamu." Cup mengecup perut Laras sangat lembut.
Lalu menaikan kembali selimutnya agar menutupi sampai dada. Pas tangannya sampai di sana, ia menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan.
__ADS_1
"Ah, sial ... kenapa bangun nih? jangan bangun dong. Aku sulit mengendalikannya," gumam batin Ibra, sembari mendesah dan menggulingkan tubuhnya ke samping, mencoba tengkurep untuk menekan sesuatu yang tegang. Namun tak mampu meredam keinginannya.
Menoleh dan menatap ke arah Laras ingin sekali membangunkan, tangannya sudah bersiap untuk membangunkan Laras. Tapi ... ia urungkan niat itu dan menarik kembali tangannya.
"Ah, ck ck." Ibra bangun dan bergegas turun, mengayunkan langkahnya ke kamar mandi entah untuk apa?
Dua puluh menit kemudian, Ibra barulah keluar dari kamar mandi. Kembali ke tempat tidur, Laras sudah berubah posisi tidurnya, jadi menghadap tembok. Ibra segera masuk ke dalam selimut dan memeluk perut Laras dari belakang, setelah beberapa kali menguap akhirnya Ibra terpejam, tidur memeluk tubuh sang istri.
Pukul 03.00 wib. Laras terbangun, menggeliat, namun tangannya mentok ke wajah seseorang. Ia memicingkan matanya dan mendapati Ibra tengah tidur pulas di sampingnya.
"Sejak kapan, di sini? ini, kan waktunya dia." gumam Laras sambil menggosok matanya. Kemudian turun memasuki kamar mandi, rasanya berat sekali ingin kencing.
Sebelum naik ke tempat tidur lagi, ia mengambil segelas air putih lalu meminumnya. Lek, lek. Lek ... suara air yang mengalir di tenggorokannya. Huah ... "Ngantuk." Laras merangkak naik, masuk selimut dan tidur lagi.
Sekitar pukul 05.00 Laras bangun kembali dan mendapati tangan Ibra merangkul di pinggangnya. Laras mengangkat tangan Ibra ingin memindahkannya, tapi berat banget.
"Ih, berat banget, padahal cuma tangan doang," suara parau Laras khas bangun tidur.
Ibra yang sudah bangun diam-diam tersenyum. mendengar gerutu Laras dan berusaha memindahkan tangannya dari perut Laras. Yang sengaja Ibra buat berat.
Laras menoleh ke arah Ibra yang memicing dan tersenyum. Dengan kesal, Laras memukul tangan Ibra, seraya berkata. "Iih ... malah ketawa! lepas, berat nih."
"Emangnya kenapa, gak di bawa ini?" sahut Ibra dengan suara beratnya.
"Emang gak di bawa, aku mau bangun ... sudah subuh." Gerutu Laras.
"Iya, biar saja," ucap Ibra sambil mengeratkan pelukannya dan menempelkan bibir di leher Laras. "Em ... dingin."
Membuat Laras meremang seketika. Bulu kuduknya berdiri. "Ck, mau mandi."
"Ngapain mandi? kita tidak melakukan apapun," dengan masih di posisi yang sama. Bahkan kini bibirnya bergerak sedikit mengecup leher jenjang Laras. Napasnya menyapu seluruh kulit bagian belakang.
"Sudah biasa, mandi pagi gini," jawab Laras. Kamu juga mandi, mau masuk kantor, kan?" gumamnya Laras. Ia pun menikmati hangatnya pelukan Ibra.
"Hem ... suasana yang masih dingin gini, emang enak untuk pelukan." Bisik nya Ibra.
Laras diam. Tak membalas apa pun, selain diam dan seakan memejamkan matanya kembali.
Melihat Laras yang diam, Ibra dengan nakalnya mengigit kecil leher belakang Laras dan tangannya benar-benar mengunci tubuh Laras.
Ibra malah senyum lebar dan kembali mengecupnya dengan sangat lembut.
"Aku mau bangun ... sudah siang." Keluh Laras.
Ibra menarik tubuh Laras agar berhadapan dengannya. Laras pun menurut membalikan badannya. "Kau, mau bangun?" tanya Ibra menatap wajah Laras yang masih muka bantal. Laras mengangguk.
"Kalau gitu, cium aku dulu!" pinta Ibra dengan suara sangat lembut.
Laras menggeleng malu, namun Ibra berusaha merayunya sampai dapat.
"Ayo, cium dulu di sini, kalau tidak mau. Aku akan melepaskan mu tiga puluh menit lagi dan mandi bareng, gimana?" menaik turunkan alisnya, dan menunjukan tempat yang harus Laras cium.
"Dasar ini orang, kalau ada maunya kudu. Gak cukup kah semalam sama Mery? batin Laras sambil menatap dinding.
"Ayo dong sayang, keburu siang." bujuk Ibra.
Dengan ragu-ragu, Laras menggerakkan kepalanya untuk mendekat ke wajah sang suami. Di sambut dengan riang gembira oleh Ibra tentunya. Cup Laras mendaratkan kecupan nya di bibir Ibra dengan lembut, Ibra sangat bahagia dibuatnya, sementara Laras malu semalu-malunya dia, belum pernah ia mencium pria sebelumnya, baru kali ini saja. "Sudah."
"Belum, satu kali lagi." Ibra malah sengaja ngerjain.
"Apalagi? iih ..." Laras cemberut.
Ibra mendorong bahu Laras agar terlentang, dan segera ia mencium pipi kanan dan kiri Laras hingga berkali-kali.
Setelah itu, Ibra menatap dengan senyuman puas di bibirnya, Laras bergegas bangun, menyingkapkan selimut, turun ke lantai. Segera memasuki kamar mandi sambil menggerutu. "Mau bangun saja harus bikin drama dulu. Aneh."
Ibra memandangi punggung Laras menyeringai sempurna. Lucu, sudah hamil masih saja malu-malu.
Setelah selesai dengan aktifitas pagi di kamarnya Laras. Ibra juga sudah rapi dengan setelan formal yang sudah siap di sana, barulah Laras mau beres-beres di kamar pribadi Ibra.
"Aku mau beres-beres di kamar mu dulu ya?" Laras hendak mengayunkan langkahnya, setelah memasangkan dasi Ibra.
Namun Ibra raih tangannya Laras agar tidak pergi dulu. Merangkul pinggang dan memeluknya, kemudian mereka berhadapan, manik mata mereka saling tatap begitu lekat.
"Temani aku dulu," suara Ibra pelan.
__ADS_1
"Apa lagi sih?" tanya Laras sambil menempelkan kedua tangannya agar dada Ibra dan dadanya ada jaraknya.
"Kau jangan dulu membereskan kamar ku, nanti saja. Aku masih ingin bersama mu." dengan tatapan semakin lekat.
Laras berusaha untuk menghindar dari tatapan Ibra. "Sudah siang, sudah waktunya sarapan. Kita bangunnya kesiangan ...."
"Benar kah, bangun kita kesiangan? bukankah kamu yang terus menggoda ku."
"Aish ... membalikan fakta," Laras kesal dan mengalihkan pandangan sembarang tempat.
"Ya, sudah ... kalau gak mau membuat senang suami, oke-oke, aku tidak akan memaksakan kehendak." Ibra melepaskan rangkulannya dan merapikan jas, kemudian berlalu.
Laras mematung di tempat, ia tidak mengerti dengan maksud Ibra. Ia tida tau apa yang Ibra mau?
Namun sebelum melintasi pintu, langkah Ibra berhenti. "Kenapa aku marah sama dia? sudah jelas dia itu sok jual mahal, pura-pura gak mau, padahal suka!
Akhirnya Ibra, membalikan badan. Menghampiri Laras, berlutut tepat di depan Laras. Laras mundur satu langkah, namun Ibra menariknya agar mendekat. Ibra seakan ingin berkomunikasi dengan calon baby nya.
Wajah Ibra sangat dekat dengan perut Laras. "Pagi sayang? baik-baik di sana ya, jangan nakal dan jangan membuat repot Momy ya ... anak baik." Sambil mengelusnya.
"Mamy?" batin Laras. "Panggilan ku Momy? lucu juga," diam-diam Laras mesem. Mendengar panggilan Momy.
Ibra membuka kancing kemeja Laras, agar kulit perutnya terlihat dan dapat tersentuh langsung oleh tangannya. Ibra mencium perut itu berkali sehingga Laras merasa lembab. "Sayang, ingatkan Momy, untuk makan dan meminum susu. Agar kau di sana sehat. Hari ini ... Papa akan sibuk di luar dan hari ini bunda Dian akan pulang. Papa titip Momy ya?" cup, ciuman yang terakhir di perut Laras.
Ibra kembali berdiri, meraih tangan Laras. "Yu, kita sarapan. Nanti saja setelah makan. Baru ke kamar pribadi ku," menuntun Laras.
Laras mengikuti langkah Ibra, tidak lupa menutup pintu kamar terlebih dahulu. Mereka berjalan nampak mesra meskipun masih ada rasa canggung di diri Laras. Gak enak kalau tiba-tiba di lihat Dian misalnya.
Sesampainya di depan meja makan, Ibra menyiapkan kursi untuk duduk Laras. "Terima kasih?" ucap Laras dengan senyum manisnya.
"Sama-sama sayang!" sahut Ibra sambil mendudukkan dirinya di samping Laras.
"Aduh .... so sweet nya, Tuan dan Nyonya muda, bikin hati ini gimana ... gitu." Suara Susi sembari menyiapkan sarapan untuk kedua majikannya. Di balas dengan senyuman oleh Laras.
"Pagi, Tuan?" sapa bu Rika yang entah dari mana, sehingga baru muncul di tempat itu.
"Pagi juga," balas Ibra sambil mendekatkan susu bumil ke dekat Laras.
Bu Rika langsung melayani, majikannya. Mengambilkan piring dan serta isinya.
"Oy, apa Mery sudah makan?" tanya Ibra pada bu Rika.
Laras menoleh Ibra di sela makannya. Dan matanya mencari keberadaan Mery yang mungkin saja datang ke tempat itu.
"Sepertinya, nyonya Mery gak turun makan, Tuan." jawab bu Rika.
"Oh, tapi masih ada di kamarnya?" tanya Ibra lagi.
"Eh ... kurang tahu, Tuan."
"Oke." Ibra mengangguk, kemudian menghabiskan sarapannya dengan sangat lahap.
"Bu, nanti saya kirimkan perintah, di WhatsApp dan kerjakan sesuai perintah." jelas Ibra lagi pada bu Rika.
"Baik, Tuan." Bu Rika mengangguk.
Laras heran, ia mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk bertanya. "Perintah apa?"
Ibra melirik, "Nanti juga, akan tahu sendiri."
Laras bingung dan semakin penasaran. Namun tidak berani bertanya lagi, Ibra segera menghabiskan sarapannya, kemudian meraih gelas yang berisi air putih. Ia teguk sampai tandas.
"Aku berangkat dulu, baik-baik di rumah," ucap Ibra sambil beranjak dan menggeser kursinya.
Laras pun ikut berdiri dan meraih tangan Ibra dan di ciumnya. Setelah itu, Ibra memegang kepala Laras dan mencium kening sang istri.
Susi dan asisten yang lain menutup mata ketika majikannya mencium kening nyonya muda.
Kemudian Ibra berangkat, bergegas memasuki lift biar cepat dan segera sampai di bawah dan Zayn sudah menunggu di sana.
Laras duduk kembali, untuk menghabiskan sarapannya. "Aw sakit!" pekik Laras ....
****
Hi ... reader ku yang baik hati, aku minta maaf banget🙏 karena up aku sangat telat, namun biarpun telat. Semoga kalian tetap suka membacanya.🙏
__ADS_1